Presdir Cilok

Presdir Cilok
99 Cinta menghadirkan dua sisi


__ADS_3

Seketika Ratna membulatkan matanya, melihat seseorang yang sedang berjalan masuk kedalam rumah yang sekarang bukan milik orang tuanya lagi.


•••


Cinta itu indah namun belum sempurna, sedangkan bahagia itu sempurna, namun sulit untuk di cerna... Cinta hanya hadirkan dua sisi; Kesenangan (ketika cinta sesuai harapan) dan kesedihan (ketika tidak sesuai). Sedangkan bahagia itu terasa sempurna lebih dari cinta, namun sulit dimengerti karena sering dikaitkan dengan kesenangan, padahal berbeda....


“Damar!” ucap Ratna, dengan suara kecil. Ia melihat Damar tidak sendiri, seorang wanita muda nan cantik berjalan beriringan dengan Damar. Dan juga seorang pria berkepala pelontos yang berjalan di belakang Damar.


Sekilas Ratna mengingat wanita yang yang berjalan beriringan dengan Damar. Iya, benar, wanita yang datang di pernikahannya.


Damar sengaja datang bersama dengan Wulan, ia sengaja pula menggenggam jemari lentik sekretarisnya. Berjalan semakin mendekati Ratna yang sedang berdiri dengan seorang wanita dewasa berjarak satu meter dari mantan pacarnya. Damar menghentikan langkahnya, berjarak dua meter dari sang mantan, dan tersenyum menyeringai.


“Ini adalah Tuan Jutawan yang baru saja membeli rumah ini, bernama Tuan Damar Mangkulangit-- Bu Vega, Mbak Ratna.” ujar Pak Johan, memperkenalkan Damar kepada kedua putri dari pemilik rumah yang sebelumnya.


Ratna tak berkedip menatap Damar, ia merasakan sensasi penyesalan yang teramat sangat mendalam. Seperti menelan kulit durian. Membuat nafasnya serasa tercekat di tenggorokan.


Semua kesalahannya, melukis jelas. Sekiranya, rasa penyesalannya kini hanya seperti buliran air mata yang tak berguna. Ia berjalan mendekati Damar, tangannya terangkat mencoba untuk menyentuh pria yang dulu pernah ia anggap sampah, pernah menjadi pria yang ia campakkan cintanya. Pernah ia khianati kesetiaannya.


Damar diam, melihat Ratna yang mencoba menyentuh pipinya. Bukan hal yang ia inginkan tentunya, namun pergerakan tubuh Wulan sudah terbaca olehnya.


Wulan segera menghadang laju Ratna yang hendak menyentuh pipi Damar. “Jangan pernah menyentuh hal apa pun yang pernah kamu buang begitu saja!” tegas Wulan menatap Ratna.


Ratna seketika bersitatap dengan wanita yang menghalanginya, ia menghentikan tangannya yang tinggal beberapa sentimeter saja bisa menyentuh pipi sang mantan.


Wulan beralih menoleh kebelakang, persisnya melihat Damar dengan tatapan tajam. Seolah memberi isyarat; Kenapa kamu hanya diam?’


Damar menyunggingkan senyuman, melihat keberanian wanita cantik yang sudah mengisi kekosongan hatinya, dan memberinya kekuatan di kala rapuh dan butuh sandaran hati. Damar hanya mengedip mata genitnya kepada Wulan.


Wulan membalasnya dengan mencebikan bibirnya, dan berdecak sebal. “Ck!”

__ADS_1


Ratna menatap Damar yang berdiri di belakang wanita yang menghalangi untuk mendekati mantan kekasihnya. Tatapan sembabnya, semakin teduh, semakin nanar, dan perlahan membendung meneteskan air hangat untuk kesekian kalinya, ia seolah sedang berdiri di ujung ngarai.


Semua adegan itu tak luput dari pengawasan Bokir, ia hanya mengangkat alisnya. ‘Walah, dadi lemut aku rek! (Jadi nyamuk aku bat).’


Vega mendekati adiknya, ia mengusap punggung Ratna. “Kamu mengenalnya Na?”


Ratna menoleh kearah Kakaknya, ia mengangguk kepalanya. “Dia...” namun ucapannya mengambang, manakala Damar sudah lebih dulu bersuara dan mendekati Vega.


“Aku Damar, senang bertemu dengan Anda...” ucap Damar, seramah mungkin seraya mengulurkan tangannya di hadapan Kakak dari mantannya yang memang tidak pernah tahu bahwa ia pernah menjalin kasih dengan adiknya.


Vega menjabat tangan Damar, “Saya Vega, semoga Anda mengukai rumah ini Tuan,”


Damar mengangguk tipis, dan berpura-pura bahwa ia tidak mengenal Ratna.


“Calon istriku sangat menyukai arsitektur rumah ini, makannya pas aku tahu rumah ini di lelang, aku langsung menuju kemari, untuk menjadi hadiah pernikahan kami nanti,” ujar Damar, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Wulan.


Wulan membulatkan matanya mendengarkan celotehan Damar. Ia menatap Damar dari samping; Siapa yang mau tinggal di rumah mantanmu, Kang Cilok?’


Damar menyadari dari ekor matanya, bahwa kini ia sedang mendapatkan tatapan ketidaksukaan dari Wulan, atas apa yang barusan ia ucapkan. Damar delming, seolah menjawab isyarat Wulan; Semua keputusan ada padaku, suka tidak suka kamu harus menerimanya. Udah diem bae!


Vega memberikan selamat kepada sang Jutawan yang sudah membeli rumah orangtuanya. Biar bagaimanapun meski berat harus melepaskan rumah yang menjadi kenangan masa kecilnya. Namun, Vega lebih berlapang dada. “Selamat Tuan Damar, semoga pernikahan kalian lancar sampai hari H.”


“Amin. Terima kasih Bu Vega,” ucapnya, seraya mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang ramping Wulan. “Dan ini adalah Wulan, calon istriku, Bu Vega.” ujarnya, untuk menambah suasana semakin memanas. Ia sendiri tahu, bahwa Ratna tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Namun, luka di hatinya membuat ia menjadi manusia batu untuk mengasihani orang yang telah menduakannya.


Wulan semakin merasakan sensasi gerah; Kenapa aku ngerasa gerah bat suasananya!


Ratna kelu menatap Damar, ia mundur beberapa langkah.. seraya menggelengkan kepalanya. Pertanda ia tidak mempercayai dengan apa yang di lihat dan di dengarnya. Seolah inilah gambaran tentang kehidupan yang harus ia jalani, karma yang harus ia terima dari semua perbuatannya telah meremehkan kemampuan seorang Damar Mangkulangit.


“Nggak Mar! Kamu dulu sangat mencintaiku, kamu dulu selalu bilang bahwa aku adalah wanita tercantik yang selalu membayangi pikiranmu, bahwa aku adalah penghias dinding di hatimu...” ucapnya, mercacau terisak pilu. Ratna kembali mendekati Damar, berharap bisa menggapai angan yang sudah menjadi semu.

__ADS_1


Damar mundur selangkah, ia tak ingin lagi mendapat sentuhan apa pun dari Ratna, “Bulset Na!” Damar tersenyum menyeringai menatap tajam kepada sang mantan, “Iya, aku membenarkan semua ucapanmu!”


Ratna tersentuh, ia melebarkan senyumnya menatap Damar dengan tatapan teduh.. “Iya kan, kita saling mencintai, Damar. Sampai sekarang pun aku masih mencintaimu...”


Entah mengapa ada rasa asing yang Wulan rasakan, mendengar pengakuan Damar dan semakin lama semakin tercubit rasa dihatinya. Namun, kali ini ia hanya jadi penonton, ia membiarkan Damar menyelesaikan urusannya dengan Ratna.


“Tapi itu dulu! Ingat Ratna, itu dulu--” tegas Damar.


Seketika senyuman Ratna luntur.


Bokir terdiam, ia seperti menonton drama cinta yang tak berkesudahan, seraya tersenyum simpul; ‘Cinta memang menghadirkan dua sisi, (Kesenangan dan kesedihan)’


Pak Johan dan asistennya yang jelas terlihat bingung dengan situasi yang seakan mencekam.


Vega menatap Damar dan beralih menatap adiknya, ia semakin di buat tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara adiknya dan orang yang telah membeli rumah orangtuanya.


Damar dan Ratna berdiri dengan jarak 1 meter..


Lagi.... Ratna mencoba mengayunkan tangannya, ia berharap bisa memeluk Damar.


Namun, Damar segera menghalaunya. Hingga membuat Ratna terhuyung dan bersimpuh di lantai granit ruang tamu, persis saat dulu ia di biarkan berdiri seperti seekor anjing liar yang hina di mata kedua orang tua Ratna.


Vega segera menghampiri Ratna, melingkarkan tangannya di punggung sang adik. Melihat Ratna yang menangis tersedu-sedu, membuat naluri seorang Kakak meronta, ia menengadahkan wajahnya menatap Damar dengan tatapan tajam, laksana pedang yang menghunus. “Sikap tidak sopan terhadap wanita selalu merupakan tindak kebejatan moral!”


“Sopan! Hhhh....” Damar mengangkat alisnya, mendengar perkataan pedas Vega. Ia tersenyum menyeringai, “Anda tahu apa sesungguhnya kata sopan, dan apa artinya setia!?” kata Damar dingin, membalas tatapan tajam Vega, lebih tajam lagi.


•••


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2