
**Mudah memulai, namun sulit untuk mengakhiri. Itulah cinta
♠**
Melihat gelagat mencurigakan kedua orang yang ada di hadapannya. Lantas membuat nyali Damar tertantang.
"Siapa kalian? Kenapa mencoba mencari tau tentang saya?” kata Damar geram.
•••
Bokir yang lebih tegas dari pada Jojon pun menangkis tangan Damar yang mencengkram kerah baju Jojon.
"Kita cuma sekedar tanya? Emang salah, siapa tau ternyata kamu pemuda tukang pembuat masalah di jalan raya!” tegas Bokir.
Damar mencebikkan bibirnya, "Ck. Tampang ganteng seperti ku. Nggak masuk ke dalam jajaran penjahat. Dan satu lagi, kalian pengacara yah?” tanya Damar.
"Bukan! Kita bukan pengacara!” sanggah Jojon. Sambil mengibaskan tangannya.
"Oh... Pantes! Kerjaan kalian bisa di katakan pengacara, pengangguran banyak acara! Sok sibuk ngalur ngidul nggak jelas!” cibir Damar.
"Wah nyolot nih anak!” sentak Bokir, hendak melayangkan tinju ke wajah Damar, namun terlebih dulu ponselnya berdering. Lantas Bokir pun menerima panggilan telepon.
📱"Kenapa?” jawab Bokir di sambungan telepon.
📱"Iya, sekarang?”
Hanya dua kalimat itu, Bokir mematikan sambungan telepon. Dan kembali menatap Damar dengan tatapan tajam. Damar juga mempelototinya.
"Dasar nggak jelas!” sinis Damar.
Bokir dan Jojon pun kembali masuk kedalam mobil sedan dan melanjukan mobil dengan menekan tombol klakson, hingga membuat Damar terkesiap. "EDAN!” pekik Damar.
••
Di dapur, kini Damar tengah sibuk. Sudah biasa ia melakukan pekerjaan layaknya seperti perempuan, menanak nasi dan memasak.
Setelah menanak nasi merah, dan memasak sayur bening bayam serta menggoreng ikan. Damar meminta agar Danum mengantarkan makan malam untuk Ibunya.
"Num, tolong ini kasihkan ke Ibu, biar Ibu makan dulu. Habis itu kasihkan obatnya. Mas mau membantu Mbok Mur menguleni adonan cilok.” pinta Damar.
Danum pun menerima nampan berisikan makanan yang sudah di masak kakaknya. "Iya Mas.”
__ADS_1
Damar pun duduk di kursi dapur, memakai sarung tangan plastik dan bersiap membuat ciloknya.
"Mas Damar, kenapa ndak cari istri toh Mas? " tanya Mbok Mur yang sedang membuat bulatan dari adonan tepung kanji.
Damar hanya tersenyum getir, mendapati pertanyaan Mbok Mur. "Siapa Mbok, perempuan yang mau sama Damar?”
"Loh piye toh, katanya kemarin Mas Damar punya pacar?” tanya Mbok Mur.
Pacar? Hah iya, nyatanya kini mupus layu sebelum berkembang. Yang tersisa hanya awang-awang gelap bertabur dendam. Bahkan Damar kini merasa sesak jika mengingat Ratna.
Damar tak menampik karena memang dari Ratna lah, Damar dapat merasakan apa yang namanya kasmaran, terasa ingin merajam Opik. Ingin membalas perbuatan Kusumo terhadap keluarganya.
Namun lagi-lagi Damar memang harus menyusun rencana, ia juga harus mempunyai kuasa. Agar dapat dengan mudah membalas perbuatan orang-orang yang telah tega menghina, berkhianat cinta tulusnya.
Damar pun menyadari tidak mudah untuk bisa mencapai tujuan, hanya dengan mengandalkan berdagang cilok. Ia menyadari meskipun tidak semua wanita mementingkan harta. Tapi nyatanya kini ia harus lebih mapan, bukan hanya sekedar tampang dan cinta semata.
Lama terdiam, mengacuhkan pertanyaan Mbok Mur,
"Saya sadar diri Mbok, saya orang jelek, tidak punya apa-apa, saya hanya mengandalkan berdagang cilok. Jadi mana ada perempuan yang mau hidup susah sama saya.”
Mbok Mur menghela nafas, beliau menatap sendu pada Damar. Pemuda yang gigih berjuang untuk mengubah nasibnya, nasib keluarganya. Nasib yang malang, "Kamu percaya Mar, ada hikmah di balik derita Nak. Mbok juga yakin, Allah sedang mempersiapkan rezeki dan jodoh terbaik untuk mu.”
"Amin.” jawab Damar.
••
Malam semakin larut, setelah selesai sholat isya. Seperti biasa Damar akan berangkat untuk memenuhi panggilan pekerjaannya sebagai seorang penyanyi di salah satu cafe.
"Num, jaga Ibu.” kata Damar, yang sedang memakai sepatu di ruang tamu.
"Mas kenapa sih nggak istirahat aja?” tanya Danum.
Masih sibuk mengikat tali sepatunya, "Lumayan Num, kalau Mas mu ini nggak ngamen, mana bisa buat beli beras. Kamu tau istilah ‘Mulai dari diri sendiri adalah mimpi bisa mengubah apa pun dengan baik. Semua hal itu tanpa di awali mengubah diri sendiri nggak akan bisa sukses. Jadi fokuslah pada satu hal...” kata Damar, seraya beranjak dan menepuk pelan pundak adiknya.
"Satu titik kesuksesan!” sambung Damar.
"Mas Damar emang hebat. Danum salut sama Mas Damar. Tapi apa Mas Damar nggak capek?” tanya Danum lagi, ia sering mendapati Kakaknya tidak istirahat cukup.
"Kalau aku capek, ya tinggal istirahat. Num, orang yang sedang menuju kesuksesan, apa kamu tau? Kalau orang yang akan mengalami perubahan dalam hidupnya, ia akan terus memutar otaknya untuk mencapai impiannya dan terus bergerak maju,” kata Damar penuh dengan ambisi.
"Tapi Mas...” ucapan Danum mengambang, manakala melihat Kakaknya sudah memasang helm di kepalanya. Itu tandanya tiada kata bantahan.
__ADS_1
"Jagain Ibu. Hanya itu yang Mas mu minta,” kata Damar.
Danum masih diam, percuma saja ia mendebat Kakaknya.
"Kalau kita mau sukses jangan suka beralasan. Jika suka beralasan, jangan pernah berharap bisa sukses.” lanjut Damar. Ia pun berjalan ke kamar Ibunya meminta ridho kepada surga yang telah melahirkannya.
Mendapati Ibunya yang sedang duduk di tepian tempat tidur dengan wajah sayu, Damar mendekati dan bersimpuh di lantai sambil memegangi tangan Ibunya. "Bu Damar kerja dulu, semoga Ibu segera sembuh,”
Bu Suci pun mengangguk, membelai lembut kepala anaknya. "Kamu juga hati-hati, pakai pakaian yang tebal, angin malam itu bahaya Nang,” kata Bu Suci, sudah puluhan kali, beliau memperingati putra sulungnya bahwasannya angin malam berbahaya bagi kesehatan.
"Apa sakit mu sudah membaik?” imbuh Bu Suci bertanya.
"Alhamdulillah udah lebih membaik Bu, bengkaknya juga udah ilang,” jawab Damar, seraya memegangi sudut bibir atasnya.
"Dan nggak ada bahaya kalau Ibu selalu mendoakan Damar Bu,” sambung Damar, ia pun beranjak dan mencium tangan Ibunya.
"Hati-hati Nang, jangan lupa baca doa,” kata Bu Suci.
"Iya Bu.” sahut Damar.
Setelah keluar dari kamar Ibunya, kini Damar sudah standby di atas motornya. Melajukan motor Vespanya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan. Saat-saat seperti ini bayangan wajah Ratna selalu membayangi pikirannya.
Damar menyayangkan sikap Ratna, yang telah tega mematahkan hatinya. Mengingkari janji yang telah terpatri. Namun saat ini Damar lebih fokuskan untuk ikhlas.
Karena Damar selalu berpikir jika ingin menjadi pria dewasa yang tangguh, adalah pria yang bisa mengendalikan dirinya.
Barangkali memang bukan Ratna jodohnya? Atau mungkin dengan keikhlasan hatinya, nanti akan membawanya pada satu titik kesuksesan lalu bersanding dengan wanita yang rela menerima kenyataan hidupnya.
"Biarlah saat ini aku menyandang sad boy,” gumam Damar.
"Aku akan fokus mengejar angan, mimpi dan cita-citaku. Semoga terwujud, amin.” sambungnya, dengan kemantapan hati.
Tak terasa satu setengah jam lebih, ia menyusuri jalanan Malioboro. Sampailah di sebuah cafe bertemakan angkringan outdoor.
•••
Bersambung....
♠
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, komen. Terimakasih
__ADS_1