Presdir Cilok

Presdir Cilok
57 Jadilah pribadi yang mudah tersenyum


__ADS_3

Wulan sedang menyetir mobil, tengah memikirkan cerita yang pernah ia baca kemarin. Ia sedang melamun kan diri.


“Nasib gue kok nggak seberuntung kisah novel, malah sekarang gue yang jadi supir?” ketika cerita didalam novel yang pernah ia baca. Wanita yang akan di jemput oleh seorang pria gagah, kaya dan berkesan, dengan mobil mewah super class, lalu pertama-tama si pria akan bersikap kasar dan akhirnya jadi bucin akut tingkat dewa cinta. “Halah-halah... gimana dengan kabar baik si pelakor!” gumamnya lagi.


Namun, kali ini berbeda, jelas saja sangat berbanding terbalik. Wulan yang menyetir mobil sedan Corolla baru sampai di depan rumah seorang Presdir, bahkan tidak bisa menyetir mobil pula.


Bukan rumah bak istana megah ruah. melainkan sebuah rumah yang sangat sederhana jauh dari kesan mewah. Dengan pencahayaan lampu dari dua sisi depan rumah bergaya Jawa gudang garam.


Ia sedang memposisikan mobil yang di setirnya agar pas posisi parkir dan tidak menghalangi kendaraan yang melintas.


Lalu mematikan mesin mobil, lantas keluar dari dalam mobil. Tentu saja ia mendapat tatapan penuh dengan tanda tanya dari orang yang melintas maupun para tetangga rumah Damar.


Sebisa mungkin Wulan tersenyum ramah, meskipun bahasa isyarat tubuhnya sangat kaku. Sepatu heels hitam yang tidak terlalu tinggi yang dikenakannya lantas menatapi jalanan beraspal dan memasuki halaman rumah yang berlatar batako.


Sampailah di depan pintu, “Assalamualaikum.” serunya bersamaan dengan suara ketukan pintu. Beberapa saat ia menunggu sahutan dari dalam rumah.


“Wa'alaikumussalam.” sahut suara seorang wanita dari dalam rumahh, tentu saja Wulan mengenali suara itu.


Wulan membetulkan kembali Lace dress merah marun berenda sepanjang bawah lutut serta berlengan tiga seperempat yang dipakainya. Ia berharap dengan pakaian dress yang dikenakannya masih terlihat sopan di hadapan Bu Suci. ‘Lah, kenapa gue peduli? Emang gue mau ketemu camer!' gerutunya dalam hati.


Pintu pun terbuka, Bu Suci melihat Wulan dengan penampilan yang sangat berbeda lantas membuatnya hampir tidak mengenalinya. “Siapa?”


‘What? Masa Bu Suci nggak ngenalin gue? Apa dandanan gue terlalu menor yak?' benak Wulan terkejut. Wulan berinisiatif mengulurkan tangannya dihadapan wanita paruh baya yang saat ini hanya memakai daster panjang serta hijab instan, “Saya Wulan Bu,” ucapnya.


“Oalah, Gusti...” seru Bu Suci, beliau lantas menjabat tangan Wulan. Wulan lantas sedikit membungkukkan badannya dan membawa tangan Bu Suci di antara kedua alisnya. “Maaf Ibu nggak ngenalin kamu, habis kamu ayu tenan (cantik banget).” ujar Bu Suci membuat Wulan tersipu malu.


Wulan tersenyum canggung, “Ibu bisa aja, tapi memang Wulan cantik si. Bu, hehe..” meskipun gugup seolah ia sedang bertemu dengan calon ibu mertua. Wulan masih bisa sedikit humor meskipun terdengar garing, laksana gorengan peyek.


Damar keluar dari dalam rumah dan menyambar ucapan Wulan, seraya menunduk dan mengancing lengan panjang kemejanya, “Kata siapa?”


Wulan beralih menatap Damar yang berada di belakang Bu Suci. Bu Suci sedikit menggeserkan diri untuk memberikan Damar jalan. “Kata Ayah dan Mama.. hm,” jawab Wulan.


Namun, seketika Wulan membelalakkan matanya manakala melihat kemeja warna marun yang sempat membuatnya terkesima saat memilih pakaian pria di butik milik Pak Yas. ia tidak menyangka Damar memakainya di saat dirinya memakai dress warna yang sama.


Damar mengangkat wajahnya menatap Wulan, bukan hanya Bu Suci yang terlena melihat keanggunan yang sesungguhnya dari dalam diri Wulan sebagai seorang wanita. Damar speechless, dan hampir saja ia kehilangan konsentrasinya, namun secepat kilat Damar mengembalikan kestabilan tatapannya agar tidak semakin di rundung zina mata.


“Mari masuk dulu Nak Wulan,” ujar Bu Suci mempersilahkan Wulan untuk masuk kedalam rumah.


Damar menatap Ibunya, “Nggak usah Bu, Damar langsung berangkat aja. Nanti malah keburu kemalaman,”


Wulan menatap Damar dan beralih menatap Bu Suci. “Ehmm... makasih Bu Suci atas tawarannya, tapi benar apa kata putra Ibu, nanti malah kemalaman dan saya nggak bisa menikmati hidangan,”


“Hidangan?” seru Damar dan Bu Suci bersamaan.


Wulan mengangguk, “Iya hidangan, kan yang kondangan Tuan Damar, saya hanya menemaninya saja. Jadi dari pada saya bengong di sana ya lebih baik saya menikmati hidangan yang ada di sana.” ujar Wulan jujur.


Bu Suci terkekeh geli mendengar kejujuran yang di ucapkan Wulan. “Hahaha... ya sudah hati-hati.”


Wulan dan Damar pun mengangguk dan bersalaman dengan Bu Suci secara bergantian. Lantas berbalik dan berjalan menuju mobil yang terparkir.


Danum yang baru keluar dari dalam rumah pun berteriak memperingati Wulan, “Mbak siapa, yah?” teriakan Danum mengecil saat ia tidak ingat nama wanita itu.


“Wulan,” kata Bu Suci.

__ADS_1


Damar dan Wulan yang sudah berdiri di samping mobil lantas menoleh kearah Danum.


Refleks Danum menjentikkan jarinya, “Hah iya Mbak Wulan! Tolong pegangin Mas Damar takutnya dia nangis bombay bin alay super lebay di pernikahan Mbak berek!” seru Danum.


“Siapa berek?” tanya Wulan.


“Ish.. masa harus di jelasin!” dengus Danum, seraya berjalan ke arah teras.


“Anjayyy!” seru Damar bersamaan dengan Wulan. Mereka pun terkekeh. Dan membuka handle pintu mobil lantas masuk.


Damar membuka kaca mobil dan melambaikan tangan kepada Ibu juga adiknya.


Didalam perjalanan menuju gedung resepsi pernikahan Ratna. Damar maupun Wulan tidak ada yang membuka suara. Sama-sama canggung dan nervous berada di dalam mobil hanya berdua.


Damar berinisiatif untuk menyalakan lagu di MP player mobil, “Gimana cara nyalain lagu?” tanya Damar yang tidak tahu menahu bagaimana cara pengaplikasiannya.


Wulan masih fokus memegang kendali setir dan menatap arah jalan depan. Dengan tangan kirinya ia menyalakan FM radio, dan terdengar seorang MC radio sedang berbicara.


Damar kembali mengedarkan pandangannya menatap keluar kaca mobil, yang duduk jok depan samping kemudi.


Lagu yang di putar oleh MC radio sangat tak berakhlak, dentingan lagu mulai mengalun..


♪♪♪


Betapa bahagianya hatiku


Saat kududuk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


ref


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa



Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku...


Wulan merasa lagu yang di dengar lewat FM radio sangat menyindir dirinya, dengan tangan kirinya, ia mematikan lagu saat Payung teduh sedang bernyanyi ‘Berdua, glegh.. MP player seketika mati.


Damar mengalihkan fokusnya, ia menatap Wulan dari samping. Kening Damar mengerut, “Kenapa di matiin?”

__ADS_1


Melirik sekilas kearah Damar, Wulan hanya menjawab sekenanya, “Lagu nggak ada akhlak!”


Heran, Damar mengangkat alisnya, “Jelas-jelas lagu itu menggambarkan payung teduh sedang melamar kekasihnya, kenapa kamu bilang nggak ada akhlak?”


“Udah diem bae akh.. disini aku yang berkuasa, kuasa setir mobil!” cetus Wulan.


Damar delming, ia menghela nafas panjang, seraya geleng-geleng kepala. “Aneh!” cibirnya.


Lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, “Sis, aku mau kerumah mu,”


Terdiam sejenak, Damar mendengarkan seseorang yang ia telepon sedang berbicara. “Oh gitu, ya udah aku langsung menuju ke gedung resepsi. Sampai ketemu disana, Sis.” jawabnya lantas mematikan sambungan telepon.


“Langsung ke gedung resepsi,” titah Damar pada sang supir cantik.


Wulan segera menancap pedal gas dan berbalik arah menuju gedung yang disebutkan Damar.


Merasa tersentak dengan permainan setir mobil Wulan, Damar membelalakkan matanya seraya berpegangan pada pegangan pintu di atasnya, “Bujubuneng, bisa bae nggak nyetirnya nggak usah ngebut!” seru Damar.


Wulan tidak mengilhami peringatan Damar, “Siapa suruh pakai kemeja warna senada!” gumamnya.


Mendengar gerutu Wulan, Damar melihat kemeja marun yang dipakainya dengan luaran tuxedo hitam. Lantas mengangkat bahunya acuh.


“Kan kita suami istri. hehe...”


Mendengar suara Damar, Wulan memasukkan gigi empat dan lebih dalam lagi menginjak pedal gas..


“Alamaaaaak!” teriak Damar, ngeri-ngeri unyui...


••


Sampailah di depan gedung resepsi di salah satu hotel class di daerah Jogja.


Damar mengatur nafasnya, menghirup dan mengeluarkannya. “Gila bener! Awas nanti aku bales kalau aku sudah pandai menyetir mobil, bukan hanya membuatmu mabuk berat. Tapi juga aku akan membuatmu jatuh kedalam pelukanku!” tukas Damar geram.


Wulan delming, ia hanya mengangkat bahunya acuh, “Whatever!” jawabnya, lantas keluar mobil tanpa lagi melihat Damar yang sedang duduk lemas akibat ulahnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Damar keluar dari dalam mobil, dan berjalan mendekati Wulan. Ia gugup memandang gedung hotel yang ada di hadapannya, jantungnya bertalu-talu laksana letusan gunung yang menggelegar. Menyapu bersih kehidupan, untuk membuka mata hati manusia bahwa dunia fana, sebagai tempat kehidupan sementara.


Beberapa orang berjalan memasuki gedung hotel megah. Dengan berpakaian berkelas memakai stelan jas dan dress


Wulan menatap Damar, ia berpikir bahwa sekiranya ia bisa bermanfaat untuk orang lain yang sedang dalam kesusahan, akan lebih baik. Dari pada hanya berdiam diri, ‘Kalau gue bisa membuat seseorang menyeka air mata karena tertawa, itulah penghargaan bagi gue.'


Lantas Wulan menyelipkan lengannya di lengan Damar. Meskipun lelaki diciptakan Tuhan menjadi makhluk kuat, akan tetapi para lelaki juga butuh kekuatan dari orang lain. Karena pada dasarnya hati manusia itu sama, hanya segumpal daging. Hanya saja yang membedakan adalah cara manusia mengaplikasikannya seperti apa? Maka dari itu hati menurutlah pada pikiran yang baik!


Damar menatap wanita di sampingnya, ia melihat aura pancaran sinar kebaikan yang berbinar-binar dari dalam diri wanita yang selalu bersikap dingin dan angkuh ini. Lalu beralih menatap lengan yang di apit oleh lengan Wulan.


Dan sekian detik kemudian, Damar kembali bersitatap dengan wajah ayu yang tengah tersenyum tipis menatapnya. “Jadilah, pribadi yang mudah tersenyum Nawang Wulan, karena senyuman itu ibadah, dan kamu terlihat lebih cantik.” ujarnya.


Wulan tertegun dengan pujian, atau sindiran dari pria yang ada disampingnya. Ia hanya merasa ini perlu untuk melakukan tindakan agar Damar percaya diri masuk kedalam gedung resepsi pernikahan mantan kekasihnya yang telah tega berdusta dan berselingkuh dengan kawan baiknya.


•••


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2