
Cinta yang suci dunia terasa abadi, bila terkhianat ingatkanlah diri. Agar senantiasa menjaga keutuhan integritas hati, jangan pernah letih mengharap di pertemukan dengan orang baik yang akan membawakan bahagia yang hakiki. Barangkali itulah yang sedang Damar rasakan.
“Baiklah, aku akan bertemu denganmu di taman terbuka kota Bantul,” kata Damar di sambungan telepon dengan Angelina.
📱“Akhirnya kamu bersedia Mas Damar, kebetulan saat ini aku sedang menuju ke rumah mu,”
“Itu nggak perlu. Aku lagi nggak ada di rumah,” jawab Damar, setelah sarapan dan bercengkrama dengan keluarga besarnya. Kini, Damar sedang berada di rumah yang ditempati Wulan. Duduk di sofa ruang tamu, menunggu sang istri untuk berganti pakaian.
📱“O.. begitu yah,” jawab Angelina, lirih. Lebih tepatnya terdengar putus asa.
“Maaf, aku nggak bisa menjemputmu.” ujar Damar, basa-basi.
📱“Nggak pa-pa Mas Damar, aku juga bersama dengan supir. Nanti, aku langsung ke taman yang kamu sebutkan tadi.”
Panggilan telepon pun berakhir..
Damar dapat mengerti bahwa rekan bisnisnya itu, sedang berusaha keras untuk mendekatinya. Namun, sangat di sayangkan hatinya sudah sepenuhnya milik istrinya.
Damar pun berjalan ke kamar Wulan, ia memegang handle pintu lantas membukanya, tepat ia membuka pintu. Wulan sedang memakai kaca mata kudanya yang berwana marun untuk penyangga (sensor) membuat Damar seketika membulatkan matanya, menelan ludah, jantungnya mengiramakan untuk segera menerkam mangsanya. Adik juniornya seketika menegang.
Wulan terkesiap, menatap Damar yang sedang menatapnya dengan tatapan seolah sedang mengulitinya. Sama-sama tertegun, bersitatap satu sama lain. Wulan melihat Damar semakin mendekatinya.
“I'm coming! Nawulku...” Damar langsung saja menerkam kelinci kecilnya, menariknya dan mencumbuinya lagi.
“Damaaarr...” seru Wulan, namun agaknya ia sudah tak bisa berkutik. Alias pasrah sajalah, menerima kenyataan bahwa memang kini apa yang menjadi miliknya juga menjadi milik sang suami. Rangsangan demi rangsangan yang diterimanya dari setiap jejak jemari suaminya, tak bisa terelakkan, bahwa ia menikmatinya.
“Pelan-pelan,” bisik Wulan lirih.
“Iyah.” sahut Damar dengan suara berat.
Wuhs.. Beeep... sraak... sraaak... Kereta pun siap berhenti di stasiun pemberhentian dana kepemilikannya memasuki goa barbalana..
••
Setelah membersihkan diri, dari gairahnya panasnya di pagi hari. Damar bersiap-siap untuk mengajak Wulan menuju tempat yang sudah ia rencanakan.
“Lain waktu, aku akan membantumu membereskan semua barang-barang mu, kita pindah dari sini,” ujarnya, duduk di tepian ranjang. Memandangi Wulan dari pantulan cermin meja rias.
Wulan menatap Damar dibelakangnya dari pantulan cermin. “Kenapa?”
Damar beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekati Wulan yang sedang mengeringkan rikmanya menggunakan hairdryer. “Aku akan membawamu ke rumah yang sudah ku renovasi, kasihan rumah itu sudah lama sendiri.” Lantas sedikit membungkukkan badannya, dengan sengaja menyembunyikan wajahnya di leher sang istri wangi harum sabun mandi membuatnya merasa tenang, tak perduli dengan hawa panas yang di hasilkan dari pengering rambut yang sedang di gunakan Wulan.
Wulan geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku Damar yang terlihat kekanakan. Namun, ia sendiri pun menyukainya. “Lalu rumah ini?”
“Biarkan saja, atau bila perlu kita panggil orang yang tidak mempunyai rumah untuk menempati rumah ini,” sahut Damar mendengung.
__ADS_1
Wulan merasa geli dengan bibir Damar yang menyentuh lehernya, “Baiklah, mereka juga butuh tempat tinggal,” Wulan mematikan mesin hairdryer, lalu menaruhnya di meja. “Tapi apa Ibu sudah tau dengan rencanamu ini?” dilehernya, ia bisa merasakan Damar menggeleng, hembusan nafasnya begitu kuat, membuatnya merasakan sensasi geli.
Damar menarik diri, kali ini dengan manjanya, ia duduk di kursi meja rias yang sedang diduduki Wulan, dengan cara memangku istrinya. Lalu memeluk Wulan yang saat ini memakai atasan kasual dan rok plisket panjang, dari belakang seperti bantal, “Aku sudah memikirkannya sejak lama, tapi belum memberitahu Ibu,”
Wulan memoles make up tipis diwajahnya, seperti crem pencerah dan liptinc pink muda, “Benarkah, sejak kapan?”
“Sejak aku merasa kamu adalah calon istriku,” balas Damar, menatap Wulan dari pantulan cermin. Terlihat wajah yang ayu, dan segar. Meskipun make up yang di pakai istrinya sangat sederhana.
Merasa sudah cukup dengan tampilannya, Wulan pun beranjak dari duduknya. Membuat Damar seketika terjengkang kebelakang.
“Aaaaa...” erang Damar, menahan sakit di pantatnya yang menghantam lantai.
Wulan terperanjat... “E, eh.. maaf, maaf.” ia pun membantu Damar, diselingi cengengesan. “Hehehe.. habis siapa suruh kamu duduk dibelakang ku. Terjengkang kan,”
“Puas yah, puas! Ketawa aja terus!” gerutu Damar, melihat Wulan menertawakannya sampai didepan teras rumah.
“Hahaha... habis kamu selalu bisa membuatku tertawa.” sahut Wulan, menahan tawanya.
••
Di perjalanan menuju tempat yang di tuju. Dengan kesederhanaannya, Damar mengendarai motor Vespanya, membelah silsilah jalanan Ibu kota Bantul. Damar menyetir dengan kecepatan sedang, ia tersenyum sumringah melihat tangan Wulan yang tidak segan lagi untuk memeluk pinggangnya.
Sementara Wulan mengedarkan pandangannya menatap jalanan-jalanan yang dilaluinya. “Apa yang istimewa dari Kota Jogja?”
“Semuanya, termasuk kamu!” balas Damar, fokus menatap laju jalanan sesekali jempolnya menekan tombol klakson, lantas berbelok ke kanan. Melewati rambu-rambu lalu lintas. Bersamaan dengan pengendara lain.
Damar tersenyum simpul, “Aku tau, tapi kamu sama seperti Jogja, sangat istimewa. Kota bersejarah, dan kamulah sejarah ku, yang akan diingat sepanjang hidupku.”
Mendengar jawaban Damar, membuat Wulan semakin kesemsem. ‘Aih.. Kang tengik berani sekali membuat hatiku adem.. Kan, kan makin cinta akunya..’ selorohnya dalam hati bersenandung merdu.
Tak berselang lama, Damar dan Wulan pun sampai di Taman terbuka Kota Bantul... Damar memarkirkan motornya. Seperti biasanya, hal sederhana yang terkesan romantis, Damar membukakan pengait helm dan secara perlahan melepaskannya dari kepala Wulan.
“Makasih.” ucap Wulan.
Damar mengulas senyumannya. “Sama-sama.”
Berjalan dengan bergandengan tangan di pinggiran taman, seraya menikmati waktu seperti halnya sepasang muda-mudi di kala sang surya mulai menyingsing mengitari rotasi bumi, memasuki pukul 09:35 pagi. Diselingi dengan obrolan ringan, santai, namun tidak lebay.
“Kenapa kamu nggak pernah menceritakan tentang bencana alam itu, padaku?” tanya Damar, menatap lurus ke depan, sesekali melirik Wulan.
Wulan menghentikan langkahnya, diikuti oleh Damar. “Apakah itu penting untukmu?”
Damar berdiri berhadapan dengan Wulan, ia menggenggam kedua tangan istrinya. “Taukah kamu, betapa bersyukurnya hatiku mendengar kamu selamat. Bahkan, lebih bersyukur lagi kini kamu jadikan pria yang nggak sempurna ini dicintai oleh wanita hebat sepertimu.”
Wulan terenyuh mendengar jawaban Damar, sesaat kemudian ia terkekeh kecil, “Haha... Aku wanita hebat? Hebat makan, iya!” balasnya, merendahkan diri sendiri.
__ADS_1
Damar menatap Wulan dengan tatapan intim, ia menarik lengan Wulan dan membawanya masuk kedalam dekapannya. Mengusap belakang kepala Wulan, membuai rikma istrinya yang berbau shampoo mint.
Wulan terkesiap dengan apa yang dilakukan Damar, ia mencoba mendorong Damar. “Kang Cimar, ini lagi di tempat keramaian!” hardiknya, merasa nervous. Namun, seperti biasa Damar semakin memeluknya erat.
Damar dleming, ia seolah menuli untuk mendengar peringatan dari istrinya. “Biarkan saja, toh kita udah menikah,” Damar semakin gemas, mendekap erat Wulan, tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya. Bukan tanpa sebab, kini ia dan sang istri menjadi objek tatapan orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan taman terbuka kota Bantul. “Cintamu sederhana, membuatku semakin cinta. Ibarat sambel terasi, nggak bergizi tapi nagihi.” ucapnya, menggombal. Tapi, yah seperti itulah Damar, ia merasa bukanlah orang yang romantis dalam merangkai syair cinta.
Wulan terkekeh geli, mendengar rayuan Damar. “Haha.... Asem banget kamu yah, masa cintaku di samakan sama sambel terasi?!”
“Tapikan kalau sambel terasi enak+ sedap, apalagi di colet pakai petai atau mentimun muda, di tambah lagi ikan asin jambal, hem... bikin aku ngiler, kemana-mana..” seloroh Damar, membayangkan lauk yang biasa ia makan sebagai pendamping nasi hangat yang masih mengepul.
Ocehan Damar, membuat Wulan terkekeh geli, kesederhanaan yang selalu di syukuri oleh suaminya, mengajarkannya banyak hal. “Hehehe... kamu memang seorang pria yang humoris.”
“Ehemmm....” deheman keras pengguna jalan yang sedang berjalan dengan temannya, membuyarkan kedua sepasang muda-mudi yang sedang berpelukan di pinggiran jalanan taman. “Eleng yo eleng, ra usah pamer kemesraan, lek mengkone putus gor gara-gara wong ketigo! (Ingat ya ingat, nggak usah pamer kemesraan, kalau nantinya putus gara-gara orang ketiga!)” imbuhnya lagi, seolah menjadi wasit yang memberikan peringatan kartu kuning kepada Damar dan Wulan. Lalu pergi begitu saja.
Seketika Wulan mendorong Damar, ia merasa malu, inilah kali pertama baginya merasakan apa yang namanya kasmaran selama 27 tahun. Sementara Damar mah santai saja, seolah tidak jadi masalah jika ia sedang di tatap semua orang sekalipun.
“Ck, kamu sih!” kesal Wulan pada Damar.
“Kok aku? Merekanya aja yang iri, tuh tandanya nggak mampu, nggak punya pasangan yah begitu itu! Selalu memperingati orang lain, tapi terkadang lupa untuk memperingati diri sendiri,” kata Damar santai. Menatap kedua pria yang sudah menegurnya berjalan semakin menjauh.
Wulan menatap Damar dengan tatapan malas, ia tahu dengan amat sangat, bahwa jawaban Damar ada saja untuk membuatnya sulit menjawab. “Percuma berdebat sama kamu!” lantas berjalan mendahului Damar.
Damar menyunggingkan senyuman, lalu menyusul Wulan yang duduk di bangku taman. “Nawul...” ucapnya memanggil Wulan, untuk membujuk. “Dosa loh, marah sama suami.” lantas duduk disebelah Wulan.
“Aku nggak marah?!” balasnya, Wulan masih menatap lurus, memandangi anak-anak yang sedang bermain-main di bawah pohon rindang.
“Emm... telpon cowok yang pernah ngelamar kamu gih,” usulnya, menatap Wulan dari samping.
Seketika Wulan mengalihkan pandangannya, tatapannya bertemu dengan manik mata hitam milik Damar. “Maksud kamu, Roni?”
Damar mengangguk
“Ada-ada sih kamu ini,” cetus Wulan, heran.
“Aku serius, sekarang juga, yah...” ujar Damar, dengan kemantapan, meskipun cemburu. Damar mengambil ponsel Wulan, dan memberikan kepada pemiliknya. Mengangkat alisnya, memberinya isyarat. “Hubungi dia, dan mintalah dia secepatnya untuk datang.”
Wulan semakin heran dengan permintaan Damar, “Apa ini, untuk memberitahunya kalau kita sudah menikah?”
“Iya,” sahut Damar. “Bukankah nggak baik memberikan harapan kepada orang lain, kan? Aku tahu sepuluh kali dia mengirimkan mu pesan singkat setiap harinya, hanya ingin mengajakmu bertemu.” pungkas Damar.
Wulan mengerutkan keningnya, “Dari mana kamu tau? Jangan-jangan kamu mengacak-acak ponselku?”
Damar mengangkat bahunya, “Cepat, hubungi si Ron, Ron, itu.”
Suara yang sangat familiar memanggil Damar, dari jarak empat meter, “Damar!”
__ADS_1
•••
Bersambung...