
Bokir tersenyum lebar menatap pintu ruangan kantor Damar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, dan memberikan peringatan kepada seorang staf yang bertugas di lantai empat. “Santi,”
“Iya, Pak Bokir?” jawab staf wanita yang disebutkan Bokir.
“Sementara jangan ganggu Presdir, dia sedang sibuk. Kalau ada sesuatu yang mendesak beritahu saya atau Pak Bambang.” tutur Bokir, sekilas melirik pintu bercat cokelat kayu.
Santi menoleh kearah pintu ruangan Presdir sesaat kemudian ia mengangguk. “Baik, Pak.”
Sekali lagi Bokir menatap ruangan Presdir seraya memanggutkan kepalanya. ‘Saya bersyukur, dari fitnah saya waktu itu, kalian beneran wik-wik... Semoga segera menyusul Damar dan Wulan kecil.'
••
Peluh yang membasahi ini semakin tak terasa, keduanya sama-sama mengikuti alur kemana gairahh akan membawanya. Dan pada sampai suatu titik akhiran klimakss yang menjadi penentuan. Bahwasannya, kini telah terjadi pertempuran yang tak terelakkan.
Wulan ambruk di atas tubuh Damar, dengan nafas menderu, gebu tersengal akibat permainkan panas yang menggebu-gebu.
Dengan lembut Damar memeluk dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman. “Terima kasih, Nawulku..”
Tak bisa membalasnya dengan ucapan Wulan hanya mengangguk dalam dekapan hangat Damar. Dan sesaat kemudian tatapannya menatap jam yang terus bergerak merangkak naik. Wulan terperanjat. “Kita harus segera bersiap-siap, ada pertemuan penting sore ini.”
Damar tersenyum simpul. “Baiklah.” dengan sekali hentakan tangan, Damar membopong Wulan untuk membersihkan diri di kamar mandi dalam ruangan kantornya.
•
Damar dan Wulan keluar dari ruangannya, dengan rikma yang setengah basah, keduanya jalan beriringan menuju lift, menunggu sesaat untuk kemudian lift terbuka dan masuk kedalam lift.
Para staf yang berada di lantai empat terheran-heran, melihat rikma Damar dan Wulan yang setengah basah, serta berganti pakaian. Membuat staf bertanya-tanya dan mulai bergulat dengan berbagai pertanyaan dan bisik-bisik gaduh.
“Apa di ruangan kantor Mas Damar bocor yah?” kata staf yang bernama Yeti.
Alfin pun mengangguk. “Iya kali yah, mungkin aja, kan di luar tadi hujan deres banget.”
Tiba-tiba suara Pak Bambang membuyarkan bisik-bisik tetangga. “Eheemm... di harapkan kembali bekerja.”
Dalam sekejap semua staf yang sedang bergunjing ria pun membubarkan diri, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
••
Pukul 14:34 waktu setempat. Kini Damar dan Wulan telah berada di perjalanan menuju hotel Borobudur yang menjadi pertemuan dengan seseorang akan melakukan kerjasama. Dengan Bokir yang mengendarai laju mobil dengan kecepatan sedang.
Bokir menatap Damar dari kaca di atas kemudi. “Apa kamu nggak capek Mar?”
Damar mengerutkan dahinya. “Capek, Soal apa?”
Bokir semakin menjadi-jadi, dengan terkekeh geli. “Ah, sudah! Lupakan.”
Wulan pun ikut menatap Bokir dari samping belakang. Ia merasa janggal dengan pertanyaan Bokir. “Nggak usah nyinyir...”
“Haha... tau aja sih Lan, kalau sekarang kerjaanku, selain menjadi supir suamimu, aku juga tukang nyinyir!” jawab Bokir, seraya terkekeh jaim.
Wulan mencebikan bibirnya. “Ck, taulah! Kan dari dulu memang hidupmu suka nyinyir.”
Damar menatap Wulan, sekilas melihat Bokir. “Emang iya, Kang Bokir tukang nyinyiran?”
Wulan menyandarkan kepalanya di bahu Damar, “Kenapa kamu mesti bertanya, Kang Cimar? Tentu si Bokir tukang nyinyir dan suka ngegosip.”
__ADS_1
“Haha.. mana ada yah!” sangkal Bokir, ia masih memfokuskan tatapannya ke depan.
“Terserahlah...” jawab Wulan pada akhirnya, untuk mengakhiri perdebatan.
Tiga puluh menit kemudian, kini mobil yang di kemudikan Bokir telah sampai di depan hotel tempat pertemuan dengan rekan bisnis Damar. Seperti biasa, Damar dan Wulan turun terlebih dahulu, dan langsung menuju ke lobby hotel, di sana keduanya sudah di sambut ramah oleh penjaga hotel.
Untuk selanjutnya mengantarkan Damar dan Wulan menuju ruangan yang di jadikan pertemuan bagi para pebisnis. Pintu pun terbuka lebar memperlihatkan beberapa orang yang sudah berkumpul di dalam ruangan.
“Selamat sore Pak Albert, Bu Mega, Pak Setya dan Nona Hanan.” sapa Damar, kepada pria setengah baya itu, dan beberapa pebisnis lain.
“Selamat sore juga Mas Damar,” jawab seseorang yang Damar panggil Pak Albert.
Damar pun menjabat tangan kepada beberapa rekan bisnisnya. Untuk berikutnya membicarakan masalah kerjasama yang akan di gadang-gadang memasuki pasar globalisasi dunia bisnis.
“Saya cukup puas dengan produk Anda, Mas Damar. Selain mengutamakan kualitas bahan, Anda juga menyusun harga yang relatif terjangkau untuk kalangan masyarakat menengah kebawah.” kata seorang wanita cantik, berparas model.
Damar tersenyum ramah. “Terima kasih atas perhatian Anda Nona Hanan, saya sangat tersanjung.”
“Lalu, tentang produksi cilok Anda, apakah Mas Damar sudah menyiapkan varian baru? Saya rasa dengan adanya beberapa toping tambahan akan menjadikan produk di minati pelangan.” tukas Pak Setya.
“Akan kami usahakan, Pak Setya, kami sedang mencari informasi tentang varian rasa yang sedang di minati oleh kalangan masyarakat, selain toping kacang dan saus sambal.” pungkas Damar.
“Akan saya tunggu rencana baru itu.” tutur Hanan, seraya mengedipkan matanya menatap Damar.
Kedipan mata Hanan, di sadari oleh Wulan. Ia meremass tangannya sendiri di bawah meja bundar lebar. Ia melirik Damar, dan melihat Damar pun tersenyum ramah kepada wanita dengan rikma pirang yang duduk di berjarak tiga orang dari Damar.
“Iya, Nona Hanan. Terima kasih,” jawab Damar singkat.
“Lalu, bagaimana dengan kerjasama yang akan segera berakhir. Akankah Anda akan memperpanjang masa berlakunya?” tanya Damar to the poin kepada Pak Setya.
“Tentu, tentu. Saya rasa dengan adanya kerjasama ini, kita sama-sama menguntungkan,” jawab Pak Setya. “Dan saya sangat menyayangkan dengan seseorang yang dulu menolak untuk melakukan kerjasama dengan Anda, Mas Damar,” lanjut Pak Setya.
“Pak Bahar,” kata Pak Setya. “Bukankah, Anda pernah jauh-jauh datang ke Jawa barat, untuk melakukan kerjasama, tapi dengan sombongnya Pak Bahar menolak?” tukas Pak Setya.
Damar tersenyum simpul. “Pada saat penolakan, Yang saya pikirkan hanyalah, cara membedakan orang rata-rata dengan orang sukses adalah cara berpikirnya. Cara merespons sebuah masalah dan cara menyelesaikannya.”
Pak Setya dan beberapa orang yang berada di ruangan meeting pun mengangguk setuju.
“Saya salut dengan cara berpikir Anda yang realistis, Mas Damar.” kata Bu Mega.
“Saya juga dengar, Mas Damar membuka peluang bisnis untuk usaha UMKM?” tanya Pak Albert.
Damar mengangguk tipis. “Iya, saya rasa dengan peluang bisnis itu, dapat membantu menetralisir orang-orang yang mendapat PHK dan pemecahan secara masal dari suatu perusahaan.”
“Pemuda gigih, seperti Mas Damar pasti akan sangat beruntung jika memiliki seorang wanita yang sangat pengertian,” tutur Hanan, seraya menggigit bibir bawahnya perlahan. Ada rasa ketertarikannya terhadap Damar.
“Saya hanya berusaha gigih, Nona Hanan. Selebihnya selain Tuhan, ada seorang wanita yang menghebatkan saya.” tukas Damar.
Dua jam sudah pembahasan mengenai kerjasama yang akan segera dirilis untuk bulan depan pun sudah di sepakati.
Di lobby hotel, nyatanya beneran Hanan Ganesha menemui Damar secara pribadi. “Mas Damar!”
Damar dan Wulan yang sedang berjalan beriringan pun menghentikan langkahnya, kala mendengar seseorang menyerukan Damar.
Hanan dan seorang manajernya pun mendekati Damar, dan hanya sekilas melirik Wulan. Ia tersenyum sangat manis. “Jika ada waktu, bisakah saya bertemu dengan Anda lagi Mas Damar?”
__ADS_1
Wulan dan Damar saling pandang, dan kembali menatap Hanan.
“Akan saya tanyakan kepada istri saya terlebih dahulu,” jawab Damar singkat ples padat.
Hanan mengerjapkan matanya. “I-istri?” ucapnya tergagap.
Damar mengangguk. “Yah, istri. Sekretaris saya adalah istri saya sendiri.”
Degh... Hanan menatap Wulan, kecewa sudah rasa ketertarikannya.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Nona Hanan.” ujar Damar, lalu menggandeng tangan Wulan dan pergi dari hotel.
••
Di perjalanan waktu senja, yang mendung. Wulan melihat hujan gerimis yang masih mengguyur sebagian Kota Bantul, tetes air hujan yang melabur di kaca mobil. Ia menghela nafas panjang, membayangkan bahwa dirinya memang tidak bisa selalu untuk menemani hari-hari suaminya ini, apalagi sekarang pelakor makin marak. Wulan paham dengan istilah, (Tamu nggak akan masuk, jika sang tuan rumah nggak membukakan pintu)
Tapi... Tapi... tetap saja. Semakin tinggi jabatan dan penghasilan seorang pria, pasti suatu saat akan tergoda dan bertingkah-tingkah. Wulan lagi-lagi menghela nafasnya.
Damar menatap Wulan dari belakang, ia melihat istrinya ini sedang melamun menatap setiap tetes air hujan yang membasahi kaca jendela mobil. Ia mengulurkan tangannya meraba punggung istrinya. “Ada apa?”
Wulan menolehkan wajahnya. Ia bersitatap penuh arti, menatap sepasang bola mata yang terlihat sangat meneduhkan. ‘Perasaanku ini takut, jika suatu saat kamu akan berpaling.’ benak Wulan bermonolog, ia tidak ingin suaminya ini tahu, bahwa kini perasaannya sedang karut marut. “Aku pengen makan bakso,” ujar Wulan tiba-tiba.
Damar membulatkan matanya, tangannya terangkat mengusap rikma Wulan. “Hanya pengen makan bakso aja, kenapa mesti melamun?” ucapnya dengan suara kecil. “Hemm.. bakso? Ide bagus.” jawab Damar antusias. Damar pun mengalihkan atensinya kepada Bokir.
Sebelum Damar berujar, Bokir sudah lebih duluan berkata. “Aku tau, tempat angkringan bakso yang enak.” seru Bokir, bersemangat.
“Oh iya, dimana? Kalau begitu kita langsung ke sana aja Kir.” kata Wulan, tersenyum sumringah.
Angkringan bakso di salah satu sudut Kota Bantul yang cukup ramai, inilah Damar sedang duduk berhadapan dengan Wulan. sedang Bokir duduk di sebelah Damar. Angkringan sederhana di pinggir jalan.
Wulan melihat segerombolan anak-anak sedang mengamen, ia lantas berdiri dan menghampiri anak-anak kecil yang berjumlah tiga orang anak.
Damar melihat setiap gerakan Wulan dari jarak lima meter, ia melihat Wulan seperti sedang membicarakan sebuah diskusi yang sangat serius. Kemudian, setelah diskusi di sepakati, Damar melihat Wulan berjalan dengan tiga orang anak dengan kisaran umur delapan dan sembilan tahunan.
“Makanlah sepuasnya, Mas ini yang akan bayar.” kata Wulan, seraya menunjuk Damar, dan tersenyum merekah.
Damar terkejut dengan usulan istrinya, ketiga anak itupun menatapnya dengan tatapan memelas, dan seperdertik kemudian ia terkekeh kecil. “Baiklah-baiklah.. sepatutnya kita merayakan hari keberkahan dari hasil apa yang sudah kita dapatkan.”
Wulan pun mengatur tempat duduk untuk ketiga anak pengamen jalanan. Ia lantas bergegas untuk memesan bakso.
Bokir pun ikut terbawa suasana. Ia tidak menyangka bahwasannya. Rekan kerjanya dulu, adalah seorang yang sangat dingin dan kaku. Namun, pertemuannya dengan pemuda yang bernama Damar telah merubah banyak hal di dalam diri dan sikap seorang Nawang Wulan.
Dari jarak tiga meter Damar terus saja memandangi Wulan, selain memperhatikan pekerjaan ada satu hal lagi yang kini menjadi kebiasaan Damar. Yaitu, Memperhatikan istrinya, ia tersenyum simpul sedikit memiringkan kepalanya.
Setelah memesan bakso, Wulan kembali duduk di hadapan Damar, ia merasa canggung telah di tatap sedemikian teduh dari tatapan mata suaminya.
Damar melihat punggung tangan Wulan yang tersemat cincin pernikahan di jari manis istrinya. Ia mengulurkan tangannya menggenggam jemari tangan Wulan. “Kamu tau, Apa artinya berbuat kebaikan?”
Wulan berpandangan mata dengan Damar. “Apa?”
“Berbuat kebaikan berarti melakukan sesuatu untuk orang lain. Bahkan untuk orang yang nggak kita kenal, membantu orang lain tanpa mengharapkan balasan. Membuat dunia ini lebih baik bagi orang lain.” tukas Bokir, ikut menimpali ucapan Damar.
Damar mengangguk tanda setuju dengan pendapat Bokir.
Tak lama setelahnya, pesanan bakso pun datang, dan pas banget cuacanya, gerimis makan bakso dengan kuah panas yang segar, ditambah saus serta sambal. Minumannya teh hangat.. maknyuuusss.... di lidah.
__ADS_1
•••
Bersambung....