Presdir Cilok

Presdir Cilok
114 Kehidupan terus berputar


__ADS_3

“Saya mohon Da-mar, te-rimalah Rat--na, kamu ti--dak per-lu me-ma-afkan saya. Rasa sesal sa-ya akan menjadi semakin besar, jika saya ti-dak bisa me-menyatukan kalian,”


•••


Lagi... Damar hanya menggelengkan kepalanya, pertanda ia menolaknya, “Anda sadar, kesalahan terbesar dalam hidup Anda apa? Tuan Kusumo,” ucapnya tegas namun masih terdengar santai, bersitatap dengan Kusumo dengan tatapan sendu. Damar mengepalkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri paha atasnya yang dibalut celana jeans panjang.


“Kesalahan Anda adalah, Anda hanya melihat darimana seseorang itu berasal, tapi Anda tidak lihat kemana seseorang itu menuju. Dan inilah letak kesalahannya, Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan!” pungkasnya, geram. Damar menyadari, penyesalan selalu datangnya belakangan.


Kusumo menghela nafas berat, “Da--mar, am-puni saya,“ rintihnya, mengharap. “Tapi Rat-na tidak ber--salah atas hal ini,”


Damar tersenyum menyeringai, ia tak perduli dengan Dokter Habibi dan beberapa perawat yang sedang menatapnya. ‘Benarkah sepolos itu Ratna di mata orangtuanya.’


Bahkan bagi Damar, sekalipun Ratna adalah mantan terindah, ia tidak ingin kembali dengan yang namanya mantan. Juga tak pernah sedikitpun mengkhayal untuk kembali merajut cinta dengan Ratna, ia lebih tak terima dengan pengkhianatan. “Maafkan saya Tuan Kusumo, saya tidak bisa kembali dengan putri Anda, bukankah dulu Anda terang-terangan menolak saya hanya karena saya miskin, padahal kehidupan terus berputar. Sadarkah Anda pada saat itu, betapa terlukanya hati saya, dan harga diri saya?!” tukasnya, tegas.


Kusumo memejamkan netranya yang semakin sayu, keriput tergerus waktu dan usia, bahkan saat ini penyakitnya sulit untuk disembuhkan. Ia kemudian membuka netranya, menatap Damar dengan tatapan sendu, air matanya terus mengalir tanpa henti. “Saya mo-hon Da-mar, saya sung--guh menyesal te-lah memisah-kan kalian, dan merendah--kanmu,”


Damar memejamkan matanya dalam-dalam, ia menghela nafas panjang. Wajah Wulan membayangi pikirannya, seperdertik kemudian ia teringat dengan rencana yang sudah ia susun bersama keluarganya untuk memberikan Wulan kejutan. Damar kembali menatap seorang Ayah yang sedang memohon padanya, “Jujur saya harus katakan! Saya sudah mencintai wanita yang mau menerima saya apa adanya, terlepas dari apa yang saya miliki saat ini,”


Kusumo melihat Damar mulai menjauhi brankar, ia mencoba menggerakkan tangannya yang seperti tak bertulang. Namun, bisa mencapai tangan pemuda yang dulu secara terang-terangan ditolaknya, seolah seperti sedang menggapai angan, dan berulang kali, Kusumo memohon dengan segenap hatinya, “Da-mar, dia butuh se--seorang sepertimu. Ang--gaplah ini permohonan se--seorang Ayah, ”


Damar semakin berjalan mundur seraya menggelengkan kepalanya, “Tidak Tuan Kusumo,” ucapnya mempertegas, bahwa apapun alasannya Damar menolak. “Meskipun ini adalah amanah saya tidak bersedia untuk menerima amanah ini. Saya sudah memaafkan Anda, semoga lekas sembuh.” tukasnya dengan suara ditekankan. Ia tak perduli meskipun beberapa perawatan dan juga Dokter melihatnya dengan stigma kejam. Kendatipun, dahulu kekejaman Kusumo melebihi penolakannya saat ini.


Damar lantas berbalik badan memunggungi orangtua dari sang mantan, lalu keluar dari kamar UGD. Di luar kamar UGD, netranya langsung tertuju pada seorang wanita yang mempunyai mata indah, lantas menyambar tangan wanita yang sepenuhnya sedang menduduki peringkat pertama dalam hatinya. “Kita pergi dari sini.” ujarnya, menggenggam jemari tangan Wulan. Tanpa sedikitpun melihat kearah sang mantan.


Wulan bingung dengan sikap Damar, namun ia mengangguk dan menurutinya, berjalan beriringan dengan Damar yang menggenggam erat jemari tangannya.


Namun, Damar menghentikan langkahnya saat Ratna mengejar dan juga menyambar pergelangan tangan kiri Damar. “Damar!” ucapnya dengan suara parau.


Damar menoleh, persisnya dimana tangan Ratna yang sedang memegangi pergelangan tangannya. “Lepas Na!”


Ratna menggeleng keras seraya berderai air mata. “Hiks.... Nggak Mar, aku nggak akan melepaskanmu begitu aja!”


Terpaksalah Damar yang sedang menahan emosionalnya menghempaskan tangan Ratna, hingga membuat sang mantan terhuyung.


Ilham menyambar tangan adik perempuannya yang hampir jatuh ke lantai putih rumah sakit. “Kamu!” hardiknya, menatap Damar garang.


Dengan tatapan malas ia menatap Ilham dan beralih menatap Ratna, “Jangan lagi memohon dengan cara seperti ini, sungguh kamu nggak berarti apa-apa lagi di mataku, setelah kamu memilih untuk bersama dengan si keparat Opik!”


Derai air mata semakin merajalela, membasahi wajah sayu Ratna, wajah yang terlihat putus asa. “Hiks... Beritahu aku Damar, bagaimana caranya agar aku bisa kembali lagi bersamamu?”

__ADS_1


“Caranya jangan lagi mengharap hal apapun dariku!” hardik Damar, ia lantas berbalik badan memunggungi Ratna, masih menggenggam jemari tangan Wulan, dan kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit.


Berjalan beriringan bersama Damar. Wulan menoleh kebelakang, tepatnya menatap Ratna yang sedang memanggil-manggil Damar. Sebagai seorang wanita, Wulan merasa ngilu, kasihan dengan keadaan Ratna saat ini yang tengah mengemis cinta dari seorang Damar yang pernah disia-siakan begitu saja oleh Ratna. ‘Ini bukan tentang salah dan benar! Tapi ini tentang risalah hati.’


“Damar!!” seru Ratna dengan suara parau, namun Damar tak menghiraukan panggilannya. Ia melihat punggung Damar dengan tatapan nanar, Damar semakin jauh dan menghilang dari pandangannya di balik belokan dinding rumah sakit.


Flashback off Damar


Masih berlutut di hadapan Wulan, lantas Damar pun beranjak sedikit membungkukkan punggungnya, keduanya tangannya bertumpu dikedua pundak sang istri, “Ternyata jawabanku semalam belum dapat sepenuhnya dipahami olehmu ya?” sebagai tanda hukuman, Damar menciumi wajah hingga leher Wulan, membuat empunya menggeliat geli.


Wulan menggeliat geli mendapat serangan ciuman bertubi-tubi dari Damar hingga membuatnya terkekeh geli, “Hahaha.... Geli Kang Cimar, geli!”


Damar pun menarik diri, dan bersandar di tepian meja kerjanya. “Jadi, apa harus dijelaskan secara terperinci?”


“Em.. ya nggak juga sih! Habis kamu jawabnya hanya menggeleng,” sahut Wulan, menengadahkan wajahnya menatap Damar.


Damar menghela nafasnya, ia merasa Wulan meragukannya, lantas mengusap pucuk kepala istrinya, “Saat aku mengerti kenapa alasan Tuhan membuatku terluka, agar aku belajar dan lebih berhati-hati, dan aku memilih untuk hidup dalam rasa syukur dengan harapan baik. Bukan hanya move on! Aku akan move up bersamamu! Tentu saja aku menolak amanah Pak Kusumo.” pungkas Damar.


Wulan tersenyum sumringah mendengar penuturan bijak sang suami, ia manggut-manggut tipis. “Aku setuju! Memang nggak mudah menjadi orang pintar, tapi lebih sulit menjadi orang bijak.”


TING


Wulan melirik ponsel Damar yang berada di atas meja sampingnya, terlihat nama dari si pengirim pesan. “Direktur Angelina.”


Damar mengerutkan keningnya, sama-sama menatap kearah yang sama, “Untuk apa dia mengirim pesan?!”


Wulan mengangkat bahunya, ia pun berkata dengan nada jutek, “Entah! Bukankah dia sedang mengincar hatimu!”


“Hati? Hati ayam kali ah...” sahut Damar, ia lantas meminta Wulan untuk membuka isi pesannya, “Di buka aja pesannya,”


Wulan mengangkat kedua alisnya. Kendatipun cemburu, namun ia tidak menunjukkannya kepada Damar, seolah acuh tak acuh, padahal mah hatinya gemes, “Memang boleh kalau aku melakukannya?”


Damar mendekapkan kedua tangannya didepan dada, bersitatap dengan Wulan, ia sendiri tak menghiraukan ponselnya, “Melakukan apa?”


“Melihat ponselmu? Kan ponsel adalah barang yang sangat privasi bagi tiap-tiap orang,” sahut Wulan.


Damar melebarkan senyumnya, “Mulai sekarang, aku memberikan mu izin untuk melakukannya, karena aku suamimu..”


Wulan manggut-manggut tipis, dalam hatinya berseloroh girang, ‘Ah... iya suami, aku masih canggung dengan sebutan itu! Asik, sekalian aku mau tahu nomor siapa aja yang dia simpan! hihi...'

__ADS_1


Wulan pun kembali menatap ponsel Damar, lalu mengambil dan membuka pesan masuk, ia pun membaca pesan yang dikirim oleh Direktur Angelina. 📱Damar, hari ini weekend kan, kamu nggak lupa janji kita?


Setelah membaca isi pesan yang membuat hatinya semakin dibaluri rasa cemburu, Wulan memberikan ponsel kepada pemiliknya dengan suara ketus, “Nih!”


Damar tahu, bahwasannya kini sang istri sedang cemburu kepada Direktur Angelina. ia hanya memberi isyarat agar Wulan menaruh ponselnya di meja dengan dagunya, “Taruh aja di meja, lagian janji? Janji apa?!” katanya, seraya mengingat janji apa yang sudah ia sepakati bersama rekan bisnisnya itu. “Ho.. iya janji itu!” celetuknya, membuat Wulan terkesiap.


Wulan pun berdiri secara tiba-tiba, lalu berjalan melewati Damar yang sedang menatapnya, “Mie burung dara enaknya nyambung teruuus!!!”


Damar mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Wulan, “Yah, dia malah iklan!” gumamnya lirih. Dengan sigap Damar menyambar tangan Wulan, “Mau kemana?” tanyanya, lantas berdiri di belakang Wulan.


“Mau janjian, sama teman!” cetusnya, lalu mengibaskan tangan Damar, dan melenggang pergi keluar kamar hanya dengan memakai kaos oblong warna putih serta celana training panjang milik Damar yang terlihat kebesaran di tubuhnya.


Damar menghela nafasnya, ia geleng-geleng kepala melihat sikap cemburunya Wulan. “Ya, ya, ya... wanita itu memang pandai menyembunyikan rasa cemburunya, tapi lupa cara mengatakannya. Wes-wes angel! (Sudah-sudah susah)” ia pun menyusul Wulan yang lebih dulu berjalan ke ruang keluarga.


Diruang keluarga sudah ada kedua orangtua Wulan, Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia, Danum dan Bu Suci yang sedang bercengkrama dengan di temani teh hangat dan pisang goreng di atas meja bundar lebar di tengah-tengah sofa.


Suara Danum yang baru melihat keadaan Damar dan Wulan pun membuat semua orang yang berada di sana terkesiap. “Ihiww.... manten baru!”


“Danum!” gertak Bu Suci pada putra bungsunya.


Danum cengengesan..


Mendapat serangan tatapan dari kedua orangtuanya juga dari keluarga Kakek Bagaskara, membuat Wulan salah tingkah. “Maaf Wulan, telat.”


“Jangan dengarkan adikmu ini, Wulan. Mulutnya si Danum kadang melebihi emak-emak suka usil gosipin tetangga!” omel Bu Suci, melirik tajam kepada Danum yang hanya membalas tatapan Ibunya dengan cengiran kuda. Bu Suci lantas menghampiri anak menantunya, lalu membawanya untuk duduk di sebelahnya.


Damar pun menyusul, ia mendekati adiknya, seraya dengan sengaja mencubit lengan Danum, namun tatapannya menatap kedua orangtua Wulan. “Ayah, Mamah.” sapanya hangat, dari sapaannya, ia pun mendapat anggukan kepala dari kedua orang tua Wulan.


“Pagi Damar!” ucap Ayah Wicaksono.


Danum mengusap lengannya yang mendapat cubitan dari jemari tangan Kakaknya, “Mas Damar kui yo, tanganne jan koyo piting! (Mas Damar itu ya, tangannya seperti kepiting) suka nyubit!” gerutunya kesal.


•••


Bersambung....



Please like, vote, komen. Agar saya semangat up terus, itupun kalau masih ada yang menunggu up selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2