Presdir Cilok

Presdir Cilok
119 Inilah yang aku harapkan


__ADS_3

Terkadang pemikiran dan pemahaman tidak sejalan dengan apa yang terjadi, seperti halnya berjalan di atas tanah berpasir. Dimana kaki berpijak, pasti butiran pasir kecil yang tak terlihat mengikuti arah kemana kaki melangkah. Dan seperti inilah yang Damar tengah amati, ia begitu terkejut melihat seorang wanita yang telah menjadi bagian dari masa lalunya, masa yang sudah ia lupakan.


Entah sampai kapankah! Dengan cara apakah? Ia bisa menghindarinya. Menghindari pelik permasalahan yang sebenarnya telah usai antara dirinya dan juga sang mantan.


Perasaan yang semula bergelayut manja penuh cinta, kini seakan sirna, redup dan musnah. Benci? Bagaimanakah dengan benci? Iyah, benci! Damar memilih untuk tidak membencinya. Berbeda dari benci, Damar hanya tidak menyukai orang yang selalu bisa mencari alasan untuk mencampakkan dan meninggalkan. Barangkali, rasa syukur kinilah yang mendominasi perpisahannya dengan Ratna.


Dari awal memasuki halaman rumah saja, Damar sudah bad mood. Karena perdebatannya yang belum menemui titik terang mengenai kalung liontin putih milik Wulan. Dan kini, lebih membuatnya malas untuk membahas. Damar tidak habis pikir, untuk apa Ibunya mempersilahkan wanita yang jelas-jelas sudah mencampakkannya.


Damar mendekapkan tangannya, ia masih berdiri kokoh tak tergoyahkan sejak memasuki ruang tamu. Menatap Ratna dengan sorot mata garang. “Ada perlu apa kamu datang kesini?!”


Ratna menelan ludahnya, ia tahu betul sikap dingin Damar. Telah menjabarkan ketidaksukaan dengan pertemuan ini. Gemetar, tidak seperti saat ia memantapkan hati untuk bertemu dengan pria yang masih dicintainya. Yah, cinta yang sudah membuatnya seperti orang bodoh dan naif. Ratna seakan tidak perduli dengan hal itu, seolah harga dirinya pun tak ia hiraukan.


“Jangan hanya diam Ratna!” bentak Damar, menggema di tengah-tengah ruang tamu.


Wulan terkejut dengan suara Damar yang memekikkan gendang telinganya. Ia menatap Damar, tersirat jelas wajah suaminya itu, sedang berusaha menahan diri dari amarah. Ia mengalihkan pandangannya, menatap Ratna yang masih terduduk di sofa tidak berkutik, netranya menyusuri Ratna dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Wulan merasa Iba dengan penampilan Ratna saat ini, pakaiannya yang kusut, lusuh, wajahnya yang sayu serta rikma yang tak beraturan. Ia berpikir untuk membuat Damar lebih memelankan pita suaranya, seburuk apapun masa lalu. Bukankah, setiap manusia pantas untuk dimaafkan. Namun, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Bu Suci seraya menggeleng tipis.


Bu Suci memegang tangan Wulan, beliau menahan agar anak menantunya ini tidak perlu ikut terlibat kedalam permasalahan Damar dan Ratna.


Suasananya terasa menegangkan, bahkan Danum dan Nenek Ayudia lebih memilih menunggu di ruang keluarga.


Sejak setibanya Damar, Ratna tidak berani berkutik. Bahkan untuk memindahkan kedua tangan yang bertumpu di atas paha yang di balut rok tiga perempat, pun ia seakan takut, inilah kali pertama bagi Ratna melihat Damar marah hingga bersuara dengan nada tinggi. Ratna bangun dari duduknya, masih menundukkan pandangannya. “Damar...”


Damar memandangi Ratna dengan sorot mata malas, dleming.... Seolah apapun yang akan dikatakan Ratna hanyalah sebuah bualan dan omong kosong!


“Maafin aku Damar,” ujarnya lirih. Mulai berani mengangkat wajahnya, menatap Damar.


Damar masih terdiam, ia membuang pandangannya.


Ratna berjalan mendekati Damar, lalu berhenti dengan jarak dua meter. “Aku sadar siapa aku ini, aku tau setiap kesalahan ku padamu sudah terlalu besar, Damar. Bahkan untuk memintamu kembali lagi bersamaku adalah mustahil,”


Damar masih enggan menjawab, masih memandang kearah yang berbeda.


“Aku nggak tau, kalau Papi memintamu untuk menjagaku. Aku minta maaf Damar... Sungguh aku nggak tau dengan hal itu,” sambung Ratna dengan suara parau.


Bu Suci dan Wulan menatap Damar dan Ratna... Sebagai seorang wanita, nalurinya seakan terhipnotis melihat wanita yang datang dengan tampilan acak awud. Bahkan kini, terlihat sangat putus asa akan hidupnya.


“Aku akan pergi dari hidupmu, Damar,” ujarnya lirih, ia menatap Damar, sedangkan Damar masih membuang tatapannya. “Kamu harus hati-hati terhadap Opik, dia sedang menyusun rencana untuk menghancurkan bisnismu,”


Seketika Damar membulatkan matanya, ia mengalihkan atensinya dari lukisan burung merak sebagai penghias dinding. lalu menatap Ratna. “Jangan mengarang cerita, Ratna!” sentaknya, keras.

__ADS_1


Ratna menggeleng keras. “Sungguh aku nggak bohong, Damar. Aku mendengar rencana Opik, saat aku datang ke rumahnya untuk menandatangani surat cerai. Aku nggak sengaja mendengar dia sedang berbicara dengan kelima orang berpenampilan seperti preman,” ungkapnya, mengatakan apa yang ia tahu.


Wulan mendekat... “Apa yang sedang mereka rencanakan?” tanya Wulan, memandangi Ratna mencari celah kejujuran di sana.


Ratna beralih menatap Wulan, ia menggeleng pelan. “Aku nggak bisa mendengar semuanya, karena Opik menyadari keberadaan ku yang sedang mendengarkannya dari balik pintu,”


Damar memicingkan matanya menatap Wulan dan beralih menatap Ratna. Damar berpikir bahwa bisa saja Ratna mengetahui lebih rencana Opik. “Terima masih atas informasimu, Ratna.”


Ratna mengulas senyuman, hatinya bersenandung senang. Kata ‘terima kasih' dari Damar, ia menganggapnya sebagai ungkapan, bahwa Damar telah memaafkannya. “Hanya itu yang ingin aku sampaikan, Damar,” ia menatap Wulan, lalu berjalan mendekati wanita yang telah di pilih Damar. “Selamat atas pernikahanmu.” ucapnya, memegang tangan Wulan.


Wulan mengerjap, seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan Ratna, kendatipun demikian ia mengetahui bahwa Ratna masih mengharapkan suaminya. Namun, Wulan mengangguk canggung. “Terima kasih.”


Ratna beralih menatap Bu Suci, lantas berjalan mendekati wanita setengah baya yang dulu pernah akan menjadi mertuanya. “Terima kasih Bu Suci, sudah menolong saya.”


Bu Suci mengangguk tipis diselingi tersenyum simpul. Beliau mengusap rikma Ratna. “Sama-sama, jaga dirimu baik-baik, Ratna.”


Ratna terenyuh mendapat perlakuan lembut dari Bu Suci, ia pun mengangguk. “Iya Bu Suci... terima kasih,” ada rasa sesal yang mendalam telah meninggalkan Damar. Ratna kembali menatap Wulan. ‘Kamu sangat beruntung Wulan.’


“Saya permisi...” ujar Ratna, lantas berbalik badan memunggungi Damar, Bu Suci, dan Wulan. Namun, sesaat kemudian ia menghentikan langkahnya, tatkala Damar memanggilnya.


“Ratna!” seru Damar, sekilas menatap Wulan dan fokus menatap Ratna.


Ratna menoleh menatap ketiga orang yang berjarak dua meter darinya. Lebih memfokuskan tatapannya ke arah Damar.


Ratna tercengang mendengar usulan Damar, ia segera menyusul Damar. Takut, jika pria itu akan berubah pikiran.


Bu Suci terhenyak mendengar usulan putra sulungnya itu. “Damar!” namun, agaknya Damar terlanjur pergi dari ruang tamu.


Netra Wulan membulat sempurna, memandangi kepergian Damar. Usulan Damar, yang menawarkan diri untuk mengantar Ratna pulang seolah menjadi cubitan keras di hatinya. Untuk berkata jangan pun seolah percuma. Wulan berlari keluar rumah dan melihat mobil yang membawa Damar juga Ratna telah meninggalkan pelataran rumah Joglo.


••


Di perjalanan...


“Dimana sekarang kamu tinggal?!” tanya Damar dingin, tanpa menoleh kearah Ratna.


Ratna senang sampai-sampai ia menatap Damar tidak berkedip sedikitpun. Dengan menyandarkan dagunya di telapak tangan. Bahkan, seketika telinganya seakan menuli.


Damar menoleh sekilas kearah Ratna, lagi.. ia bersuara dengan nada yang lebih ketus. “Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku hanya kasihan padamu. Cepat katakan dimana kamu tinggal?!”


Ratna tersentuh sumringah, seolah nada apapun yang di pakai Damar terdengar sangat merdu. “Di Kebumen..” sahut Ratna, masih memandangi Damar.

__ADS_1


Damar mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan keadaan Ratna kini, yang tengah terrguncang akibat ulahnya mengemudi.


••


Wulan tidak merasa tenang sedikitpun, ia berjalan bolak-balik di ruang tamu. Cemas menunggu kepulangan Damar. Beberapa kali ia menggigit ujung kuku jarinya.


Tanpa sadar jemarinya mengeluarkan darah akibat gigitannya yang seakan tak terasa telah melukainya sendiri. “Awww... ssshh...” Wulan keluar dari ruang tamu, namun Damar tak kunjung pulang. Rasa cemburunya semakin menjadi tak karu-karuan. Sedih, senyap, merajam menghantam palung jiwanya.


Bu Suci berjalan mendekati Wulan, mengusap lembut punggung menantunya yang sedang dilanda kecemasan, seolah Damar telah pergi bersama dengan wanita jal*ng. Bu Suci melihat ujung jemari Wulan yang terluka. “Wulan, jarimu berdarah, ayok masuk, Ibu akan mengobatinya.”


“Bu...” ucapan Wulan mengambang.


Bu Suci bersitatap dengan Wulan, tatapan Wulan mensiratkan kegelisahan yang tergambar jelas. Beliau lantas mengangkat tangannya, mengusap rikma Wulan. “Nak, semua akan baik-baik saja. Nggak baik juga untukmu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan.”


Wulan merasa mendengar penuturan Bu Suci adalah benar. Toh, apa salahnya dengan mengantar pulang. Bukankah sesama manusia harus saling tolong menolong dan bertoleransi terhadap sesama. Ia pun mengikuti langkah Bu Suci untuk masuk kedalam rumah.


Satu jam sudah, Wulan menunggu Damar, ia duduk di tepian ranjang king size milik Damar. Memandangi setiap inci kamar yang terdapat banyak poster bola, berlogo Juventus. Ia kembali berdiri, mondar-mandir dan kembali duduk.


“Astaghfirullah, ada apa denganku ini?” Wulan mengusap dadanya yang seakan terguncang badai topan kecemburuan.


Wulan merasa sangat engap di kamar, seolah stok oksigen di dalam paru-paru telah habis. Ia berinisiatif untuk keluar saja dari kamar. Dan secara kebetulan ia menabrak tubuh seseorang yang akan memasuki kamarnya, tubuh yang sangat familiar. Hingga hampir membuatnya terhuyung ke belakang.


“Damar!” pekik Wulan membelalakkan matanya, menatap suami yang baru tiba.


Damar dengan sigap meraih tubuh istrinya yang hendak mencapai lantai kamarnya, masih dengan sikap sok cool, berkesan dingin.


Wulan segera merangkul Damar, seolah sudah berabad-abad lamanya ia baru bersua. Ia merindukan aroma tubuh suaminya, kehangatannya. Semua itu, bagai candu asmara yang didamba.


Di belakang kepala Wulan yang memeluknya. Damar menghirup aroma rikma istrinya yang berbau mint, ia tersenyum simpul. Tapi masih bersikap sok acuh. Bahkan ia tidak membalas pelukan hangat istrinya. Damar berujar dengan nada suara dingin. “Kita harus berangkat ke perusahaan sekarang, atau kalau kamu mau, kamu bisa di sini!”


Wulan mengurai pelukannya, ia merasa suaminya ini bersikap acuh. Wulan berpikir bahwa Damar masih marah perihal kalung liontin putih miliknya.


Damar berbalik badan memunggungi Wulan, namun seulas senyuman jail, menghiasi kedua sudut bibirnya. Hingga pada akhirnya luntur, karena mendapati Danum sedang menatapnya di depan kamar. “Ehem...” ia berdehem keras, seraya memberi kode lewat matanya kepada adiknya itu untuk pergi saja dari depan kamarnya.


Danum cengengesan melihat Kakaknya yang sedang memainkan drama untuk mengerjai Wulan yang tengah terbakar api cemburu. “Hehehe....” kekeh Danum lirih, lalu pergi.


Wulan memeluk Damar dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung suaminya ini. “Aku minta maaf, aku nggak akan menutupi hal apapun darimu.”


Damar dleming.... namun masih tersenyum jaim. ‘Inilah yang aku harapkan.’


•••

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan Like.. karena satu like sangat berharga bagi saya. Terimakasih.


__ADS_2