
Sepulangnya dari menikmati bakso di angkringan pinggir jalan.
“Kepiye (gimana) sekarang menjadi dirimu sekarang ini, Mar?” tanya Bokir, di dalam perjalanan menuju Amanah food.
Damar tengah mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan jalanan, menyusuri dari setiap sudut kota yang menjadi saksi perjalanan hidupnya. Sekian lama berpikir dan mengacuhkan ucapan Bokir, sesaat kemudian Damar menjawab dengan nada datar. “Aku bersyukur,”
Bokir mengernyitkan dahinya, memandang Damar dari kaca di atas kemudi. “Hanya itu?”
Kali ini Damar mengalihkan atensinya, menatap Bokir dari belakang jok kemudi. “Lalu aku harus menjawabnya apa?”
“Yah, saya pikir dengan apa yang sekarang kamu miliki, akan merubah mu menjadi ini dan itu,” tukas Bokir, dari setiap jejak orang yang pernah Bokir temui, harta bisa dalam sekejap merubah seseorang yang tadinya merendah tiba-tiba sombongnya, ampun.
“Ini dan itu, gimana?” tanya Wulan, melirik Bokir dan bersitatap dengan Damar.
Dunia ini seperti sedang menonton drama, kebahagiaan dan kesedihan. Dua hal yang menjadi pokok permasalahan dalam hidup. Bondo? Biasa di sebut dalam kamus bahasa Indonesia sebagai (Harta). Adalah suatu hal yang sangat di banggakan, dan di elu-elukan bagi setiap orang! Bukan, bukan hanya setiap’ bahkan semua orang... berkeinginan hidup dengan kelimpahan harta dan jikalau bisa (Tahta) sekaligus.
Namun, tidak demikian dengan Damar. Kendatipun, ia bukan lagi menyandang si penjual cilok keliling, akan tetapi kehidupan sederhana lah yang ia pilih. Damar berpikir, lebih baik banyak bersyukur dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Tapi bukan berarti bisa juga di manfaatkan oleh orang lain.
Mengerti setiap porsi masing-masing dalam jiwa, sekiranya. Itulah patokan untuk bisa menjadikannya pelajaran berharga dalam hidup, agar tidak terjerumus dan tergerus dalam germeliknya hidup serta gengsi tinggi semata.
“Bukankah Nabi Sulaiman jauh lebih kaya dari Firaun Kang?” cetus Damar, entah mengapa ia ingin berkata seperti itu.
Bokir heran dengan jawaban Damar. “Apa hubungannya kehidupan mu dan Nabi Sulaiman, terus kenapa sama Firaun, hidup lagi dia?”
“Yah, aku hanya ingin bertanya hal itu aja, siapa tahu Kang Bokir tau,” jawab Damar santai. “Siapa yang lebih kaya?!” sambung Damar tanpa adanya rasa bersalah sudah membuat kedua orang yang mendengar celotehnya limbung.
Wulan dan Bokir dleming.... dan semakin di buat bingung dengan jawaban Damar yang terkesan nyeleneh. Tak nyambung, dengan pembahasan yang sedang di ajukan oleh Bokir, jauh dari kata melenceng.
“Wah, Lan. Kayanya suamimu konselet!” celetuk Bokir.
Wulan memandangi wajah Damar dari samping, namun ia tak berkata apapun. Ia tersenyum simpul seraya mengusap lembut pipi suaminya itu. Seperdertik kemudian, ia berkata dengan quotes yang pernah di bacanya, suatu gambaran dari perjuangan hidup. “Masa depan cerah merupakan masa depan dari masa lalu yang telah kita jalani. Kita dapat meraih sukses dengan terlebih dahulu menjalani proses yang panjang. Bahkan harus mengalami jatuh bangun untuk meraihnya.”
Damar memandangi kedua manik mata istrinya, menyambut tangan istrinya yang mengusap lembut. “Terima kasih.”
Setelah melewati jalanan, mobil pun sampai di pelataran parkirkan Amanah food.
“Mar, saya pulang dulu,” kata Bokir, seraya memberikan kunci kepada Damar.
Damar menerima kunci yang di berikan oleh Bokir. “Makasih Kang Bokir, hati-hati di jalan, kan tau sendiri kalau jalanan licin.”
“Oke!” Bokir melambaikan tangannya, lalu berjalan menuju parkiran bersamaan dengan para karyawan lain yang baru keluar dari area produksi pabrik.
Karena hari sudah mulai gelap, Damar dan Wulan pun memutuskan untuk pulang.
••
__ADS_1
Di tengah-tengah ruang keluarga, setelah melewati waktu isya dan sholat berjamaah. Kini Damar berniat untuk menyampaikan sesuatu kepada Ibunya juga kepada Kakek dan Neneknya, sesuatu tentang kepindahannya ke rumah legendaris yang melukiskan begitu banyak kenangan-kenangan masa ia lahir dan masa ia dibesarkan. Juga masa dimana seorang Damar berjuang dari nol untuk merintis usahanya.
“Kakek, Damar ingin tinggal di rumah lama, bersama dengan Wulan,” tutur Damar, duduk dengan jarak dua sofa dari Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara mengangguk tipis, sebenarnya berat untuk beliau berkata mengiyakan. Akan tetapi, nampaknya itu sudah menjadi keputusan mutlak dari cucunya. “Tapi dengan satu syarat.”
Damar mengerutkan keningnya. “Syarat?”
“Biarkan Ibumu dan Danum tetap tinggal di rumah ini, untuk menemani Nenekmu, Damar.” pungkas Kakek Bagaskara.
Bu Suci menghela nafas panjang, bagaimana pun juga beliau berpikir bahwa usia kedua orang tua dari Almarhum suaminya sudah sangat sepuh. Meskipun Bu Suci berkeinginan kembali menempati rumah lama. “Ibu akan di sini, tapi jangan lupa untuk setiap hari mengunjungi kami, Damar, Wulan. Meskipun kalian sangat sibuk,”
Wulan menggenggam tangan Ibu mertuanya dengan penuh perasaan. “Kami akan berkunjung, Ibu,”
“Dan segera berikan kami cicit, Damar. Ndakkah, kamu merasa kasihan dengan usia kami ini. Memangnya kami ini ular yang setiap waktu bisa berganti kulit!” seru Nenek Ayudia, memandangi Wulan dan beralih memandangi Damar secara bergantian.
Kakek Bagaskara, Bu Suci dan Danum pun terkekeh mendengar permintaan Nenek Ayudia, yang terkesan tidak sabaran, padahal mereka tahu sendiri, pernikahan Wulan dan Damar belum genap sepekan.
Wulan menelan ludahnya susah-susah, bagaimana bisa, orang hamil bisa langsung mengeluarkan orok. Bukankah perlu waktu, membuatnya, mengandung, dan melahirkan. Jika di pikirkan semua itu perlu waktu, namun ia tidak memberikan tanggapan secara signifikan. Wulan hanya tersenyum hambar, seraya membatin. ‘Semoga saja secepatnya. Toh, untuk apa menundanya, usiaku juga sudah nggak muda lagi.’
Damar terkekeh kecil.. “Sedang di usahakan, Nek. Jangan lupa untuk selalu mendoakan kami, agar diberikan anak Soleh dan solehah.”
“Amin.” kata Nenek Ayudia bersamaan dengan Bu Suci.
“Kalau aku nanti punya keponakan, nanti ta ajarin kalau menyebutku bukan Pak le!” cetus Danum yang baru bergabung, seraya menempelkan kedua jari telunjuk dan jempolnya dibawah dagu seolah sedang berpikir hebat.
“Om!” cetus Kakek Bagaskara.
Danum menggeleng
“Tante!” celetuk Damar
“Iuh... nehi (tidak)” sahut Danum, seraya mengibaskan jari telunjuknya. “Masa Tante, memang aku ini bencong!” lanjutnya, dengan gaya letoy. Ia pun duduk di sebelah Nenek Ayudia.
Damar dan Wulan pun menunggu apa yang akan dikatakan Danum. Menatap dengan tatapan malas, melihat gaya tengilnya.
Tiba-tiba Danum berseru girang, membuat Kakek, dan Neneknya terkejut. “Haaaa.... aku tau!!”
“Astaghfirullah, Danum!!” seru Nenek Ayudia, menggeplak kepala cucunya yang senang sekali jahil.
Danum mengusap kepalanya, sambil memanyunkan bibirnya. “Aih... Ndak Ibu, ndak Nenek seneng banget main geplak! Emang sirahku (kepalaku) tenis meja!” gerutunya.
Damar, Wulan dan Kakek Bagaskara terkekeh kecil, selalu saja ada tingkah Danum yang bikin heboh. Sementara Bu Suci hanya dleming dengan sikap putra bungsunya.
“Kamu lebih dari sekedar tenis meja, Num!” tukas Damar, seraya terkekeh garing.
__ADS_1
“Iyah, meja catur, sekalian!” cetus Danum, lantas mengatakan sebutan untuk panggilan untuk calon keponakannya yang belum terbentuk. “Aku mau di panggil dengan sebutan, Paman ganteng!” lanjutnya, dengan menengadahkan wajahnya menatap plafond anyaman bambu.
Hening... tiada yang menyahut ucapan Danum, karena semua orang sudah berdiri dan bersiap-siaplah meninggalkan remaja yang suka sekali berkhayal di ruang tengah.
Danum bingung, dengan tidak adanya suara. Ia lantas menurunkan atensinya dari plafond anyaman bambu. Namun, ia sudah mendapati, Damar dan Wulan yang berjalan menjauhinya dan juga Kakek Bagaskara yang sudah mendorong kursi roda Nenek Ayudia, berjalan menuju kamarnya masing-masing. Hanya tersisa Bu Suci saja. “Walah... asem tenan, aku di cueki!!” seru Danum, geram.
“Le cah bagus, mau apapun nanti keponakan mu memanggilmu, tunggu sampai Mas mu punya anak. Sudah malam, sana tidur.” pungkas Bu Suci lantas beranjak dari duduknya.
“Nggeh, (iya) Bu.” Danum pun berjalan menuju kamarnya.
••
Keesokan harinya... Setelah sarapan Damar dan Wulan, juga di bantu Bu Suci membereskan barang-barang Wulan, untuk selanjutnya di pindahkan ke rumah lama. Sejauh apapun kaki melangkah, tetap rumah lah yang menjadi tempat untuk pulang. Dan itulah mengapa Damar ingin kembali ke rumah lamanya.
Rumah yang sudah kosong beberapa bulan belakangan ini. Rumah yang menjadi sejarah dan kenangan bagi kehidupan keluarga kecil Almarhum Gusli Wijaya. Kini di sulap menjadi bangunan yang lebih tertata rapih dengan batu alam yang menambah kesan alami nan elegan.
“Pindahan, Mar, Bu Suci?” seru seorang pria menghampiri Damar yang baru turun dari mobil.
Damar, Wulan dan Bu Suci pun menoleh kearah sumber suara.
“Iya, Kang Karso..” jawab Bu Suci.
Kang Karno pun turun dari motornya, menghampiri Damar, Bu Suci dan Wulan.
“Iya Kang, eman-eman sudah lama kosong,” sahut Damar, menjabat tangan seorang pria setengah baya yang dahulu pernah berjuang bersamanya menjajakan dagangan ciloknya. Bahkan kini Kang Karso bekerja di perusahaan bagian penyimpanan bahan mentah.
“Iyalah, kasihan juga kan rumah ini perjuangan Bapakmu dulu, Mar.” jawab Kang Karso. Sekilas Kang Karso melihat Wulan, ia sudah tahu jikalau Damar sudah menikah, karena ia pun menjadi salah satu saksi akad Damar dan Wulan.
“Iya Kang, kalau begitu aku masuk dulu,” ujar Damar.
Kang Karso pun mengangguk. “Iya, mau saya bantuin bawa barangnya?”
“Terima kasih Kang, ini barang yang kami bawa cuma sedikit.” kata Damar, seraya melihat sekilas barang bawaannya.
“Kalau begitu saya lanjut ke berangkat ke pabrik, Mar.” ujar Kang Karso.
“Iya, Kang Karso. Nanti aku menyusul setelah mengurusi semua ini.” jawab Damar.
Kang Karso mengangguk, lalu berpamitan dan berjalan menuju motornya yang terparkir.
Damar, Wulan dan Bu Suci kembali berjalan memasuki pelataran rumah yang sudah di renovasi.
“Assalamualaikum...” salam Damar saat memasuki rumahnya, dengan membawa dua tas berisikan pakaian istrinya.
Wulan dan Bu Suci pun menyusul di belakang Damar, memasuki rumah yang sudah di renovasi. Kayu yang dulu lapuk, kini sudah terganti. Pintu yang dulu pernah lepas, kini sudah di ganti dengan kayu jati. Semua sudah lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
•••
Bersambung...