
Apapun mereka bilang..
Tekadku takkan hilang..
Jalan ku masih panjang..
Garis akhir yang ku pandang..
Sebuah lagu penyemangat dari Rapper Indonesia Saykoji. Yang selalu menjadi menyemangat di kala Damar sedang merasa butuh asupan mood booster untuk kembali melangkah melanjutkan kehidupan yang penuh dengan perjuangan dan kerja keras.
Dalam pandangan hidup, semua berawal dari imajinasi, angan dan mimpi. Baru kemudian berusaha untuk mewujudkannya. Damar mempercayai kemampuan suatu hal tentang rezeki.
Tidak ada yang namanya rezeki besar ataupun rezeki kecil. Damar menyimpulkan, seyogyanya rezeki yang di dapat mau seberapa pun sepatutnya di syukuri. Karena dari rasa syukur segala kesulitan akan menjadi mudah.
Dan segala bentuk rezekinya pun akan jadi lebih berkah.
Seperti halnya hari selanjutnya, setiap hari Damar lalui dengan berjualan cilok. Kali ini di depan jalanan kampus tempat biasa ia mangkal.
Ingin rasanya Damar bisa membuka lapak, menyewa tempat untuk menjajakan dagangannya. Agar tidak lagi berkeliling, namun dari sewa lapak sendiri, sudah terbilang cukup mahal.
Dengan harga sewa 5 juta setahun satu ruko berukuran 3x6 cm di rasa sangat memberatkan Damar. Saat sedang menunggu anak-anak kampus pulang
Damar mengerutkan keningnya, saat sebuah mobil berhenti di tepian jalan tidak jauh dari keberadaan gerobak ciloknya berada.
Seorang laki-laki tegap dengan celana hitam, baju hitam turun dari mobil jok depan. Lalu berjalan kearah pintu mobil tengah dan membukanya.
Seorang Pria setengah abad berkemeja cokelat corak batik, celana panjang hitam serta berkacamata minus keluar dari dalam mobil Alphard yang di buka oleh pria bertubuh tegap.
Terlihat dari caranya berpakaian, pria dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi serta sedikit botak pada bagian rikmanya. Adalah suatu ciri orang yang berkelas. Dengan sepatu hitam bermerek menambah kesan seorang konglomerat.
Lantas pria yang sudah terlihat tidak muda ini pun mendekati gerobak cilok Damar. Damar tersenyum canggung namun berusaha ramah.
Tidak biasanya seorang yang menaiki mobil mewah mau berhenti di depan gerobak ciloknya. Damar berpikir beliau hanyalah orang yang mau bertanya tentang alamat kepadanya.
Dari jarak dekat sekitar satu setengah cm, dapat Damar simpulkan bahwa kemeja batik yang dikenakan Pria yang mungkin seumuran dengan Almarhum Bapak Gusli, adalah batik tulis dengan harga selangit.
__ADS_1
Damar dapat membedakan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari warna dasar kain batik tersebut. Batik cap biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Sedangkan batik tulis memiliki warna dasar kain lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif.
Damar selalu memperhatikan kain khas Indonesia saat melewati pasar khusus batik di wilayah Bantul. Batik tulis dibuat dengan tangan, setiap motif kain tersebut. Di setiap awal dan akhir mengeblok lilin dengan canting pasti ada tetesan yang lebih besar karena dengan menggunakan tangan pasti di awal dan di akhir menggunakan tekanan yang lebih besar dan membuat goresan lebih tegas.
Lahir di Jogja membuat Damar mengerti akan beberapa perbedaan ciri khas batik tulis dan batik cap. Bisa di katakan saat Damar kecil Bu Suci pernah bekerja sebagai pencantingan kain batik di salah satu perusahaan konveksi batik yang sukses di eranya. Akan tetapi, karena suatu hal perusahaan tempat Bu Suci bekerja bangkrut.
"Ada yang bisa dibantu Tuan?” tanya Damar canggung, dengan sedikit mencondongkan tubuhnya membungkuk tanda memberi rasa hormat kepada seseorang yang jauh lebih tua darinya.
"Tidak perlu seformal ini,” sahutnya dengan sedikit mengulas senyuman di bibirnya.
Damar kembali tegak, dan tersenyum simpul.
"Berapa satu biji ciloknya?” tanya Pria yang terlihat sangat berwibawa.
"Lima ratus rupiah Pak,” jawab Damar.
Pria itupun melihat panci dandang yang ada di tengah gerobak, "Boleh di buka penutup pancinya?” pintanya.
Damar sedikit bimbang, terkait ada apakah gerangan, namun Damar tetap harus menurutinya.
"Boleh saya cobain satu biji?” pintanya pada Damar.
kening Damar mengerut, ia heran. Ada apakah gerangan, akankah orang yang sedang di tatapnya merupakan pejabat dari badan pemeriksa makanan.
Damar ragu, jelas saja terlihat. Namun ia mengambil satu tusuk cilok sebesar biji salak dengan tusuk sate yang berukuran kecil. Dan memberikan satu biji cilok di hadapannya,
"I-ini Pak,” ucap Damar masih dengan bibir yang seakan sulit di gerakkan.
Pria yang berkemeja batik dengan motif sangat berwibawa pun menerima cilok dari Damar. Damar terasa ngelu kala melihat satu biji cilok itu memasuki mulut dari Pria di depannya.
"Apa cilok ini buatan mu?" tanyanya setelah mencicipi cilok yang memang buatan Damar.
Damar mengangguk
"Saya mau beli semua,” pungkasnya setelah mengunyah cilok, dan ingin memborong semua cilok Damar. Membuat Damar mengerjap-ngerjapkan matanya, sungguh ia tidak percaya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, beneran Pak?” tanya Damar memastikan, dan mendapat anggukan dari Pria bertubuh agak sedikit gemuk di depannya.
Dengan cekatan Damar membungkusnya dengan plastik ukuran setengah kilogram. Dan total semua dari cilok yang terbungkus, ada dua puluh lima bungkus plastik berukuran setengah kilogram dengan toping bumbu yang terpisah.
"Ini Pak,” ucap Damar memberikan bungkusan berisikan cilok.
Pria ini pun menjentikkan jarinya kearah belakang, Damar mengikuti arah jemarinya yang memanggil pria tegap yang berdiri di belakang Pria yang memborong semua ciloknya.
Damar berpikir pria yang bertubuh tegap ini adalah pengawal atau bisa jadi bodyguard? Tapi apa bedanya pengawal dan bodyguard? Bukankah sama-sama menjaga orang yang sedang di kawalnya?
Dengan sigap pria yang sejak tadi hanya diam pun mengambil plastik yang Damar berikan.
Pria yang memborong cilok pun mengeluarkan dompet memberikan sejumlah uang yang tidak terhitung jumlahnya, membuat Damar limbung. "Pak, ini terlalu banyak,” ujar Damar, hendak mengembalikan uang yang di rasa lebih.
Dengan tangannya lantas pria ini pun menahan uang yang akan di kembalikan Damar padanya. "Ini sebagai uang muka, untuk memulai kerjasama dengan saya, anak muda.”
Damar bingung, ia heran atas perkataan orang yang seumuran dengan Almarhum Bapaknya. Bukan bermaksud menyepelekan tawarannya, namun Damar hanya ingin mengetahui. Benarkah yang di ucapkannya sungguh-sungguh untuk melakukan kerjasama. "Ma--maksud Anda?” tanya Damar tergagap.
Lantas Pria ini pun mengeluarkan secarik kartu nama perusahaan makanan pabrikan, dan memberikannya kepada Damar. Damar menerima dengan tangan bergetar, tidak percaya dengan apa yang Pria ini tawarkan.
Damar melihat kartu nama, jelas bukan sembarang tulisan dari pabrik makanan terkenal di Nusantara.
"Saya akan menunggu besok di perusahaan.” ujarnya, lalu berbalik badan dan masuk kedalam mobil dengan seulas senyuman, seolah tergambar harapan.
meninggalkan Damar yang masih terpaku, diam membisu, seolah mendapatkan angin segar dari hujan salju.
Damar menatap perginya mobil Alphard yang sudah berlalu, dengan sedikit berteriak,
"Terimakasih Pak Bambang, terimakasih!.” seru Damar, baru mengetahui namanya dari kartu nama yang diberikan Pria yang juga menjabat sebagai staf dari perusahaan makanan terkemuka di Nusantara.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah atas rezeki dari-Mu ini. Ku anggap orang tadi adalah malaikat perantara dari-Mu, yang sengaja Engkau kirim untuk memberikan berkah padaku.” gumam Damar penuh dengan rasa syukur.
•••
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentar penyemangat. Terimakasih