
“Aku berharap, aku bisa memutar waktu kembali. Di mana aku menyadari lebih awal kesalahan ku dalam memilih,” Ratna mengalihkan pandangannya menatap ke hamparan birunya langit.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, angin siang ini melambaikan hijab yang dikenakannya, “Tapi, kembali lagi pada kenyataannya kini...” Ratna memejamkan matanya, bayangan masa lalu indah, berasa baru kemarin ia lewati bersama dengan Damar, “....aku sendiri.” gumamnya dalam kerapuhan yang kemudian terus ia asah menjadi kekuatan.
Pandangannya kembali mengamati Damar dan Wulan yang semakin menjauh dari jangkauan penglihatan, ponsel yang sejak tadi hanya berdiam di dalam tas berdering. Ratna merogoh tas dan mengambil ponselnya dari sana.
Secepatnya, Ratna menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinga, “Assalamualaikum..” sejak tinggal dan belajar ilmu agama, ia kini lebih sering menggunakan kalimat salam dalam kesehariannya.
“Wa'alaikumussalam, Ratna kamu sekarang di mana, aku udah ada di parkiran,” jawab seseorang dari seberang telepon.
Ratna terkesiap begitu cepatnya kah perjalanan dari Nganjuk ke Jogja? ”Iya, aku akan segera ke parkiran.”
Panggilan telepon pun berakhir, Ratna kembali mencemplungkan ponselnya ke dalam tas. Lantas bergegas menuju ke parkiran mobil dengan berjalan hati-hati tentunya, guna menyeimbangkan langkahnya yang tak lagi mudah.
Sampai di parkiran Ratna celingukan dan melihat ada banyak mobil yang terparkir, sesaat kemudian ia melihat seseorang yang melambaikan tangan kearahnya. Perlahan Ratna melangkahkan kakinya, tersenyum lebar dan berjalan menuju seorang pria yang tengah berdiri di depan mobil Avanza, seorang lelaki yang tak lain adalah Kakak laki-lakinya yang bernama Ilham.
“Mas Ilham, aku pikir Mas Ilham masih lama sampai di Jogja,” Ratna menyalami tangan Ilham.
Ilham tersenyum senang, banyak hal positif yang mengubah sifat Ratna. Dari yang manja hingga ke mandiri, dari yang gampang banget emosi. Kini lebih terlihat penyabar! Ilham membenarkan bahwa sekian banyaknya masalah, mengajarkan sejuta hikmah dan hidayah.
“Aku khawatir, makanya aku buru-buru ke sini. Habis kata Ustadzah kamu bepergian nggak ngajakin satu orang pun,” Ilham, merasa kasihan melihat adiknya yang sekarang ini menjadi seorang janda muda dalam kondisi hamil besar.
Ratna menduga pasti sang Kakak terlebih dulu ke pondok pesantren, ia menunduk lusuh, dan sesaat kemudian ia terkekeh kecil guna memberikan gambaran kepada Ilham, bahwa ia baik-baik saja, “Hehe... Ya siapa lagi yang mau menemaniku jalan-jalan Mas, Mas Ilham sama Mbak Vega jauh. Lagi pula ini tempat yang cukup dekat dari pondok,”
Ratna menyadari bahwa kedua Kakaknya memang sudah menikah dan hidup bersama dengan keluarganya masing-masing di luar kota. Ilham tinggal di Nganjuk, sedangkan Vega tinggal di Surabaya.
Ratna hanya tidak ingin merepotkan di lain pihak pasangan kedua Kakaknya. Maka dari itu, ia memilih pondok pesantren sebagai tempat tinggalnya. Sekaligus belajar untuk memperdalam pengetahuan tentang agama.
“Yah paling enggak, ajaklah temen di tempat kamu mondok, Na,” tangannya terulur mengusap perut Ratna. Ilham memang sangat menyayangi sang adik.
“Aku nggak mau merepotkan orang lain, Mas,” Ratna menghela nafas, seraya mengusap peluh di kening, senyuman masih ia perlihatkan, agar sang Kakak tidak terlalu khawatir, “Hemm.. temen-temen di pondok, mereka punya kesibukan masing-masing, begitu juga Mas Ilham sama Mbak Vega,”
“Kalau begitu tinggal sama Mas, atau sama Mbak Vega,” bujuk Ilham untuk kesekian kalinya.
“Lalu Papi?” tanya Ratna, menatap Ilham.
__ADS_1
Sejenak Ilham terdiam, ia menoleh pada Ratna yang berada di belakangnya, “Kita akan sering mengunjungi, Papi,”
Ratna meragukan ucapan Ilham, ia tahu betul bahwa Kakaknya ini sangat sibuk, “Mas Ilham sangat sibuk, ini pun kunjungan Mas Ilham semenjak satu bulan lalu,”
Ilham sadar, bahwa selama ini pekerjaannya sangat menyita waktu semenjak perusahaan yang diberikan sang Ayah di ambil alih oleh aset negara guna menutupi kerugian. Ia kini bekerja di perusahaan lain guna mencukupi kebutuhan hidup yang semakin meningkat pesat.
Bahkan, saking sibuknya, Ilham memang jarang sekali menengok sang Ayah yang mengidap gangguan mental terlebih guna menjalani tahanan juga masa rehabilitasi memulihkan kondisi psikologis pasca terbongkar semua kejahatan Ayah yang ia panggil Papi. “Habis gimana lagi Na. Ini aja aku luangkan waktu untuk memastikan kalau kamu baik-baik aja, makannya tinggallah di rumah ku atau Mbak Vega,”
Lagi... Ratna menyangsikan tawaran Ilham, “Makasih atas tawaran Mas Ilham, maupun Mbak Vega. Aku bakal menetap di Jogja, sambil memantau perkembangan Papi, bukan bermaksud menolak maksud baik Mas Ilham. Hanya saja, kalau Mami sudah nggak perduli maka siapa lagi yang Papi punya, selain kita anak-anaknya, Mas.”
Pungkas Ratna tidak tega jikalau meninggalkan Papinya di Jogja seorang diri di tempat rehabilitasi. Di karenakan memang dari pihak keluarga kedua orangtuanya tidak ingin terlibat ke dalam urusan Papinya, terlebih Mami nya tidak pernah pulang atau sekedar memberi kabar.
Memandangi adiknya sejenak, Ilham membenarkan ucapan Ratna barusan. Dalam hatinya pun tidak tega jikalau meninggalkan Papinya. Namun, karena ia sekarang sudah tinggal dan bekerja di Nganjuk maka hanya bisa menjenguk sang Ayah satu bulan sekali.
“Sudah ayo masuk, bukankah kita akan mengunjungi Papi?” ajak Ilham.
Ratna mengangguk, dan membuka pintu mobil berwarna gelap milik Kakaknya.
Ketika hendak memutari mobil. Ilham melihat seorang laki-laki tidak jauh darinya memarkirkan mobil, seseorang yang menurutnya sangatlah familiar. Ilham hendak memastikan bahwa apa yang dilihatnya memang tidak salah, setelah mengamati sesaat Ilham pun memanggil seseorang itu, “Damar!”
Sementara itu Damar hanya diam, ia merasa tidak mengenal seorang pria yang memanggilnya. Tatapannya beralih menatap seorang wanita yang diketahui teman sang istri. Damar berspekulasi bahwa pria itu suami Ratna, dan mungkin saja mengenal dirinya. Damar beralih menatap Wulan yang nampak tercengang.
Ratna mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil, dan melihat keluarga Damar yang sedang melihat kearahnya juga sang Kakak. Ratna beralih menatap Ilham, “Mas Ilham!” seru Ratna, menghentikan Ilham yang sudah mulai berjalan akan menghampiri Damar.
Ilham menoleh menatap Ratna, “Kenapa?”
“Mas Ilham mau kemana?” tanya Ratna, tatapannya sekilas melirik Damar.
“Aku hanya sekedar ingin menyapanya,” Ilham berniat meminta maaf kepada Damar karena ia mengingat dulu ucapannya sangat kasar terhadap mantan pacar adiknya sewaktu di rumah sakit.
“Untuk apa?” Ratna heran dengan tindakan sang Kakak yang akan menghampiri Damar. Namun, suara lembut tiba-tiba menghentakkan hati Ratna seolah membuatnya terpaku sekaligus tertegun diam membisu.
“Ratna!” dari arah samping Ratna, seorang wanita setengah baya berdiri.
Perlahan Ratna mengembalikan kesadaran, dan menoleh kearah wanita itu. Wanita yang sudah melahirkan laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang membuat Ratna susah move on, “Bu Suci?!”
__ADS_1
“Apa kabar Nak Ratna?” tanya Bu Suci, memandangi Ratna.
Sungguh Ratna terbuai dengan tatapan teduh itu, tatapan teduh Bu Suci. Ratna mengangguk singkat perasaannya sangat canggung, “Ba-baik Bu,” ia mengulurkan tangannya di hadapan wanita lembut di depannya berdiri.
Bu Suci menyalami tangan Ratna, netranya beralih menatap perut Ratna, “Bagaimana kehamilan mu?”
Ratna memandangi perutnya, secara reflek mengusap dan tersenyum getir. “Alhamdulillah baik Bu,”
Bu Suci mengusap lembut perut Ratna, “Syukurlah kalau kalian baik-baik saja,”
Lagi-lagi Ratna hanya mengangguk, entah mengapa lidahnya serasa kelu. Ia merindukan sosok seorang Ibu dan kembali rasa penyesalannya tak dapat di pungkiri lagi. Kiranya, jika ia tidak gelap karena harta dan mencampakkan Damar, pasti sekarang ini bukan Wulan yang menjadi menantu Bu Suci; Astaghfirullah Ratna!' makinya dalam hati.
Damar dan Wulan berjalan mendekati Bu Suci, guna memanggil beliau untuk kembali melanjutkan perjalanan dikarenakan waktu makan siang yang sempat tertunda sampai matahari condong ke arah barat.
“Apa Ibu mengenal mereka?” tanya Damar, ia heran. Mengapa Ibu dan juga Wulan terlihat sangat akrab dengan wanita bernama Ratna.
Sebelum Bu Suci menjawab, Ilham sudah lebih dulu kembali memanggil Damar.
“Damar!” Ilham menghampiri Damar.
Kerut di dahi Damar jelas terlihat, karena lagi-lagi orang yang tidak ia kenal kembali memanggil namanya, “Apakah aku mengenalmu?”
Jawaban Damar membuat Ilham tercengang, apa Damar pura-pura tidak mengenalnya, ataukah karena Damar tidak mau lagi mengingat siapa Ratna? Bermacam-macam stigma menggerogoti pikiran yang menjadi pertanyaan dalam benak Ilham.
“Ya jelas saja aku mengenalmu, apalagi Ratna,” Ilham menunjuk Ratna. “Apa kamu lupa siapa aku?” tanya Ilham lagi pada Damar.
Wulan dan Damar menatap Ratna, yang nampak salah tingkah.
Damar merasa kepalanya berdenyut, semua terasa asing. Orang-orang yang menyapanya seolah sangatlah akrab, namun ia hanya mengingat segelintir orang; Mengapa semua terasa asing?’
“Memang siapa? apa kamu suami Ratna?” Damar membalikkan pertanyaan kepada laki-laki yang berdiri dengan jarak tiga meter dari wanita bernama Ratna.
•••
Bersambung...
__ADS_1