Presdir Cilok

Presdir Cilok
78 Mimpi mengerikan


__ADS_3

Di tengah malam, ketika semua orang sedang terlelap dalam tidurnya. Namun, tidak bagi seorang Nawang Wulan, ia duduk menunduk di atas sajadah dengan mukenah putihnya dengan perasaan seakan remuk,


Setelah pulang dari pedestrian, hatinya seolah terguncang hebat. Perasaannya gamang, tidur pun tak tenang, seolah bayangan Damar sedang tersenyum dan tertawa bersama dengan wanita bernama Siska begitu sangat membuat relung hatinya nestapa.


Kepada siapa lagi tempat manusia berlari ketika sedang merasakan kegalauan serta kegundahan hatinya. Iya, tujuannya adalah Sang Pemilik Kehidupan, Sang Pemilik Hati, Sang Pemilik Hidup dan Mati, Allah Azza Wajalla.


Bukan tempat hiburan malam, ataupun minuman haram. Nauzubillah!


Setelah sholat malam, kini ia tengah mengadukan perihal hatinya yang seolah meronta, tercubit asmara, dan tidak tahu harus bagaimana untuk mengakuinya. Di sisi lain ia tengah mengharap bisa bertemu lagi dengan teman masa kecilnya, namun siapa sangka hanya karena seorang Damar, kini hatinya bergolak menggelora.


Wulan menengadahkan kedua tangannya yang tertutupi mukenah, “Meski lidahku kelu berkata untuk jangan, meski hati mencoba tegar mengikhlaskan. Meski fikiran mencoba tak mengarahkan. Namun, ketika rasa ini menghampiri, aku lemah tak berdaya. Ada rasa yang tak dapat ku dustakan,” keluhnya, sesekali menyeka air matanya dengan tangis yang tertahan sesenggukan.


“Ya Allah.. Aku jatuh cinta, tapi cinta telah menjadikan ku budak tak berhamba. Ya Robbi.. Aku jatuh cinta, tapi cinta telah membuatku buta sehingga tak dapat melihat besarnya cinta-Mu. Ya Mujibasa'ilin.. Aku jatuh cinta tapi cinta telah membuatku terlena. Wahai.. Robbku yang menguasai hati...,”


Ia menjeda ucapannya, menghela nafasnya yang serasa berat, memikul lara tak terelakkan, “Palingkanlah dia dari ingatanku hapuskanlah dia dari fikiranku. Aku terlalu mencintainya dan telah terjerat karenanya... Dan aku tak tahu kenapa Ya Illahi, tanpa kasih-Mu. Sesungguhnya aku tiada berdaya tanpa Rahmat-Mu, aku hina,”


“Bimbinglah aku dan hatiku, amin...” Mengusap wajahnya dengan tangan yang tertutupi mukenah, ia merasa saat ini merasa sedikit lega. Telah mencurahkan isi hatinya, dan berharap perasaannya tidak menjadi tirani yang membelenggu.


Wulan memegang liontin putih yang sedang di pakainya, “Jika memang harapanku untuk bertemu denganmu sudah tidak ada, maka izinkan aku untuk menerima kenyataan bahwa kini hembusan nafas cinta mulai bersemi di dalam hatiku.”


Ia lantas beranjak dan melepas mukenanya, lalu melipatnya rapih dan menaruhnya di dalam lemari, dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa kantuk mulai menyergapi matanya. Sembilan puluh detik kemudian, alam mimpi mulai menguasai pikirannya.



Dua orang anak kecil sedang bermain di padang rumput yang luas, “Sudah Han, mainnya disini aja, takut Mama nyariin!” seru gadis kecil kepada temannya.


“Oke,” jawab temannya, “Wulan, ini buat kamu. Saat aku besar nanti, kamu mau nggak jadi pacarku?" kata anak kecil laki-laki berusia dua belas tahun, seraya memberikan liontin putih kepada gadis kecil yang ia panggil Wulan.


Dengan polosnya Wulan kecil berusia sepuluh tahun menerima kalung liontin dan menjawab, “Kata Mama ku pacaran itu dosa!” Wulan kecil beranjak dari duduknya di atas rumput hijau, lalu memakai liontin putih yang diberikan temannya, “Farhan, sebenarnya pacaran itu apa sih? Setiap kali aku ngomong sama Mama soal pacaran, aku selalu dimarahi?!”


Laki-laki kecil bernama Farhan pun beranjak, “Aku juga nggak tahu,”


“Terus kalau kamu nggak tahu kenapa kamu bilang kalau udah besar kita pacaran?” tanya Wulan polos.


“Aku denger dari Kakakku yang pernah ngomong gitu sama temennya,” jawab Farhan.


DTOOOOOOMMM


Tiba-tiba langit mendung temaram, bunyi dentuman terdengar sangat keras dari arah lautan, “Wulan, bunyi apa itu?” tanya Farhan.


“Han, kenapa langitnya berubah mendung, ayo kita pulang Han, aku takut!” seru Wulan panik, melihat langit yang berubah gelap serta hembusan angin yang kencang.


Farhan menggandeng tangan Wulan kemudian berlari menjauhi lapangan yang berjarak seratus meter dari bibir pantai. Berharap bisa sampai ke rumah, karena jaraknya kini dari rumah dinas Ayahnya lumayan jauh. Wulan dan Farhan memang datang dari kota yang berbeda dan tinggal di rumah dinas kemiliteran.

__ADS_1


Setelah bunyi dentuman keras, berlalu sepuluh menit. Gulungan ombak menghantam bibir pantai, semula masih terlihat aman, namun gulungan ombak kedua menyapu bersih apa pun yang ada di bibir pantai dan mencapai batas seratus meter, warung-warung dan rumah tersapu bersih, dan menggulung semua apa pun yang di lewatinya.


“Farhan!” teriak Wulan terus saja berlari bersama dengan Farhan. Saat seperti ini, tiada yang dapat menolong orang lain, karena mereka sibuk menyelamatkan diri sendiri.


Wulan terjatuh, dengan susah payah Farhan membantu Wulan, dan melihat kebelakang gulungan ombak semakin mendekatinya, “Cepet Wulan, cepet!” teriak Farhan, ia berlari dan melihat pohon besar. Ia melihat beberapa orang juga memanjat pohon.


Farhan masih tetap menggandeng tangan mungil Wulan dan berlari menghampiri pohon besar yang menjulang tinggi, “Cepet Lan naik! Cepet!”


Wulan memanjat pohon dengan di bantu Farhan, ia menumpukan kakinya di pundak Farhan. Dengan perasaan takut Wulan memanjat pohon Cemara besar dan menjulang tinggi, sesampainya di atas dahan yang paling tinggi, ia melihat gulungan ombak semakin menerjang daratan dan menenggelamkan sebagian besar desa.


“Farhaaan! Cepetan naik!” teriak Wulan dari atas pohon.


Saat Farhan hendak memanjat pohon, gulungan ombak menghempaskan tubuhnya bersamaan dengan orang-orang yang sedang berjuang keras untuk menghindari maha dahsyat bencana yang terjadi secara tiba-tiba, meluluhkan lantakkan seluruh desa.


Wulan melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan seorang teman yang ikut terhanyut dalam kejamnya amukan ombak besar, bersamaan dengan mayat-mayat yang tenggelam dan mengambang serta puing-puing bangunan.


“FARHAAAAAANNNN!!!”



“FARHAAAAAANN!”


Wulan terbangun dari tidurnya, dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Panas dingin yang ia rasakan, nafasnya tersengal-sengal, ia menangis histeris dan meremas kuat rikmanya. Lagi dan lagi kenyataan kelam, hadir di dalam mimpi mengerikan yang mengakibatkan traumatis yang tak berkesudahan membuatnya sangat dilematis, menyayat ulu hatinya seakan tercabik-cabik.





Di depan cermin ia melihat dirinya yang terlihat sembab, mata dan hidungnya yang masih memerah. “Bagaimana mungkin aku berangkat ke kantor dalam kondisi wajahku yang seperti ini?!”


Wulan melirik jam di dinding kamarnya, menunjukkan pukul 07:15 waktu setempat. Ia menghela nafasnya kasar, “Ya Allah, kenapa aku semalam nggak bisa tidur?”


Wulan melihat pantulan dirinya di cermin dan tatapannya beralih menatap kalung liontin putih yang melingkar di lehernya, lagi dan lagi ia menghela nafasnya yang serasa mengganjal. Perlahan tangan kanannya terangkat dan memegang liontin, dan disusul tangan kirinya lalu melepas pengait liontin.


Ia membaca tulisan kecil di kalung liontin, “Farhan.” lalu menaruhnya di atas meja rias bersamaan dengan suara ketukan dan salam dari luar rumah.


“Assalamu'alaikum...”


“Damar!” gumamnya, Wulan kembali menatap dirinya di pantulan cermin, lantas menarik laci dan mengambil masker untuk menutupi wajahnya yang sembab. Lalu beranjak dan mengambil blazer batik serta tasnya yang ada di atas ranjang. Melihat dirinya sekali lagi di pantulan cermin, memadupadankan rok sepanjang betis dan blazers batik terlihat sangat pas.


Keluar kamar dan menghabiskan segelas cokelat hangat di atas meja dapur. Lalu berjalan kearah pintu dan memegang handle pintu, sebelum membuka pintu terlebih dulu ia menghela nafas panjang, dan membenarkan kembali maskernya.

__ADS_1


“Wassalamu'alaikum.”


Damar nampak terkejut, melihat Wulan yang memakai masker, “Tumben kamu pakai masker?”


Wulan membulatkan matanya, “Haacciiihh...” ia berpura-pura bersin. “Lagi flu!” cetus Wulan, berkilah.


Damar memperhatikan kelopak mata Wulan yang sembab, ‘Nangiskah ia semalam? Sampai matanya sembab, tapi karena apa?'


“Kalau kamu sakit, istirahat aja di rumah.” kata Damar, meskipun ia tahu bisa saja Wulan sedang berbohong. Namun, ia lebih memilih mengikuti kebohongan yang Wulan katakan, bukan karena membenarkan kebohongan.


“Aku baik-baik saja,” seru Wulan, lalu berjalan mendahului Damar.


“Orang yang sedang menghadapi masalah, lalu dia mengatakan kalau dia baik-baik saja, adalah kebohongan nyata!” kata Damar, ia memutar badannya dan melihat punggung Wulan, sungguh ia bukanlah seorang pria yang bisa bersikap dingin dan acuh, ia sudah terbiasa bergaul dan peka.


Mendengar perkataan Damar, Wulan menghentikan langkahnya. Namun, ia terdiam sesaat, memejamkan matanya seraya menghela nafas. Lalu kembali melanjutkan langkahnya membuka pintu mobil, dan duduk di jok mobil samping kemudi.


Damar pun menyusulnya dan duduk di kemudi, lalu menyalakan mesin mobil, sebelum melajukan mobilnya, ia pun berujar, “Aku mau ke rumah sakit terlebih dulu, Ibu pulang hari ini,”


Wulan mengangguk


Di perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada yang membuka suara. Damar terus saja mencuri pandang, melihat Wulan dari samping, mengamati kelopak matanya, namun Damar tidak tahu bagaimana caranya untuk bertanya, jikalau Wulan saja enggan memulai cerita.


Damar teringat akan sesuatu, bahwa sudah lama ia tidak bermain futsal, “Uhmmm, Nawu!” dengan suara ragu, ia memanggil Wulan.


Kali ini Wulan tidak lagi menghindari bersitatap dengan Damar, “Hemmm...” sahut Wulan, ia memandangi wajah Damar dari samping. Wajah yang memancarkan energi kebaikan.


Damar fokus menatap jalanan depan, namun dari ekor matanya ia melihat Wulan sedang menatapnya, “Mmm... malam ini, kamu mau ikut aku main futsal nggak?”


Masih memandangi Damar, Wulan mengangguk, “Baiklah.” lalu beralih menatap jalanan depan.


Entah dengan cara apalagi, untuk memancingnya mau bercerita, kadang Damar pun membenci hatinya yang perasa dan peka, kadang ia ingin memiliki hati sekeras baja agar tidak perlu memikirkan kesedihan orang lain. Akan tetapi, hati nuraninya menolak untuk bersikap acuh.


“Wulan, dengarkan aku baik-baik,” kata Damar, masih fokus menatap lurus jalanan depan, “Buatlah hatimu selalu takjub pada keajaiban sehari-hari dalam hidupmu, maka pedihnya deritamu tak akan kalah menakjubkan dari kebahagiaanmu.” entah, kenapa tiba-tiba Damar ingin berkata seperti ini, seolah bisa merasakan kepedihan yang tengah di rasakan wanita yang sejak tadi enggan untuk membuka maskernya.


“Senyumalah, syukuri, hidupmu, banyak orang yang jauh lebih susah dari hidup yang sedang kita jalani ini.” lanjut Damar lagi, sesekali melirik Wulan dan kembali fokus menatap jalanan depan.


Wulan tidak bisa lagi menahan dirinya, ia merasa semua yang di ucapkan Damar adalah benar. Membuat hatinya tenang dan nyaman, bahwa mungkin saja Damar ingin menghiburnya. Tanpa berkata apa-apa, Wulan menyandarkan kepalanya di pundak Damar yang sedang mengemudi. “Izinkan aku sejenak bersandar di pundakmu, Mar.”


‘Dan biarkan aku merasakan kenyamanan yang saat ini aku rasakan.' lanjutnya dalam hati. Kali ini, Wulan membiarkan perasaannya mengalir apa adanya.


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2