Presdir Cilok

Presdir Cilok
104 Kini hanya tentangmu


__ADS_3

Setelah melewati waktu dengan perbincangan yang hangat. Kini, Damar sedang mengantar Wulan pulang.


“Kenapa kamu nggak menerima tawaran Ibu untuk menginap di rumah?” kata Damar, tanpa menoleh kearah Wulan, dan fokus menatap jalanan depan. Namun, tangannya selalu ingin menggenggam jemari lentik Wulan. “Kan kamu bisa menemani tidurku?!” lanjut Damar, lalu tersenyum simpul. Ia dapat melihat dari ekor matanya, Wulan sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Wulan delming... ia lebih memilih tidak menjawab pertanyaan Damar, lalu menyalakan lagu dari MP player mobil. Terdengar alunan gitar yang dipetik,


Bila mentari bersinar lagi..


Hatiku pun ceria kembali..


Kutatap Mega, Tiada yang hitam..


Betapa indah hari ini..


Ku menanti seorang kekasih, yang tercantik yang datang di hari ini..


Adakah dia kan selalu setia, bersanding hidup penuh pesona.. harapanku...


Wulan mengalihkan pandangannya menatap keluar kaca mobil, melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang memadati jalanan di sore hari yang di guyur hujan gerimis.


Damar mengangkat alisnya, melirik sekilas kearah Wulan. Lalu tersenyum simpul, “Hey tenanglah, aku hanya bercanda!” cetus Damar, karena Wulan enggan menjawabnya.


“Mangkannya aku nggak mau jawab, karena kamu lagi mencari celah atas kelemahan ku!” jawab Wulan, dengan suara yang terdengar malas.


“Oke, oke, maaf, Nawulku.” jawabnya. Lagi Damar sekilas melirik Wulan. “Jangan marah, nanti cepat...” ucapan Damar mengambang tatkala Wulan menyela ucapannya.


“Tua! Begitu kan kamu mau bilang!” celetuk Wulan, menatap Damar dari samping.


Damar tersenyum mendengar jawaban Wulan yang ngegas, “Ih-- ih siapa yang mau bilang kamu tua?” cetus Damar.


Wulan melirik Damar tajam, “Biasanya kan perumpamaan itu ujung-ujungnya ‘tua!”


Damar lagi-lagi tertawa renyah... “Ya nggak gitu juga kali sayangku! Jangan marah, nanti cepat kaya! Gitu maksudku!” kilah Damar. Reflek mencium tangan Wulan yang berada di genggaman tangan kirinya.


Mendengar Damar menyebutnya ‘sayang’ untuk pertama kalinya membuat Wulan menyunggingkan senyumnya, dan berubah menjadi gelak tawa, “Hahaha.... Mana ada, jangan marah nanti cepat kaya! Itukan alasan kamu aja!”


“Hahaha....” melihat Wulan tertawa, membuat Damar pun ikut tertawa. Biasa, alasan klasik seorang pria, selalu mengubah perumpamaan agar tidak membuat wanitanya ngambek. Seperti halnya menaburi garam di lautan.



Setelah melewati jalanan, yang di guyur hujan gerimis. Kini, Damar pun menghentikan laju mobilnya di depan rumah yang ditempati Wulan.


Damar keluar dari mobil terlebih dahulu, dan membentangkan payung, lalu memutari mobil dan menyambut Wulan yang sudah membuka pintu mobil. Keduanya berjalan beriringan dengan Damar melingkarkan tangannya di pinggang Wulan.


“Terima kasih.” ucap Wulan, setelah sampai di teras rumah.

__ADS_1


Damar menaruh payung berwarna merah di lantai teras. “Untuk apa berterima kasih, bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk melakukannya.” sahut Damar, seraya mendekati Wulan.


Wulan merasa nervous dengan tatapan Damar padanya, serta sentuhan lembut dari tangan Damar di pipinya. “Me--memang, mengucapkan terima kasih atas sebuah kebaikan yang ku terima nggak boleh?!”


Damar mengangguk tipis, “Boleh dong,” jawab Damar, ia bisa melihat bahwa Wulan sedang salah tingkah. Untuk kesekian kalinya, ia menggoda Wulan. Dengan mengedipkan matanya.


“Tuh mata kalau di begituin terus menerus bakalan jadi bintitan loh!” sergah Wulan, mempelototi sikap Damar yang ganjen.


Damar terkekeh kecil, “Hahaha... Nyumpahin?!”


Wulan menggeleng, seraya mengibas-ngibaskan tangannya, dan berkata dengan suara tegas, “Nggak! Nggak nyumpahin. Tapi bisa terbukti, kalau tuh mata ganjen kedip-kedip sama wanita lain!”


“Baiklah-baiklah..” sahut Damar.


“Udah sana pulang!” usir Wulan, seraya mengambil payung merah dan memberikannya kepada Damar, lalu membalikkan tubuh pria yang lebih tinggi darinya menghadap jalanan.


“Wah ngusir tamu nih!” gerutu Damar. “Kamu nggak menawarkanku menginap gitu?” lagi Damar, berseloroh jaim.


“Udah, pulang yah cah bagus! Lagian di sini bukan tempat penginapan!!” hardik Wulan.


Alhasil Damar yang memang sudah berniat ingin pulang pun pasrah dan membalikkan badannya, memunggungi Wulan sekaligus rumah yang Wulan tempati.


Wulan tersenyum simpul melihat punggung Damar yang semakin menjauhi teras rumah yang ia tinggali. Namun, ia mengerutkan keningnya, manakala melihat Damar berhenti, dan menoleh kearahnya.


Damar berbalik badan menghadap Wulan dari jarak empat meter, dibawah kungkungan payung merah yang menghalau tetesan air hujan. Ia melakukan kiss by. lalu melambaikan tangannya kepada Wulan. ‘Ahh, rasanya nggak rela! Anjay bat kamu Mar!’


Damar terkekeh kecil melihat sikap Wulan yang ambigu, ia lantas merentangkan kedua tangannya, membiarkan setiap tetesan air hujan membasahi dirinya. Mengharap Wulan berlari kearahnya dan memeluknya, seperti yang biasa terjadi di adegan film-film Bollywood. Namun, berbeda dari ekspetasinya.


Wulan melepas sepatunya, dan mengacungkannya kearah Damar. “Pergi nggak!” seru Wulan di selingi dengan suara hujan.


Damar kembali memasang payung merah untuk meneduhkannya dari jutaan tetesan air hujan. “Oke, oke!” ia pun kembali berbalik badan, dan memasuki mobil.


Begitupun sebaliknya dengan Wulan, ia segera masuk kedalam rumah tidak lupa mengunci pintu.


••


Sepanjang perjalanan pulang, Damar senyam-senyum sendiri.. “Dia itu istimewa!” gumamnya lirih, diselingi mendengarkan musik dari MP player mobil.


“Tiada ku sangka.... begitu mudah... kau buatku melupakan dia... bayang wajahnya... terus menggangguku... di benakku kini hanya tentang Nawul... eh kok jadi begini lagunya?!” ucapnya ikut menyanyikan lagu yang sedang ia dengar, seraya menahan senang, dan sedikit mengubah alur lagunya..


Tanpa terasa setelah melewati waktu selama setengah jam. Damar sampai juga di halaman rumah pelataran Joglo, namun ada yang lain, ia melihat mobil yang menurutnya tidak asing.


Ia segera keluar dari dalam mobil, dengan berlari-lari kecil menuju rumah utama Joglo untuk menghindari tetesan air hujan. Saat baru memasuki rumah, dan mengucap salam, “Assalamualaikum...” sayup-sayup ia mendengar Ibunya sedang berbincang dengan seorang wanita.


“Wa'alaikumussalam..” jawab salam Bu Suci.

__ADS_1


Damar pun melangkahkan kakinya, memasuki ruang tamu. Namun ia terkejut melihat seorang wanita berparas cantik yang menjadi partner bisnisnya. “Nona Angelina! Sedang apa Anda di sini?”


Angelina pun berdiri dan mendekati Damar, “Tentu saja ingin bertemu denganmu Mas Damar,”


“Damar kenapa kamu tidak memberitahu Ibu, kalau Nak Angelina ini keponakan Pak Bambang?” tanya Bu Suci, bersitatap dengan putranya.


“Maaf Ibu, Damar sangat sibuk sampai hal seperti ini, Damar nggak ingat,” jawab Damar jujur. Karena menurutnya apa pun yang tidak penting, ia enggan untuk mengingatnya. Dan tidak menyangka pula. Angelina akan menyambangi rumah tempat ia tinggal.


Mendengar jawaban Damar, membuat Angelina murung, “Tidak pentingkah aku bagiku Mas Damar?” dengus Angelina dengan suara kecil.


Damar menggigit lidahnya, ‘Aduh salah ngomong lagi. Tapi kan memang nggak boleh bohong?!’ selorohnya dalam hati. Lantas memikirkan jawaban yang sekiranya tidak membuat Angelina tersinggung, “Begini Nona Angel, setiap hari aku kesana-kemari, jadi terkadang melupakan sesuatu, adalah hal yang lumrah bukan, bukankah kita sebagai manusia biasa sering khilaf dan salah.”


Mendengar jawaban Damar, membuat Angelina menyunggingkan senyuman. “Aku terima alasan mu, tapi kamu masih punya satu hal janji sama aku,”


Damar mengangkat alisnya, “Janji?”


“Iya, janji untuk mengajakku jalan,” pungkas Angelina. “Lusa weekend, kamu nggak lupa janji kamu kan?” tanya Angelina memastikan.


Damar bimbang, ia menggaruk kepalanya, dan terlintas sebuah ide cemerlang di kepalanya. “Baiklah, insyaallah lusa.” jawab Damar pada akhirnya setelah sejenak ia terdiam.


Angelina pun melebarkan senyumnya, “Oke, lusa..” kata Angelina girang.


Bu Suci diam-diam masih memperhatikan Damar dan Angelina. Beliau memicingkan matanya.. “Damar, kamu sudah beli obat yang di resepkan Dokter?”


Damar pun beralih menatap Ibunya, ia refleks menggeplak jidatnya. “Oh iya, Damar lupa!” ia beralih menatap Angelina. “Maaf Nona Angel, aku harus pergi..”


Angelina pun mengangguk, “Aku juga sekalian pamit,” Ia pun menyalami tangan Bu Suci.


Damar pun mengantar Angelina sampai ke depan pintu begitu pula dengan Bu Suci yang berjalan di belakang Damar, hujan sudah mereda memasuki waktu Maghrib.


Setelah kepergian Angelina, Damar pun bergegas menuju motornya yang terparkir di bagasi agar lebih efisien. Namun, ia menghentikan langkahnya, saat kerah di bajunya mendapatkan cekalan dari tangan Ibunya. “Ibu.”


Bu Suci lantas melepaskan cekalan tangannya, “Dengarkan Ibu, pria sejati tidak menyimpan wanita lain. dan semestinya kamu harus bertindak tegas jika kamu ingin serius dengan Wulan, Nang.”


Damar membulatkan matanya mendengar tuduhan Ibunya, “Siapa yang mempunyai wanita lain Bu? Damar duarius malah sama Wulan.”


“Ya, kamu toh yoh Nang, siapa lagi? Jelaskan sama Ibu, siapa wanita tadi?” tanya Bu Suci menyelidik.


Damar menghela nafasnya, “Kan tadi Ibu udah tau, kalau dia keponakannya Pak Bambang, lagi pula Damar nggak ada apa-apa sama dia Bu,”


Bu Suci mengacungkan jari telunjuknya dihadapan putranya. “Bener? Terus kenapa kamu mau di ajak jalan tadi?!”


“Damar punya rencana lain Bu.” pungkas Damar, lalu menyalami tangan Ibunya, dan berlari kecil menuju motornya yang terparkir.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2