
Sebelum Damar menanyakan perihal apa tujuannya, sang security yang terlihat berumur setengah abad itu malah bertanya balik.
"Mas Damar yah?”
•••
“I—iya Pak,” jawab Damar tergagap.
Damar terkejut manakala mendengar Security dengan kumis seperti suami dari artis Inul Daratista menyebutkan namanya,
‘Dari mana dia tahu namaku? Mungkin atasannya yang memberi tahu kalau aku akan kesini’
Security itupun keluar dari pos. Dan berjalan membuka gerbang biru lantas menghampiri Damar.
“Mas Damar sudah di tungguin sama Pak Bambang di dalam.” ujarnya.
Damar menunjukkan raut muka yang nampak terkejut untuk yang kedua kalinya mendengar perkataan sang security yang mungkin seumuran dengan Almarhum Bapaknya. Jikalau masih hidup.
‘Ya Allah, sepenting inikah diriku, sampai Pak Bambang sudah menungguku?’
Kedua garis bibirnya menarik senyum simpul, “Yang bener Pak?” seru Damar senang. Damar membaca nama di pakaian hitam yang dikenakan security di bagian dada kirinya.
“Wahyu Triaji.” gumam Damar membacanya.
Security dapat mendengar bahwa pemuda di hadapannya sedang membaca namanya yang terpampang jelas di seragam security yang dikenakannya.
“Iya, nama saya Wahyu Triaji. Mas Damar boleh memanggil saya Wahyu,”
“Baik, Pak Wahyu,” jawab Damar.
Pak Wahyu pun meminta agar Damar segera masuk kedalam.
“Silahkan langsung masuk saja, Mas Damar,”
“Iya Pak Wahyu, tapi saya bawa masuk dulu motor saya,” ucapnya, dan menoleh kebelakang tepat motor Vespanya terparkir gagah dengan cagak dua sebagai penyangga.
Pak Wahyu mengikuti arah kemana Damar menoleh. Dan kembali berujar, “Nanti biar kami saja yang bawa masuk motor Mas Damar. Sekarang Mas Damar langsung masuk saja.” ucapan Pak Wahyu terjeda saat Damar menatapnya.
“Soalnya Pak Bambang nggak suka menunggu terlalu lama,” lanjutnya lagi.
“Baiklah Pak Wahyu, saya akan segera masuk. Tapi sebelum itu, terimakasih sudah berkenan membawa motor saya masuk kedalam,”
__ADS_1
Damar pun mendapat anggukan dari Pak Wahyu. Ia lantas menatap kembali gedung bertingkat empat lain. Menghirup udara dan membuangnya perlahan, “Bismillahirrahmanirrahim.” gumamnya mantap.
Lantas melanjutkan langkahnya melewati gerbang utama dan masuk ke area pelataran parkir gedung yang memiliki parkiran sangat luas.
Serta melihat ada dua truk besar yang tertutup. Tiga mobil mewah dengan kisaran harga Lima ratus jutaan ke atas.
Dan banyak motor yang terparkir milik para pekerja. Serta melihat ada beberapa orang yang sedang berbincang terlihat seperti membicarakan sesuatu yang sangat serius.
Damar melewati pelataran parkir dan mengedarkan pandangannya. Berjalan sangat lambat hingga seseorang menghampirinya.
“Mas Damar yah?” tanya seorang pria berkemeja biru muda.
“Iya, saya. Mas?” jawab Damar
“Mari ikut saya, Pak Bambang sudah menunggu Mas Damar.” ujarnya, Damar membaca nama yang tertera dari kalung nama yang di pakainya bernama Purnomo.
Damar mengangguk, “Ba—baik Mas,”
Purnomo pun mengembangkan senyumnya melihat ekspresi wajah Damar yang menampakkan mimik wajah pucat dan kaku, lalu menepuk pundak Damar pelan.
“Nggak usah gugup Mas, selow aja.”
Lagi-lagi Damar hanya bisa mengangguk dan menghela nafasnya
Damar mendengar penuturan Purnumo membuat dirinya mengembangkan senyuman, "Benarkah Mas Purnomo?”
Purnumo menghentikan langkahnya mendengar Damar menyebut namanya, dan menoleh ke samping tepat dimana Damar pun ikut berhenti, "Mas Damar tahu nama saya juga toh?”
Damar mengangguk, "Tahu!”
‘Iyalah tahu, wong tadi aku baca kalung namamu, hihi.' lanjut Damar dalam hati.
Purnumo mengembangkan senyum sampai menampakkan deretan giginya, kumis tipis di atas bibirnya pun ikut terangkat naik sudah seperti pohon palem, "Apa karena kemaren makan cilok yang di bawa Pak Bambang nama ku juga ikut viral, kaya nama Mas Damar?”
Kening Damar mengerut, "Viral?
"Iya, wong Mas Damar jadi terkenal o disini. Malahan semula pabrik yang sudah tutup selama dua bulan ini, terus gak ada yang berani memasuki wilayah area pabrik dikarenakan sedang dalam proses pemeriksaan penyidik polisi...” Purnumo menjeda ucapannya, dan menghela nafas.
"Kini semua karyawan yang sebelumnya bekerja di pabrik ini dan nganggur selama dua bulan lamanya. Tiba-tiba kemarin kami para karyawan mendapat informasi disuruh berangkat. Bahkan sehari sebelum kita di beritahu, masih terpasang garis polisi.”
"Katanya sih, mau ada sesuatu yang harus di bicarakan sama pemilik perusahaan yang baru, bahkan sejak pagi tadi kami para karyawan sudah berangkat. Meskipun belum ada sesuatu yang harus di produksi.”
__ADS_1
Jelas Purnumo dengan mengibaskan-ngibaskan tangannya, mencontohkan ucapannya dan beberapa kali menunjuk gedung empat lantai yang berkisar tujuh puluh meter dari jaraknya berdiri.
Damar membulatkan matanya bersitatap tertegun menatap Purnomo lelaki yang berperawakan tinggi kurus di hadapannya, jeda ia menatap gedung yang mendominasi warna biru, putih. Memunculkan berbagai macam spekulasi dan pertanyaan-pertanyaan dalam benak Damar.
‘Garis polisi? Jadi bener apa yang di katakan Danum, kalau pabrik ini tutup.'
Setelah bergulat dengan pergumulan pikirannya, Damar kembali menatap Purnumo lelaki yang berkumis seperti daun palem,
"Sejak kapan. Pagi? Perasaan ini juga masih pagi,”
Damar melihat alroji murah yang ia beli di pasar malam tiga bulan yang lalu. Alroji menunjukkan pukul 08:45 wib. Damar berangkat dari rumah jam tujuh, jadi benar saja di perjalanan ke perusahaan ini ia habiskan hampir selama dua jam. Damar menghela nafas,
‘Aku bisa-bisanya melupakan waktu'
Purnumo mengangguk, "Iya, sejak pagi. Jam tujuh para karyawan dan saya biasa berangkat,”
Damar celingukan mencari keberadaan karyawan yang kata Purnumo sedang menunggu, "Saya tidak melihat banyak orang disini Mas Pur, yang saya lihat sejak tadi hanya Pak Wahyu si security Mas Pur, sama beberapa orang yang berlalu lalang di area parkiran?”
Purnomo mengikuti kemana arah Damar yang mencari keberadaan orang-orang. Jeda, ia pun kembali menatap Damar, "Oh-- kalau itu. Mereka sedang menunggu di area pabrik produksi. Di belakang gedung ini, dan para staf sedang menunggu di dalam gedung ini,”
Jelas Purnomo lagi menunjuk area belakang dari gedung empat lain persisnya area pengolahan dan beralih menunjuk gedung empat lantai yang tidak jauh dari sampingnya berdiri.
Damar manggut-manggut tipis, ‘Hemm... Dari luar jalanan gedung ini hanya menampilkan gedung utama yaitu sebagai kantor, dan di belakangnya area produksi makanan.'hatinya bermonolog.
Setelah menjelaskan kepada Damar, Purnomo pun berujar.
"Sudah mengerti toh Mas?”
Damar mengangguk..
Purnomo dan Damar pun melanjutkan langkahnya menapaki kaki yang dibalut sepatu di atas area parkir luas berdasar batako.
Damar mengikuti arah pandang Purnomo hingga sampai di lobby teras luar gedung. Damar memutar dirinya mengamati dan terlihat dengan seksama mengedarkan pandangannya keseluruhan depan bangunan.
Yang nampak terlihat lebih besar jika di pandang dari arah jalan.
‘Inilah kali pertama aku berada di gedung semegah ini. Meskipun empat lantai tapi gedung ini nggak bisa hanya disebut bangunan' batinnya berdecak kagum.
Purnomo pun beralih menatap Damar yang semula menatap pintu kaca berukuran lebar dengan handle pintu dari stainless steel.
"Mas Damar," serunya membuyarkan kekaguman Damar yang sedang memperhatikan bangunan gedung.
__ADS_1
•••
Bersambung