
Danum mendekati seseorang itu, seseorang yang sudah menjadi masa lalu Kakaknya. Namun, ada yang berbeda, kini wanita itu berhijab, “Mbak Ratna!”
Ratna terkesiap dengan suara seseorang yang memanggilnya dari arah samping. Ratna pun memutar posisi berdirinya saat ini dan melihat adik dari mantan kekasih yang masih ia cintai sampai detik ini,“Danum!”
Danum melihat Ratna dari ujung kaki sejenak diam mengamati perut Ratna yang sudah membesar dan kembali menatap wajah Ratna, “Lagi apa Mbak Ratna di sini?” ia celingukan, kiranya ada seseorang yang datang bersama dengan Ratna. “Terus Mbak Ratna kesini sama siapa?” tanyanya lagi, dengan mata memicing.
Ratna terdiam sejenak, ia kembali menatap Damar dari kejauhan yang nampak sangat mesra bergandengan tangan bersama dengan Wulan, dan seperdertik kemudian kembali menatap Danum, “Aku dateng sendiri, lagi menikmati pemandangan sekitar,”
Entah mengapa ada alasan Danum sedikit terkejut dengan jawaban Ratna, munculah spekulasi buruk terhadap wanita hamil di hadapannya yang tengah berdiri berjarak dua meter darinya, “Memandangi alam sekitar, apa memandangi Mas Damar? Atau jangan-jangan Mbak Ratna sekarang jadi penguntit?”
Ratna terperangah atas tuduhan Danum, ia membulatkan matanya. “Astaghfirullah, Danum. Apa menurutmu aku ini terlihat mencurigakan?”
“Ya apalagi? Memang itu yang sekarang aku pikirkan,” sahut Danum jujur, “Terus buat apa seorang wanita dalam keadaan hamil besar keluyuran sendirian di sini, ntar kalau ada apa-apa, memang Mbak Ratna nggak takut, kalau sampai terjadi sesuatu yang nggak di inginkan?”
Danum sedikit memiringkan kepalanya, masih menatap curiga.
Ratna menghela nafasnya, ia menyadari betul mengapa Danum berkata demikian, “Begini Danum, aku hanya ingin berjalan-jalan disekitar sini, dan nggak sengaja melihat Damar dan Wulan, sudah hanya itu. Tolong jangan berpikiran yang bukan-bukan....” sanggahnya,
“Lagi pula, siapa lagi yang akan ku ajak liburan, keluarga ku jauh dan aku nggak punya suami,” lanjutnya dengan suara lirih. Ratna tidak menyangka kematian Opik sangat mengenaskan, terkena peluru nyasar saat pihak kepolisian menggerebek villa mewah milik almarhum mantan suaminya itu.
Danum masih tidak mempercayai ucapan Ratna, tapi juga kasihan terhadap hidup Ratna yang sekarang ini menjadi seorang janda pada usia muda di tambah dalam kondisi hamil besar. Pasti sangat sulit hidup tanpa seorang suami yang sekarang ini sudah menjadi almarhum. Suami yang seharusnya menjadi pengayom tapi malah berbuat anarkis, hingga menyebabkan sang Kakak terlibat kecelakaan tiga bulan lalu.
“Yah boleh-boleh aja sih Mbak Ratna liburan, tapi saranku mendingan Mbak Ratna jangan jauh-jauh kalau mau liburan, kasihan calon bayinya, Mbak.” saran Danum, dengan suara melunak.
“Aku tau Danum, aku mengerti batasan sampai mana aku pergi. Dan ini hanya tempat yang paling dekat di tempat sekarang aku tinggal,” jelas Ratna, tempat ini juga menjadi salah satu kenangan saat ia pernah pergi bersama dengan Damar. Meskipun saat itu ia maupun Damar tidak pergi hanya berdua.
Ratna sendiri tidak menyangka melihat Damar di tempat wisata ini, terakhir ia melihat Damar, saat berada di kediaman keluarga Wijaya. Padahal niatnya hanya untuk sekedar menghirup udara segar di luar dari pondok pesantren tempatnya belajar ilmu agama.
“Maaf sebelumnya, karena aku sudah mencurigai Mbak Ratna,” tukas Danum, yang sudah berspekulasi buruk terhadap Ratna.
Ratna menggeleng, ia menunduk dalam-dalam, menghela nafas panjang. “Nggak pa-pa Danum! Sangat di maklumi kenapa kamu berpikir buruk tentangku.”
“Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri.” seru seorang wanita berdiri di belakang Danum.
Danum menoleh, ia melihat Wulan dan Damar yang kini berdiri dibelakangnya.. ia lantas menggeser posisi berdirinya saat ini.
Ratna terkejut dengan suara familiar itu, ia mengangkat wajahnya, dan melihat Wulan serta Damar, lebih terenyuh lagi saat matanya melihat lengan Wulan yang mengapit lengan Damar. Ada rasa di mana sebuah rasa sakit, tapi tak berdarah di sana, di hatinya.
“Damar.” gumamnya lirih. Rasa rindu ini semakin membuncah, andai saja ia dapat memeluknya. Namun, ada batasan! Ada jarak yang membentang. Dan itu membuat Ratna kembali sadar, bahwa ia harus mengubur dalam-dalam kerinduannya pada sang mantan. Yah, sang mantan terindah! Yang kini membuatnya merasa resah.
__ADS_1
“Kamu benar Wulan, dari kesalahan aku dapat belajar mengenai arti kehidupan dan rasa cinta yang sesungguhnya,” ujar Ratna, memaknai kesalahannya dulu adalah suatu hal yang dapat menjadi landasan teori untuknya bisa memahami arti cinta sejati. Yah, lagi-lagi, memang penyesalan selalu datang belakangan! Dan itu membuat rasa sesak yang menyakitkan!
“Kita pandai bersyair, namun sering lupa dalam memaknai hidup. Terlebih kurang memaksimalkan apa yang pernah kita miliki, itulah sebabnya terkadang kita merasa resah di kemudian hari,” pungkas Wulan.
Ratna lagi-lagi merasa ucapan Wulan membuatnya seperti mendapat tamparan keras.. “Damar sangat beruntung, menikahi wanita seperti mu, Wulan. Andai saja dulu...” Ratna menggantungkan ucapannya, tak mampu lagi untuk berkata.
Damar bingung melihat Wulan dan seorang wanita berpakaian abaya serta hijab syar'i yang terlihat hamil besar, pembicaraan apa yang sebenarnya di maksud Wulan, mengapa seolah-olah ada sesuatu permasalahan yang sangat serius?
“Jangan mudah tergiur dengan barang yang berkilau...” Wulan tersenyum simpul, ia mengulurkan tangannya di hadapan Ratna. “Apa kabar?”
“Alhamdulillah, kabar baik.” jawab Ratna menyalami tangan Wulan, lalu beralih menatap Damar.
“Apa dia temanmu?” tanya Damar pada Wulan, seraya menunjuk wanita yang tengah hamil besar di depannya.
Ratna tercengang mendengar Damar yang seolah tidak mengenalnya, ia memang mengetahui jikalau Damar mengalami kecelakaan yang di sebabkan oleh mendiang mantan suaminya. Dan alasan yang membuat Ratna merasa bersalah selama ini. Hingga tak mampu membuatnya untuk bertemu dengan Damar. Kemudian, dalam pikiran Ratna berspekulasi, mungkinkah kecelakaan itu, menyebabkan Damar hilang ingatan?
Sementara Wulan dan Danum saling bersitatap.. entah apa yang akan ia jawab atas pertanyaan Damar tentang Ratna. Tidak mungkin juga menjelaskan bahwa Ratna adalah mantan pacar yang telah tega mencampakkan Damar dulu.
Namun, Ratna terlebih dulu sudah memberikan jawaban kepada Damar. “Ya, aku teman istrimu..”
Damar manggut-manggut tipis, “Senang bertemu denganmu, aku Damar.” ujarnya memperkenalkan diri.
‘Terutama kamu Damar.’ sambung Ratna dalam hati.
Damar kembali menarik tangannya, lantas menangkupkan tangan didepan dada dan hanya tersenyum simpul.
Wulan sedikit terkejut dengan cara Ratna yang terkesan lebih religius, tidak arogan seperti dulu. “Dengan siapa kamu datang ke sini, Ratna?”
“Seperti yang kamu lihat, aku seorang diri.” jawab Ratna.
Damar sedikit terkejut, “Lalu di mana suamimu? Bukankah nggak baik kalau wanita hamil bepergian seorang diri?” tanya Damar membayangkan bahwa posisi Wulan juga sedang hamil.
Ratna bertemu pandang dengan Wulan, nafasnya seraya tercekat di tenggorokan. Ada rasa sesak saat mendengar pertanyaan itu dari Damar, namun secepatnya Ratna menetralkan perasaannya. “Ehmm... su-suami...”
Ratna mengerjap memandangi satu persatu dari ketiga orang yang sedang menunggu jawabannya, “Lagi jalan ke sini, iya. Iya, dia sedang menyusulku,” Ratna menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan hal itu, ia merasa sangat hampa.
“Oh begitu,” sahut Damar. Ia merasa lega dan tidak tega jika melihat seorang wanita hamil harus bepergian seorang diri. Damar kembali menggenggam jemari tangan sang istri.
Tindakan Damar tak luput dari sorot mata Ratna, dan itu membuatnya semakin perih. “Kamu beruntung memiliki istri seperti Wulan,”
__ADS_1
Damar mengangguk mantap, dan membenarkan ucapan Ratna. “Yah, kamu benar, karena hidupku tak akan berarti apa-apa tanpa dia,” Damar menunjuk Wulan menggunakan dagunya, dan berkedip mesra.
Ratna memejamkan matanya sejenak, hatinya seraya tercubit. Seperdertik kemudian rasa panas menjalari kelopak matanya, dengan berbesar hati Ratna mengangguki ucapan Damar. “Semoga kalian selalu menjadi keluarga yang harmonis,”
“Amin,” sahut Damar.
Ratna menelan ludahnya susah-susah, menghempaskan nafas kasar, dan memanggut tipis, seolah ia sedang mencari ketegaran di dalam sudut hatinya yang rapuh, “Kalau begitu, aku permisi mau melihat-lihat lagi.”
“I-iya..” balas Wulan. Sedangkan Damar hanya mengangguk singkat.
Ratna berbalik badan dan berlalu dari hadapan Wulan, Danum dan Damar. Ia menyeka air matanya. Ada rasa menusuk relung hatinya, ada rasa sesal, ada rasa kelu.. dan dirinya kini seolah hanya bayangan semu di hidup Damar..
Wulan menatap kepergian Ratna dengan tatapan nanar, ia merasa bersalah telah melenyapkan nyawa seorang pria yang akan menjadi seorang Ayah. Pikirannya saat itu kalut, karena Opik telah membuat Damar di ambang kematian. Menyesal? Wulan menggeleng, ia menyadari sepenuhnya bahwa tiada penyesalan. Hanya saja, rasa bersalah terkadang menghantui pikirannya kini.
Melihat Wulan hanya diam saja membuat Damar melingkarkan tangannya di belakang punggung istrinya, “Kenapa kok kamu jadi sedih melihat temenmu itu?”
Wulan mengalihkan pandangannya, dan kini ia menatap Damar, sedikit menggelengkan kepalanya, “Nggak pa-pa, aku hanya merasa kasihan aja,”
“Kenapa? Memang ada yang salah sama temen kamu tadi?” tanya Damar.
Tanpa permisi buliran bening meleleh begitu saja, Wulan menggeleng keras seraya mengusap air matanya.
“Hey, kenapa? Kok kamu malah nangis?” tanya Damar panik.
“Nggak pa-pa cuma perih karena kelamaan kena angin,” sanggah Wulan.
Damar mendekap Wulan, ia tahu bahwa kini istrinya memang lebih sensitif semenjak hamil, “Udah nggak pa-pa, semua hal yang kita temui dalam kehidupan ini seharusnya mengajarkan kita untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki saat ini,”
Danum memandangi Damar dan Wulan, ia bisa memahami mengapa Wulan bersedih setelah bertemu dengan Ratna, “Udah yuk Mbak, Mas. Ibu sama yang lainnya udah nunggu lama di depan, lagian aku juga udah laper banget.” ajak Danum.
Wulan dan Damar pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Danum.
Dari kejauhan Ratna menatap Damar dan Wulan.... Air mata ini menetes kian luruh, dan pada saat-saat seperti inilah pertahanan ketabahan hatinya semakin runtuh, “Ujian karakter sebenarnya bukanlah bagaimana aku berada di hari terbaikku, tapi bagaimana aku bertindak pada hari terburuk ku. Yaitu, pada saat semua orang yang dulu perduli padaku, kini telah hilang, pergi menjauh..”
Ratna kini lebih banyak belajar untuk memaknai hidup. Karena makna hidup berbeda dari manusia ke manusia, dari hari ke hari, dan dari jam ke jam. Oleh karena itu, yang penting bukanlah makna hidup secara umum, melainkan secara khusus dari kehidupan seseorang pada saat tertentu.
•••
Bersambung..
__ADS_1