
Satu bulan kemudian...
Bukan perkara putus atau terus, kini Damar menerima undangan pernikahan Ratna juga Opik. Ia meremas kuat-kuat undangan pernikahan bersampul pink muda.
"Untuk apa mereka mengundang ku, apa hanya ingin pamer kalau mereka berhasil dengan perselingkuhannya.” gumam Damar.
Lalu membuang undangan ke tempat sampah. Namun, sesaat kemudian ia memungutnya. “Hemm... kalau aku nggak hadir, mereka pasti mengira aku belum bisa move on.”
Damar mencoba menata kepingan hatinya yang sudah menjadi remekan kecil-kecil. Rasa kecewanya tidak menyurutkannya untuk bermalas-malasan diam di rumah saja. Karena, apapun permasalahannya, tidak akan pernah bisa membuat seorang Damar menjadi pria lemah dan tidak kompeten.
Sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari terus saja bergulir, sakit hati dan rasa kecewanya. Hanya akan menyita waktu dan pikirannya. Damar bukanlah orang yang pandai meratapi sebuah masalah. Bukan pula orang yang mengabaikannya.
Lebih tepatnya, lebih baik ia memikirkan sesuatu hal yang berguna. Daripada terus membayangkan sesuatu yang hanya menyita waktunya terbuang percuma. Hidup terus berjalan mengikuti waktu, dan snag waktu terus merangkak naik mengitari rotasi bumi tanpa mau tahu kehidupan yang sedang di jalani manusia dengan susah payah.
Damar mengambil jaket dan juga topi, ia akan mencari pundi-pundi rupiah. Bersama dengan keempat kawannya.
"Bu, Damar kerja dulu.” ucap Damar, ia pun mencium tangan Ibunya.
"Hati-hati, Nak.” jawab Bu Suci.
Damar tersenyum dan mengangguk, perlahan ia berjalan kearah motornya yang terparkir di halaman rumah. Melaju dengan kecepatan sedang di hari weekend.
Damar berusaha menempatkan diri dalam posisi seperti layaknya Jenderal Soedirman sang pembela revolusi.(Jenderal Soedirman merupakan salah satu pahlawan nasional yang memiliki nilai karakter atau nilai kepahlawanan yang berupa sikap, jiwa dan semangat yang senantiasa ikhlas berkorban, pantang menyerah, teguh pendirian, mempunyai keberanian, membela kebenaran serta memiliki moral dan perilaku yang mengandung suri tauladan.
Jenderal Besar TNI Raden Soedirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia.
Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam.)
Meskipun bukan dalam berperang melawan radikalisme Belanda yang sekian lamanya tahun menjajah bumi Nusantara. Damar kini tengah menikmati kerja kerasnya dalam menggapai asa dan cita-cita.
Karena obat paling pahit di dunia sekalipun belum bisa mengalahkan pahitnya kemiskinan. Bagi yang tidak mengerti, bahwasannya ketakutan utama dalam kehidupan adalah takut tidak punya uang.
Damar selalu berpikir dalam pikiran yang jernih. Bahwa ia memang tidak bisa memilih tempat lahir, tapi bisa memilih cara berjuang mengubah nasib.
Selang waktu satu setengah jam, Damar dan kawan-kawannya sudah bersiap-siap untuk menghibur di pantai Parangtritis, seperti biasa di hari weekend saat sore. Keempat temannya yang tergabung dalam grup band MJ akan mencari pundi-pundi rupiah.
Melihat Damar hanya diam, membuat keempat temannya tidak tega. "Mar, kamu masih belum bisa lupain Ratna? Buat apa kamu ingat-ingat lagi?”
"Sudahlah Mar, kamu nggak usah meratapi kepergian Ratna. Mungkin saja dengan putusnya kalian, ada hikmah yang terkandung didalamnya.” kata Juna, dengan nasehat bijak. Seolah ia adalah sang Arjuna cinta. Padahal Juna juga Jomblo yang tidak mengenal apa itu cinta.
Imam pun mengangguki'nya, "Bener tuh apa kata si Juna, meskipun dia jones, alias jomblo ngenes. Dia punya banyak petuah tentang cinta,”
__ADS_1
Damar tersenyum tipis, "Untuk apa aku mengingatnya lagi, toh dia juga akan segera menikah,"
"Hey... Kawan daripada kita bersedih lebih baik kita bernyanyi mengiramakan isi hati lewat tembang yang satu ini.” seru Anwar. Ia pun memulai dengan menekan nut cajon.
Damar mulai menarik vokal suaranya dengan iringan musik live. Di hari minggu sore, para pengunjung boleh request lagi apa pun dan boleh bernyanyi sesuka hati dengan diiringi musik live Damar dan kawan-kawannya.
"Siapa disini yang sedang patah kasmaran? Barangkali ada, semoga lagu yang kami bawakan dari musik MJ, Dapat mewakili perasaan kalian,” seloroh Damar berbicara dengan mic'nya.
Terdengar alunan gitar yang di petik oleh Juna, organ oleh Anwar sedang Cajon oleh Imam. Alat musik sederhana berharap dapat menjadi hiburan di kala senja.
"Move on... Ayok siapa yang bisa bernyanyi bersama-sama. Kita Move on. Luapkan kesedihan, lupakan mantan,....”
"Setuju?’ lanjut Damar.
"Setuju!!” seru orang-orang yang menyaksikan penampilan Damar dan kawan-kawan.
♪♪
Hidup cuma sekali, jangan kau pikir-pikir lagi
Dia yang telah pergi, khianati janji-janji
Lebih baik move on aja, pasang hati sekuat baja
Buat apa kau susah memikirkannya?
Lagu berikutnya yang Damar bawakan adalah lagu yang di populerkan oleh Budi Doremi berjudul Melukis Senja.
Orang-orang yang merasa menikmati persembahan lagu yang di bawakan musik MJ pun memberikan uang ke dalam kardus yang sudah di sediakan di meja kayu di depan tak jauh dari Damar dan kawan-kawan mempersembahkan penampilannya.
Kurang lebih sudah tiga jam, Damar dan kawan-kawannya mengibur para pengunjung pantai. Dengan lagu-lagu hist masa kini.
"Terimakasih, kepada kawan-kawan yang sudah menyaksikan penampilan kita kali ini. Saya mewakili band MJ mengucapkan terima kasih.” riuh Damar berkata, karena hari sudah mulai gelap.
"Hati-hati di jalan, sampai jumpa minggu depan.” imbuh Damar, mengakhiri pertunjukan musik live.
Kini hampir semua pengunjung pantai, dari semua kalangan remaja, maupun anak-anak dan orangtua. Mulai membubarkan diri. Juga Damar dan ketiga teman yang lainnya.
"Aku pulang yah Mar, Jun.” seru Anwar yang berboncengan dengan Imam.
"Hati-hati.” jawab Damar, Juna hanya mengangguk.
__ADS_1
Kini Juna pun menyusul kedua temannya yang sudah melaju dengan motornya, dan diikuti Damar. Suasana pantai dengan semburat ke abu-abuan sudah mulai lengang.
Ya, kata move on inilah yang sedang Damar ingat. Untuk tidak lagi terjebak dalam permainan cinta yang membuatnya semakin terlihat bodoh.
Melewati jalanan dan bersenandung kecil di selingi angin senja yang kian terasa mendamaikan jiwa.
“Sukses, Damar Sukses...” ucapnya setengah berteriak melewati jalanan dan pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan. Angin berhembus pelan.
Senja bawalah kedamaian dalam jiwa tenangkan pikiran serta hanyutkan perasaan. Bersahaja-lah dalam hati yang lapang.
Niat hati janganlah terkikis oleh rasa kecewa dan terpuruk merana. Kobarkan kembali api semangat yang menggelorakan jiwa.
Saat melewati jalanan, Damar tak sengaja melihat seorang Ibu-ibu tengah meminta tolong serta mempertahankan tas-nya dari tangan seorang pria yang mempunyai tampilan seperti preman.
“Tolong!” teriak si Ibu.
Brak... Damar langsung saja mengarahkan laju motornya ke arah si penjabret. Hingga membuat tubuh si penjambret jatuh seketika ke jalanan aspal
“Aaa... sialan!” hardik penjambret dingin menatap Damar. Menahan rasa sakit, si penjambret pun kembali berdiri.
Sedangkan si Ibu-ibu nampak terkejut, dan langsung memeluk tas-nya yang berhasil ia selamatkan dari tangan penjambret.
Damar menghentikan laju motornya, dan tersenyum devil kearah penjambret, “Dasar idiot! Kalau mau cari duit itu kerja!”
“Bocah tengik!” teriak penjambret.
Perkelahian pun tak dapat di hindari. Dengan kemampuan yang dimiliki, Damar dengan mudah dapat membasmi si penjambret sampai lari tunggang langgang.
“Makasih nak, makasih.” kata Ibu-ibu, korban penjambretan kepada Damar.
Damar mengangguk, sambil menahan sakit memar di pipinya akibat pukulan si penjambret, “Iya Bu, kalau lagi bepergian harus selalu hati-hati Bu.”
“Iya nak, terimakasih.” kata si Ibu, lantas membuka tas dan mengambil dompet. “Ini buat kamu.” si Ibu mengulurkan uang yang jumlahnya tidak terhitung kepada Damar.
Damar menggeleng, “Nggak usah Bu, Ibu simpan saja. Kalau begitu saya pulang dulu.”
Si Ibu pun menatap Damar, “Sekali lagi terimakasih.”
Damar pun kembali ke motornya, dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
••
__ADS_1
Bersambung..