
Siang pun berganti senja, semburat keemasan melabur dilangit jingga kemerahan di ufuk barat. Tak khayal, warna inilah yang selalu di tunggu bagi para pecinta alam semesta saat sore tiba.
Dan sebagian karyawan serta para staf pun sudah meninggalkan perusahaan, serta pabrik pengolahan makanan yang bermerek dagang Amanah food. Beberapa dari mereka sedang membicarakan soal penganiyaan yang di lakukan oleh Presdir dari PT Jaya Gemilang yang bergerak di bidang perindustrian perdagangan bahan mentah makanan import.
“Aku, nggak nyangka, padahal kelihatannya dia orang yang berwibawa. Tapi tega ngelakuin hal yang mencoreng namanya sendiri!”
“Aku malah penasaran, siapa yang sudah menjadi korban pemukulan yang dilakukan Pak Kusumo?”
“Ah-- ngapain sih ngurusin berita begituan, ayo kita pulang!”
Suara-suara sumbang, para karyawan di pelataran parkiran pabrik sampai terdengar di telinga Wulan, Damar dan Bokir yang baru keluar dari dalam gedung kantor.
“Heboh yah berita ini?!” seru Bokir, yang berjalan di belakang Damar.
Damar menatap para karyawan yang belum pulang, dan terlihat sedang bercengkrama, sesekali mereka terlihat sangat akrab dengan melayangkan pukulan pelan di lengan temannya. Damar sendiri, terbilang orang yang sangat santai menanggapi berita ini. Bahkan terkesan acuh, karena belum merasa puas, sebelum benar-benar melihat Kusumo jatuh terperosok ke jurang kemiskinan dan kemelaratan.
Bukan karena, ia menyumpahi hidup orang dan menghakimi Kusumo, namun terkadang sekilas ingatan saat Bapaknya harus mengalami kesusahan karena kecurangan yang dilakukan Kusumo membuat hatinya penuh dengan ketegasan untuk membalas semua perbuatan buruk Kusumo.
“Kalau saja mereka tahu, bahwa korban yang mengalami pukulan itu kamu Mar, sudah pasti lebih heboh lagi disini!” lagi Bokir berseloroh sepanjang parkiran menuju mobil yang terparkir.
Wulan melihat Damar terdiam, pun menepuk pundaknya. “Anda baik, bukan?”
Damar terperanjat mendapat tepukan di pundaknya, ia menoleh kearah Wulan, keningnya mengerut, “Kenapa kalau aku nggak baik?”
Wulan masih enggan bersitatap dengan Damar, pertanyaan Bu Suci masih membayangi pikirannya. Salah tingkah, Wulan mengangkat tangannya membenarkan rikmanya yang di hembuskan semilirnya angin kebelakang telinganya, “Yah, siapa tahu Anda sedang sakit?”
Sedangkan Bokir masih saja celoteh ria memunggungi Wulan dan Damar dan lebih memerhatikan para karyawan yang masih bercengkrama.
Damar menghela nafasnya melihat Wulan yang terus saja mengalihkan tatapannya, dan membalas Wulan dengan tersenyum simpul, “Sekarang perhatian banget sih? Ada apakah gerangan hay Nawang Wulan?”
“Nggak ada apa-apa, cuma tanya aja!” balas Wulan, seraya membuang tatapan. Tak ingin lebih menjatuhkan perasaannya.
Damar manggut-manggut mendengar penjelasan Wulan, ia mengedarkan pandangannya menatap gerbang pintu lebar berwarna biru tua, dan tertarik dengan gudang penyimpanan bahan mentah yang tersimpan di dalam sana. Damar lantas berjalan meninggalkan Bokir dan juga Wulan, tanpa berkata-kata apa-apa.
Wulan mengikuti arah pandang Damar, ia mengerutkan keningnya, heran. Untuk apa Damar berjalan menuju gudang. Karena merasa penasaran, ia pun akhirnya mengikuti kemana perginya Damar. Dan meninggalkan Bokir yang masih berbicara tidak jelas.
Saat Bokir menoleh kebelakang, Wulan dan Damar sudah tidak ada di dibelakangnya, “Loh, kemana perginya mereka?” Bokir menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya celingukan mencari-cari keberadaan Wulan dan Damar yang entah pergi kemana?
Ia pun akhirnya memutuskan untuk berjalan bergabung dengan para karyawan yang masih belum kunjung pulang.
Sementara di sisi lain, Damar masuk ke dalam gudang, dan bertemu dengan seorang satpam yang sedang melakukan pengecekan, namun terkesan mencurigakan,
__ADS_1
“Selamat sore,” sapa seorang satpam yang masih terlihat muda.
Damar mengangguk dan membalas sapaannya, “Sore,”
“Ada yang perlu saya bantu? Ini sudah waktunya pulang, kenapa Anda kemari?” tanya Satpam, yang tidak mengetahui bahwa orang yang ia ajak bicara adalah Presdir di perusahaan Amanah food, bukan tanpa sebab.
Jikalau tidak ada pertemuan penting, Damar lebih memilih memakai pakaian kasual. Hanya celana jens panjang dan baju berlengan panjang.
Damar menggeleng, “Aku nggak perlu apa-apa, aku hanya ingin melihat-lihat gudang,” kata Damar, seraya mengedarkan pandangannya, menatap tumpukan karung-karung tepung dan beberapa bahan mentah lainnya, lalu kembali melihat satpam dengan tag nama Muhfidin di baju yang di pakai Satpam, “Mas Muhfidin, kalau mau pulang-pulang saja,”
Satpam yang bernama Muhfidin pun terdiam dan terlihat panik, “Kalau begitu aku keluar.”
Damar mengangguk
Saat Muhfidin hendak keluar dari gudang, ia terkejut berpapasan dengan seorang wanita yang akan memasuki gudang. Sebisa mungkin ia mengontrol kepanikannya, dan menyapa wanita itu yang memakai pakaian formal, “Sore,”
“Sore Mbak,” jawab sapa Muhfidin, lalu keluar dari area gudang.
Damar menoleh sekilas kearah Wulan, dan kembali menatap semua bahan-bahan mentah. Melihat-lihat tumpukan karung-karung tepung, kardus dan bahan-bahan lainnya. Sesekali ia menggut-manggut mengamati semua area gudang yang terlihat higenis dan bersih, dengan pencahayaan yang terang, serta suhu ruangan yang yang di sesuaikan dengan kondisi gudang tempat penyimpanan bahan mentah yang mudah terserang berbagai macam jenis serangga.
Sekejap Wulan terkesima melihat Damar yang begitu seksama mengamati gudang, dan semua bahan-bahan yang ada. Meskipun terasa aneh, untuk apa Damar sampai ingin melihat gudang yang sudah di terjaga dengan baik entah itu kualitas bahan dan penjagaannya oleh para karyawan setiap hari.
Damar memasuki area gudang lebih dalam, dan memegang karung tepung kanji, lalu membuka ikatan karung serta mengambil tepung dengan menggunakan sekop kecil. Sepintas ia merasa aneh melihat tepung kanji yang berwarna agak kekuningan, dan menaruhnya sedikit di telapak tangan.
Wulan memperhatikan Damar, dan mengangkat alisnya. “Kenapa? Apa ada yang salah?”
“Dimana kita membeli tepung kanji ini?” tanya Damar, sekilas menatap Wulan dan kembali menatap karung-karung tepung kanji dan bahan lainnya.
“Dari pabrik tepung yang ada di Jawa timur,” jawab Wulan. “Apa ada masalah?” tanyanya, yang melihat raut wajah Damar menunjukkan ketidakpuasan.
Selama hampir tujuh tahun menggeluti usaha cilok, dan semua tepung kanji pernah ia coba. Tak pelak, membuat Damar begitu memahami kualitas bahan tepung kanji dan bahan pendukung lainnya. “Telusuri, apa bahan bakunya dan campuran tepungnya, aman,”
Damar berpindah ke bahan lainnya, ruangan yang lebih dingin dari sebelumnya. Ia melihat susu untuk pembuatan biskuit dan bahan lainnya, dan lagi-lagi menemukan kecurigaan terhadap semua bahan mentah di dalam gudang. “Aneh! Ini sungguh aneh. Apa mereka tidak tahu kalau bahan-bahan ini hampir memasuki tahap kadaluarsa?!”
Damar lantas berlari keluar gudang, dan mencari keberadaan Muhfidin. “Dimana satpam itu?!” gumamnya pada dirinya sendiri.
Wulan yang sejak tadi mengikuti langkah Damar pun di buat bingung, “Kenapa? Ada apa?”
Damar tidak menjawab pertanyaan Wulan, ia fokus mencari keberadaan satpam yang ia temui di gudang. Entah alasan apa, ia merasa curiga dengan satpam itu. Lalu ia berlari kearah satpam penjaga dan bertanya tentang Muhfidin, “Dimana satpam yang bernama Muhfidin?”
“Dia barusan pulang, Mas Damar,” kata satpam penjaga.
__ADS_1
“Sudah berapa lama dia bekerja disini?” tanya Damar, dengan suara panik.
“Baru dua hari ini,” jawab satpam penjaga.
“Mulai sekarang! Siapa pun yang melamar pekerjaan di sini harus melalui saya,” ucap Damar tegas, lalu beralih menatap Wulan, “Beritahu HRD, agar jangan sembarangan merekrut orang baru, aku curiga ada seseorang yang sedang berbuat curang di sini?!” tegasnya pada Wulan.
Wulan mengangguk, “Baik, Presdir.”
Damar beralih menatap satpam penjaga, “Pak Lutfi, besok kalau Muhfidin berangkat, suruh dia menghadap saya!”
Bokir yang melihat Damar keluar dari gudang pun menghampirinya, “Kenapa Mar?”
Damar yang sedang berkacak pinggang, lantas menoleh kearah Bokir. “Ada sesuatu yang nggak beres di gudang!”
Bokir terperanjat, “Bukankah itu, wilayah pengamanannya si Nugroho dia cukup bisa diandalkan, saya lihat. Kenapa bisa nggak beres?!”
“Mungkin ini hanya kecurigaan ku saja, Kang!” ucap Damar, seraya mengedarkan pandangannya menatap jalanan depan gerbang yang terbuka lebar.
Bokir menepuk pundak Damar, “Kita jadi nggak ke angkringan? Sepertinya kamu butuh rileksasi,”
Damar menatap Bokir dan beralih menatap Wulan, “Baiklah.”
“Oke, kalau begitu, ba'da isya nanti kita ketemu di jalan pedestrian Malioboro. Soalnya saya mau ngajak istri saya, kasihan dia juga. ‘Kan orang hamil juga butuh refreshing.” ujar Bokir.
Damar mengangguk
Bokir pun berjalan menuju motornya yang terparkir, dan capcuss pulang.
Damar mengemudikan mobil, karena Wulan yang memintanya agar Damar lebih mahir, tentu saja masih dalam pantauannya. Dan tujuan Damar adalah rumah Wulan, untuk mengantarkannya terlebih dahulu.
Setelah mengantar Wulan pulang, ia pulang ke rumahnya sendiri, bukan ke rumah Kakek Bagaskara. Karena Damar merasa masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri tinggal di rumah Kakeknya.
“Rasanya setiap kali aku melihatnya tersenyum malu-malu, membuatku sangat senang. Seperti halnya hatiku di penuhi dengan ribuan kunang-kunang. Ya Allah, jangan buat aku khilaf lagi,” gumamnya, di kamar setelah melaksanakan sholat Magrib. Mengingat sosok seorang wanita, yaitu Nawang Wulan.
Damar pun menengadahkan telapak tangannya, “Ya Allah bolehkah aku mencintainya. Ya Allah bolehkah aku menyayanginya. Ya Allah bolehkah aku merindukan nya. Bila perasaan ini mulai meluluhlantakan segenap hatiku. Aku tak sanggup menanggungnya sendiri. Aku memerlukan sandaran hati untuk menenangkan hati ini. Kepada siapa aku melabuhkan cintaku ini. Dan sampai saat ini belum kutemukan jawabannya. Jika memang dia yang dapat untuk hatiku. ‘Kan ku pasrahkan semuanya pada-Mu.”
“Jika dialah yang dapat engkau pilihkan untukku Ya Robb. Takkan kemana hatiku mencari tambatan nya. Jika bukan dia yang terbaik. ‘Kan ku coba untuk mengikhlaskan semua meskipun sakit untuk menanggungnya. Ya Allah jika memang kau jatuhkan dia kepadaku pertemukanlah dia denganku dalam ikatan yang (suci) dan halal yaitu (pernikahan) amin.”
Dengan segenap jiwanya, Damar meminta petunjuk, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, dan berserah, pasrah hanya kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
•••
__ADS_1
Bersambung...
(Halo sayang-sayangku, jangan lupa untuk selalu like, vote, komen, dan perangkat lainnya, hehe mengharap saya, asli karena semua dukungan di atas penting, untuk saya tetap semangat semaksimal mungkin!)