Presdir Cilok

Presdir Cilok
67 Pemenang sejati


__ADS_3

Opik jatuh tersungkur, pukulan yang dilayangkan oleh seorang pria berkepala pelontos cukup keras.


“Brengsek!” teriak Opik. Opik kembali berdiri menahan kakinya yang memar dan terasa menyakitkan. Ia menoleh kearah preman yang sedang memegangi Damar, “Hajar mereka!” titah Opik dengan suara meninggi, kepada para preman bayarannya agar menghajar pria berkepala pelontos dan tiga orang lainnya.


Kedua preman yang sedang memegangi tangan Damar seketika terkesiap. Keduanya menjatuhkan Damar dan bergabung dengan kedua preman lainnya untuk menghajar keempat orang yang baru datang.


Damar jatuh telungkup dengan posisi pipi wajahnya menghadap ke lantai yang berlumut, ia melihat seorang pria berkepala pelontos menghampirinya, dan membantunya berdiri. “Kang Bokir!”


Bokir berpikir setelah Damar membaca selembar kertas yang diberikan Danum, lalu meninggalkan gedung rumah sakit dengan tergesa-gesa, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres menyangkut Damar. Ia mengambil kertas dan membaca alamat yang tertera di dalam kertas yang sebelumnya sudah di remas oleh Damar.


Bokir menepuk bahu Damar, “Tenang Bro, kamu nggak sendirian! Kamu masih bisa berjalan?”


Damar mengangguk, meskipun jalannya harus terpincang-pincang


“Ayo, kita beri mereka pelajaran matematika!” Bokir meninggalkan Damar dan bergabung bersama dengan ketiga orang yang datang bersamanya untuk menghajar ke empat preman.


Baku hantam tak terelakkan, Bokir mengenali salah satu wajah preman bayaran. “Bocah tengik! Kapan kamu keluar dari penjara? Kalau tidak salah bukankah kamu pengedar narkoba? Hemm... kenapa sistem hukum di negara ini sangat lemah!”


Salah satu preman yang menjadi tersangka dan pernah di penjara, akibat tertangkap tangan oleh pria berkepala pelontos di hadapannya, bersitatap penuh dengan dendam membara, “Nggak usah banyak bacot!”


Bokir dan preman inipun, terlibat perkelahian yang sangat sengit.


Damar menatap tajam kearah Opik, dengan mengumpulkan kembali tenaganya, ia menyeret satu langkah kakinya berjalan dengan terseok-seok.


Bokir dan ketiga orang yang datang bersamanya sudah berhasil melumpuhkan ketiga preman yang lainnya. Kini, mereka sedang mengepung Opik agar tidak melarikan diri. Soal Opik, Bokir lebih menyerahkannya pada Damar, karena Bokir merasa Damar lah yang lebih berhak untuk memberi hukuman yang pantas kepada si pengkhianat.


Opik sudah terpojok, kini ia tidak bisa lagi berkutik. Bahkan tidak ada celah untuk melarikan diri, ia mengedarkan pandangannya menatap satu persatu preman bayarannya yang sudah tergeletak. Tidak ada pilihan lainnya, selain melawan. Opik mengambil ancang-ancang dengan tangan yang di kepal.


Damar mengusap darah segar yang menutupi penglihatannya, ia tersenyum menyeringai, bersitatap dengan jarak tiga meter, Damar menantang Opik yang terlihat gemetaran, “Maju lah Pik! Kenapa kamu takut?! Kita selesaikan masalah yang seharusnya disebut bukan masalah, ayok majulah secara jantan!”


“Jangan lagi bersembunyi di balik rok Ibumu!” sambung Damar dengan sindiran Opik selalu bersembunyi di balik harta keluarganya.


Damar menyeret langkahnya bersamaan dengan Opik. Damar menendang dada Opik kemudian membalikkan tubuh, dan mengayunkan kakinya dan menendang Opik di bagian wajahnya, membuat Opik terpelanting dan jatuh tersungkur. Damar mendekati Opik dan menginjak betis Opik serta memplintirnya cukup keras.


Opik mengerang dengan sangat keras, hingga menggema di sudut ruangan bioskop suram, “Arrrhhh.... Kamu akan menyesalinya, Mar!”


Bokir yang melihatnya mendesah, seolah tahu sesakit apa Opik dalam posisi seperti itu.


Damar berjongkok lalu menahan kedua tangan Opik dan meletakkannya di punggung. “Kamu tidak ingatkah Pik! Bahwa waktu itu kamu tidak benar-benar menolong ku! Dan bukan berarti hidupku ada di tangan mu! Tidak semudah ini menghancurkan Damar Mangkulangit!”


Damar melepaskan dasi yang di pakainya, dan mengikat tangan Opik kebelakang punggung. Damar mengalihkan tatapannya menatap Bokir,“Kita bawa dia ke rumah mertuanya, Kang Bokir!”


Bokir mengangguk, “Siap!” Bokir meminta kepada ketiga orang yang datang bersama dengannya untuk membawa Opik masuk kedalam mobil. “Bawa dia!”

__ADS_1


Ketiga orang yang berpenampilan urakan itupun mengangguk, “Siap!”


“Dasar brengsek kamu, Mar!” teriak Opik, berang.


Bokir mengeluarkan sapu tangannya, dan membungkam mulut Opik, “Ini agar, kamu tidak banyak bicara!”


Seketika Opik hanya bisa mengerang-ngerang. Ketiga pria itu pun berjalan lebih dulu dengan menyeret Opik, menuju mobil yang terparkir di depan gedung bioskop.


Damar merasa sudah kehabisan stok tenaganya, ia jatuh berlutut dengan tampilan yang semrawut. Damar menundukkan kepalanya, “Rasa pengkhianatan Ratna dan Opik tidak seberapa sakitnya Kang, tapi kenapa harus merusak dan melibatkan pertemanan yang sudah lama terjalin dengan baik,”


Bokir mendekati Damar dan menepuk pundak Damar, “Terkadang musuh terbesar kita, adalah orang-orang terdekat yang kita kenal, Mar. Mereka pandai memanipulasi keadaan hatinya untuk bisa bersikap baik. Dalamnya lautan bisa kita selami, namun dalamnya hati manusia tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui.”


Bokir mengulurkan tangannya di hadapan Damar, “Perlu bantuan?”


Damar menengadahkan wajahnya menatap tangan Bokir dan beralih bersitatap dengan pria berkepala pelontos yang berdiri dihadapannya, “Apakah Kang Bokir juga bisa menjadi musuhku?”


Seulas senyuman tipis terukir di keduanya sudut bibir Bokir, “Bisa jadi! Yang perlu kamu ingat! Teman bisa menjadi musuh, dan musuh bisa menjadi teman!”


Damar mengulurkan tangannya dan menyambut baik bantuan Bokir, setidaknya untuk saat ini. Bokir masih bersikap baik dan mau menolongnya tepat waktu. Damar berdiri dengan Bokir yang memapahnya, “Terimakasih Kang! Meskipun kapan waktunya bisa saja kita menjadi musuh. Tapi harapan ku itu jangan sampai terjadi!”


Bokir membantu Damar yang berjalan dengan langkah kaki kiri terpincang-pincang. Damar membuka pintu mobil Jeep bagian samping kemudi, Bokir memutari mobil lantas duduk di jok kemudi. Bersamaan dengan menyalakan mesin mobil, Bokir bersuara, “Kamu kalau nggak bisa berkelahi, jangan sok jadi pahlawan!” Bokir melirik sekilas kearah Damar, “Terus kenapa kamu tidak menghabisi nyawa nya saja?”


Damar tidak bisa membulatkan matanya, sebab matanya mulai membengkak,


“Kalau urusannya sampai nyawa, bearti lain lagi ceritanya. Itu masuk kasus pembunuhan!” sambung Damar.


“Iya--iya... kamu emang bijak!” jawab Bokir, “Ngomong-ngomong buat apa kamu bawa si payah itu ke rumah Kusumo?” tanya Bokir, bingung dengan rencana Damar.


“Kang Bokir, nanti juga bakal tahu kalau kita sudah sampai. Kenapa Kang Bokir dateng kesini nggak sama polisi? Ku kira kaya di film-film?”


“Males, ribet kalau udah berurusan sama polisi!” jawab Bokir, meskipun kadang bekerja untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap kasus. Tapi secara pribadi Bokir enggan belibet dengan urusan-urusan kepolisian. Bokir berinisiatif menunjuk mata Damar yang membengkak dengan jari telunjuknya, “Ini nggak sakit?”


Seketika Damar berteriak, menutup matanya dan memegangi bibirnya yang sudah seperti bibir orang-orang Negro, “Aaaaaa... sakit Kang Bokir! Ini lagi nahan sakit!”


“E--eh sorry, hehehe.” jawab Bokir seraya terkekeh kecil.


Perlahan mobil pun melaju meninggalkan pelataran gedung bioskop terbengkalai akibat kebakaran sembilan tahun silam dan tak kunjung diperbaiki hingga sekarang.


Diikuti oleh mobil yang membawa Opik..


••


Sesampainya di depan rumah Kusumo, Damar dan Bokir turun dari mobil Jeep. Bersamaan dengan ketiga orang yang berpenampilan urakan, sedang menahan Opik.

__ADS_1


Damar mendekati pagar teralis besi menjulang berwarna hitam. Menekan tombol bel, tak lama seorang satpam keluar dari dalam halaman rumah dan mendekati gerbang, terkejut dengan penampilan seseorang yang berlumuran darah di pakainya di depan gerbang.


“Si--siapa kamu?” tanya satpam kepada Damar.


Satpam mengedarkan pandangannya menatap ke-lima orang pria lainnya dan salah satu diantaranya adalah Opik. “De--den Opik?” Satpam mengalihkan tatapannya menatap Damar. “Heh! jangan macam-macam lepaskan menantu Tuan Kusumo? Atau kalau tidak saya akan telepon polisi!” kata satpam penjaga, menggertak Damar.


Damar enggan menjawab pertanyaan Satpam, “Cepat panggil Kusumo! Dan jangan coba-coba memanggil polisi! Atau kalau tidak akan ku bantai nyawanya!” hentak Damar, menatap satpam dan menunjuk kearah Opik.


Satpam setengah baya itu terlihat ketakutan, kemudian berlari masuk kedalam rumah. Tak berselang lama satpam keluar dari dalam rumah bersamaan dengan sang Tuan rumah dan kedua wanita beda generasi.


Kusumo terkejut melihat Damar yang berdiri diluar gerbang bersama dengan ke-empat orang yang nampak seperti berandalan. dua di antaranya memegangi menantunya, belum juga usai rasa keterkejutannya karena mendapati putri bungsunya mendapatkan begitu banyak memar, kini Opik yang di beri kesempatan maaf dengan syarat bisa membawa Damar hidup ataupun mati, malah ia sendiri yang mendapatkan kejutan.


Bukan hanya Kusumo yang terperangah melihat Damar dan ke-empat pria di belakangnya, yang memegangi Opik. Ana dan Ratna pun membelalakkan matanya, “Opik!” seru Ratna, ia mengalihkan pandangannya menatap Damar.


“Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan menantu saya!” teriak Kusumo, dengan suara nyaring.


Satpam pun membuka gerbang


Bokir memberi isyarat agar kedua orang yang masih memegangi Opik melepaskannya, Opik pun terhempas di pelataran yang berdasar batako.


“Memmmm.... memmm...” Opik mengerang, karena mulutnya masih terbungkam oleh sapu tangan Bokir.


Bagaimanapun Ratna sakit hati atas tindakan Opik yang menyiksanya, ia masih beruntung karena Opik menyesali perbuatannya. Ratna mendekati Opik dan membuka sapu tangan yang membungkam mulut suaminya itu.


Kusumo menatap Opik dan beralih menatap Damar dengan mata yang memerah, serta harga diri yang serasa tercoreng, ia menunjuk-nunjuk Damar dan ke-empat orang yang datang bersama dengan Damar, dengan jari telunjuknya, “Saya pastikan kalian akan masuk penjara seumur hidup, atas tindak penganiyaan ini!”


“Saya tidak pernah takut dengan ancaman Anda, Tuan Kusumo. Sebaiknya Anda urus saja menantu payah ini, jangan lagi mengusik ketenangan keluarga saya!” gertak Damar, dengan suara yang ditekankan. “Dan satu lagi, jangan coba-coba melibatkan polisi! Atau Anda ingin saya membongkar semua kelicikan Anda Tuan mafia tanah!” sambung Damar, meskipun sampai detik ini ia masih belum mempunyai bukti apapun tentang penyelewengan tanah yang di lakukan Kusumo.


Kusumo membelalakkan matanya, “Tahu apa kamu soal tanah yang berhektar-hektar?”


Damar tidak menjawab, ia lantas berbalik dan pergi dari pelataran rumah Kusumo, diikuti Bokir dan ketiga pria lainnya. Bagi Damar Ibu dan adiknya adalah harta yang paling berharga, jika ada yang berani mengusik keduanya, maka tak segan-segan ia akan menunjukkan gigi taringnya.


Dari dalam gerbang, Kusumo, Ana, Ratna dan Opik melihat kepergian mobil Damar dan diikuti mobil dibelakangnya. “Brengsek!” pekik Kusumo seraya mengepalkan tangannya. Ia lantas beralih menatap Opik, “Dasar menantu payah! Untuk menyeret pemuda kacung itu saja tidak becus!” teriak Kusumo memaki Opik.


Kusumo dan Ana meninggalkan Ratna dan Opik di pelataran rumah.


Di dalam rumah, Kusumo pun meradang memikirkan ancaman Damar. “Apa yang dia tahu soal tanah-tanah itu?!” gumamnya.


•••


Bersambung..


Please Like, Vote, Komen dan Gift..

__ADS_1


__ADS_2