Presdir Cilok

Presdir Cilok
81 Krisis


__ADS_3

Tepung gandum berwarna kecokelatan, ia meraup dan menggenggamnya untuk di tunjukkan kepada supervisor.


“Apa ini Pak Nugroho? Begini Anda melakukan pengecekan?!” tanya Damar dengan suara menahan amarah.


•••


Pak Nugroho terkejut melihat tepung gandum yang ada di telapak tangan Damar, “Tapi yang ini nggak, Mas Damar!” Pak Nugroho lantas menyobek karung yang sudah di turunkan dari truk kontainer, dan mengambil tepung yang masih bagus.


“Dengarkan saya Pak Nugroho, meskipun saya terlihat bodoh dan tidak berpendidikan, tapi jangan anggap enteng kemampuan saya, menilai semua bahan mentah yang sudah tidak layak diolah ini!” kata Damar dengan suara ditegaskan.


Semua orang yang berada di area parkir bongkar muat barang pun terperangah, “Kok bisa gitu yah?”


“Wah, ada apa ini?”


“Kalau begini, perusahaan ini terancam tutup lagi!”


“Waduh... saya nggak mau jadi pengangguran lagi!”


Bisik-bisik karyawan yang di tugaskan melakukan bongkar muat barang bahan mentah.


Pak Bambang pun membulatkan matanya, terkejut. “Nugroho!” seru Pak Bambang, “Bagaimana bisa kamu memeriksa hanya satu karung tepung? Saya mempercayai kamu untuk menjaga agar kualitas dan kuantitas bahan mentah baik!” sergah Pak Bambang.


“Biasanya semua bahan ini baik Pak Bambang, Mas Damar,” balas Pak Nugroho.


Damar beralih menatap kardus-kardus besar, “Buka semua barang-barang ini! Dan periksa!” titah Damar.


Semua karyawan pun menjalankan perintah Damar, membuka semua karung-karung tepung dan kardus-kardus besar.


“Benar Mas Damar, barang ini sudah masuk tenggang kadaluarsa!” seru salah satu karyawan.


Damar kembali menatap Pak Nugroho dengan memicingkan matanya, ia curiga. Kepada sang supervisor gudang.


“Pak Nugroho, tolong periksa kembali barang-barang yang ada di gudang. Kita seharusnya saling bahu-membahu, bukan? Dan ini menyangkut konsumen juga masyarakat luas yang sudah kembali mempercayai produk-produk kita!” kata Damar tegas, menatap Pak Nugroho dengan penuh harap.


Pak Nugroho mengangguk, “Baik Mas Damar, maafkan atas kelalaian saya, hal ini tidak akan terulang kembali.”


Wulan yang baru mengetahui telah terjadi keributan di area pabrik produksi pun berlari menuju area pabrik, dan melihat Damar sedang terlihat menahan emosi. Lalu beralih menatap semua barang bongkar muat yang sedang di buka oleh para karyawan.


Tak terkecuali Bokir, yang baru selesai meeting dengan para team evaluasi kinerjanya. Ia menghampiri area parkir bongkar muat barang. Lalu mendekati Nugroho, sang kepala supervisor gudang, “Kenapa bisa kamu ceroboh, No?!”


Damar beralih menatap semua karyawan satu persatu, ia memicingkan matanya curiga. “Angkut kembali semua barang-barang ini, ke dalam truk! Saya akan mengembalikannya!” titah Damar.


Semua karyawan yang bertugas pun terkejut


“Tapi, ada prosedurnya Mas Damar, kita tidak bisa mengembalikan barang semaunya,” kata salah satu orang marketing.


“Kenapa tidak bisa! Jadi kamu meminta ku, bahwa aku harus menerima barang sampah ini? Tidak! Aku tidak bodoh! Kita mendapatkan barang lalu menjualnya, bukankah setelah penjualan, kita ingin mendapatkan untung?” sergah Damar, dengan suara ditekankan, “Ingat omset triliunan yang kita banggakan pun lambat laun akan terpuruk, karena apa? Karena kita tidak amanah! Lalu buat apa, aku menamakan merek dagang ini dengan merek Amanah food?” lanjut Damar dengan suara tegas. Semua karyawan yang berada di area bongkar muat barang pun terdiam dan menunduk.

__ADS_1


Pak Nugroho diam


Dan seorang dari team marketing yang sempat mendebat dengan Damar, kini tidak dapat lagi mendebat dengan strategi pertanyaan Damar dan semua cecar Damar sebagai pemimpin.


Damar beralih menatap Pak Bambang, “Apakah distributor ini dari Sidoarjo, Pak Bambang?”


“Iya, dan mereka sudah menjamin barang yang kita beli aman,” jawab Pak Bambang, “Tapi, saya juga heran, apa mereka menyalahgunakan perjanjian yang sudah di sepakati!” lanjut Pak Bambang.


“Berapa perjanjian harga yang kita sudah sepakati? Bukankah mencapai tiga ratus juta dalam kurun waktu satu minggu, lalu ini yang kita dapatkan? Barang sampah?!” lagi Damar, ia sudah membayangkan kerugian jika barang mentah ini sampai masuk ke tahap proses produksi. Mengelola bisnis ciloknya dulu, sudah bisa menjadikannya memilah dan memilih untung serta rugi dari setiap penjualan yang di kalikan.


Damar beralih menatap seseorang yang mengemudikan truk kontainer, “Mas-mas, tolong! Setelah semua barang ini masuk kedalam truk, putar balik!”


“Ta--tapi, Mas! Apa yang akan saya katakan kepada Bos kami?” tanya pengemudi truk.


“Saya yang akan mengatakannya!” jawab Damar, “Saya akan ikut dengan kalian!” lanjutnya lagi, dengan penegasan bahwa ia tidak ingin tertipu.


“Mas Damar, biar saya minta seorang staf yang akan memeriksa pabrik distributornya,” kata Pak Bambang.


“Tidak Pak Bambang! Saya harus memeriksanya sendiri. Saya tidak mau menyepelekan masalah ini, dan saya juga tidak akan membiarkan masalah yang dulu terulang!” jawab Damar.


Pak Bambang pun pasrah atas semua perkataan Damar


“Kang Bokir, siapkan mobil, kita harus menyelesaikan masalah ini. Agar mereka tidak menyepelekan perusahaan ini!” titahnya, penuh dengan ketegasan.


Bokir pun mengangguk, lalu berjalan mengikuti Damar meninggalkan area parkir bongkar muat barang.


Pak Bambang pun kembali memeriksa semua pasokan bahan makanan yang akan di produksi di gudang.


••


Di perjalanan menuju distributor pabrik yang berdomisili di daerah Sidoarjo, kini Bokir yang sedang mengemudi laju mobil dengan kecepatan mengikuti truk kontainer yang ada di depannya.


Damar duduk di jok belakang, meskipun terlihat tenang. Namun, dalam hatinya ia begitu gelisah dan gusar, dengan menggerakkan satu kakinya, ia mengedarkan pandangannya menatap keluar jendela kaca mobil. Ia paham betul, jalannya untuk menuju keberhasilan tidak semulus, semujur, yang terlihat. Karena harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir, tapi dari proses perjuangannya.


Wulan yang duduk disebelahnya, bisa merasakan kegelisahan yang sedang di rasakan oleh Damar. Meskipun Damar diam, tiada ucapan yang keluar dari bibir Damar semenjak keluar dari pabrik. “Tidak ada suatu apa pun itu berkah, krisis adalah keadaan perubahan menjadikan tegas untuk bangkit.”


Damar menoleh kearah Wulan dan tersenyum “Kamu benar.”


“Benar Mar, aku pun geram atas sikap Nugroho!” balas Bokir. “Apa kamu akan menggantikan posisinya dengan orang mu Damar?” tanya Bokir, masih dengan fokus memperhatikan jalan depan.


“Aku merasa! Aku memang harus menggantikannya dengan orangku, Kang! Orang yang dulu pernah berjuang di jalanan bersamaku saat menjual cilok,” jawab Damar.


“Benarkah? Siapa?” tanya Bokir.


“Namanya Kang Karso!” ungkap Damar.


“Semoga pilihan yang Anda ambil adalah tepat!” sahut Wulan. Dan mendapat anggukan dari Damar.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan jauh, kini truk kontainer memasuki area pabrik perindustrian dan di susul oleh mobil Damar.


Pengemudi truk pun turun bersama dengan kernet truk.


Damar keluar dari mobil terlebih dahulu, dan disusul Bokir, dan Wulan.


Damar langsung saja memasuki gedung yang di jadikan sebagai kantor pemasaran, ia bertemu dengan para staf kantor,


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya staf wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.


“Kami ingin bertemu dengan Pak Hendro?” tanya Wulan kepada salah satu staf.


“Kebetulan, Pak Hendro sedang keluar!” jawab staf wanita.


Kali ini Damar yang bertanya, “Kapan dia akan kembali?”


“Biasanya, setelah pulang dari pertemuan beliau langsung pulang.” jawab salah satu staf wanita.


“Tolong hubungi beliau Mbak, ini sangat mendesak!” sergah Wulan.


“Apa sebelumnya, kalian sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya staf wanita.


Wulan beralih menatap Damar dan Bokir, dan kembali menatap wanita yang ada di meja resepsionis, “Ini mendesak Mbak!”


“Maaf, kalian harus membuat janji temu dulu dengan beliau,” jawab staf wanita, tegas.


Damar berbalik badan, mengedarkan pandangannya menatap kantor pemasaran dari PT Mekar Sari distributor bahan mentah. Lalu berjalan keluar gedung kantor, di susul Bokir dan Wulan.


Bokir menepuk pundak Damar, “Sabar bro, saya akan mencari tahu akar dari permasalahan ini,”


Damar menatap pelataran parkiran, dan beralih menatap langit jingga di waktu senja. “Bagaimana bisa aku tenang Kang, sedangkan proses produksi tetap harus berjalan, dan semua bahan yang digunakan tidak layak pakai. Dalam waktu dekat ini, bukankah kita akan meluncurkan produk baru?” ia beralih menatap Bokir.


Wulan memandangi wajah lesuh Damar, harinya harus di lalui dengan membagi tugas. Antara mengurus Ibunya dan perusahaan, “Aku akan membantu mencarikan distributor untuk mencukupi kebutuhan produksi dalam waktu sesingkat-singkatnya!”


Damar menoleh kearah Wulan yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum. Secara refleks tangannya terangkat dan mengusap ujung kepala Wulan, “Terimakasih.” Damar merasa beruntung ada Wulan yang kini ada di sampingnya, dan selalu bisa menghiburnya dengan cara seperti sekarang ini, selalu bisa menemukan solusi. Itulah alasannya lekas move on dari sang mantan.


Wulan mengangguk, “Sama-sama.”


Damar beralih menatap Bokir, “Saat ini, kita harus kembali untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di gudang, Kang,”


Bokir mengangguk, “Kamu benar Mar, parsel yang kamu minta pun sudah siap,”


“Sepertinya kita harus fokus untuk mencari distributor dan memenuhi bahan baku pabrik terlebih dulu Kang, bukan bermaksud menunda amal tapi kita harus memastikannya terlebih dulu, bahwa pabrik dalam kondisi aman.” jelas Damar.


Bokir manggut-manggut, “Baiklah.” lalu berjalan mengikuti Damar menuju mobil yang terparkir.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2