Presdir Cilok

Presdir Cilok
33 Singkong rebus


__ADS_3

...Ash-shalatu khairum minan-naum...


...Ash-shalaatu khairum minan-nauum...


Kumandang adzan subuh dari mushola yang tak jauh dari rumah keluarga Almarhum Gusli.


Damar perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tertidur di atas sajadah dengan sarung dan baju koko serta peci yang masih melekat di tubuhnya. Setelah mendengarkan nasehat Ibunya.


Ia melaksanakan sholat istikharah di jam 02:,30 wib dan tanpa sadar karena matanya sangat di dera rasa kantuk yang hebat menyebabkannya tertidur di atas sajadah.


Dengan kemantapan hati dan semangat baru serta rasa percaya diri. Ia beranjak dan melepas sarung serta baju koko. Lalu mengambil handuk dan memilitkannya di pinggang.


Lantas membangunkan Danum. "Num, hey Magnum, ayok bangun sudah azdan subuh,”


"Eenggg...” Danum menjawab hanya dengan berdehem.


Lantas Damar berjalan keluar kamar dan bergegas menuju kamar mandi, melihat sekilas Ibunya yang sedang mencuci beras.


Sekitar sepuluh menit Damar keluar dari kamar mandi dengan badan yang lebih bugar.


"Sudah mau sholat Nak?” tanya Bu Suci.


"Iya Bu, Damar mau sholat di mushola,”


"Ya sudah, Ibu nanti sholat sama Danum,”


Damar pun berjalan ke kamarnya, lekas mengganti sarung motif kotak-kotak, baju Koko serta peci dan tak lupa sajadah. Menggantungkan handuknya di balik pintu.


Sebelum meninggalkan kamar, ia melihat Danum yang masih saja terlelap. Damar menggoyang-goyangkan kaki adiknya diselingi suara yang meninggi untuk membangunkan Danum. "Danum! Bangun woy, sudah subuh mau sampai kapan kamu tidur. Nanti rezekimu di patok ayam baru nyaho loh!”


Setelah di rasa cukup untuk membangunkan adiknya. Segera Damar keluar dari kamar dan pergi ke mushola yang berjarak empat rumah dari rumahnya.


Danum pun beranjak masih dengan memejamkan matanya. Namun saat ia membuka mata Kakaknya sudah tidak ada. Danum pun berdiri dan mengambil handuk lantas keluar kamar dan menuju kamar mandi.


Selesai membersihkan diri dan berwudhu, Danum segera mengganti pakaian untuk sholat.


"Bu, jadi sholat berjamaah nggak?” teriaknya memanggil Bu Suci yang masih berkutat di dapur.


"Jadi.” jawab Bu Suci, lantas menghampiri putra bungsunya setelah berwudhu dan memakai mukenanya yang berada di ruangan kecil khusus untuk beribadah.


••


Rona warna orange melukis indah di hamparan sang mega. Cahaya fajar muncul dari peraduan yang mengesankan sejuta umat yang menyaksikan.


Bu Suci sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kedua putranya. Sarapan yang terbilang sangat sederhana, hanya kopi susu serta singkong yang direbus dengan air gula merah.


Meskipun Bu Suci sudah menanak nasi, juga menyiapkan lauk sederhana orak-arik tempe yang di campur dengan ikan teri kering. Namun Damar maupun Danum selalu menolak memakan nasi untuk sarapan.


Kedua putranya lebih suka makanan ringan untuk sarapan. Seperti halnya singkong rebus maupun pisang goreng dengan ditemani kopi maupun teh hangat.


Danum mendekati meja makan lalu menarik kursi, lantas duduk dan menikmati sarapan paginya.


"Mas mu belum pulang dari mushola Le?” tanya Bu Suci, diselingi membungkus cilok kedalam plastik.

__ADS_1


Danum menatap Ibunya yang duduk berjarak dua kursi meja makan darinya, "Belum,”


Danum kembali menyeruput kopi susunya dan memakan singkong rebus yang berwarna agak kecokelatan.


Pukul 05:45 wib Damar baru kembali dari mushola.


"Assalamualaikum," jawab salam Damar dari luar. Dan berjalan masuk rumah, lantas melihat Adik serta Ibunya yang duduk di kursi meja makan.


"Wa'alaikumussalam,” jawab salam Bu Suci di barengi Danum.


Damar menarik kursi, dan duduk setelahnya.


"Wah singkong rebus gula merah, enak nih.” ucapnya, menaruh sajadah di pundaknya dan melepas peci dan menaruhnya di atas meja.


Bu Suci menghela nafasnya, "Damar, ganti pakaian dulu, terus taruh peci sama sajadah di kamar mu dulu Le,”


Damar yang tengah menyeruput secangkir kopi pun melirik Ibunya dan menjawab, "Eh--iya Bu, Damar lupa.”


Damar pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sekalian Ia mengganti pakaian yang rapih, dengan celana panjang warna hitam atasan kemeja warna navy dan memakai sabuk di pinggangnya.


Kemudian ia bercermin pada kaca lemari,


"Pas banget.” gumamnya setelah puas dari hasil memadupadankan stelan pakaiannya untuk datang ke perusahaan yang di tawarkan oleh Pak Bambang.


Damar kembali lagi ke dapur lantas duduk di tempatnya semula. Dan melanjutkan lagi menikmati segelas kopi susu dan singkong rebus.


Bu Suci dan Danum yang melihat Damar dengan pakaian seformal ini. Danum pun mengajukan pertanyaan, "Jadi pergi ke perusahaan yang semalam kita bahas Mas?”


Mata Damar yang semula lurus menatap cilok yang sedang dikemas oleh Ibunya pun kini bersitatap dengan Danum.


"Semoga sukses Mas Damar. Semangat!”


"Pastinya semangat! Bukan hanya sekali, tapi seribu kali.”


Damar dan Danum pun tertawa kecil. Damar kembali melanjutkan sarapannya. Dan mengedarkan pandangannya menatap peralatan dapur, ‘Semoga sukses Damar.’


Bu Suci melihat kegigihan yang terpancar dari jiwa putra sulungnya pun mengingatkan kembali akan mendiang suaminya.


‘Sifat Damar memang sama seperti Bapaknya.'


"Semoga ini awal dari kesuksesan mu Le,” kata Bu Suci, memberi semangat.


Damar pun mengalihkan tatapannya, menatap Bu Suci yang sejak tadi sibuk membungkus cilok yang akan di bawa oleh ketiga rekan anaknya yang sama-sama menjajakan cilok.


"Amin.” jawab Damar, mengaminkan doa terbaik dari Ibunya.


Damar pun membantu Bu Suci membungkus cilok kedalam plastik berukuran satu kilogram.


"Kamu sekolah Num?" tanya Damar kepada adiknya yang sejak sarapan usai hanya bermain ponsel.


Danum menatap Kakaknya, "Sekolah,”


"Kok kamu nggak siap-siap? Inikan sudah mau jam tujuh. Malah santai mainan ponsel?”

__ADS_1


"Hari ini aku berangkat siangan Mas, karena para guru lagi ada rapat koordinasi untuk menyelenggarakan kegiatan semester,”


Damar manggut-manggut dan kembali menunduk membungkus cilok, "Oh begitu, nggak nyangka sebentar lagi kamu naik kelas,”


"Hari-hari yang kita lalui, tanpa terasa sudah membuat kita jadi semakin dewasa dan jadi menua,” kata Bu Suci tanpa mengalihkan tatapannya masih sibuk memasukkan cilok ke plastik yang sebentar lagi akan di bawa Kang Didit, Mang Jamal dan Kang Karso.


Damar melirik alroji di pergelangan tangannya,


"Semua kata-kata Ibu memang tidak pernah salah.” Damar menjeda ucapannya, lalu beranjak.


"Damar berangkat dulu, lebih cepat sampai lebih baik.” lanjut Damar, ia pun berjalan mendekati Ibunya, lantas mengulurkan didepan Bu Suci.


Bu Suci menatap tangan Damar dan tersenyum lalu menjabat tangan putranya.


"Restu Ibu selalu menyertaimu, Nang.”


Damar mengembangkan senyumnya lalu membungkukkan badannya serta membawa tangan Ibunya di antara kedua alisnya. "Terimakasih Bu.”


Usai bersalaman dengan Bu Suci, Damar beralih menatap Danum yang sedang menatapnya pula.


"Semangat Mas Damar,”


"Makasih Num,” Damar pun berjalan ke kamarnya mengambil tas selempangnya juga mencabut ponsel yang sedang mengisi daya lantas memasukkannya ke dalam tas.


Sebelum keluar dari kamar, Damar mengedarkan pandangannya menatap seluruh isi di dalam kamarnya. "Aku yakin, dalam kurun waktu satu bulan, aku akan mempunyai kamar yang lebih layak dari ini.”


••


••


Di perjalanan menuju perusahaan yang terdapat di secarik kartu nama yang diberikan Pak Bambang.


Laju motor Vespanya tidak terlalu kencang dan tidak terlalu pelan. Damar menarik gas motornya sedang-sedang saja.


Menikmati perjalanannya dan sesekali menekan tombol klakson yang terdapat di handle setang motor kirinya.


Damar menghentikan laju motornya. Setelah melewati perjalanan sekitar satu setengah jam lebih ia sampai di sebuah gedung bertingkat empat lantai lantas mengeluarkan kartu nama dari tas selempangnya. Memastikan bahwa kartu nama yang diberikan sesuai alamat.


Jeda beberapa saat ia beralih menatap gedung yang menjulang dengan tulisan yang sama seperti di kartu nama, “King Food.” gumamnya membaca tulisan di kartu nama dan di depan gedung bagian tingkat gedung paling atas.


"Iya bener, ini perusahaannya.” gumamnya lagi.


Damar melihat pagar beton yang mengelilingi gedung bertingkat empat lantai. Dan gerbang lebar berwarna biru di samping kanan pagar beton tempat ia berdiri dan menghadap gedung.


Ia pun memarkirkan motornya dan berjalan menuju gerbang dan melihat ada pos satpam,


"Permisi Pak...” tanya Damar kepada security yang berjaga di dalam pos.


Sebelum Damar menanyakan perihal apa tujuannya, sang security yang terlihat berumur setengah abad itu malah bertanya balik.


"Mas Damar yah?”


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2