Presdir Cilok

Presdir Cilok
22 Tulang punggung keluarga


__ADS_3

Sabar dan syukur itu ilmu yang sulit dikerjakan. Tetapi siapa yang bisa melakukan, kemuliaan balasannya.


do not ever give up, try as hard as possible. Oke guys




"Mbok, juga nggak tau. Pas Mbok Mur masuk kerumah Ibumu udah pingsang Mar.” kata Mbok Mur.


•••


Danum yang baru pulang sekolah pun mendengar kegaduhan dari arah dapur, remaja berusia enam belas tahun itupun melempar tas ke sembarang arah. Lantas melenggang ke dapur. Ia melihat Kakaknya dan beralih menatap Ibunya yang tak sadarkan diri.


"Ibu kenapa Mas?” tanya Danum, panik.


"Mas juga nggak tau! Ayok cepat Num, bantu Mas bawa Ibu,” kata Damar.


Damar dan Danum pun membawa Bu Suci ke ke kamarnya, lantas membaringkannya di tempat tidur. Disusul Mbok Mur, yang duduk di ujung tempat tidur. "Panggilkan Pak Mantri Mar,” titah Mbok Mur.


Damar segera melesat keluar rumah untuk memanggil Mantri, atau biasa di sebut Dokter desa. "Num, ambilkan Ibumu minyak kayu putih,” titah Mbok Mur kepada Danum, masih dengan kepanikan Danum pun menuju kotak obat yang berada di almari ruang tengah.


"Ini Mbok,” kata Danum, memberikan minyak kayu putih kepada Mbok Mur.


Mbok Mur mengusap kening Bu Suci dengan minyak kayu putih, sementara Danum yang berjongkok samping tempat tidur pun mengusap telapak tangan Ibunya,


"Bu tolong jangan tinggalkan Danum, Danum sayang Ibu.” rintih Danum sedih, membayangkan kepergian sang Ayah sudah cukup baginya.


"Huhs. Jangan bilang kaya gitu, pamali.” hardik Mbok Mur, membegis Danum.


"Habis, Danum takut Mbok,” kata Danum.


"Sabar, Mas mu sebentar lagi bawa Pak Mantri,” ujar Mbok Mur.


Selang lima belas menit, Damar pun tiba bersama dengan Pak Mantri Kisyono, "Silahkan Pak Mantri,” ucap Damar mempersilahkan Pak Mantri untuk memeriksa Bu Suci.


Danum pun menggeser tubuhnya untuk memberikan leluasa Pak Mantri untuk melakukan pemeriksaan terhadap Ibunya.


Pak Mantri pun memeriksa kondisi Bu Suci, dengan stetoskop dan mengecek denyut nadi. "Gimana Pak Mantri kondisi Ibu saya?” tanya Danum.


"Denyut nadi Ibu kalian sangat lemah, kemungkinan Bu Suci mengalami tekanan darah rendah," ujar Pak Mantri, ia pun menulis resep obat untuk dibeli di apotek.


"Tebus obat ini, untuk mengembalikan stamina dan darah kembali normal,” kata Pak Mantri, memberikan secarik kertas yang ia berikan kepada Damar.


Damar pun mengantar Pak Mantri keluar, dan memberikan amplop putih sebagai balasan sudah mau memeriksakan kesehatan Ibunya, juga menerima secarik kertas yang diberikan Pak Mantri. "Terimakasih Pak Mantri,”


Setelah Pak Mantri pergi, Damar melihat sebuah mobil yang tak jauh dari rumahnya, ia berpikir mobil itu tidak hanya sekedar parkir. Akan tetapi juga sedang mengintai.


Damar pun mencoba mendekati mobil yang berjarak 50 meter dari rumahnya, Damar menaruh curiga dengan mobil itu, namun belum sempat ia mendekati mobil. Si pengendara menyadari Damar dari kaca spion mobil dan melenggang pergi.


Damar mengerutkan keningnya, heran. "Benar-benar mencurigakan.” gumamnya.

__ADS_1


Damar kembali masuk ke dalam rumah, masih memikirkan mobil yang seolah sedang mengintai rumahnya. "Siapa mobil itu?” gumam Damar pada dirinya sendiri.


Danum yang melihat Damar sedang komat-kamit pun mengerutkan keningnya, heran. "Kenapa toh Mas?”


"Nggak pa-pa. Gimana Num, apa Ibu udah siuman?” tanya Damar.


"Alhamdulillah, udah Mas.” jawab Danum. Damar pun segera menuju kamar Ibunya yang masih di temani Mbok Mur.


Mendekati sang Ibu yang berbaring lemah, kehilangan sang Ayah secara tiba-tiba menjadikan Damar traumatis yang sangat mendalam, hingga terkadang ingatannya kembali menjerat kedalam pikiran di mana ia mendapati Bapak Gusli meregang nyawa. "Alhamdulillah, Ibu udah sadar. Tolong Bu jangan sakit lagi.”


Mendekati Ibunya, dan berlutut di samping ranjang Bu Suci. "Ibu hanya manusia biasa Nang. Kalau Ibu manusia super, itukan cerita super Dede yang ada di tp,” jawab Bu Suci.


"Maksud Damar, Ibu jangan lagi terlalu kecapean.”


Damar pun beralih menatap Danum yang berdiri di sampingnya. "Num, jagain Ibu. Mas mau beli beras merah di toko Mang Ujang.” ujar Damar.


"Iya Mas.” sahut Danum.


"Mbok Mur lanjutin buat ciloknya yah,” kata Mbok Mur, beliau pun melihat Bu Suci.


"Ci, saya kebelakang dulu yah.” imbuhnya, kepada Bu Suci.


Bu Suci pun mengangguk perlahan, Damar dan juga Mbok Mur keluar dari kamar Bu Suci.


"Nanti Damar bantu Mbok, sepulang Damar beli beras merah.” kata Damar.


"Iyah. Sudah sana beli dulu tuh beras merah buat Ibumu.” jawab Mbok Mur.


Namun belum juga Damar melewati satu rumah menuju toko kelontong. Lagi-lagi ia melihat mobil yang sama, sedan hitam. Damar sangat penasaran siapa sang pemilik kendaraan itu.


Akan tetapi kali ini Damar seolah mengacuhkannya, dan melewati mobil tanpa rasa curiga.


"Ah siapa tau itu hanya mobil sedang parkir.” benak Damar.


Setelah Damar semakin menjauhi keberadaan mobil.


Di dalam mobil berkaca gelap, dua orang yang memang sedang mengawasi Damar pun turun dari dalam mobil.


"Ikuti Jon, ikuti dia.” titah rekannya.


Seolah seperti orang yang lewat, kedua orang yang sedang mengikuti Damar berinisiatif untuk membeli rokok di toko kelontong yang sama Damar membeli beras merah. Tanpa curiga Damar pun berdiri bersebelahan dengan orang-orang yang sedang mengawasinya.


"Mang Ujang, beras merah lima kilo,” kata Damar pada pemilik toko.


"Iya Mar, tunggu sebentar.” jawab Mang Ujang, Pria setengah abad itupun menimbang beras merah. Lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.


"Ini Mar,” kata Mang Ujang memberikan sekantong plastik berisi beras merah.


Damar memberikan uang dan menerima plastik yang diberikan Mang Ujang, "Makasih Mang.” ucap Damar.


Kedua orang yang sedang mengawasi Damar, nampak manggut-manggut, siap memberikan laporan. Namun agaknya ucapan Mang Ujang membuat Jojon dan Bokir terkesiap.

__ADS_1


"Mas, Mas nya mau beli apa?” tanya Mang Ujang.


"Eh.. iya Pak!” seru Bokir.


"Mau beli apa?” tanya Mang Ujang lagi.


"Emm... Tadi mau beli apa Kir?” tanya Jojon membuat Mang Ujang heran.


"Oh rokok, i--ya rokok.” seri Bokir.


Bokir pun menyebutkan merek rokok yang dibelinya, dan memberikan uang setelah Mang Ujang memberikan rokok yang dimintanya.


Namun sebelum pergi, Bokir terlebih dulu bertanya-tanya tentang Damar kepada Mang Ujang.


"Emm.. Pak siapa pemuda tadi? Kok saya merasa tidak asing dengan dia?” tanya Bokir, bertanya seolah ia pernah mengenal Damar.


Jojon pun menyikut lengan Bokir, "Kir, bukannya kita di tugaskan buat mata-matai dia? Masa nggak kenal!” seloroh Jojon.


"Dodol! Diem bae!” bentak Bokir lirih, membuat Mang Ujang bingung.


"Sebenarnya kalian siapa?” tanya Mang Ujang.


Bokir dan Jojon saling melempar tatapan bingung. "Nganu-- nganu. Kami dari premkoveri iya, hehe kami dari premkoveri, ya Jon.” kata Bokir, mengatasnamakan sebuah usaha simpan pinjam untuk usaha mikro menengah.


"Setau, saya. Keluarga Damar enggan hutang di bank ataupun di premkoveri,” jawab Mang Ujang. Lagi-lagi membuat Bokir dan Jojon gagap untuk menjawab.


"Baru, iya mungkin dia baru-baru ini mengajukan hutang,” kali ini Jojon yang ikut menimpali.


Akhirnya Mang Ujang pun manggut-manggut, beliau berpikir toh bisa saja karena terdesak. Akhirnya Damar mengambil hutang.


"Benar juga, Kasihan Damar. Dia sudah jadi yatim dan sekarang dia jadi tulang punggung keluarga,” kisah Mang Ujang. Menceritakan karut marut kehidupan Damar.


"Oh, begitu Pak. Kalau begitu saya permisi Pak.” ucap Bokir, setelah mendapatkan informasi mengenai Damar.


"Ya.” jawab Mang Ujang.


Bokir dan Jojon pun kembali ke mobil sedan, namun ia di kejutkan Damar yang sudah berdiri di depan mobil sedan yang di bawa mereka.


"Siapa kalian?” tanya Damar.


Bokir, Jojon pun terkejut mendapati Damar, pemuda yang sedang mereka awasi.


"Terus siapa kamu?” seru Jojon malah balik bertanya kepada Damar.


Bokir pun memukul Jojon, yang dodol. "Dodol, kenapa malah bertanya!” bentak Bokir.


Melihat gelagat mencurigakan kedua orang yang ada di hadapannya. Lantas membuat nyali Damar tertantang.


"Siapa kalian? Kenapa mencoba mencari tau tentang saya?” tanya Damar geram, diam-diam bersembunyi dan mendengar kedua orang asing di hadapannya sedang mengoreksi informasi tentang dirinya.


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2