Presdir Cilok

Presdir Cilok
110 Ikrar ijab Kabul


__ADS_3

Pov Damar


Aku melihatnya bingung mungkin juga keheranan dengan kejutan yang sudah ku siapkan secara detail dan tersembunyi, agar sedikit pun wanita yang ku sebut calon istriku ini tidak mengetahuinya. Yah, rencana ini memang sudah satu pekan lalu aku siapkan bersama dengan Kakek, Ibuku, Danum dan juga tak luput dari kedua orangtuanya. Tak ketinggalan si biang keladi, iyah, Kang Bokir.


Setelah aku mengakui pada Ibu bahwa wanita pilihanku adalah Wulan. Ternyata Kakek sudah lebih dulu menjodohkan ku dengan Wulan. Alangkah bahagianya aku, mengetahui hal bahwa Kakek Bagaskara pun menyukai Wulan, dan itu adalah salah satu rencana lain, dari rencana Kakek Bagaskara yang masih belum ku ketahui.


Aku langsung saja meminta Kakek Bagaskara untuk meminang Wulan untukku. Karena aku masih belum mempunyai cukup waktu, untuk menemui orangtuanya di Jakarta dalam waktu dekat, karena jadwalku yang semakin padat menyita waktuku. Aku pun tak ingin lagi mengulur waktu untuk menjadikannya sebagai makmumku, wanitaku, Ibu dari anak-anakku, jikalau Allah memberikan ku amanah indah itu, amin.


Nawulku! Sebutan itu biasa aku menyebutnya, entah alasan apa aku menyukai dengan sebutan itu. Seolah panggilan sederhana ‘Nawul' adalah istimewa, iyah, seistimewa dirinya bagiku.


Mungkin karena aku adalah lelaki yang risih, jika sudah mengaitkan dengan sebutan sayang, cinta, dan honey. Saat ini, aku memegang kotak cincin yang terbuat dari kayu jati yang dipahat sedemikian apik, bukan perkara kotak cincin tentunya. Bukan pula sepasang cincin pernikahan yang akan aku selipkan di jemari manisnya.


Akan tetapi, lebih dari itu. Bahtera rumah tangga yang harmonis, saling melengkapi, dalam suka dan duka, se'iya dan sekata. Menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, itulah gambaran pernikahan yang aku cita-citakan.


Aku melihatnya menatap Ayahnya yang akan menjadi Ayahku juga. Nampaknya, Nawulku masih membutuhkan penjelasan.


“Sebentar! Ayah!” sela Wulan, seolah menuntut jawaban.


Dia semakin membuatku gemas saja, hehe.... tapi aku memakluminya. Karena ini juga akibat ulahku, aku tersenyum simpul menatapnya.


“Perjodohan siapa yang Ayah maksud?!” tanya Wulan lagi, jelas terlihat mimik wajah yang bingung.


Aku melihat Ayah Wicaksono menatap Wulan, dan mengusap kepala putrinya. “Nak, kamu sudah dewasa dan sudah memiliki orang yang kamu cintai, lalu penjelasan apa lagi yang ingin kamu dengar?”


Namun, agaknya Wulan masih belum puas dengan jawaban Ayahnya, dia beralih menatapku. Dengan memegang kedua lenganku. Oh Wulan, aku sangat ingin mencubit pipimu yang ranum.


“Damar, tolong jangan membuatku seperti orang bodoh. Pertama kamu menyembunyikan apa yang kamu bicarakan dengan orangtua mantanmu, dan sekarang apa semua ini?” cecar Wulan, membuatku semakin melebarkan senyuman.


Aku mengangkat bahu, lalu menggenggam jemarinya,


“Ya apalagi? Bukankah kamu mencintaiku? Ayok, perias pengantin sudah siap untuk meriasmu, juga penghulu yang sudah menunggu untuk menikahkan kita.” jawabku santai. Aku melihatnya memanyunkan bibirnya. ‘Lagi Wulan, kamu sangat manis.’


Aku tidak menyangka Wulan masih penasaran dengan perbincangan ku dengan Pak Kusumo. “Ah iya, soal apa yang ku bicarakan dengan Pak Kusumo yah. aku akan menjawabmu setelah saksi berkata sah.”


Wulan berdecak kesal, dan menatapku dengan tatapan mengintimidasi seolah aku ini adalah seorang bandar hati..... Wulan masih tidak puas lalu menghempaskan tanganku begitu saja. Lantas menghampiri Ibuku. Lagi, dia menanyakan perihal kejutan ini. “Bu Suci, sebenarnya apa yang terjadi?!”


Sama seperti Ayahnya, Ibuku mengusap lembut pipi yang akan menjadi anak perempuannya.


“Menikahlah Nak, dan bina bahtera rumah tanggamu sebagai ibadah untuk mengharapkan keridhaan-Nya.” jawab Ibuku... aih Ibu menjawabnya dengan ceramah. Tapi aku suka.


Selaku penanggung jawab, Kakek Bagaskara pun berjalan mendekati Wulan yang jelas terlihat kalang kabut mencari jawaban atas pertanyaannya, beliau pun sama, mengusap rikma Wulan. “Jika kamu ingin jawabannya, maka menikahlah dengan Damar. Dengan itu, Kakek akan menjawab semua pertanyaan yang ada didalam hatimu, Wulan!”

__ADS_1


Kali ini aku melihat Wulan terdiam, aku menatap kedua wanita yang menjadi perias pengantin, aku hanya memberi keduanya isyarat agar segera mendandani Wulan. Karena waktu yang baik menurut Kakek adalah ba'da isya di malam Jum'at. Sekali lagi, kenapa pas banget dengan pemilihan harinya. Iyah, hari Jum'at aku menginginkannya untuk ku laksanakan pernikahanku.


Kedua perias pengantin pun mendekati Wulan,


“Mari Mbak ikut kami,” kata salah satu perias pengantin.


Aku melihat Wulan menatapku dengan tatapan malas, aku hanya mengangkat alis dan memberinya dengan isyarat daguku agar Wulan segera mengikuti kemana perias pengantin.


“Sudahlah Wulan, menurut saja.” kali ini aku melihat, Mamah dari Wulan yang bernama Almira. Ikut membujuk anak perempuannya.


Sebelum masuk kedalam Rumah, Wulan memberikan ku peringatan semacam kepalan tangannya. Membuatku dan beberapa dari kerabatnya terkekeh geli, “Hahaha...” lantas aku melihat punggung Wulan yang memasuki rumah bersama dengan kedua perias pengantin yang terlihat berumur empat puluh tahunan.


Aku menghampiri orang tua Wulan, yang akan menjadi orangtuaku juga. Lalu menyalami tangan beliau. “Om, Tante.” sapa ku rikuh.


“Jangan memanggil kami dengan sebutan itu, panggil saja Ayah dan Mamah, sama seperti Wulan, nak Damar,” kata Ayah Wicaksono tegas. Lengan keriput namun masih terlihat kekar menggeplak punggungku. Buset dah, apa karena mantan Militer jadi begini amat pukulannya, mak jeb! Namun, aku berusaha tegar, padahal mah sakit.


Lalu berikutnya menyalami satu persatu tamu yang hadir. Lalu Kang Bokir beserta istri, dan juga Kakak dari Wulan. Aku pun mengalami tangan Kakak Wulan yang baru ku ketahui namanya. “Bang Rozak.”


“Titip adek gue, gue percaya sama pilihan Bonyok!” kata Bang Rozak.


Aku bingung dengan sebutan Bonyok. “Maaf Bang, apa itu Bonyok?”


Kang Bokir dan Bang Rozak menertawakan kekolotanku, “Bokap! Nyokap! Damar!” kata Kang Bokir dengan suara terdengar sangat antusias. “Alias Ayah, Ibu, Mami, Papi.” sambung Kang Bokir, menepuk pundakku.


••


Aku mengurung diriku dikamar, duduk di atas sajadah setelah ku tunaikan Sholat Maghrib dan selanjutnya sholat isya. Gugup, telah merajam palung jiawaku, beberapa kali aku menghafalkan ikrar ijab kabul. Bukan aku menuli dengan suara-suara di luar kamarku. Bukan juga tidak ingin bergabung dengan para tamu dan juga keluarga Wulan yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Yogyakarta.


Hanya saja aku sedang mengatur nafasku, mengatur isi di dalam hatiku yang mulai serasa panas dingin. Membuncah, ruah laksana letupan awan panas. “Lancarkanlah ikrar ijab Kabul ku, Ya Allah, untuk menunaikan kewajiban ku sebagai seorang pria yang sudah akhir baligh untuk menjalankan ibadah dari yang di ajarkan oleh Rasulullah.”


Tok Tok Tok... Aku mendengar pintu kamarku terketuk dari luar, membuatku semakin gugup saja. Aku menghela nafas dalam-dalam, lantas menoleh dan melihat Danum membuka pintu, lalu berjalan masuk mendekati ku. Bersimpuh dan langsung memelukku, membenamkan wajahnya di pundakku. Sebentar, aku mendengar adikku yang manja ini menangis? Ada apakah gerangan?


Aku mengusap punggung Danum, “Apa yang kamu tangisi Magnum? Bukankah Mas mu ini masih hidup.”


Danum mengurai pelukannya, dia menatapku dengan matanya yang memerah. “Mas, aku sangat bahagia, akhirnya mas Damar akan menikah dan tidak menggangguku lagi,”


Aku terkekeh kecil, aku tahu bukan itu yang sebenarnya ingin ia katakan. “Aku lebih bahagia darimu, Magnum.”


“Mar, cepet! Itu si Wulan udah selesai.” seru Kang Bokir di ambang pintu kamarku. Aku menoleh menatap Kang Bokir, aku hanya menganggukkan kepala.


Aku beranjak dari atas sajadah, dengan memakai celana panjang putih, dipadupadankan kemeja dan jas dengan peci warna senada. Sangat sederhana memang pernikahan yang akan segera terlaksana, namun aku menginginkan yang khidmat, soal resepsi bisa menyusul, pikirku.

__ADS_1


‘Bismillahirrahmanirrahim.’ Ku langkahkan kakiku dengan mantap menuju ruang tamu yang sudah di sulap, sedemikian cantik dengan dekorasi bunga warna putih. Danum yang semula berjalan dibelakang ku pun sudah duduk di dekat Ibu.


Aku menyapa orang-orang yang menatapku seramah mungkin, meskipun jantungku bertalu-talu hebat. Aku duduk lesehan beralasan permadani dengan corak batik, berhadapan dengan Pak penghulu yang akan menikahkan ku, juga Ayah Wicaksono, Kakek dan juga Bang Rozak satu lagi Kang Bokir yang menjadi saksi atas perjalanan asmaraku dengan Wulan yang amburadul terkesan semrawut-mawud.


Aku mengedarkan pandanganku, dan bertepatan aku melihatnya ba' seorang bidadari keraton Yogyakarta. Yah, Nawang Wulan, Nama yang ku sebut dalam Istikharah cintaku... Membaca takdirmu menuai nurani alami. Aku tegakkan niatku waktu menghimpitku dengan sujud. Yang masih membeku kesalahan engkau buat jalan menuju keikhlasan mu. Tentang cinta bila risau membilas keluhmu di atas aya wajahmu. Engkau lempar doamu keras menghujan kelihaianku untuk menipu mu. Ku sebut namamu di atas sajak rindu.


Maha perindu ku menginginkan nafsu mu, sekali lagi engkau bersaksi menyembunyikan malam sunyi ku dengan tautan rintihku di atas sujudmu. Kini ku menanti dua alasan mencintai dengan syair mu yang dulu. Dalam pilihan saksi cintaku bertasbih meraba doamu. Tentang cintamu. Kemudian aku adukan sikap hatiku pada-Nya.


Menangkap kesabaranmu dengan sujudku. Aku terpilih untuk memilih mencintaimu, sebut namamu di dalam berteman air mata, bertalun merdu. Tetapkan pilihan pada lisan engkau sucikan dalam keteguhan satu pilihan sebagai teman hidup di atas Mihrab surga-Mu.


Kembali lagi ku sebutkan namamu, satu nama nuraniku bertahta. Istikharah cinta... berikan keharusan memilih pada satu pilihan. Aku alirkan do'aku bersama niatku dan penantian teguhku yang akan segera berakhir hari ini.


Tak lepasnya netraku untuk menatapnya, aku melihatnya melebarkan senyuman sampai terlihat deretan gigi putihnya, membuatku tidak tahan untuk ikut tersenyum. Sangat manis, saat seperti ini, seolah ia adalah hadiah dari Tuhan untuk menyembuhkan luka laraku. Aku menepuk tempat duduk di sebelahku. Membuat sebagian orang-orang yang menjadi saksi ku menggodaku dan juga Wulan.


“Ihiwwww... Damar kagak sabaran!”


“Sok atuh, di segerakan saja Pak penghulu!”


Aku dan Wulan sama-sama saling menatap dan terkekeh kecil. “Tenang, sesaat lagi aku akan segera mengulitinya!” ucapku, mencoba melepaskan kecanggungan.


Wulan menampol lenganku, dan membulatkan matanya menatapku. “Menguliti, emang aku ini singkong?!”


“Kenapa sekarang kamu suka sekali menampol, Nawulku! Tapi aku suka!” ucapku, seraya memegangi dagu Wulan.


“Eheemmm...” deheman panjang Bang Rozak, membuyarkan candaanku.


Aku dan Wulan hanya terkekeh kecil. “Maaf Bang,” ucapku pada Kakak Wulan yang akan menjadi Abangku.


“Sudah siap?” tanya Pak penghulu padaku.


Aku mengangguk mantap, lalu menjabat tangan Ayah Wicaksono yang secara langsung akan menikahkan ku dengan Putrinya.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/ananda (Damar Mangkulangit) bin (Gusli Wijaya) dengan anak saya yang bernama (Nawang Wulan Rahardjo) dengan mas kawin berupa (Emas dua puluh tujuh gram), dibayar tunai.”


Dengan membaca basmalah dalam hati, aku lantangkan suaraku dengan suara tegas. “Saya terima nikahnya dan kawinnya (Nawang Wulan Rahardjo) binti (Wicaksono Rahardjo) dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”


Penghulu pun menoleh ke kanan dan kiri tepatnya kepada para saksi nikahku dan Wulan. “Bagaimana saksi? Sah?”


“Sah....” seru semua orang yang menjadi saksi atas perjalanan asmaraku kini, yang semenit lalu sah di mata agama dan hukum negara.


“Yo! Mbak iparku Mas Damar, selamat. Jangan lupa makan ketupat!” seru Danum.

__ADS_1


•••


Bersambung....


__ADS_2