Presdir Cilok

Presdir Cilok
94 Ungkapan hati


__ADS_3

Flashback on Wulan


Wulan menatap Roni dengan seksama, kemudian membuang tatapannya. Dan tanpa sengaja dari kejauhan, ia melihat Damar yang berjalan dengan Angelina menuju mobil Lamborghini warna merah.


•••


Meskipun hatinya kelu menatap Damar dengan wanita lain. Namun, hatinya tidak naif menerima pria lain hanya karena untuk pelarian cintanya. Wulan kembali menatap Roni, dan memilih kata-kata yang seyogyanya dapat di pahami oleh pria yang duduk disebelahnya, tanpa melukai perasaannya.


“Maaf, biarkan aku berpikir dengan jernih. Karena banyak pernikahan di mulai dengan wedding ring, tapi karena kurangnya persahabatan berubah menjadi boxing ring.” jawab Wulan, tegas, lugas, namun tetap santun, agar tidak meninggalkan kebencian setelah ini.


Roni terdiam, lalu melukis senyuman di kedua sudut bibirnya. “Aku mengerti ini terlalu cepat untuk menyatakan keinginanku, tapi berikan aku waktu agar aku dapat menjamah hatimu.”


Hening...


Wulan terdiam, untuk saat ini tidak mungkin menerima cinta lain! Tapi kemudian hari, siapa yang akan tahu dengan kehendak Tuhan?


“Uhmm.. Roni,” Wulan bersitatap dengan Roni, “Aku rasa, kita memang harus saling mengenal terlebih dulu,” ucap Wulan, memilihkan pilihan yang sekiranya dapat mengerti tujuan dari jatuh cinta adalah mengenali menjadi lebih baik, menerima yang sejati. Wulan mengedarkan pandangannya menatap jalanan.


Roni tersenyum lembut, “Baiklah.” Ia mengerti, bahwasannya, hati tidak bisa di paksakan dengan hanya datang lalu mengutarakan maksudnya, dan mengharap seperti apa yang ada di angan-angannya berjalan mulus mujur, tanpa adanya perjuangan kilat. Karena cinta, memang butuh proses dan waktu untuk saling menerima satu sama lain.


Wulan dapat melihat, bahwa Roni adalah pria yang lembut dan pengertian, meskipun baru mengenalnya.


Sesaat sama-sama terdiam... Roni, kembali bersuara, “Tapi, jangan menolak. Seandainya aku mengajakmu jalan,”


Wulan menghela nafas panjang, tidak ingin mengecewakan Roni lebih dalam lagi, dengan jawaban yang ia sudah pikirkan, “Insya Allah, karena semua atas kehendak-Nya...” Wulan menghentikan ucapannya, masih menatap jalanan mengingat sosok seorang Damar, lalu beralih menatap Roni, “Tapi, jangan mengharap lebih. Karena aku tidak bisa menyembuhkan setiap goresan luka di hati,” jelas Wulan, dengan sikap tegas. Agar tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan.


Roni melebarkan senyumnya, sumringah dengan apa yang barusan Wulan ucapkan. “Aku mengerti, mungkin saja dengan seiring berjalannya waktu, Tuhan memang sedang mempersiapkan jodoh yang pasti untukku dengan mengenal lebih dekat denganmu, Wulan.”


Roni merasa, biar bagaimanapun kecewanya saat ini, wanita yang akhir-akhir ini membayangi pikirannya berkata jujur dan kejujuran, adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan. Karena kedewasaannya selalu berpikir bahwa pria dewasa itu bisa membedakan antara cinta dan hanya sekedar suka.



Setelah bertemu dengan Roni, Wulan lebih memilih berjalan-jalan menikmati waktu senja di Malioboro. Sampai makan, sholat Maghrib dan isya pun ia laksanakan di tempat itu juga. Sampai ia memutuskan untuk pulang kerumah yang ia tinggali di Jogja, sudah memasuki larut malam. Tanpa di nyana tanpa di duga. Seseorang yang sudah membuat hatinya kemelut dengan rasa gelisah. Tiba-tiba muncul dihadapannya dan membuatnya terkejut.

__ADS_1


Flashback off


Masih memeluk Wulan dari belakang dengan sedikit membungkukkan badan, membuatnya merasakan nyaman. Rasa cinta bersabarlah... ia ingin di cintai sepenuh hati, bukan cinta yang melukai, bukan tanpa sebab dan akibat, karena ia pun tidak ingin lagi gagal dalam menjalin hubungan, itulah yang sedang di rasakan oleh Damar.


Sudah sekian lamanya, sang waktu membiarkan kedua insan manusia yang di mabuk asmara, diam, membisu, membeku di tempatnya berdiri di depan pintu.


Dan sekian lamanya pula, Damar tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya dari Wulan, membuat Damar melepaskan dekapannya. Lalu berdiri tegak, tangannya memegang pundak Wulan, dan membalikkan tubuh wanita yang masih mematungkan diri, untuk menghadapnya.


Kedua tangan Damar beralih menggenggam kedua tangan Wulan, “Apa dia pacar LDR mu? Sedalam apa kamu mencintainya, masih bisakah aku mengambilmu darinya?” cecar Damar, bertanya dengan pernyataan yang berubah menjadi pertanyaan.


Wulan menatap Damar di kegelapan malam, wajahnya samar terlihat dari cahaya lampu jalanan, ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Damar. “Cinta adalah lambang keabadian, dan cinta adalah seluruh riwayat hidup seorang wanita. Namun, bagi pria hanya sebuah episode...” sejenak terdiam, semilirnya angin malam ini, dapat ia rasakan seolah masuk menyejukkan hatinya yang sempat layu sebelum mekar, “Lalu bagaimana dengan Direktur Angelina?” tanyanya, memastikan bahwa memang tidak ada perasaan wanita manapun yang Damar gantung.


Damar berbalik badan memunggungi wanita yang tidak menjawab pertanyaannya, malah balik bertanya, “Nggak ada orang yang bertanya, lalu di jawab dengan pertanyaan!”


Wulan menyadari satu hal, melihat Damar dari belakang membuatnya merasakan rindu yang teramat sangat dalam, meskipun ia dan Damar hanya berjarak 2 meter. “Dia bukan siapa-siapa...” Wulan menjeda ucapannya, ia menghela nafasnya. ‘Inilah saatnya aku jujur!’ gumamnya dalam hati.


“Maaf jika aku pernah mengatakan bahwa aku tidak sendiri... aku tidak pernah bermaksud membohongi siapapun, termasuk kamu...” sambungnya, berkata lirih.


Damar menunduk, memejamkan matanya dalam-dalam. “Tahu kah kamu Lan, kamu sudah menyiksa perasaanku selama ini, dan lebih membuatku terlihat seperti orang bodoh, melebihi kebodohan saat aku di khianati masa laluku!”


“Maafin aku, Damar.” ungkapnya, bersungguh-sungguh. Ia sendiri tahu, bahwa Damar adalah pria yang jujur, dan tidak menyukai kebohongan sekecil apapun.


Perlahan Wulan melihat Damar melangkahkan kakinya, meninggalkan teras rumahnya. Tanpa berkata apa-apa. ‘Haruskah aku menunggu dan menyesal! Nggak Lan, kali ini jangan biarkan dia pergi!’ Wulan berlari kecil, menghampiri Damar.


Grep.... Wulan menghempaskan tubuhnya di punggung pria yang terlanjur kecewa dengan kebohongannya. “Jika maafku saja nggak cukup, maka jangan hukum aku dengan pergi tanpa berkata apapun, makilah aku... semaumu...” lelehan air hangat membasahi pipinya, menyelaraskan dengan ungkapan hati penuh penyesalan.


Damar masih terdiam, menunggu hal apapun yang akan di katakan oleh Wulan. Baginya, secuil kebohongan apa pun alasannya, sudah meremass kepercayaannya.


Kedua tangan yang melingkar di dada bidang Damar, seolah menandakan bahwa ia tidak rela melepaskannya begitu saja. Kali ini, Wulan pasrah jikalau orang lain menganggapnya lemah. Ia menarik tangan kanannya, mengusap air matanya yang kian luruh. “Lalu siapakah aku bagimu?? Hujan juga tidak sanggup sembunyikan air mataku. Tanah pun tidak akan tega menghapus tapak jejak kakiku. Bahkan juga waktu pun tidak ikhlas meniadakan rasaku kepadamu...”


Degh... Detakan jantungnya sudah tidak beraturan, angin malam yang dingin pun tidak sanggup mendinginkan sekujur tubuhnya yang mulai memanas. Damar, melepaskan dekapan kedua tangan Wulan yang melingkari dadanya. Hatinya luruh, bergemuruh, lalu berbalik badan. Menghadap wanita yang saat ini sudah tidak lagi ragu menunjukkan sisi rapuhnya.


Memandangi wajah manis Wulan di keremangan cahaya dari lampu jalan. Meskipun Damar tidak melihat dengan jelas, bahwa wanita yang kini sedang menangis di hadapannya. Namun, dari suara tangis yang ditahan, sudah dapat membuktikan bahwa memang Wulan menyesali perbuatannya, yang sudah berbohong.

__ADS_1


Damar mengangkat kedua tangannya, memegang kedua pipi Wulan, hingga mengenai telinga yang tertutupi rikma. Ibu jarinya perlahan mengusap air mata yang membasahi pipi Wulan. Damar menggigit bibir bawahnya, perlahan gejolak di hatinya tak dapat menahan Damar untuk mendorong wajahnya mendekati wajah Wulan... Kini hanya berjarak dua inci... antara bibirnya dan bibir Wulan..


Namun, harus buyar, tatkala pedagang sekuteng lewat, dengan suaranya yang nyaring dengan diselingi suara sepeda motor dan gerobaknya.


“SEEEEKUTEEENG!!”


“SEEEKUTEEENGG!!”


Hingga terputus sudah Damar melakukan dosa yang kesekian kalinya untuk menjamah wanita yang bukan muhrimnya. Secepatnya, Damar menyadari wajahnya yang sudah begitu dekat dengan wajah Wulan. Damar menarik dirinya, ia celingukan.. ‘Astaghfirullah!! Sepertinya aku harus segera menghalalkannya.’


Sama-sama terkejut, dan salah tingkah. Wulan mengusap wajahnya, dan berdehem kecil. “Ehem...”


Kecanggungan menyelimuti keduanya.


Damar merasa sepertinya ia harus segera pulang, atau kalau tidak. Setan akan semakin menjadi-jadi membisikkan hatinya untuk melakukan maksiat. “Emmm... Wu--wulan...” ujar Damar tergagap.


Wulan meras malu menatap Damar, untung saja saat ini minim penerangan, atau kalau tidak wajahnya yang memerah laksana kepiting rebus pasti akan ketahuan oleh Damar. “Eh!!”


Damar mengacak rikmanya sendiri, “Aku, pulang, ka-kamu istirahat gih...”


Wulan mengangguk, ia merasa sangat malu untuk menjawabnya. Ia pun berbalik badan dan berjalan menuju pintu yang tersingkap separuh, sebelum memasuki pintu, ia memutar badannya. “Uhm.. Mar,” serunya memanggil Damar dengan suara kecil.


“Iyah!” jawab Damar, gugup, tangannya mengusap tengkuk leher, dan beralih ke pipi.


“Hati-hati..” ujar Wulan, lalu masuk kedalam rumah, tak lupa mengunci pintu. Berdiri, dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Perasaannya lega sudah, tiada lagi kebohongan.


Sementara di luar rumah, Damar melebarkan senyumnya. “Hampir saja, keblabasan!” ia pun berbalik badan, dan melangkah kakinya meninggalkan teras rumah Wulan. Sejenak ia berhenti, dan menoleh memandangi rumah yang sudah menyala lampu di kedua sisi teras rumah.


Damar mengusap dadanya, masih tak lepasnya senyuman di wajahnya. Dan kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.


•••


Bersambung...

__ADS_1


🖤🖤


__ADS_2