Presdir Cilok

Presdir Cilok
47 Kamu cantik hari ini


__ADS_3

Please, Like, Vote, Komen.


Kesuksesan tidak menunggu mapan. Akan tetapi asal ada kemauan. Pasti ada jalan. Jangan lupa berdoa dan berusaha mewujudkan. Karena doa tanpa usaha, bagaikan awan mendung tanpa hujan. Nihil! Hanya akan menggantung di awan-awan.


Kartu AS



Keesokan paginya...


Ayam berkokok lantang saling sahut menyahut di pagi buta. Membangunkan mata yang masih terpejam, untuk segera bangkit dan menyongsong sejuta harapan.


Damar terbangun seperti biasa saat mendengar kumandang adzan subuh menggema. Namun, kali ini ia tertidur di ruang tengah sambil bersandar pada sandaran sofa dan berkas di atas pangkuannya. “Aih... Leherku ngelu!” ucapnya. Seraya memegangi bagian tengkuk lehernya.


Melihat jam dinding yang berdetak di ruang tengah waktu menunjukkan pukul 04:15 waktu setempat. Lantas Damar berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk, dilihatnya Danum masih terlelap. “Num, bangun sudah azdan subuh.”


Tidak seperti biasa ketika dibangunkan Danum akan mengulur-ulur waktu. Kali ini dengan sigap Danum sudah terduduk meskipun masih matanya terpejam. “Hmmm... Iya Mas, aku bangun nih.”


“Satu-- dua-- satu-- tiga..” ucap Danum mengerjap-ngerjapkan matanya.


Damar geleng-geleng kepala dan segera beranjak ke dapur, kamar mandi adalah tujuannya, dan melihat sekilas kepada Ibunya yang tengah menanak nasi.


Sudah menjadi kewajiban bagi Bu Suci, menanak nasi di pagi yang masih petang dan menyiapkan lauk ala kadarnya.


Seusai dari kamar mandi dengan cekatan Damar mengganti sarung dan baju koko di kamarnya. Lantas melenggang ke mushola yang tidak jauh dari rumahnya.


Sedangkan Danum dan Bu Suci sholat berjamaah di rumah


Sekitar dua puluh menit sudah melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim di mushola. Damar kembali ke rumah. Dan bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan dengan rancangan dan gagasan yang baru. Yang sudah ia pikirkan semalaman.


Selepas ia menikmati sarapan paginya, kopi susu di temani pisang goreng. Kini ia tengah duduk di ruang tamu dengan berkas yang ada di tangannya dan ada di beberapa sebagian di meja.


Semalaman suntuk ia mempelajari dan mencermatinya, dengan seksama tanpa ada satu kalimat pun yang terlewati.


Bu Suci yang sedang menyapu lantai pun menghampiri putranya dan duduk tidak jauh darinya berada. “Nang? Ibu boleh tanya sesuatu?”


Damar menaruh berkasnya di atas meja dan menatap Bu Suci, “Ibu bebas tanya apa aja, Asalkan jangan tanya jodoh.”


“Halah-halah jodoh, semoga anak-anak Ibu berjodoh dengan wanita baik-baik.” jawab Bu Suci, seraya menyandarkan sapu di dinding. “Sebenarnya apa yang di tugaskan Kakek Bagaskara padamu?” sambung Bu Suci bertanya.


Danum yang baru keluar arah dapur, mengambil sepatu sekolah di rak sepatu samping pintu terlebih dulu dan duduk tak jauh dari Damar.


Damar menatap Danum dan kembali menatap Ibunya, “Amin. Bu, Damar akan memberitahu Ibu. Tapi tidak sekarang. Damar merasa masih butuh waktu untuk mempelajarinya,” Ia menunduk dan menatap berkas yang ada di atas meja.


“Sebenarnya ini berkas apa toh Mas? Sampai semalaman Mas Damar sibuk baca-baca.” tanya Danum, bingung dengan semua yang Kakaknya lakukan. Ia memang tahu kalau Damar suka membaca buku, tapi tidak biasanya ia melihat Damar semalaman akan membaca dan menulis sesuatu di kertas.


“Terus tiba-tiba menyuruh ku jangan berjualan? Hemm... apa yang sebenarnya Mas Damar sedang lakukan?” lanjut Danum, tiada henti mencecar Kakaknya dengan pertanyaan.


“Diperlukan keyakinan penuh, dipikiran kita untuk percaya bahwa sukses di depan mata! Jadi adikku Danum Mahesa, berhentilah banyak bertanya, dan fokus pada sekolah mu.” jawab Damar.


Danum mendengus, “Selalu aja, jawaban Mas Damar dengan segala nasehat. Tapi terimakasih dengan semua nasehat bijak Mas Damar.”


Damar mendengar deru mesin dari jalanan depan rumah, sudah dapat di pastikan bahwa itu adalah Bokir yang akan menjemputnya. Menyibakkan tirai dan melihat keluar jendela, dan benar Bokir baru turun dari mobil.


Damar beralih menatap Danum,

__ADS_1


“Kamu mau berangkat sekolah sekarang Num? Bareng sama Mas aja?” tawar Damar.


Danum menggeleng


Melihat ada penolakan dari adiknya membuat Damar heran. “Kenapa?”


Danum menjawab, “Aku nggak mau banyak menjawab pertanyaan dari teman sekolah ku, Mas,”


Damar mengerti sesuatu berita apa pun yang sangat mendadak pasti akan menjadi bahan perbincangan hangat untuk pergosipan.


“Assalamualaikum,“ salam seseorang dari luar.


“Wassalamu'alaikum, Kang Bokir,” jawab salam Damar


Damar lebih dulu keluar rumah, di susul Danum. Bu Suci berjalan kearah kamarnya dan mengambil hijab instan yang beliau letakkan di atas tempat tidur. Lantas beranjak keluar rumah.


“Berangkat sekarang Kang Bokir?” tanya Damar.


Bokir mengangguk dan mengalihkan tatapannya menatap Bu Suci, “Pagi Budhe,” ramah Bokir pada Bu Suci.


Damar kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil tas dan beberapa dokumen yang ia bawa pulang.


Bu Suci tersenyum dan menjawab keramahan, “Pagi.”


Bokir lantas menatap Danum yang sudah siap akan pergi ke sekolah, “Den, Danum mau berangkat sekolah kan? Bareng aja sekalian?”


Danum menggeleng, “Nggak usah ada embel-embel Den, Pak Bokir!'?”


Bokir merasa gendang telinganya tidak enak mendengar sebutan Danum, yang menyebut Pak pada dirinya. “Jangan Pak-- ah. Saya kan bukan Bokir di pelm Suzanna!”


“Lah, sundel bolong dong! Hehe...” celoteh Danum.


“Auh ah!” sahut Danum.


Bokir terkekeh geli, ia pun kembali membahas soal sebutan kepada Danum, “Oh, kalau begitu bro--brother gimana?” tawar Bokir.


Danum menjentikkan jarinya, “Nah itu aku setuju Om Bokir.”


“Lah, Om?” dengus Bokir merasa tidak puas dengan sebutan Om.


“Lah terus apa? Kang?” tanya Danum.


Bokir mengangguk, “Itu lebih enak di dengar,” seru Bokir.


“Berangkat bareng yuk? Kang Bokir kan sekarang supir Mas mu,” tawar Bokir, sembari menunjuk mobil sedan Corolla yang terparkir di jalan depan rumah.


Danum menggeleng, “Danum naik sepeda aja Kang,”


Bokir tertegun atas penolakan Danum


“Dia nggak mau mengundang banyak pertanyaan dari temannya, Kang,” Damar ikut bersuara menjelaskan maksud dari penolakan adiknya.


Bokir manggut-manggut, Bokir takjub dengan keluarga kecil Gusli Wijaya. “Saya salut dengan keluarga Budhe.”


“Salut kenapa?” tanya Bu Suci.

__ADS_1


“Damar pasti sudah cerita tentang Tuan Bagaskara,” ujar Bokir menatap kedua cucu Bagaskara Wijaya dan juga menatap menantu dari keluarga Wijaya. “Meskipun, anak-anak Budhe tahu, kalau mereka cucu orang kaya, tapi masih rendah hati.” lanjutnya dengan memuji keluarga kecil Almarhum Gusli Wijaya.


Bu Suci tersenyum, “Jangan menguasai hati dan pikiran dengan harta semata. Karena nggak ada yang kekal di dunia ini Kang Bokir,“


Bokir manggut-manggut, “Saya setuju.”


Damar menatap Bokir dan beralih menatap Bu Suci lalu mengulurkan tangannya di hadapan beliau. “Damar berangkat Bu, do'akan Damar,“


Bu Suci menjabat tangan putra sulungnya, “Semoga kamu berhasil Nang,”


“Amin.” jawab Damar, seraya mencium tangan Ibunya. ‘Ibu, akan ada hasil dari doa-doa yang Ibu panjatkan untukku. Insyaallah.' benak Damar bersemangat ia akan meraih kemenangan di hari ini dan seterusnya.


“Danum juga berangkat Bu,” ucap Danum dan bersalaman dengan Ibunya.


“Hati-hati.” jawab Bu Suci. Tak lama kedua putranya sudah meninggalkan halaman rumah. Dengan Damar menaiki mobil dan Danum yang lebih memilih mengayuh sepeda ontel.


••


Di jalanan yang cukup padat..


Damar bingung dengan arah jalan yang di tuju Bokir. “Kita mau kemana, Kang?”


Bokir melihat Damar dari kaca di atas kemudi, “Wulan sudah menunggu mu di butik khusus pakaian pria.”


Damar mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”


Bokir tidak menjawab pertanyaan Damar, ia hanya mengembangkan senyuman. Dan sampailah di sebuah butik khusus pria yang cukup terkenal di daerah Bantul, bahkan setiap hari Damar lewati saat berjualan cilok.


Damar membuka pintu mobil dan berdiri mematung menatap bangunan butik yang menggambarkan kolase foto model pria asing, David Beckham. Ia mengalihkan tatapannya menatap Bokir. Tapi juga tidak membuka suaranya.


“Masuklah.” ucap Bokir.


Damar melangkahkan kakinya menuju pintu kaca lebar dan sudah di bukakan oleh seorang pegawai laki-laki yang sudah menunggunya. “Selamat datang Tuan Damar.” ramah si pegawai kepada Damar.


“Mari saya tunjukkan berbagai macam koleksi pakaian pria yang sudah di pilih oleh sekretaris Anda.” ujar pegawai butik lagi.


Damar hanya membalasnya tersenyum canggung dan kembali melangkahkan kakinya. Dan benar saja di ruangan VIP room sudah ada Wulan yang duduk dengan pakaian ala kantor, celana panjang merah marun berjas warna senada dipadukan dengan baju dalaman berwarna hitam serta Kitten Heels sepatu dengan hak pendek sekitar 3.5 CM


Rikma yang dibiarkan tergerai indah dengan jepit cantik di rikmanya, serta anting menghiasi telinganya. Memperlihatkan wanita dengan keanggunan dan mempesona. Tapi siapa sangka Wulan adalah wanita yang sulit di taklukkan oleh lelaki.


Wulan menatap Damar yang masih berdiri mematung menatapnya. “Ngapain diem disitu?” cetus Wulan.


Ia menyadari suaranya yang jutek, lantas bersuara dengan nada lebih lembut. “Mari Presdir, Anda harus memakai pakaian formal untuk menghadiri pertemuan penting.”


Damar kembali sadar akan lamunannya menatap Wulan yang hari ini lebih feminim, ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Wulan yang memang tampil beda dari hari sebelumnya.


“Kamu cantik hari ini,” puji Damar dan kembali berdiri tegar serta berwajah datar.


Damar mengingat lagu lobow, berjudul Kau cantik hari ini.


Pegawai yang mengantar Damar sampai ke ruang VIP pun ikut tersenyum mendengar entah rayuan atau memang Wulan terlihat cantik, seperti yang Damar ucapkan.


Wulan menanggapinya dingin dan acuh, “Anda orang ke satu juta lima ratus dua puluh ribu yang bilang saya cantik, Tuan.”


Damar delming dan kembali kepada pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan, “Untuk apa kamu menyuruh ku datang ke butik ini?”

__ADS_1


•••


Bersambung..


__ADS_2