
Lepaskan segala lara..
Di sebuah Cafe, kini seorang pemuda tengah membawakan lagu-lagu hist masa kini. Lagu yang banyak digandrungi oleh kalangan remaja maupun yang sudah dewasa. Siangnya ia habiskan untuk menguleni adonan tepung kanji, serta untuk berdagang cilok.
Malam hari, selesai waktu isya pemuda ini akan bekerja sebagai penyanyi di beberapa cafe serta resepsi pernikahan yang menyukai vokal suaranya. Itulah kelebihan Damar Mangkulangit, pemuda yang gigih, tekun bekerja untuk bisa membahagiakan orang-orang yang disayanginya.
Saat ini ia sedang membawakan lagu yang diminta oleh salah satu pengunjung cafe, lebih tepatnya sebuah angkringan outdoor tempat anak-anak muda-mudi nongkrong, menghabiskan sisa waktu malam di salah satu sudut kota gudeg.
Di atas panggung, yang hanya setinggi lutut orang dewasa, kini Damar sedang duduk di kursi kayu tinggi sambil memegangi Mic dan diiringi oleh empat pemuda lainnya yang masing-masing memegangi alat musik live cafe outdoor. Salah satunya Arjuna alias Juna yang memegangi alat musik gitar, dan dua orang lainnya yang memegang kendali alat musik cajon, dan organ.
"Yah, saya akan membawakan sebuah lagu berikutnya, yang khusus di minta oleh salah satu pengunjung, Mbaknya yang manis, yang manis bukan gula aja yah, hehe,” kata Damar memberi sambutan.
"Dimana Mbaknya yang katanya manis?” teriak cowok berbaju hitam salah satu pengunjung cafe.
Damar melihat kearah cowok yang sudah biasa menjadi pengunjung cafe milik Bu Mariska, yaitu pemilik wo terkenal di kota Jogja.
"Wah Mbak manis, sepertinya Mas Baim tertarik untuk mengenalmu Mbak,” seloroh Damar mengalihkan pandangannya menatap gadis berambut sepunggung yang tergerai indah.
Serentak hampir semua orang pengunjung cafe melihat kearah yang di tuju Damar, "Tapi, Mas Baim, kayanya Mas Baim harus lebih bersabar yah, Mbak manis sepertinya tengah merasakan kegalauan seperti saya, hehe, canda yah, seperti lagu yang dimintanya,” kata Damar.
Cowok bernama Baim pun nampak manggut-manggut, Baim diam-diam melirik kearah Mbak manis yang duduk dengan kedua temannya, juga belum diketahui namanya.
"Tancap gas Im!” seru pemuda lainnya, menyemangati Baim.
"Oke, kalau begitu saya atau gue nih enaknya? Gue kali yah, biar macam orang Jakarta? Hehe canda lagi,” sebagai seorang penyanyi Damar harus memasang wajah ceria, dan harus pandai mengambil hati pengunjung.
"Sebenarnya gue ini pemalu, tapi yah? Biasa orang yang pemalu, malah malu-maluin, hehe, maaf yah candaan gue garing,”
"langsung saja, Mbak siapa tadi, oh iya Feli ini khusus untuk Mbak Feli yang manis.”kata Damar, mempersembahkan sebuah lagu yang sudah di request.
♪♪♪
Terlalu cepat kau tergoda, kasihku
Terlalu cepat kau serahkan cintamu
Tak dapat lagi kumaafkan salahmu
Sayang, biar kusendiri
Ku tak sangka kau berbuat begitu
Ku tak sangka malangnya nasibku
Oh, apalah dayaku saat ini
Tuhan, tolonglah hamba-Mu
Dalam malam kelam
Ku duduk sendiri
Tiada teman lagi
Tetes air mata
__ADS_1
Tak terasa sudah
Membasahi pipi
Usai sudah Damar menyanyikan lagu yang di populerkan oleh Noah, namun ada yang berbeda dalam hatinya kini,
"Kenapa mewakili perasaanku.” batin Damar, ia refleks mengusap dadanya. Seolah ada yang mencubit hatinya.
Malam semakin larut, memasuki pukul 20:35 wib, Damar melirik jam tangannya. Dan tepat arah jarum jam pendek diangka 11, ia melihat gadis yang sudah membuat perasaannya gamang. Damar menatap dengan tatapan dingin, bahkan lebih dingin dari salju. Inilah salah satu yang Damar dapat lakukan bersikap acuh.
Damar juga melihat Opik menyusul Ratna yang sudah lebih dulu duduk di bangku kayu berwarna cream.
Tepat saat itu pula, Ratna mengedarkan pandangannya menatap kearah panggung dan melihat seorang cowok yang sudah menjadi mantannya.
Sama-sama tertegun, namun Damar lebih dulu mengalihkan pandangannya.
Opik Alamsyah pun memanggil salah satu waiters cafe,
"Sayang, kamu mau minum apa?” tanya Opik pada kekasihnya, yang notabene adalah mantan pacar dari temannya sendiri.
Damar tersenyum tipis, ia berpikir rasional mulai sekarang segalanya tentang Ratna harus bisa ia lupakan. Harus benar-benar ia buang kelaut, dan perumpamaan di makan ikan hiu yang ganas.
Juna pun menatap lurus, kearah Damar menatap Ratna yang sudah mulai berani menunjukkan kemesraan bersama dengan Opik tanpa adanya kecanggungan. Dan sampai saat ini pun Juna belum tahu, bahwa Damar sudah benar-benar berpisah dari Ratna. Juna hanya berpikir sejak bertemu dengan Damar, Damar bersikap lebih dingin dan acuh dari pada biasanya.
Damar pun melihat pemilik cafe yang juga pengusaha Wedding Organizer/Wedding Planner keluar dari ruangannya. Dan langsung menghampiri kliennya yang tak lain adalah Ratna dan Opik.
Damar acuh dengan apa yang akan di lakukan mantan pacarnya, dan fokus pada pertunjukan musik livenya. Tidak lagi sedikit pun ketertarikan pada gadis itu. Damar menunduk dan menghela nafasnya, seperdertik kemudian mengedarkan pandangannya, melihat kesamping kepada teman duetnya, Siska. Yang baru tiba, dan menggantikannya bernyanyi.
Wanita cantik berparas ayu dan bergigi gingsul. Damar mengamati Siska memang cantik kalau lagi bernyanyi seperti sekarang ini. Tapi untuk saat ini, hatinya seolah enggan untuk membukanya, dan lebih fokus jalan menuju kesuksesan.
Karena Damar menganggap jika kesuksesan dapat di raih, maka wanita manapun tidak akan lagi menolaknya. Juga tidak ada lagi penghinaan yang akan ia terima.
♪♪♪
Just gonna stand there and watch me burn
[Hanya akan berdiri di situ dan menyaksikanku terbakar?]
But that's alright because I like the way it hurts
[Tak mengapa karena aku suka rasa sakitnya]
Just gonna stand there and hear me cry
[Hanya akan berdiri di situ dan mendengarku menangis?]
But that's alright because I love the way you lie
[Tak mengapa karena aku suka caramu berbohong]
[I love the way you lie]
Aku suka caramu berbohong
I can't tell you what it really is
__ADS_1
[Tak bisa kukatakan padamu yang sebenarnya]
I can only tell you what it feels like
[Yang bisa kukatakan hanyalah seperti apa rasanya]
And right now there's a steel knife
[Dan saat ini seperti ada pisau baja]
In my windpipe
[Di tenggorokanku]
I can't breathe
[Aku tak bisa bernafas]
But I still fight
[Namun aku masih berjuang]
While I can fight
[Saat aku masih bisa berusaha]
As long as the wrong feels
[Selama yang salah tidak masalah]
It's like I'm in flight
[Rasanya aku sedang terbang]
High of a love
[Tinggi dalam cinta]
Drunk from the hate
[Mabuk dari rasa benci]
It's like I'm huffin' paint
[Rasanya aku sedang marah]
And I love it the more that I suffer
[Dan aku semakin suka saat aku menderita]
Sebuah lirik lagu yang menggambarkan pergolakan batin yang sedang Damar rasakan. Ia pun izin sementara untuk pergi ke kamar mandi. Berjalan menuju Juna yang sedang memetik senar gitar, "Aku mau ke kamar mandi dulu Jun,” bisiknya di telinga Juna. Juna hanya mengangguk.
Ketika sedang berjalan di samping kedai cafe, tanpa sengaja Damar berpapasan dengan Ratna. Damar tersenyum garing kepada Ratna yang terlihat canggung, Damar kemudian melenggang pergi seolah tidak mengenal Ratna.
Namun berbeda ekspetasinya, Ratna berbalik dan melihat punggung Damar yang hendak berbelok menuju kamar mandi, "Damar!” seru Ratna.
__ADS_1
••
Bersambung