
Damar celingukan melihat pohon mangga dari bawah sampai atas dan dari atas sampai bawah. Merasa sangat penasaran. Sebenarnya ada apa gerangan? Mengapa bisa istrinya berbicara sama pohon mangga.
Padahal hampir setiap hari ia memanjatnya, guna memetik buah hijau itu, yang beruntungnya lagi selama istrinya ngidam. Pohon mangga ini berbuah, meskipun di luar dari musimnya.
Wulan baru sadar jikalau sang suami kini sedang berdiri di bawah pohon mangga terlihat sangat memerhatikan setiap dahan pohon, ia lantas berdiri dan menghampiri. Apakah yang sedang di perhatikan oleh suaminya? Cap cus lah Wulan meninggalkan teras dan menuju ke halaman rumah, berdiri tepat di belakang Damar.
“Lagi ngapain?”
Agaknya suara Wulan yang seperti bisikan di belakang Damar membuatnya reflek terjingkrak, “Bujubuneng!” dan memeluk pohon mangga.
Bukan hanya Damar yang terkejut, Wulan pun ikut terperanjat sampai membulatkan matanya sempurna, “Memang ada apa sih? Sampai terkejut begitu?”
Damar baru ngeh jikalau suara bisikan dari belakangnya berasal dari suara sang istri, ia lantas melepaskan dekapannya dari pohon mangga yang sedang meringis akibat di peyuk pria ganteng.
“Kamu ngagetin aja!” Damar mengelus dada, sebagai tanda ia sudah lega.
Wulan mengangkat alisnya, “Kenapa bisa aku ngagetin? Kamu nggak lupa siapa istri kamu kan?”
Damar heran atas pertanyaan dari istrinya, “Maksud kamu?”
“Ya habis tadi kamu peluk-peluk tuh pohon mangga, memangnya pohon mangga lebih bohai dari istrimu ini, Kang?!” Wulan melengos memunggungi Damar, seraya berkacak pinggang, ia lantas menengok mensejajarkan dagu dengan pundaknya, melihat Damar dari ekor matanya..
“Ealah... ngono kui kok dadi cembukur karo wet pelem? [kaya gitu aja dadi cemburu sama pohon mangga]” Damar sadar, istrinya ini mempunyai peranan sifat ganda. Selain jadi istri yang penurut juga bisa menjadi istri yang menjengkelkan. Tapi yah sudahlah, to memang wanita ingin di manja dan ingin di mengerti.
Damar memeluk Wulan dari belakang, “Kamu tau apa beda kamu sama gula Jawa?”
“Apa emang?” tanya Wulan masih enggan bergeming, padahal mah yah sudut bibirnya mengulum senyuman.
“Karena sama-sama manis,” cetus Damar sambil mencium leher sang istri.
Wulan membulatkan matanya, tiba-tiba ada sensasi geli di lehernya, ia tertegun. Dan sesaat kemudian ia celingukan mengedarkan pandangan, bahwa kini sedang berada di halaman rumah. “Kang- Kang Cimar, ini lagi di depan rumah!”
Damar kembali berdiri tegak, “Kenapa memang kalau lagi di depan rumah, toh semua orang di kampung ini sudah tau kalau kamu istriku,”
“Meskipun para tetangga tau kalau kita suami-istri, tapi kan gak baik juga memamerkan kemesraan!” tukas Wulan.
“Sudah jangan hiraukan pendapat orang-orang, mereka yang suka nyinyir tuh sebenernya orang yang sangat memerhatikan,” tanpa pikir panjang Damar lantas membopong tubuh gembul sang istri. Sekuat tenaga memang ia menahan beban bobot tubuh istrinya yang semakin hari semakin berisi.
Wulan terhenyak kala tubuhnya melayang, tapi bukan memakai parasut tentunya, “Waduh! kenapa bisa melayang gini yak? Cepet turunin aku!” sentaknya, mengerjap heran menatap Damar.
“Udah santai aja, aku masih kuat kok. Lagian berat badanmu ini nggak seberapa dibanding dengan beban negara!” seloroh Damar, menggidik pundaknya. Bahwa ia sedang mengisyaratkan jikalau ia lelaki yang PerKaSa. Perhatian Karena Sayang!
“Walah, kenapa kamu membandingkan bobot tubuh ku sama beban negara,” pandangan Wulan kini mulai tergeser, dari yang melihat dahan pohon mangga, kini beralih ke teras, “Memang kamu udah nggak sakit lagi kepalanya?” tanya Wulan memastikan.
“Enggak!” Damar memposisikan ototnya dalam menyangga berat badan sang istri yang semakin berasa di kedua lengannya.
Namun seruan tetangga yang melihat Damar membopong Wulan, membuat Damar berhenti melangkah saat kakinya akan memasuki pintu rumah.
“Mar- Mar- bayine sopo seng bok bopong kui?” [bayinya siapa yang kamu bopong itu?] seloroh Mbak Nanik si menor tetangga Damar berjarak lima rumah, istri dari tukang kredit pakaian luar, pakaian dalam kumplit bin limited.
__ADS_1
Wulan merasa malu melihat dari balik punggung Damar ketiga wanita yang biasa rumpi itu nyiyir, ia berniat turun dari dekapan Damar. Namun, segera di tahan oleh sang suami yang semakin bucin ini.
“Udah diem aja,” celetuk Damar, agar Wulan jangan banyak bergerak apalagi berontak.
Damar memutar kepalanya sampai mensejajarkan dagu ke pundak, melihat kearah ketiga wanita kemayu, janda muda, Mama muda dan perawan tua berumur tiga puluh tahunan, tetangganya yang kebetulan lewat di jalanan depan rumah, “Iki bayine Pak Wicaksono Yu!” [Ini bayinya Pak Wicaksono, Mbak]
“Ealah... lanjut Mar, tapi inget yo, sebentar lagi Maghrib, nanggung kalau main jam semene iki, hahaha” [kalau main jam segini]” kata wiwit seorang janda muda yang di tinggal suaminya pergi ke Taiwan.
“Siap Mbak wiwit, palingan satu ronde,” seloroh Damar.
“Walah cuma seronde ya palingan yang keluar sa encrit to, Mar.. hahayyy!” balas Mbak Nur, si perawan tua memiliki postur tubuh gemulai.
“Uhuuuyyy...” seru mbak Wiwit dan Mbak Nur ikut bersiul ria.
Wulan mencubit putingg Damar yang di balut kaos putih, “Jangan meladeni mereka!” ia selalu saja ilfil melihat ketiga wanita-wanita yang demen banget menggoda Damar.
Damar merasakan sensasi geli mendapat cubitan di putinggnya, “Lagi dong!” Damar crengengesan melihat wajah Wulan yang terlihat sebal.
“Cepet masuk atau turunin aku!” sergah Wulan dengan suara kecil, sambil melirik ketiga wanita-wanita menor bin glamor yang terlihat cekikikan di jalanan depan rumah.
“Yo wes Yuk, ta mlebu sek!” [Ya sudah Mbak ta masuk dulu]” seru Damar, berniat masuk kedalam rumah. Karena dadanya mendapat tampolan dari tangan Wulan, membuatnya terkekeh kecil.
“Golek bendo go ngiris tomat, [Nyari parang buat ngiris tomat]” seloroh Mbak Nur.
“Opo iku artine? [Apa itu artinya].” tanya Damar.
“Ojo kendo tetep semangat! [Jangan lengah tetap semangat]” balas Mbak Wiwit.
Dengan hati-hati dan tenaga ektra, Damar sampai juga di dalam rumah. Lalu menurunkan Wulan.
“Seneng kamu yah seneng di godain tetangga kamu yang bahenoll itu!” dengus Wulan, kesal. Dikarenakan melihat Damar yang masih melebarkan senyuman.
“Haha... kamu cemburu sama mereka?” Damar duduk di sofa tengah.
Wulan menghentakkan kakinya, menyusul Damar lantas duduk dan mencubit lengan Damar, “Ih... kamu kok gitu sekarang genit banget, awas loh pelakor betebaran. Kalau kamu sampai membuka pintu hatimu, bakal ta cincang halus hatimu bakal aku jadiin orak-arik!”
Damar mengusap lengannya yang mendapat cubitan.
“Uhhh gemesnya... Kamu masih mau lihat Rhitik Rosan nggak?” tanya Damar, ia ingat jikalau sang istri semenjak hamil ingin bertemu dengan sang aktor tampan Bolywood. Sampai-sampai di kamar banyak tertempel poster si aktor yang pernah berlakon di drama Kabhie Khushi Kabhie Gham.
Wulan langsung saja mengubah mimik wajah cemberut dan tersenyum sumringah menatap Damar, sambil mengangguk-ngangguk senang, “Mau-mau-mau... kapan aku bisa ketemu sama Rhitik Rosan?”
Damar tersenyum senang, “Sekarang!” ia lantas berdiri.
Wulan mendongak menatap wajah Damar dari bawah, “Memangnya kamu udah pesen tiket pesawat?”
“E,em..” Damar menggeleng sambil mengibaskan jari telunjuk, “Nggak perlu tiket!”
Wulan limbung, merasa ada yang konselet atas jawaban Damar. Ia lalu menyusul Damar berdiri, “Memangnya Rhitik Rosan lagi ada di Jogja?”
__ADS_1
Damar mengangguk, “Iya,”
Jawaban Damar membuat Wulan menganga, “Serius?”
Lagi Damar mengangguk, “Sebentar, tunggu aja di sini, aku akan segera kembali.” Damar pergi dari hadapan Wulan lalu berjalan ke kamar.
Wulan memiringkan kepalanya menunggu kejutan apa yang akan di lakukan suaminya itu. Hatinya melayang bebas, membayangkan pertemuannya dengan sang aktor tampan Bolywood. Jikalau memang benar Rhitik Rosan berada di Jogja, kan nggak perlu jauh-jauh pergi ke India.
“Tapi buat apa Rhitik Rosan berada di Jogja, apa dia mau berwisata di Keraton Ngayogyakarta?” gumam Wulan, sambil membayangkan jika sang aktor memakai pakaian Surjan, jarik batik dan blangkon, “Hehehe... pasti lucu.”
Tak lama setelah menunggu, Wulan melihat Damar keluar dari dalam kamar sudah berganti pakaian celana jins hitam, jas kulit, dan berkaca mata hitam. Sangat berbeda dari yang semula memakai celana kolor dan kaos oblong.
“Tadaaaaa..... Nih lihat, sekarang Rhitik Rosan berada di depanmu,” ujar Damar sambil merentangkan kedua tangannya.
“Ahahaha... ini mah Rhitik Rosan lokal!” Wulan terkekeh geli melihat tingkah Damar yang selalu bisa membuat kejutan di luar dari ekspektasinya. Wulan manggut-manggut lantas memutari Damar yang kini berlagak layaknya seorang model lokal.
“Ya ya ya, aku tau suamiku ini tampan, tapi nggak gini juga keles nge-prank nya,” Wulan menjewer cuping suaminya yang suka bertindak jaim, “Kan aku nggak berharap lebih, Kang Cimar!”
“A-aaa...” jerit Damar mendapati cupingnya di jewer. “Ya maaf, lagian kamu ada-ada aja ngidamnya, pakai acara pengen ketemu Rhitik Rosan yang jauh di sana,” mengusap cupingnya setelah Wulan melepas jeweran.
Wulan geleng-geleng kepala, lantas memeluk Damar dan mencium singkat bibir suaminya. “Terima kasih, sudah membuatku semakin cinta,”
Damar mengulum senyumnya, lalu membalas pelukan sang istri. “Jikalau aku nggak bisa menjadi Rhitik Rosan, maka biarkan aku mirip seperti Sharukh Khan.”
“Ya ya ya.... bebas mau Sharukh Khan, Salman Khan, atau bila perlu Pak Raden!” seloroh Wulan masih tidak lepasnya senyuman sumringah, sampai menarik kedua pipinya.
“Ahaha... nanti kalau aku kaya Pak Raden, bakal punya hutan lebat dong di atas bibir sini.” Damar tertawa membayangkan jikalau dirinya memiliki kumis panjang nan lebat macam Pak Raden yang ada di serial film anak-anak si Unyil.
“Lucu-lucu-lucu...”
•
Sholat berjamaah pun sudah menjadi rutinitas setelah menikah.
Setelah sholat usai, Damar berbalik badan, dan menghadap Wulan yang memakai mukenah putih berenda; Masih sama cantik dan alami. Bahkan semakin ayu [cantik].'
Wulan memandangi wajah tampan suaminya, bagi setiap istri. Suami adalah yang tertampan kendatipun Rhitik Rosan tetap saja tampan walaupun sudah tua. Ia lantas menyalami tangan Damar dan menciumnya.
Damar membalas mengusap lembut kepala Wulan, dan mencium pipi kanan serta pipi kiri sang istri. “Semoga kekal mengabadi seperti ini,”
“Amin,” Wulan tersenyum simpul. “Aku akan siapkan makanan,” ujarnya lantas beranjak dari atas sajadah.
Damar mengangguk, “Aku akan membantumu memasak.”
Wulan beranjak lantas membuka mukenah dan melipatnya rapih lalu menaruhnya di dalam lemari. “Besok, ada wawancara sekretaris baru kan?”
“Iya, besok juga kamu yang menentukan siapa yang pantas menjadi sekretaris ku,” Damar memang menyarankan agar mencari sekretaris baru, guna membantu sang istri agar tidak terlalu kecapean dalam mengatur jadwalnya di pabrik.
“Baiklah.”
__ADS_1
•••
Bersambung