
Di ruangannya, Damar semakin hari semakin sibuk. Dengan segala rutinitasnya sebagai seorang Presdir. Berkutat dengan laptop dan berkas semakin tak terelakkan.
Pak Bambang menyambangi ruangan Damar, “Mas Damar, Anda harus segera bersiap untuk menemui Direktur Angelina Lusia di perusahaan distributor PT Santika premiere,”
“Baik Pak Bambang, saya akan segera ke sana,” jawab Damar, ia pun beranjak dan menutup layar monitor laptopnya.
••
Di perjalanan menuju distributor yang berdomisili di daerah Malang Kota, kini Damar lebih memperhatikan berkas yang ada di tangannya.
“Apa semua ini sudah siap?” tanyanya pada Sekretaris yang duduk disebelahnya.
Wulan mengangguk, “Sudah, siap Tuan.”
Damar manggut-manggut, ia beralih menatap si mata-mata, Didi yang duduk di jok samping Bokir yang mengemudikan mobil kantor, “Di, apa kamu sudah mengunjungi BPOM?”
Didi menoleh kearah Damar, “Hari ini adalah proses kedua, tinggal pemeriksaan fisik pabrik dan bahan mentah yang ada di perusahaan perindustrian,”
“Aku ingin secepatnya terlaksana Di, jangan lagi mengulur waktu! Sudah terhitung satu bulan aku meminta izin untuk melakukan penggeledahan terhadap PT perindustrian itu, tapi belum kunjung ada perkembangan!” titah Damar, tegas.
Didi pun mengangguk, “Baik, Mas Damar. Anda akan menerima kabar baiknya dari saya besok.”
“Hem..” jawab Danar, lalu kembali melihat berkas-berkas yang ada ditangannya.
Bokir menatap Damar dari kaca ada kemudi, “Mar, besok juga kamu harus menemui Direktur perusahaan logistik di Jawa barat,”
Damar mengangkat wajahnya, menatap Bokir dari belakang, lalu beralih menatap Wulan, “Kenapa aku baru tahu, kalau besok ada pertemuan di Jawa barat?”
Wulan mengangkat bahunya, tanda ia pun belum mengetahui bahwa ada rencana baru. “Eh?”
Damar kembali menatap Bokir dari belakang
“Iya, saya baru di beritahu Pak Bambang sebelum berangkat ke Malang, ada perusahaan besar yang harus kamu temui. Dan Pak Wisnu bisa melejitkan potensi perusahaan Amanah food ke Asia tenggara.” jelas Bokir.
Mobil yang dikemudikan Bokir pun berhenti di sisi bahu kanan jalan, “Kalau begitu, saya permisi Mas Damar,”
Damar mengangguk, lalu mengedarakan pandangannya menatap keluar jendela kaca mobil, dan membaca nama yang tertera di depan gedung [Sekretariat Sumberdaya Perdagangan.]
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah melewati jalanan yang cukup memakan waktu, kini Bokir memarkirkan mobil di pelataran perusahaan.
Damar keluar dari mobil, di susul Bokir dan Wulan. Namun, tiba-tiba Damar berhenti berjalan secara mendadak, membuat Wulan yang sedang berjalan di belakangnya menabraknya dan terjauh di atas pelataran parkir yang berdasar batako keabu-abuan.
“Aaaa... Damar!” seru Wulan.
Damar segera menoleh dan melihat Wulan sedang terduduk sambil menggerutu.
Sedangkan Bokir terkekeh, “Hahaha...”
Bukan hanya Bokir, beberapa karyawan PT Santika premiere pun tertawa melihat Wulan yang terjatuh.
Wulan menatap tajam ke arah Bokir dan Damar, dan beberapa karyawan yang menertawakan dirinya, “Puas kalian?!”
Bokir mengibaskan-ngibaskan tangannya lalu menahan tawanya, dan beberapa karyawan yang sedang mengangkat kardus-kardus berisikan makanan kemasan pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Damar mengulurkan tangannya dan membantu Wulan berdiri. “Makanya kalau jalan jangan terlalu serius, jadi nubruk ‘kan!”
__ADS_1
Wulan mencebikan bibirnya, “Ck, makanya segera seriusin!”
Damar membulatkan matanya mendengar celetukan sekretarisnya. “Hm?!”
“Kode Mar! Kode!” Bokir pun berjalan menuju pintu perusahaan dan melewati beberapa karyawan yang sedang mengangkat barang.
Di depan ruangan meeting PT Santika premiere, Damar, Bokir dan Wulan juga seorang wanita yang berparas cantik dengan pakaian formalnya mengetuk pintu.
“Selamat datang Tuan Damar,” kata seorang Wanita cantik berpakaian formal. “Saya adalah Manajer Laras,” sambungnya lagi, memperkenalkan diri.
“Terima kasih, manajer Laras,” jawab Danar tersenyum ramah.
“Direktur sudah menunggu Anda Tuan Damar,” jawab Manajer Laras, seraya mempersilahkan Damar dan dua orang yang bersama dengan Damar untuk memasuki ruangan.
Damar pun berjalan memasuki ruangan meeting, di susul oleh Wulan dan Bokir.
Seorang yang sedang duduk diantara para staf di kursi ruang meeting pun berdiri, menyambut Damar. “Akhirnya saya bertemu dengan Anda, Tuan Damar.”
Damar mengerutkan keningnya dan sedikit membungkukkan badannya, jeda tiga detik kembali berdiri tegak, “Sebuah kehormatan besar bagi saya kalau Anda benar sedang menunggu saya Direktur Angelina Lusia.”
“Ah.. tidak perlu seformal ini, Tuan Damar,” jawab Angelina, “Silahkan duduk.” Wanita cantik berpakaian formal dress pink ini pun mempersilahkan Damar dan kedua orang yang datang bersama dengan Damar untuk duduk di deretan kursi-kursi dengan meja bundar lebar di tengah-tengah.
Damar pun duduk di kursi dan tersenyum ramah kepada para staf yang berada di ruangan meeting.
“Saya kagum dengan Anda, Tuan Damar,” seru salah satu staf yang duduk di depan Damar, bernama tag Habibi di kalung nama yang dipakainya.
“Saya lebih kagum dengan Direktur Angelina Lusia, beliau masih muda, cantik tapi sudah memiliki perusahaan yang begitu terkenal.” jawab Damar.
“Anda terlalu memuji, Tuan Damar.” kata Angelina tak lepasnya ia memperhatikan Damar.
“Benar, Anda mampu membangun kembali image perusahaan yang bangkrut itu,” imbuh Rino seorang staf lainnya.
Damar tersenyum simpul, “Alhamdulillah sudah membaik,”
“Tidak akan mempengaruhi proses produksi kan, Tuan Damar?” tanya Manajer Laras yang sudah duduk kembali di kursi samping staf lain.
“Semua sudah terselamatkan berkat usaha tim kami yang segera tanggap dalam masalah ini,” jujur Damar menoleh sekilas kearah Wulan dan berganti menoleh kearah Bokir,lalu melihat satu-persatu staf yang saat ini sedang mengadakan meeting di ruangan PT Santika premiere.
“Sekali pun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan sederhana. Tapi jika di lakukan dengan konsisten maka kita akan dapat meraih impian.” imbuh Wulan, yang duduk di sebelah Damar.
“Anda benar sekretaris Wulan,” seru Rino membenarkan ucapan Wulan, “Anda mempunyai tim yang solid Tuan Damar,” sambungnya lagi.
Wulan pun memberikan berkas yang akan di lihat oleh Manajer Laras, “Silahkan, ini adalah berkas kontrak yang perlu Anda lihat terlebih dahulu Manajer Laras.”
Manajer Laras mengangguk dan mengecek dokumen yang diberikan Wulan, lalu selanjutnya untuk di serahkan kepada Direktur Angelina Lusia.
Setelah membaca dokumen, Angelina pun menatap Damar. “Baiklah, saya sepakat untuk menerima kontrak ini,” Angelina pun mengambil pulpen dan menandatangani kontrak.
Senyuman mengembang di kedua sudut bibir Damar. “Terima kasih Nona Angelina, Anda sudah berbaik hati. Perusahaan kami akan memberikan produk yang terbaik untuk perusahaan Anda.”
•
Setelah rapat usai, kini semua staf pun kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
“Kalau begitu kami pun permisi, Nona Angelina.” kata Damar, ia beranjak dari duduknya.
“Tuan Damar, bolehkah saya berbicara dengan Anda terlebih dahulu?” kata Angelina, menghentikan Damar yang hendak berjalan menuju pintu. “Hanya berdua.” sambungnya lagi.
__ADS_1
Damar pun mendapat tatapan dari Bokir dan Wulan. Ia mengangguk tipis.
Bokir pun keluar dari ruangan meeting.
Wulan menelan ludahnya yang serasa mengganjal, namun ia tetap harus profesional.
Setelah kepergian Wulan dan Bokir
Angelina berjalan menuju meja dan menarik lanci.
Pandangan Damar mengikuti kemana Angelina, dan kini berdiri di hadapannya.
“Ini, adalah sapu tanganmu, bukan?” kata Angelina menunjukkan sapu tangan corak batik kepada Damar.
Damar membelalakkan matanya, menatap sapu tangan yang di pegang rekan bisnisnya lalu bersitatap dengan wanita cantik yang sedang menatapnya pula.
“Darimana Anda mendapatkannya, Nona?” tanya Damar, seraya mengambil sapu tangan corak batik yang diberikan Angelina.
“Aku masih ingat jelas wajah pria yang sudah menolongku, saat aksi perampokan terjadi padaku tiga bulan yang lalu,” ungkap Angelina, ia berbicara dengan suara parau, “Aku beruntung, kamu sudah menolongku waktu itu,” sambungnya lagi.
Ingatan Damar memutar kejadian ia menolong seorang wanita keluar dari bank, saat ia masih berjualan cilok di depan Bank. “Oh iya, aku ingat! Tidak disangka sekarang kita adalah rekan bisnis,”
“Saat itu, kamu masih berjualan cilok di depan Bank, dan tidak di sangka dari penampilanmu yang sangat sederhana waktu itu, Mas Damar ini adalah seorang pengusaha sukses,” kata Angelina, mengagumi kesederhanaan seorang Damar.
“Saya bukan apa-apa Nona Angelina. Karena bagi saya bisnis yang amanah itu memikirkan bagaimana orang bisa baik dan beruntung,” pungkas Damar.
Angelina tersenyum lembut, ia mengulurkan tangannya di depan pria yang sudah lama ingin ia temui.
Damar melihat tangan putih Angelina yang terulur dihadapannya, lalu menjabat tangan wanita jadi yang menjadi Direktur di perusahaan Santika premiere.
“Sudah lama aku mencari-cari keberadaanmu. Bahkan, aku pernah menyusuri jalanan Jogja, dan beruntung surat kabar memberitakan tentangmu,” ungkap Angelina.
Damar terkejut mendengar, apa yang diungkapkan rekan bisnisnya. “Untuk apa Anda mencari keberadaan saya?”
“Untuk berterima kasih,’?” jawab Angelina, ia pun sedikit membungkukkan badannya di hadapan Damar.
Damar merasa tidak enak hati, ia pun mundur selangkah, “Tidak perlu seperti ini Nona, saling tolong menolong adalah hal yang sangat lumrah bagi kehidupan manusia.”
Angelina melukis senyuman di bibir ranumnya, “Semoga pertemuan kita kedepannya, bukan hanya karena membahas kerjasama.”
“Insya Allah, Nona.” jawab Damar, lalu pamit untuk keluar dari ruangan meeting. “Kalau begitu saya permisi,”
“Baiklah, mari aku antar,” Angelina pun mengantar Damar.
Wulan memperhatikan Angelina yang berjalan beriringan dengan Damar. Antah berantah, hatinya menyikapi suasana hatinya. Suasana yang membuat dadanya nyeri.
Di dalam lift pun Angelina terus saja mencari perhatian kepada Damar dengan mengatakan tempat-tempat wisata romantis yang berada di Jogja. “Bagaimana kalau kapan-kapan, Anda menemaniku mengunjungi pantai yang terkenal romantis di Jogja?”
Damar mengangguk, “Baiklah.” Damar melihat raut wajah Wulan dari pantulan kaca gelap yang berada di dalam lift.
Wulan menunduk dan memegangi dadanya, ‘Ya Allah, inikah rasanya cemburu? Kenapa sangat menyayat hati.”
Dengan istimewanya Angelina sampai mengantar Damar sampai ke pelataran perusahaannya, dan jelas saja mengundang banyak pertanyaan di benak para karyawan perusahaannya, karena tidak pernah sebelumnya. Seorang Angelina Lusia seramah ini kepada rekan bisnisnya.
“Terima kasih Nona,” kata Damar, lalu membuka pintu mobil.
Angelina menatap mobil yang membawa Damar semakin menjauhi pelataran parkir perusahaannya, ia tersenyum sumringah. ‘Aku tidak akan melepaskan mu, untuk kali ini.’ gumamnya dalam hati, ia jatuh cinta pada pandangan pertama kali saat Damar menolongnya dari para preman yang akan merampoknya.
__ADS_1
• • •
Bersambung...