Presdir Cilok

Presdir Cilok
86 Segelas kopi


__ADS_3

Sepulang dari perusahaan PT Santika premiere. Dan dalam beberapa hari terjadi kekacauan di pabrik dan distributor yang susah untuk ditemui, lalu mencari distributor yang siap memenuhi kebutuhan produksi pabrik, meskipun demikian dari kekacauan yang terjadi.


Dalam sementara waktu, Damar dapat bernafas lega, karena dapat menemukan solusi setelah ia mendatangi beberapa pabrik-pabrik yang ada di laur daerah. Ia pun tidak ingin hanya mengandalkan orang lain, dengan tekad bisa membangkitkan kembali aroma produksi pabrik, dengan begitu bisa mencakup semua kebutuhan konsumen.


Karena Damar merasa setiap dari manusia, memiliki kekuatan yang tak terbantahkan untuk sukses, tetapi tidak sama semua orang mau mengarahkan secara maksimal, dan semakin besar kekuatan semakin besar tahu jawabnya. Itulah mengapa kegigihannya dalam mencapai suksesnya pelaksanaan produksi, dalam gentingnya waktu, dapat segera terealisasi.


Dan kegiatan amal yang harus tertunda, kini usai Damar dan beberapa karyawan pabrik yang membantunya. Dengan membagikan bingkisan parsel kepada para tukang ojol, tukang becak, pedagang kaki lima, maupun kepada orang yang lewat.


“Terimakasih, karena kalian sudah membantuku, semoga hari kalian menyenangkan.” kata Damar kepada kelima karyawan yang sudah membantunya.


“Sama-sama Mas Damar, kita pulang dulu,” seru salah satu karyawan.


“By!”


Kelima karyawan itupun pergi, meninggalkan Damar, Wulan dan Bokir yang kini sedang berada di teras mushola untuk menunggu waktu azan magrib.


Kumandang adzan Maghrib pun menggema, Damar, Bokir dan Wulan serta jemaah lainnya bersiap-siap untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Selang waktu lima belas menit.


Setelah melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, Wulan duduk di teras mushola menengadahkan wajahnya menatap langit yang mulai menggelap, dengan bias bintang yang mulai terlihat.


Damar yang baru keluar dari mushola lantas duduk di sebelah Wulan, “Wulan,”


Wulan menoleh kearah Damar, “Hemm...”


“Makasih!” kata Damar, lalu menengadahkan wajahnya menatap langit.


Wulan mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”


“Untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk Amanah food,” jawab Damar tanpa menoleh kearah Wulan.


“Tidak perlu sungkan,” jawab Wulan, lalu memanggil Damar yang duduk berjarak setengah meter darinya dengan suara kecil, “Damar!”


Damar menoleh kearah Wulan, “Apa?”


“Jika kita ingin berkat besar ada harga atau kewajiban yang harus dipenuhi bagi kita yang benar-benar siap dan berikhtiar berkat pasti diterima.” kata Wulan, lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus kearah jalanan yang berseliweran kendaraan.


Damar manggut-manggut, “Ehem.. kurasa juga begitu!” lalu kembali menatap gelapnya langit malam.


“Mahakarya ciptaan Tuhan, langit gelap pun dengan kasih-Nya. Dia hadirkan bintang dan rembulan. Saat siang Dia hadirkan mentari yang menyinari dunia. Juga bersama menghadapi kesulitan menjadikan kemudahan, tetapi kita manusiawi sekali untuk memerhatikan kesulitan,” lirih Damar berpuisi untuk menghibur dirinya. Setelah beberapa hari terakhir membuatnya harus pontang-panting mencari distributor, namun dalam hatinya bersyukur saat ini ada Wulan dan Bokir yang selalu menyemangatinya.


Kening Wulan mengerut, ia memandangi Damar dari samping, “Titik balik menuju kesuksesan seringkali tercipta setelah kita mengalami tekanan berat tetapi mampu bertahan mengatasinya.” Wulan kembali menatap jalanan dan orang-orang yang berlalu lalang.


“Dan, kamu berhasil membuat beberapa perusahaan besar berkenan bekerjasama denganmu, termasuk Direktur cantik Angelina Lusia, yang terkenal tidak mudah untuk mendapatkan tanda tangan kontraknya.” sambung Wulan, tanpa menoleh kearah Damar yang sedang menatapnya dari samping.


Damar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Kamu tahu Lan, kecantikan itu didikan dari orang lain sejak kecil, tetapi yang membuat menarik itu ke hati. Yah, aku tahu sebagai seorang pria pecinta wanita....”


Wulan mencebikan bibirnya

__ADS_1


“Memang Direktur Angelina Lusia cantik dan tentu aku sangat senang melihat wanita cantik yang bening-bening... Hahaha, bisa saja aku tertarik padanya....” Damar menjeda ucapannya,


Wulan terdiam, ia merasakan kelu di hatinya, seolah ada duri yang menancap di sana.


“Tapi jujur, berbeda denganmu,” ungkap Damar, ia tersenyum menatap Wulan dari samping.


Wulan pun kembali menatap Damar yang juga sedang menatapnya, ia tertegun, “Lalu?”


“Itulah mengapa, meskipun sikapmu kadang dingin, acuh dengan kesan tidak berperasaan, tapi selama aku mengenalmu, kamu adalah wanita yang penuh dengan pengertian. Makasih temanku,” seloroh Damar. Ia merasa selama mengenal seorang wanita bernama Nawang Wulan begitu membuatnya nyaman dan terlena. Namun, lagi-lagi ada jarak yang harus ia jaga.


Wulan tersenyum, meskipun senyuman menutupi lara di hatinya.


“Be--benarkah? Baru kali ini ada yang mengungkapkan keburukan sekaligus memuji,” jawab Wulan.


Damar pun terkekeh kecil mendengar gerutu Wulan, “Hehehe...”


“Tapi kenapa jadi bahas soal kecantikan ku yang sudah kekal mengabadi ini?” lanjut Wulan, heran yang sudah melenceng dari arah pembicaraan.


“Karena, kamu memang pantas untuk dikagumi. Semoga orang yang mendampingi mu kelak, adalah pria yang bertanggung jawab,” jawab Damar menatap dalamnya manik mata milik Wulan yang terpancar seperti bintang.


“Amin,” Wulan mengaminkan doa Damar. Ia memutuskan kontak mata dengan Damar secara sepihak, “Tapi, aku merasa tidak perlu jauh-jauh lagi harus menunggu pria yang bertanggung jawab padaku,” ungkap Wulan, tanpa menatap pria yang sudah berhasil membuatnya merasakan apa itu cemburu? ‘Lebay bat aku?!.'


Damar memiringkan kepalanya seraya mengangkat alisnya.


“Jadi pasanganmu sudah ada di sini?” tanya Damar berprasangka, jikalau seseorang yang pernah Wulan katakan sedang berada di Jogja.


Wulan mengangguk, “Sudah, nih ada di sebelahku!”


Wulan malu-malu dan menunduk, seraya membenarkan rikmanya kebelakang telinga. Ia ingin mengenali diri melalui rasa hati. “Mar, maukah kamu...”


Damar mendengar dengan seksama suara Wulan yang terdengar sangat lirih.


Tiba-tiba Bokir datang dengan membawa tiga gelas kopi cup, mengganggu momentum romantisme yang sedang terjadi di antara Damar dan Wulan, ia pun duduk disebelah Damar, “Ah... kita nikmati segelas kopi sebelum pulang,”


Damar dan Wulan terkesiap dengan kedatangan Bokir


“Makasih Kang,” Damar menerima kopi yang di bawa Bokir, dan kembali menatap Wulan. “Nawu, tadi kamu maukah, apa?”


Wulan menggeleng, “Nggak jadi, lain kali aja,”


“Oh!” jawab Damar, ia pun beralih menatap Bokir. “Aku masih menunggu hasil dari laboratorium badan BPOM Kang, dari laporan yang kita layangkan sudah terhitung waktu satu bulan lebih, tapi belum juga ada penggrebekan terhadap PT Jaya Gemilang!”


Bokir menyeruput kopinya, “Ahhh... sedap!” seru Bokir sangat menikmati segelas kopinya dengan sangat santuy, “Tenang, kita tunggu besok lusa. Ada berita besar yang siap menerkam mangsanya!” lagi Bokir menyeruput kopinya dengan sangat nikmat.


Damar manggut-manggut tipis, ia pun menyeruput kopinya, “Ya, ya aku tahu! Kita melakukan semuanya secara rahasia, seperti kucing yang tidak suka berjalan melintasi di atas aluminium, karena kucing tidak suka pada bunyi yang ditimbulkan!”


“Nah! Ntu tau!” seru Bokir. “Jangan sampai rencana yang kita susun sampai bocor, Mar!”

__ADS_1


Damar mengangguk


“Besok, siapkan badan fit'mu buat perjalanan jauh, ke Jawa barat,” lanjut Bokir, mengingatkan Damar.


Seseorang yang memakai kaca mata minus pun menghampiri Damar, “Mas Damar, saya sudah berhasil menghubungi orang yang bekerja dengan Pak Hendro, beliau ingin bertemu dengan Anda malam ini juga di cafe Clarissa!” kata Didi staf yang menjadi mata-mata.


Damar terperanjat, namun ia melihat Muazin yang hendak mengumandangkan adzan isya. “Sebentar ya Di, aku sholat dulu. Kamu nggak pa-pakan nunggu sebentar?”


Didi pun mengangguk, “Baik Mas, santai aja. Kalau begitu saya nunggu di warung,”


Damar mengangguk, lantas berjalan menuju tempat wudhu bersamaan dengan Bokir.


Wulan pun berjalan menuju tempat wudhu Wanita


“Aku salut sama teman yang toleransinya sangat besar, kaya si Didi, “kata Bokir, yang berjalan di belakang Damar.


“Kita ini manusia Kang, jadi harus mempunyai sikap toleransi yang baik kepada setiap umat beragama, Karena pada dasarnya, kita di ciptakan dari diri yang satu, yaitu Adam dan Hawa, jadi setiap manusia itu bersaudara,” jawab Damar, seraya menggulung kemejanya.


“Yah, tapi kita ini manusia sering khilafnya dan berbuat dosa tanpa di sadari maupun yang kita sadari.” sahut Bokir membungkuk lalu membaca doa dan berwudhu.



Setelah sholat, Damar segera pergi untuk menemui anak buah Pak Hendro di cafe yang di sebutkan oleh Didi. Sementara Bokir, Wulan dan Didi menunggu di depan cafe.


“Di sini Mas Damar!” seseorang, kepada Damar.


Damar melihat seseorang yang masih terlihat muda, ia berjalan menghampirinya dan duduk di kursi berhadapan dengan sekat meja di tengah, “To the points!”


“Aku Aditya,” kata anak buah Pak Hendro memperkenalkan dirinya.


“Damar,” balas Damar dengan menyalami tangannya.


“Jadi, saya selaku manajer Pak Hendro meminta maaf secara pribadi kepada Anda, atas manipulasi truk kontainer yang sebenarnya itu bukan salah Pak Hendro,” ungkap Aditya.


“Lalu, kenapa bukan Pak Hendro yang menemui ku secara langsung?! Jika memang beliau ingin meminta maaf kepadaku, karena sudah benar-benar membuat perusahaan ku kalangkabut!” sergah Damar, menyangsikan apa yang dilontarkan manajer Pak Hendro.


Aditya pun mencondongkan tubuhnya mendekati Damar dan berbisik, “Ini ulah Pak Kusumo, beliau adalah Kakak dari Pak Hendro,”


Damar terperangah mendengar penjelasan Aditya, ia beranjak dari kursi, hingga kursi menimbulkan bunyi berdecih. “Apa maksudmu? Jangan coba-coba mempermainkan ku!”


“Ini kenyataannya Mas Damar, bahkan kini Pak Hendro sedang di awasi oleh anak buah Tuan Kusumo agar tidak membocorkannya kepada Anda!” ungkap Aditya, “Sebagai ganti ruginya, kami akan menawarkan bahan mentah import kedelai dengan kualitas tinggi tapi harga rendah,” jelas Aditya menawarkan.


Damar memicingkan matanya menatap orang yang ada di hadapannya, “Lalu kalian akan menipuku lagi?”


“Tidak! Tentu tidak Mas Damar, percayalah! Meskipun Pak Hendro dan Pak Kusumo adalah Kakak-Adik, dan keduanya sama-sama memiliki perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian, tapi Pak Hendro dan Pak Kusumo berbeda, Mas Damar,” lagi Aditya mencoba meyakinkan Damar.


Damar terdiam, mencari kejujuran di setiap yang di ucapkan manajer Pak Hendro.

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2