
Setelah sarapan dan bercengkrama dengan Nenek, Kakek dan Ibunya. Kini, Damar mengantar adiknya untuk terlebih dulu berangkat menuju sekolah.
•••
“Mas Damar...” serunya, memanggil sang Kakak.
“Hem..” jawab Damar, hanya dengan berdehem.
“Memang, Mbak Wulan nggak keberatan kalau di jemput Mas Damar pakai motor Vespa?” tanya Danum, dengan suara meninggi, bersamaan dengan suara lalu lalang kendaraan bermotor yang melintas.
Damar merekahkan senyumannya, dan menggeleng. “Itulah, keistimewaannya seorang Nawang Wulan, Num.” Ia pun memarkirkan motornya, di sisi kanan jalan.
Danum pun turun dari boncengan, lalu melepaskan helm dan memberikannya pada Damar, seraya berkata. “Danum rasa, pilihan Mas Damar kali ini tepat! Karena setau Danum, wanita yang mau di ajak hidup sederhana adalah wanita yang setia.”
“Ehem.. udah pinter banget nih, tapi makasih yah adikku yang gantengnya kaya Jarwo,” balas Damar, seraya menaruh helm di pengait motor, “Tapi, bukan berarti kita sebagai pria pasrah begitu saja, tanpa memberikan kebahagiaan yang layak di dapatkan oleh wanita yang sudah bersedia memberikan kesetiaannya pada kita, Num.”
Danum manggut-manggut, “Betul, betul, betul! Tapi gantengnya aku nggak mirip Jarwo juga kali Mas,”
“Lah, kan Jarwo lebih terkenal daripada kamu, Num!” cetus Damar, ia pun mengacungkan jari telunjuknya di hadapannya sang adik, “Tapi ingat satu hal, Num! Pacarilah wanita saat kamu lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, karena pacaran pun butuh modal, bukan hanya sekedar tampang!”
“Iya, Danum tau, Mas Damar. Udah sana pergi, jemput Mbak Wulan!” Danum, tahu jika Kakaknya sudah mulai berpidato mirip seperti geloranya pidato sang Pahlawan nasional Bung Karno.
“Oke, by!” Damar menarik gas motor Vespanya dan perlahan melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah sekretarisnya.
••
Di depan rumah yang ia tinggali. Kini, Wulan sedang menunggu jemputan, seperti biasanya. Ia akan di jemput oleh Damar, sudah kesekian kalinya ia berkaca pada pantulan kaca di jendela teras.
Dengan memakai pakaian, dress warna pink muda, berlengan seperempat dan panjang sebatas betis.
‘Hem... kalau aku di jemput pakai mobil pan pas banget yak? Kaya di novel-novel yang ku baca, pakai dress cakep begini, make up pas, sama sepatu sneaker wedges. Hadeuh... berasa kaya Cinderella di jemput pakai kereta kuda sama Pangeran Pajajaran...’ selorohnya dalam hati, lalu menengadahkan wajahnya menatap birunya hamparan langit, seraya membayangkan dalam cerita dongeng kartun Cinderella Disney.
“Tapi, kenapa Pangeran Pajajaran yak? Pan Cinderella bukan sama Pangeran Pajajaran, apa Pangeran Mataram yak? Haduh- haduh- haduh- kenapa aku jadi ngelantur begini--” lanjutnya, semakin ngawur takaru-karuan.. menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Namun, sesaat kemudian pandangan Wulan teralihkan oleh seorang pria yang datang dengan mengendarai motor Vespa, berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan memakai pakaian kasual, kaos panjang polos warna hijau botol celana panjang warna hitam, sepatu sneaker shoes.
Seketika menggerus, menyapu bersih khayalan indahnya tentang Cinderella dan sang pangeran.
“Damar!” gumamnya, kecewa, karena kenyataan tidak seindah ekspektasinya. Wulan menatap Damar seraya menghela nafasnya. ‘Ini mah bukan Pangeran, tapi Cindelaras!' Eh tapi kalau di lihat-lihat dia juga ganteng kaya pangeran, pangeran di hatiku, wkwkwk.’ benaknya bermonolog, geli.
Damar turun dari motor Vespanya, menghampiri Wulan, dengan merekahkan senyuman. Ia memandangi Wulan dari ujung kaki sampai ujung kepala, ia merasa hari ini Wulan terlihat sangat berbeda, lebih feminim ketimbang hari-hari sebelumnya. Meskipun tetap sepatu sneaker yang membalut kakinya.
“Apa kamu salah kostum? Apa mataku yang buram? Sudah melihat bidadari turun dari kayangan?” tanya Damar, memastikan. Bahwa yang ia lihat adalah bidadari dalam wujud nyata.
Mendengar rayuan jenaka Damar, membuatnya tersipu malu. Wulan tertawa renyah, laksana memakan kerupuk tempe, “Hahaha.....” Ia tidak menampik, rasa kecewanya kini seakan sirna sudah. “Eleh-- eleh-- pakai acara merayu lagi! Kan, aku jadi melelehhhh-- pakai H seratus kali...”
Melihat Wulan tertawa renyah, membuat Damar ikut tertawa, “Hahaha... berarti melelehhhhhh--- ah susah panjang bener!”
“Hahaha...” keduanya sama-sama menertawakan kekonyolan pembicaraan yang tidak berfaedah, tapi setidaknya bisa membuat bahagia.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Damar, menatap Wulan dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
Wulan mengerutkan keningnya, “Emm....”
Ia pun berjalan mendekati dan memegang tangan Wulan. Damar gemas melihat Wulan hanya terdiam masih dengan kemelut pikirannya. Ia mulai lagi untuk menggoda Wulan, dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Wanita yang sedikit memoles make up di wajahnya, yang memang meskipun tidak memakai make up sekalipun, sudah ayu natural, “Tapi yang jelas. Hadirnya dirimu di hidupku memberikan suasana baru...”
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, bersitatap dengan Damar dari jarak yang sangat dekat. Ia mulai merasakan tangan Damar mulai menggenggam tangannya, degupan jantungnya semakin bertalu-talu tidak karu-karuan.
“Kamu tahu, suasana apa?” tanya Damar, masih dengan jarak wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Wulan.
Wulan menggeleng...
“Suasana yang membuatku serasa nyaman, dan kamu mampu menenangkan kala hatiku risau,” sambungnya, lalu tersenyum simpul.
“Ehem..” Wulan berdehem, canggung. ‘Haduh, nih cowok bikin aku mati kutu!’ dengan perasaan yang semakin tidak keruan, Wulan pun berniat berjalan mendahului Damar. Namun, lebih dulu di hentikan oleh Damar yang masih menggenggam erat jemari tangannya.
Dengan sekali hentakan, Damar mampu membuat Wulan jatuh kedalam dekapannya. Sejenak sama-sama merasakan detak jantung yang semakin berpacu dengan waktu.
__ADS_1
Akan tetapi, ambyarrrr.... kembali dengan adanya tukang sayur lewat dengan gerobaknya yang di dorong.
“Sayuuuurrr.... Sayuuuuurrr...”
Damar seketika melepaskan dekapannya, membuat Wulan terhuyung dan jatuh ke lantai.
“Haduhhh.... Damar...” erang Wulan, yang terjatuh di lantai teras berwarna cokelat.
Damar terkejut, “E--eh, maaf, maaf.” dengan sigap, ia pun membantu Wulan berdiri.
Wulan berdiri, sembari mengibaskan-ngibaskan pakaian yang dikenakannya. Seraya menggerutu kesal. “Maaf, maaf! Setiap kali aku ketemu sama kamu, pasti aku jatuh! Dan sekarang malah jatuh cinta sama kamu.....”
Mendengar gerutu Wulan, membuat Damar berbunga-bunga. “Apa tadi kamu bilang?” tanya Damar, memastikan bahwa telinganya tidak konselet dengan ungkapan cinta yang tidak sengaja terucap dari bibir Wulan.
Wulan meras malu, ia mengigit lidahnya. Dan berjalan memunggungi Damar. Tanpa menjawab pertanyaan, dan berjalan menuju motor Damar yang terparkir. Ia pun menoleh kearah Damar yang masih mematungkan diri. “Kadang-kadang rasa bahagia membuat kita tersenyum. Namun, tak jarang senyuman itulah yang membuat kita bahagia, dan sekarang yang ku rasakan bahagia bisa mengenalmu, Kang cilok.”
Senyuman di wajah Damar semakin melebar...
“Hey, ayo! Mau sampai kapan Kang cilok di situ?” seru Wulan, membuyarkan lamunan Damar.
Damar pun terkesiap, tak di pungkiri. ia semakin terlena dengan pesona Wulan, yang sudah duduk di jok belakang motor Vespanya. “I'm coming... Nawul!”
••
Di perjalanan menuju perusahaan, seperti biasa . Wulan hanya berpegangan pada ujung baju yang Damar kenakan. Meskipun, salah kostum, antara dress dan motor yang tidak mecing, namun tak malu ia mengatakan dalam hatinya. Bahwa ia sangat bahagia bisa berboncengan seperti ini.
Damar, melirik sekilas tangan Wulan yang berpegang pada ujung bajunya. Ia lalu, melepas pegangan tangan kirinya di stang motor, lantas memegang tangan Wulan, untuk kemudian menarik tangan Wulan dan meletakkan di perutnya.
Wulan terhenyak dengan sikap Damar, yang diam-diam menghanyutkan.
•••
Bersambung...
__ADS_1
Please, like vote, komen...