Presdir Cilok

Presdir Cilok
35 Demo karyawan


__ADS_3

Purnomo pun beralih menatap Damar yang semula menatap pintu kaca berukuran lebar dengan handle pintu dari stainless steel.


"Mas Damar," serunya membuyarkan kekaguman Damar yang sedang memperhatikan bangunan gedung.


•••


Damar yang berdiri tepat di depan pintu kaca lebar pun kembali menatap Purnomo,


"Iya Mas Pur,”


Purnomo mengulurkan tangannya kearah pintu kaca lebar yang belum terbuka. Seolah sedang mempersilahkan Damar untuk memasuki dalam gedung, "Silahkan masuk Mas Damar,”


Membuat Damar mengerutkan keningnya, heran akan sikap ramah karyawan dari perusahaan makanan ini.


‘Apa para karyawan disini biasa seramah ini menyambut tamu yang berkunjung pada perusahaan ini? Meskipun aku hanyalah pedagang cilok yang biasa berkeliling?' batinnya bergejolak mengundang rasa penasaran.


Netranya mengikuti arah tangan Purnomo yang merujuk pada handle pintu dari stainless steel dan beralih menatap Purnomo. Setelah beberapa detik menatap Purnomo, lantas Damar menunduk.


Meregangkan syarafnya yang menegang serta irama detak jantungnya yang bertalu-talu. Mengatur nafasnya, menghirup udara yang memenuhi paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan lewat mulut.


Purnomo membukakan pintu kaca selebar-lebarnya untuk Damar.


Damar masih menundukkan kepala, seraya berdoa dalam hati. Seolah ia sedang memasuki wilayah bangunan angker. ‘Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah luruskanlah niatku, lancarkan lah lidahku agar tidak kelu saat berbicara kepada Pak Bambang nantinya, amin.”


Saat Damar menengadahkan kepalanya, matanya menatap lurus ke depan pintu kaca yang sudah terbuka lebar memperlihatkan lobby bagian dalam gedung.


Ia terperangah dan jatuh terjungkal kebelakang. "Astaghfirullah!” pekiknya melihat beberapa pasang mata yang sedang menatapnya.


Purnomo yang berada di sampingnya pun sigap menolong Damar. Agar pemuda yang sedang jatuh dengan posisi dari pantat ke punggung menghantam lantai teras gedung berwarna hitam beranjak. "Kenapa Mas?” tanya Purnomo.


Damar memejamkan matanya, serta menutup kelopak mata dengan lengannya.


"I--itu ... Me--me-mereka.”


Purnomo mengembangkan senyuman geli melihat Damar yang ketakutan. Dari luar kaca memang tidak nampak orang dari dalam. Karena kaca pintu dan kaca lebar jendela gedung tidak tembus pandang dari luar, namun dari dalam bisa melihat yang berada di luar.


Purnomo mengikuti arah telunjuk Damar yang merujuk pada lima belasan karyawan yang melihat keanehan Damar.

__ADS_1


"Mereka teman-teman kerja saya Mas Damar, karyawan yang sebelumnya, mereka sejak tadi pagi sudah menunggu Anda,” kata Purnomo kepada Damar yang sudah kembali berdiri sambil memperhatikan satu-persatu karyawan dengan pakaian yang rapih.


"Silahkan masuk Mas Damar,” ajak Purnomo.


Damar menelan ludahnya, dan beberapa kali menghela nafas. Bingung akan sikap dari semua karyawan. Semua karyawan mengembangkan senyuman kepada Damar, ia menyambutnya canggung.


Damar mulai melangkahkan kaki yang di balut sepatu sneaker shoes menapaki lantai yang berwarna putih ia melihat dalam gedung yang bernuansa warna biru dan putih yang mendominasi ruangan.


"Selamat datang Tuan Damar Mangkulangit.”


Serentak semua karyawan menyambut Damar, dan menyebut Damar dengan sebutan Tuan.


Damar terkesiap serta mengerutkan keningnya heran.


‘Tuan?'


Namun hal berikutnya yang di lakukan para karyawan dan karyawati membuat Damar seolah hilang separuh dari kesadarannya. Ia merasa lunglai dan membutuhkan penyanggah.


Semua karyawan dan karyawati membungkukan sedikit badannya. Ketika Damar mulai berjalan di tengah-tengah mereka yang berbaris sejajar. Seolah sedang memberi rasa hormat kepada pemilik perusahaan.


Damar membulatkan matanya, dan menoleh kesamping tepatnya pada Purnomo. Lelaki yang sudah menemaninya berjalan hingga kedalam gedung paling dasar dari empat lantai. Purnomo pun melakukan hal yang sama seperti karyawan lainnya, ia membukukan sedikit badannya kepada Damar.


Damar mundur selangkah refleks merentangkan kedua tangannya. Ia menengok kebelakang barangkali ada orang lain yang berada di belakangnya. Kemudian ke samping kanan dan ke samping kiri ke atas dan ke bawah. Namun hanya dia yang berdiri tegak.


Kemudian ia berpikir untuk sama-sama membungkukkan badannya. Mensejajarkan dirinya seperti para karyawan dan karyawati lainnya.


Membuat semua karyawan dan karyawati juga Purnomo terkejut akan kekonyolan yang dilakukan seorang Damar Mangkulangit. .


Purnomo menepuk pelan pundak Damar, hingga Damar terperanjat. "Oeyyy... ” seruan Damar membuat semua karyawan yang melihatnya tersenyum geli. Akan tingkah jenaka yang Damar lakukan.


"Mas Damar tidak perlu membungkuk,” kata Purnomo.


Damar kembali berdiri tegak dan mengangkat alisnya, melihat karyawan dan karyawati yang sedang memperhatikannya. "Terus kenapa kalian membungkuk?”


"Kami sedang memberi rasa hormat kepada pemilik perusahaan baru.”


"Tuan Damar, semangat lah untuk kembali membangkitkan gairah kerja kita lagi,”

__ADS_1


"Iya Tuan. Kami butuh kerjaan dan kelangsungan hidup,”


"Menganggur selama dua bulan, membuat badan saya jadi terasa kaku.”


"Iya betul tuh. Bukan hanya kaku, dompet kami juga jejeritan!”


"Kami akan setia pada perusahaan ini lagi.”


“Betul itu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kembali memajukan perusahaan King food ini lagi.”


Damar geleng-geleng kepala, "Tu--tunggu apa maksud dari demo ini? Saya bu--bukan pemilik ataupun Tuan Takur atau Tuan apalah! Saya hanya pedagang cilok yang di tawarkan kerjasama oleh Pak Bambang.”


"Mas Damar, kami menaruh harapan besar kepada Mas Damar. Cari kerjaan sangat sulit, apalagi di tengah situasi seperti sekarang ini, kami tidak ada kejelasan di pecat ataukah masih berlaku untuk bekerja disini lagi,” kata Purnomo ikut menimpali ucapan teman-teman kerjanya.


"Betul tuh, apalagi kami sebagai pekerja yang tidak mendapatkan perhatian ataupun sekedar pesangon,” imbuh rekan kerja Purnomo.


Dalam situasi semacam ini Damar kalut. Melihat demo karyawan. Menyuarakan aspirasi-aspirasinya. Hati Damar merasa tercabik-cabik mendengar penuturan semua karyawan yang ditinggal oleh pemilik perusahaan begitu saja.


‘Ya Allah, kasihan sekali mereka.'


"Andai saya dapat membantu Mbak-mbak, Mas-mas. Pasti akan saya bantu, dan saya mendengar dengan sangat jelas keluh dan kesah kalian. Tapi demo kalian menyasar kepada orang yang salah,” jelas Damar.


"Justru saya kesini hanya untuk melakukan kerjasama dengan Pak Bambang, beliaulah yang telah memberikan kartu nama kepala saya.” lanjut Damar.


Saat kehebohan sedang terjadi...


Serentak senyuman itu memudar, ketika bunyi suara dari arah samping kanan ruangan. Semua karyawan yang berada di lantai dasar gedung menundukkan kepalanya.


Seorang lelaki keluar dari lift yang berada di samping kanan ruangan. Berperawakan agak gemuk serta rikma yang tidak komplit di bagian ubun-ubunnya. Berpakaian sangat formal dengan celana panjang warna hitam jas warna senada dipadupadankan kemeja sebagai dalaman berwarna cokelat serta dasi corak lurik warna kalem.


Di dampingi dua orang yang seperti bodyguardnya berpakaian serba hitam. Satu bodyguard berkepala pelontos dan bodyguard seorang wanita dengan rikma warna kecokelatan yang di kuncir kuda.


Damar melihat kearah lift berada, bersamaan dengan Purnomo yang juga langsung menundukkan kepalanya. Melihat siapa yang sudah berdiri di luar lift.


Damar tertegun melihat Pak Bambang orang yang ditemuinya kemarin. Dan beralih menatap kedua orang yang berada di samping kanan dan kiri Pak Bambang.


"Mereka ....?” gumam Damar.

__ADS_1


•••


Bersambung


__ADS_2