Presdir Cilok

Presdir Cilok
117 Mood booster


__ADS_3

Suara yang sangat familiar memanggil Damar, dari jarak empat meter, “Damar!”


•••


Damar dan Wulan pun menoleh kearah sumber suara. Pandangan keduanya langsung tertuju pada wanita cantik berpenampilan modis dan elegan seperti halnya kaum elit.


“Tuh, sih ulet bulu udah dateng!” celetuk Wulan, lalu beranjak dari duduknya. Menunjukkan Angelina dengan dagu.


“Kamu mau kemana?” Damar ikut berdiri, menarik tangan Wulan, yang hendak pergi.


Wulan menghentakkan nafasnya, berkata dengan nada dingin, seraya menekan tombol panggilan. “Katanya suruh telpon Roni!”


Panggilan pun tersambung.


“Ya udah, telponnya di sini aja. Kan bisa!” tukas Damar, namun agaknya Wulan tidak mengindahkan peringatannya. Istrinya itu, seolah bagaikan angin, pergi begitu saja menjauh darinya dengan jarak tiga meter.


Angelina berjalan mendekati Damar dengan melenggak-lenggok pinggul yang di balut dress ketat warna marun, persis seperti seorang model seksi.


“Hay.... Mas Damar,” sapa Angelina ramah, berdiri di samping Damar. Senyuman yang sangat menawan dengan bibir merah merekah ba' buah tomato matang.


Damar mengalihkan atensinya, menatap rekan bisnisnya yang cantik cetar membahana laksana seorang ratu dari Ethiopia, Damar tersenyum masam.


“Hay juga, Nona Angel,” sapa Damar, datar. Lalu kembali memperhatikan Wulan yang sedang berbicara di sambungan telepon.


Angelina manyun melihat Damar membuang tatapannya fokus memperhatikan sang sekretaris yang sedang berbicara di sambungan telepon, Angelina lantas berinisiatif mengalungkan lengannya di lengan Damar, membuat si empunya tersentak.


“Kamu tau Mas Damar. Kalau aku sangat merindukanmu, sudah lama aku nantikan waktu seperti ini, kamu selalu sibuk. Bahkan sekarang pun kamu masih di dampingi sekretarismu,” tutur kata Angelina dibuat manja.


Damar mencoba melepaskan tangan Angelina dari lengannya.


“Ya begitulah Nona, karena aku memang orang yang sangat sibuk,” balas Damar, seraya melepaskan tangan Angelina dari lengannya. Akan tetapi, wanita cetar membahana ini semakin lengket, bahkan tak segan menyandarkan kepala di pundak Damar.


“Cara bicaramu masih terdengar kaku, Mas Damar. Tapi entah kenapa aku suka,” rayu Angelina tidak ingin melewatkan kesempatan ini, ia sudah lama ingin bertemu dengan Damar, dan inilah momentumnya, “Bisakah aku hanya berdua denganmu? Aku ingin lebih mengenalmu Mas Damar, aku nggak bisa memungkiri perasaan cinta dan rinduku ini.”


Damar dleming.... ‘Wanita ini sangat ambisius!’


Damar menatap Angelina lalu mengalihkan atensinya kepada Wulan, ia lakukan secara berulang-ulang, dan menyadari bahwa sang istri telah selesai melakukan pembicaraan via telepon. “Tolong jangan seperti ini, Nona,”


Angelina menggeleng di pundak Damar, “Sungguh aku nggak tau, kenapa aku jatuh cinta padamu Mas Damar, hanya kepadamu,”


Mendengar ungkapan Angelina, Damar mengernyitkan dahinya.


Wulan kembali mendekati Damar, memicingkan matanya. Seolah memberitahu kepada Damar, apa konsekuensinya jika sudah membangunkan macan yang tertidur; Untuk sejenak, aku akan diam! Tapi kalau sampai kamu macam-macam, akan aku gantung di pohon cabe!”


Mendapat tatapan tajam dari manik mata istrinya, Damar menelan ludahnya yang serasa mengganjal. ‘Ajirt... lebih baik aku di labrak! Daripada di tatap dingin begitu, ngeri uyy!’


Antensi Wulan beralih kepada Angelina yang sedang bergelayut manja di lengan Damar. Ingin rasanya, ia mencakar, mencubit, serta menarik rikma Direktur kecentilan itu, namun lagi-lagi ada yang membuat Wulan menahannya, ia menyadari bahwa Angelina adalah rekan bisnis Damar. ‘Astaghfirullah, sabar Wulan!’


“Emm.. tolong Nona Angel, jangan seperti ini,” kata Damar, membujuk Angelina sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan rekan bisnisnya ini.


“Kenapa? Apa kamu malu dengan sekretaris mu ini?” ujar Angelina, seraya menunjuk Wulan.

__ADS_1


“Sekretaris Wulan, bisa tolong tinggalkan kami? Please!” bujuk Angelina merayu.


Dengan tatapan malas, Wulan menatap tampang yang sok polos dari wajah Angelina. “Usia Anda sama seperti saya, tapi cara Anda terlalu kekanakan, seperti masih anak SMP Direktur Angelina.” jawab Wulan dengan suara yang ditekankan, lantas beralih menatap Damar.


Damar bersitatap dengan istrinya, ia sungguh tak habis pikir dengan cara Wulan yang seolah tidak adanya ekspresi kecemburuan atau hal apapun yang bisa di lakukan seorang istri, bilamana suaminya di dekati wanita lain. Justru sebaliknya, Wulan sangat santai menanggapi Angelina yang bergelayut manja di pundaknya.


Angelina agaknya terpancing dengan perkataan Wulan yang terdengar seperti peringatan. Ia lantas menarik diri yang semula bergelayut manja di lengan Damar, lalu beralih menatap Damar, “Kenapa dengan sekretaris Wulan Mas Damar? Dia mengatakan hal yang sangat menyinggung, apa dia nggak pernah tau apa itu kasmaran?!”


Wulan membuang tatapannya, ia merasa geli sendiri melihat sikap Angelina. Jelas saja ia sangat cemburu, dan ingin sekali menelan Angelina hidup-hidup. Namun, ia ingin dengan cara yang lebih elegan untuk menegur pelakor. Tapi kemudian Wulan berpikir, bahwa Angelina kan memang belum tahu status Damar saat ini.


Wulan mendekapkan tangannya didepan dada.. Seraya menggoyangkan satu kakinya.


Damar tersenyum simpul melihat sikap Wulan yang terlihat acuh, ia lantas mendekati dan melingkarkan tangannya di pinggang Wulan. “Istriku Nawang Wulan memang seperti ini!”


“Dia sangat dingin, bahkan dia nggak tau cara mengekspresikan perasaan dan kecemburuan. Tapi dia adalah wanita penghebatku, dia yang sudah mengembalikan mood booster ku, saat hari-hariku kelam, penuh dengan kesuraman.” sambung Damar, mengedipkan matanya, menatap Wulan dari samping.


Pengakuan Damar membuat Angelina limbung, sekaligus bingung. “Apa?! I-istri!” seru Angelina tergagap seraya mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Damar dan beralih menatap Wulan. Menunjuk Wulan dengan jari telunjuknya. “Dia istrimu? Se--sejak kapan? To-tolong jangan membodohiku!”


Wulan enggan bergeming, masih mendekapkan tangannya didepan dada.


“Maaf Nona Angel, kami memang nggak menyebar undangan, karena kami baru melaksanakan akad nikah kemarin, setelah itu kami memang berencana mengadakan resepsi pernikahan,” ungkap Damar.


Angelina terpaku di tempatnya berdiri, seolah ada paku yang menancapkannya di sana. “Ta--tapi, sebelumnya kalian terlihat sangat acuh.”


Wulan membuka lipatan tangannya dengan nada santai, Wulan menjawab; “Ya seperti itulah kami, kami hanya ingin bekerja secara profesional, Direktur Angelina,”


Angelina patah hati, menyadari cintanya kini bertepuk sebelah tangan. Angelina menatap Damar dengan tatapan nanar.


Damar menghela nafas panjang, “Maaf Nona Angel, saya memang menyukai Anda....” tukas Damar, sejenak terdiam menyusun kalimat sehalus mungkin, agar tidak menyakiti perasaan rekan bisnisnya itu. “....Tapi sebagai seorang teman, aku nggak bermaksud membohongi Nona Angel, tapi perasaanku nggak bisa berdusta.”


Angelina menggeleng, menolak pernyataan Damar.


Wulan merasa iba, melihat raut wajah Angelina yang terpampang jelas murung, senyuman yang sebelumnya merekah kini seakan redup. Sebagai seorang wanita, Wulan bergeser mendekati Angelina; “Terkadang kita mencintai apa yang tidak kita miliki sepenuhnya, Direktur Angel.”


Angelina menatap Wulan, ia menggenggam tangan wanita yang sudah menjadi seorang istri dari pria yang dicintainya; “Lalu bagaimana dengan hatiku ini sekretaris Wulan? Sudikah kamu berbagi cinta denganku?”


Wulan terkejut dengan pernyataan Direktur Angelina. Ia tidak habis pikir, kadang-kadang cinta bisa membius otak yang cerdas.


Begitupula Damar, ia terkejut dengan apa yang di katakan Angelina.


Wulan menoleh kearah sang suami, ia melihat Damar ingin mengatakan sesuatu. Cepat-cepat Wulan mengangkat tangan, dan menaruh telapak tangannya di dada Damar; Biar aku saja.”


Wulan mengalihkan atensinya, ia menghela nafas menatap Angelina. Wulan dapat melihat ada kumpulan titik-titik air yang mengambang di kelopak mata wanita yang menaruh rasa cinta kepada Damar, “Maaf Direktur Angel. Nggak ada wanita di belahan bumi manapun yang ikhlas untuk berbagi cinta. Jika Anda menjadi saya, maukah berbagi cinta dengan saya?”


Pertanyaan Wulan seolah menjadi tamparan keras untuk Angelina. Ia tidak dapat menjawabnya, lidahnya kelu. Angelina menatap Damar. “Aku sudah merasa sangat nyaman dengan Mas Damar, sekretaris Wulan,”


“Nona Angel, Cinta adalah sebuah nama yang mengandung hanya kebahagiaan. Cinta nggak untuk sengsara, kasih sayanglah yang sejati. Ada di saat senang maupun sedih, rasa sayang ada pada jiwa yang ikhlas menyayangi,” pungkas Damar, berharap agar Angelina dapat mengerti.


Tiba-tiba suara seorang pria membuyarkan obrolan yang terasa sendu.


“Wulan!”

__ADS_1


Damar, Wulan dan Angelina pun mengalihkan atensinya. Menatap seorang pria yang berjalan mendekati ketiganya.


“Nah, bisa jadi inilah cinta sejati Nona Angel,” usul Damar, menatap Roni dan beralih menatap Angelina. “Pria gagah ini, bernama Roni, Nona Angel.”


Pernyataan Damar seketika membuat Roni bingung. Dateng-dateng langsung di suguhi kata-kata cinta sejati, kaya nggak epik. “Maksudnya apa ini?” Roni mengalihkan tatapannya menatap satu-persatu dari ketiga orang yang berada dihadapannya. “Wulan?”


“Ron....” belum sepenuhnya Wulan menyebut nama Roni, Damar sudah lebih dulu menyelanya.


“Brother Roni, kenalkan wanita cantik ini bernama Nona Angelina. Aku yakin kalian sangat cocok.” ujar Damar, memperkenalkan Angelina kepada Roni.


Roni dan Angelina saling menatap satu sama lain, dan kembali menatap Damar.


“Aku dateng kesini buat ketemu Wulan, kenapa malah jadi seperti ini?” tanya Roni, masih belum sepenuhnya sadar apa maksud yang dikatakan Damar.


Damar merangkul pundak Roni, dan berbisik di telinga pria yang tingginya sama persis. “Dia adalah wanita cantik dan seksi, jadi jangan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Lagi pula nggak baik mengharapkan istriku.”


Damar menarik diri, kembali berdiri tegak.


Netra Roni membulat sempurna, menatap Wulan. “A-apa i-istri?!” kejutnya tergagap.


Wulan mengangkat alisnya, “Apa?”


Damar tersenyum menyeringai melihat betapa terkejutnya Roni sampai ternganga. Damar menepuk pelan pundak Roni, “Ya, udah bro. Aku pergi dulu. Good luck!” dan beralih menatap Angelina. “Nona Angel, cobalah buka hatimu untuk yang lain. Roni pria yang baik, istriku cukup baik mengenalnya.”


Setelah mengatakan itu, Damar menggenggam tangan Wulan, lalu membawanya pergi dari sana. Meninggalkan Roni dan Angelina yang masih mematungkan diri.


“Bagaimana kamu berpikir untuk ini?” tanya Wulan.


“Maksudnya?” tanya Damar seraya memberikan helm kepada Wulan.


“Jadi Mak Comblang!” tukas Wulan, menerima helm dan memakainya.


“Ahahaha... kan biar mereka cepat move on!” sahut Damar, melangkahkan kakinya di jok motor.


Tiba-tiba ada sebuah botol melayang dari arah jalanan mengenai kepala Damar cukup keras. Pluk.... “Aaaa...ssshh....” erang Damar, reflek memegang dan mengusap kepalanya. Lantas mengedarkan pandangannya menatap jalanan bersamaan dengan Wulan mencari siapa pelaku yang sepertinya sengaja melemparkan botol mineral yang masih penuh ke kepala Damar.


Seketika rahang Damar mengeras, melihat siapa orang yang telah melemparkan botol air mineral kemasan ke kepalanya. “Brengsek! Opik!”


Wulan melihat Opik menjulurkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka seraya mengepalkan tangannya ke arah Damar.


“Keparat!” berang Damar, hendak menghampiri Opik yang memberhentikan mobilnya di bahu kanan jalan berjarak lima meter darinya berdiri.


Wulan segera menahan lengan Damar, diselingi menggeleng pelan. “Jangan meladeni orang gila.”


Opik kembali melajukan mobilnya.


•••


Bersambung...


__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya 🙏🏼


__ADS_2