Presdir Cilok

Presdir Cilok
83 Teman dan sahabat


__ADS_3

Berani bertindak memang belum tentu menjamin keberhasilan. Namun, tidak bertindak sama sekali sudah pasti menjamin kegagalan. Karena, pada dasarnya setiap kali Tuhan sedang menguji manusia, bersamaan dengan solusinya.


Jikalau, masih belum merasa menemukan solusi, mungkin saja kurangnya sikap pengendalian diri. Dan usaha yang di harapkan untuk selalu bersyukur dalam kehidupan sehari-hari yang di lalui.


Hari-hari pun berlalu


Kini Damar sedang berada di pabrik tempat pengolahan bahan mentah, semacam tepung dan kacang-kacangan, dan sedang melakukan kesepakatan. Setelah dalam beberapa hari tidak ada pabrik yang mau menyetok bahan mentah yang di inginkan.


“Terima kasih Pak Basuki, sudah berkenan membantu perusahaan kami,” ucap Damar, setelah mendatangi langsung beberapa pabrik yang menjamin kualitas bahan mentah terbaik.


“Namun, kami tidak bisa memberikan sebanyak pasokan yang di minta oleh Mas Damar. Tentu Mas Damar sendiri tahu, kami pabrikan kecil.” jawab Pak Basuki selaku pemilik pabrik.


Damar mengangguk tipis, “Tidak apa Pak Basuki, kami sudah sangat bersyukur. Kalau begitu saya permisi.”


Pak Basuki pun mengangguk.. Dan perjanjian sudah di sepakati di atas materai.



Di perjalanan setelah mendatangi beberapa pabrik-pabrik gula, tepung maupun pabrik gandum. Damar dan Wulan pulang, akhirnya setelah berhari-hari sibuk dapat bertemu dengan pabrik yang mau memasok kebutuhan produksi, meskipun jumlahnya terbatas.


Damar menghela nafasnya kasar, ia memang tidak berjuang sendiri, beberapa staf di perusahaan pun sedang mencari sumber pemasok produksi pabrik agar tetap berjalan lancar, dan tidak membuat konsumen kecewa, karena keterlambatan produk.


“Lan, terimakasih,” kata Damar memecah keheningan di antara ia dan Wulan yang sedang mengemudikan laju mobil dengan kecepatan sedang.


Wulan menoleh sekilas kearah Damar, “Sudah berapa kali kamu bilang terimakasih, bukankah ini sudah menjadi suatu hal kewajiban ku, untuk menemani mu berjuang?”


Damar tersenyum simpul, ia memposisikan dirinya duduk bersandar senyaman mungkin, “Kadang-kadang, kita memang membutuhkan orang lain untuk menjadi penyemangat dan motivator, agar tidak merasa berat sendiri dalam menjalani kehidupan dan cobaan,”


“Ehem.. Apa beda teman dan sahabat?” tanya Wulan, masih memfokuskan tatapannya ke depan.


Damar terdiam sejenak dan berpikir, “Teman ada di saat kamu senang, sahabat selalu ada di saat kamu senang maupun sedih,”


“Jadi, bukankah gunanya teman dan sahabat sama penting?” tanya Wulan.


Damar tidak menjawab pertanyaan Wulan, ia memandangi wajah Wulan dari samping, dalam hatinya. Tidak dapat di pungkiri, bahwa kini rasa kekagumannya terhadap wanita tangguh ini semakin besar saja, dan setipa kali ia mencoba untuk menepisnya maka semakin sulit.


“Apa mau gantian nyetir?” tawar Damar.


Wulan menggeleng, “Nggak perlu, tuh sebentar lagi sampai rumah,”


“Apa kamu nggak takut tinggal sendirian?” tanya Damar, merasa kasihan setiap kali mengantar Wulan pulang, rumah yang ditempati sekretarisnya selalu dalam keadaan gelap, jika pulang larut malam seperti sekarang ini.


“Apa kamu mau menemaniku?” tiada kecanggungan lagi, Wulan mengatakan hal-hal yang bisa saja memancing perasaan.


Damar terkekeh kecil, “Hahaha...”


“Kok ketawa?” tanya Wulan, ia pun memarkirkan laju mobil didepan rumah yang ia tinggali.


Damar tidak menjawab pertanyaan Wulan, ia membuka pintu mobil, dan disusul oleh Wulan. Sama-sama berdiri di depan mobil dengan mesin mobil yang masih menyala dan sorot lampu kekuningan dari mobil.


Bukan tak ingin menjawab pertanyaan Wulan, namun Damar lebih ingin menjaga apa yang sudah menjadi milik orang lain. “Udah gih sana masuk, udah malem,”


Meskipun kecewa Damar mengacuhkan pertanyaannya, namun Wulan merasa ada sebab dalam beberapa hari ini sikap Damar berubah acuh padanya. Namun, sudah terlanjur Damar menganggapnya mempunyai pasangan, dan ia merasa malu untuk berkata jujur, bahwa sebenarnya ucapannya waktu lalu adalah gurauan.


Wulan mengangguk, lalu berbalik badan memunggungi Damar dan masuk kedalam rumah, tak lupa mengunci pintu, dan berdiri di balik pintu. ‘Mengapa sangat sulit aku berkata jujur padanya, kalau kini aku memendam rasa.'

__ADS_1


Di luar rumah yang ditempati sekretarisnya, Damar menatap rumah bergaya minimalis dengan tatapan nanar. Ia menghentakkan nafasnya kasar. “Tanpa Tuhan, hidup bukanlah apa-apa. Tanpa humor, hidup ini membosankan. Tanpa cinta, hidup tidak ada harapan. Tanpa sahabat, hidup tidak mungkin. Jadi.... ” Damar menghentikan kalimatnya.


“Apa kamu mau menjadi sahabat sekaligus istriku.... Akhh... rasanya aku sudah gila!” lanjutnya lagi, seraya mengacak-acak rikma hitam legamnya.


Lalu berjalan menuju pintu mobil, perlahan mobil pun meninggalkan halaman rumah Wulan.


Wulan membuka tirai jendela, dan melihat Damar sudah pergi, perasaannya gamang, menyesal pernah mengacuhkan semua perhatian dan sikap manis Damar. Wulan menghela nafasnya, “Mungkinkah, aku yang harus berjuang?“ gumamnya.


Namun, sesaat kemudian, ia menemukan ide brilian, “Kalau begitu perlahan aku akan menjadi sahabatnya.”


...•...


...•...


...•...


Kini, Damar sampai di pelataran rumah bergaya Joglo setelah beberapa hari tinggal, dan selalu saja pulang larut malam.


“Apa semua orang sudah tidur?” tanya Damar pada seorang pelayan rumah yang kebanyakan adalah pria.


“Bu Suci sedang menunggu Aden, di ruang tengah.” jawab pelayan rumah, (Aden, adalah sebutan untuk Tuan muda dan semacamnya, dalam panggilan bahasa Jawa).


“Makasih, Mang Soni.” jawab Damar lalu, berjalan masuk kedalam rumah, saat melangkahkan kakinya memasuki pintu rumah yang tidak di kunci Damar mengucap salam dengan suara lirih. Lalu berjalan masuk ke ruang tengah dan mendapati Ibunya tertidur di sofa.


Damar mendekati Ibunya, dan berlutut di samping sofa. “Bu..”


Bu Suci membuka netra tuanya, “Cah mbarep.. (Anak pertama),” lalu beliau beranjak duduk. Di susul oleh Damar yang duduk disebelah Ibunya.


“Nggak di rumah kita nggak di sini, Ibu selalu saja menunggu Damar pulang, Damar sudah bilang, kalau akhir-akhir ini akan sering pulang larut malam,” kata Damar, dengan suara lembut.


Damar mengangguk, “Sudah!”


“Lain kali, Ibu tidak perlu lagi menunggu Damar pulang, Damar akan baik-baik saja, sepanjang restu Ibu selalu menyertai Damar.” lanjut Damar, untuk kesekian kalinya ia meminta agar Ibunya tidak perlu lagi menungguinya pulang.


Bu Suci mengembangkan senyumnya, “Kalau kamu sudah punya istri, baru ibu akan istirahat dengan tenang, Nang,”


“Rezeki, Jodoh, maut semua itu di tangan Allah Bu, kalau jodoh Damar sudah dekat, pasti Allah akan tunjukkan,”


Bu Suci mengangguk tipis, “Ibu tahu Nang, semua ini adalah kehendak-Nya, tapi Ibu bisa bernafas lega apabila Ibu melihatmu bersanding dengan wanita penuh dengan kasih sayang, serta welas asih dan tulus,”


Kening Damar mengerut, “Kenapa harus kasih sayang, welas asih dan tulus, apa ibu tidak menginginkan wanita baik yang menjadi pendamping hidup Damar?”


Bu Suci mengulas senyuman tipis, “Hati yang penyayang adalah buah dari kebaikan, bila hati penyayang maka dalam keadaan apapun dirimu, pasangan kamu tidak akan berpaling dan menerima dengan tulus dan ikhlas, Nang,”


“Damar kagum dengan jawaban bijak Ibu,” ia mengedarkan pandangannya menatap anak panahan yang menjadi penghias dinding rumah Kakek Bagaskara, bayangan wajah Wulan seketika hadir dalam ingatannya. ‘Tapi, dia sudah milik orang lain.'


Bu Suci memegang punggung tangan putra sulungnya, “Bagaimana dengan Wulan, Ibu lihat kamu cukup dekat dengannya dan Ibu rasa, dia wanita yang penuh perhatian padamu, Nang?”


Damar mengalihkan tatapannya menatap tangan Bu Suci dan bersitatap dengan Ibunya, “Ada apa dengan Wulan Bu? Ibu kangen sama dia karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu?” jawabnya mengalihkan pembicaraan.


Bu Suci menggeplak tangan Damar, “Jangan bercanda Nang, Ibu serius.”


Damar memasang cengiran kuda


“Apa kalian sangat sibuk di pabrik?” tanya Bu Suci.

__ADS_1


Pertanyaan Bu Suci bersamaan dengan Kakek Bagaskara yang menghampiri cucu serta menantunya.


“Kamu sudah pulang Mar?” tanya Kakek Bagaskara, berdiri di ambang pintu ruang tengah, penghubung antara ruangan lainnya.


Damar beranjak dan menyalami tangan Kakeknya, “Iya, ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan Damar lembur,”


“Kakek dengar, pabrik yang di kelola olehmu sedang mengalami masalah?” tanya Kakek Bagaskara, seraya berjalan beriringan dengan Damar dan duduk di sofa.


Masalah perusahaan, memang tidak pernah Damar bawa sampai ke rumah. Karena ia, tidak ingin mencampur adukkan urusan rumah dan perusahaan. “Alhamdulilah baik, Kek. Sekarang sudah teratasi,” jawab Damar bohong. ‘Maafkan hamba Ya Allah, karena harus berbohong.'


“Benar, sudah teratasi?” tanya Kakek Bagaskara memastikan.


“Memang ada apa di perusahaan Amanah food Damar?” kali ini Bu Suci yang bertanya.


“Yah, kemarin memang mengalami sedikit masalah, karena bahan distributor yang menyeleweng. Tapi, sudah terkendali,” jawab Damar.


“Perlu bantuan Kakek?” tawar Kakek Bagaskara.


Damar tersenyum dan kemudian menggeleng, “Terima kasih Kek, masalah ini masih bisa teratasi,” ia memang berusaha semaksimal mungkin agar tidak perlu terburu-buru meminta bantuan kepada Kakeknya, meskipun ia sendiri tahu pengaruh Kakek Bagaskara terhadap dunia bisnis bisa saja menguntungkannya dalam sekejap mata. Karena, semua serba menjamin ada.


Tapi gelora patriotismenya menolak jika masalah secuil saja sudah meminta bantuan kepada Kakeknya. Karena ia menyadari betul, masalah yang ada sekarang ini hanyalah kerikil kecil untuk menghadapi batu besar yang siap tidak siap harus di hadapinya dengan cara percaya diri dan keteguhan iman serta hati, dan ia menolak bersikap manja, merengek maupun putus asa.


“Baiklah, Kakek mengerti. Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan.” tawar Kakek Bagaskara.


Damar mengangguk, “Sebaiknya Kakek istirahat, Kakek juga harus memperhatikan kesehatan,”


Kakek Bagaskara pun beranjak, “Ya, Kakek tahu, Kakek sekarang tidak tinggal seorang diri, karena ada banyak orang di sini yang sekarang memperhatikan Kakek,”


Damar dan Bu Suci mengembangkan senyuman, melihat Kakek Bagaskara yang berjalan kembali menuju kamarnya.


Damar beralih menatap Ibunya, “Ibu juga istirahat,” kata Damar, dan mendapat anggukan kecil dari Ibunya.


Bu Suci lantas beranjak dan berjalan menuju kamarnya.


Damar berjalan menuju kamar Danum, ia memegang handle pintu dan membukanya perlahan, dan melihat Danum sedang belajar di jam sebelas malam, “Num, belajarnya besok lagi, ini udah malem, UTS juga butuh mata yang segar.”


Danum menoleh kearah Kakaknya yang masih berdiri di ambang pintu, dengan pintu yang tersingkap separuh, “Iya Mas, Mas Damar baru pulang,”


“Yah, seperti yang kamu lihat,” jawab Damar.


“Mas Damar juga istirahat, karena adikmu ini pun butuh motivator yang sehat!” kata Danum, ia mengagumi kegigihan Kakaknya.


Damar mengangguk dan menutup pintu kamar Danum.



Sesampainya di kamar setelah membersihkan diri di kamar mandi yang terdapat di dalam kamar. Damar merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran cukup besar, ia memang tidak lagi berbagi kamar dengan Danum, karena Danum pun menempati kamarnya sendiri.


Dan keadaan rumah lama, ia masih saja memantau renovasinya. Biar bagaimanapun, rumah lama begitu banyak kenangan-kenangan suka dan duka.


Lalu membaca doa pengantar tidur, seperdertik kemudian ia memejamkan matanya. “Ya Allah, Ya Tuhanku yang Maha Damai, ajarilah aku dalam tidurku malam ini untuk bisa ikhlas mengabaikan yang tidak penting, amin..”


•••


Bersambung...

__ADS_1


Halo sayang-sayangku, pembaca setia karya ini, semoga hari-hari kalian menyenangkan, penuh dengan rasa syukur dan kesuksesan.


__ADS_2