Presdir Cilok

Presdir Cilok
129 Penggerebekkan


__ADS_3

Sampai malam menghimpit sang waktu, bergulir tanpa mau tahu. Wulan masih setia duduk di samping brankar. Memegang, mengusap dan mencium punggung tangan Damar.


“Mbak Wulan, Mbak Wulan pulang aja dulu, istirahat di rumah, percaya sama Danum, Mas Damar bakalan sadar,” untuk kesekian kalinya, Danum membujuk Kakak iparnya untuk pulang dan beristirahat di rumah. Ia menggantikan Bu Suci untuk berjaga.


“Iki, Mas Damar jane sebenere prank opo pancene koma?! Yen pancene beneran koma bok yo ojo dangu-dangu toh yo, melasne Mbak Wulan e.. (Ini, Mas Damar ini sebenarnya prank apa memang koma?! Kalau memang beneran koma ya jangan lama-lama, kasihan Mbak Wulan)” gerutu Damun, memandangi wajah pucat Damar dengan selang masker oksigen yang menghiasi wajah pucat Kakaknya.


Wulan masih enggan bergeming, wanita yang nampak lusuh dan kusut ini masih duduk dalam posisi yang sama, memegang tangan Damar dan menyandarkan kepalanya di tepian brankar.


Danum lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Yah, ia akui memang benar ucapan Kakek Bagaskara, ternyata memang informasi yang valid, bahwa seorang Wulan sangat keras kepala, dan jika sudah seperti ini maka Kakak iparnya itu akan diam seribu bahasa.


Danum beralih duduk di sofa ruang perawatan berjarak tiga meter dari brankar. Netranya masih fokus menatap kearah brankar, sesekali ia menatap Wulan yang menyandarkan kepalanya di tepian brankar tepatnya di sebelah bahu Damar.


“Mbak, Mbak Wulan belum ngabarin Ayah sama Mamanya Mbak Wulan ‘kan? tapi menurut aku mending nggak usah, dari pada mereka malah khawatir,” ucapnya, mencoba mencairkan suasana hening, karenanya hanya ada suara detik jarum jam.


Lagi.... Wulan hanya diam, tapi masih memasang telinganya dengan baik guna mendengarkan percakapan remaja itu. Wulan sendiri memang belum memberikan kabar apapun mengenai Damar kepada Mamah dan Ayahnya. Ia juga masih menunggu kabar selanjutnya dari Bokir. Hah! Sungguh menunggu adalah suatu hal yang sangat membosankan! Jika ia sendiri bisa menarik dan mencekik pelakunya, entah itu Opik atau siapapun.


Pasti sudah Wulan lakukan dan merendam tubuh pelaku kejam yang sudah menyebabkan suaminya terkapar juga Amanah food porak-poranda. Tentulah sudah Wulan cemplungkan kedalam bak bensin dan membakarnya hidup-hidup! Sungguh semua dalam bayangan itu ingin ia lakukan setelah Bokir dapat menemukan keberadaan pelakunya.


Wulan menarik dirinya, duduk tegak, ia menghela nafas panjang menatap Damar sendu, ia mengulurkan tangannya mengusap pipi pucat sang suami. “Aku keluar sebentar, aku butuh udara segar.” setelah mengucapkan kalimat itu, ia pun beranjak dan melihat sekilas kearah Danum yang sedang memainkan ponselnya, “Danum, aku keluar sebentar.”


Danum menatap Wulan dan mengangguk tipis


Wulan keluar dari kamar perawatan intensif Damar, ia berjalan di tengah keremangan malam menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat lengang, sampai langkah kaki membawanya di taman rumah sakit, ia pun duduk di bangku taman.


Kembali ia tarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mencari kelegaan dan kelonggaran dalam hatinya. Mendongakkan wajahnya menatap langit gelap. Suara seseorang membuyarkan lamunannya.


“Nona Wulan!”


Wulan menolehkan wajahnya kearah sumber suara, dan melihat seseorang yang siang tadi ia temui. Wulan melihat pria dengan Hoodie dan celana training panjang itu mendekat dan berdiri dengan jarak dua setengah meter darinya, “Sedang apa Anda di sini Pak Polisi Farhana?”


“Aku sedang menjenguk Ibuku, kebetulan aku melihat mu keluar dari kamar perawatan intensif,” jawab Farhana santai, seraya menaruh tangan kirinya di saku celana panjangnya.


Wulan manggut tipis, ia kembali mengedarkan pandangannya menatap langit. Wulan kembali teringat kenangan saat memandangi langit seperti ini bersama dengan Damar, ia ingin selamanya bisa susah senang bersama.


Melihat wajah Wulan dari samping, membuat Farhana semakin berasa akrab, seolah sebelumnya ia pernah mengenal wanita yang sedang menatap langit, “Emm... apa suamimu sudah lebih baik?” tanyanya memecah keheningan.


“Alhamdulillah sudah,” jawab Wulan singkat, tanpa menoleh kearah polisi Farhana. Kendati wajah polisi itu sangat mirip dengan Farhan, tapi saat ini Wulan tidak ingin mengingat ataupun terkecoh dengan masa lalunya, “Ngomong-ngomong Ibu Anda sakit apa?” tanya Wulan, sekilas melihat Farhana.


Posisi tangan Farhana beralih, ia mendekapkan tangannya didepan dada. “Leukimia,“jawabnya, “sebenarnya dia bukan Ibuku, tapi dia sudah ku anggap sebagai Ibuku karena dialah aku bisa hidup hingga detik ini,” entah mengapa Farhana ingin bercerita tentang hal ini dengan Wulan.


Wulan mengerutkan keningnya, jelas saja ia merasa bukan itu pertanyaannya. Tapi, ya sudahlah, mungkin polisi itu hanya ingin berbagi cerita. “Hidup yang kita jalani, memang tak lepasnya dari peranan penting orang lain terhadap diri kita,”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Wulan merasa taman rumah sakit sudah mulai sepi, ia berniat meninggalkan taman. Wulan pun beranjak, “Maaf Pak polisi Farhana, saya permisi,” tanpa menunggu jawaban, Wulan membalikkan badannya memunggungi polisi berpangkat perwira itu.


“Nona Wulan!” seru Farhana memanggil Wulan yang sudah berjalan empat langkah.


Wulan pun menghentikan langkahnya, tanpa menoleh.


Sejenak terdiam, ia menatap Wulan dari belakang, seperdetik kemudian ia mengungkapkan apa yang di rasakan terhadap Wulan, “Entah mengapa seolah aku sangat mengenalmu di kehidupan sebelumnya,”


Wulan membulatkan matanya mendengar perkataan polisi dibelakangnya, ia memejamkan matanya dalam-dalam. Tanpa menjawab Wulan langsung pergi dari sana.


Sikap Wulan yang acuh, sontak saja membuat Farhana merasa seperti orang bodoh. ia pun menggigit bibir bawahnya, mengusap rikmanya, “Kenapa aku mengatakan hal itu, bodohnya aku. Tapi kenapa perasaan ini sungguh kuat!”


Wulan berjalan melewati kamar-kamar pasien rumah sakit. Sungguh saat-saat seperti ini, ia tidak ingin lagi mengingat Farhan, ia menyadari betul bahwasannya hatinya sepenuhnya milik Damar, dan soal Farhan, ia akhirnya menyadari bahwa perasaannya hanya merasa berhutang budi pada Farhan karena telah menyelamatkan nyawanya. Terlepas, benar tidaknya Farhana adalah Farhan.


Saat kakinya akan melangkah memasuki pintu kamar rawat inap Damar. Dering ponsel yang ia setel dengan volume kecil pun terdengar, Wulan menghentikan langkahnya, dan mengambil benda pipih itu dari saku celana, melihat nama ‘Bokir' yang tertera di layar monitor, “Ya?” jawabnya menjawab panggilan telepon dari Bokir.


“Lan, Opik memang pelaku yang menabrak Damar, saat ini saya sedang menuju tempat yang di jadikan persembunyian Opik!” kata Bokir di seberang telepon.


Wulan membelalakkan matanya. “Kirimkan aku alamatnya, aku akan segera ke sana!”


“Kamu akan di jemput si Jojon, dia lagi jalan ke rumah sakit,” jawab Bokir, sambungan telepon pun berakhir.


Danum melihat Wulan yang datang dari arah luar dengan antusiasme, membuatnya heran. “Misi apa Mbak?”


Wulan beralih menatap Danum, ia tidak menjawab pertanyaan adik iparnya itu.


“Jaga Damar, jangan lengah, aku harus menyelesaikan urusan.” Wulan menyambar tasnya, ia berjalan dengan langkah jenjang menuju pintu, sebelum keluar Wulan menoleh kearah Damar, semenit kemudian ia benar-benar keluar dari dalam kamar perawatan intensif Damar.


Wulan menunggu Jojon, dan tepat pada saat itu mobil grandmax berhenti di depannya. Dengan sekali tarikan pintu, Wulan masuk kedalam mobil yang dikemudikan Jojon dan ada beberapa rekan tim yang sudah Wulan kenal.


• •


Di dalam mobil APV, Bokir dan enam pria dua di antaranya adalah Bos rental yang di ketahui bernama Alvin dan seorang karyawan yang bernama Nanang. Mobil yang di kemudikan seorang teman Bokir bernama Lutfi ini memasuki jalanan kawasan hutan yang lengang tanpa adanya penerangan jalan.


Bokir heran dengan jalan yang di tunjukkan Alvin si Bos rental, “Heh.. jangan main-main kamu, ini jalanan hutan?!” bentak Bokir merasa sudah tertipu.


Dengan pandangan menunduk tangan yang di borgol, serta kaki diikat wajah yang babak belur. Alvin membenarkan bahwa jalan yang dilalui memang tidak salah. “Bener Om, ini jalan menuju villa Opik, biasanya Opik sama teman-temannya bersembunyi dan memakai narkoba di villa nya,”


Plak... untuk kesekian kalinya Bokir menampar pipi Alvin dengan sangat keras, hingga sudut pipi Alvin kembali mengeluarkan darah. Lalu menjambak rikma Alvin yang di cat warna cream menariknya kebelakang sampai Alvin mendongak dengan sempurna ke atas, dengan tangan kirinya Bokir memegang jakun leher Alvin.


“Kamu itu jangan main-main lagi mengerti?! dari tadi siang kamu udah membuang waktu, saat di tanya dimana tempat persembunyian Opik kamu selalu mengelak?! Kalau kamu masih mau main-main saya hancurkan jakunmu!!” Bokir geram terhadap Alvin si Bos rental bertato ini, sudah cukup bertanya dengan cara halus dan untuk kesekian kalinya Bokir mendesak agar Alvin berkata jujur dimana tempat persembunyian Opik, Alvin selalu saja menjawab dengan bermacam seribu alasan dan mengelak.

__ADS_1


“Jawab saja kau tuh, jangan lagi mengelak. Kalau kau lebih sayang nyawa kau dari pada teman kau yang tak ada akhlak itu, buat apa kau masih menyembunyikan si Opik?!” kata Agus yang duduk di samping kemudi.


“Be--bener Om, ini jalan menuju villanya Opik, setelah melewati hutan Pinus ini, ada deretan perumahan villa,” jawab Alvin, tergagap.


“Kamu juga ikut terlibat dalam penyerangan pabrik makanan Amanah food kan?!” tanya Budiono dengan suara keras, yang duduk di jok belakang bersama dengan Nanang karyawan Alvin.


Alvin menggeleng keras, “A--aku memang tau rencana Opik, tapi aku nggak ikut terlibat dalam penyerangan pabrik itu Om, sumpah Om!!”


“Kamu juga ikut terlibat?” tanya Budiono kepada Nanang.


Nanang langsung saja membantah, “Nggak Om, saya cuma karyawan, saya ndak tau apa-apa!”


Bokir menekan jakun Alvin, hingga Alvin mendesih sakit. “Awas kalau kamu terbukti bohong! Ta habisin kamu di sini!”


Dalam cengkraman tangan Bokir, Alvin hanya pasrah dan menggeleng keras, “Sumpah Om, aku nggak ikut terlibat dalam penyerangan pabrik dan penabrakan yang Opik lakukan, a--aku me-memang tau rencana Opik, tapi sumpah aku nggak ikut-ikutan.”


Bokir menoleh kebelakang, persisnya dimana mobil grandmax berada. Ia tahu, jika itu adalah mobil yang dikemudikan Jojon bersama dengan Wulan dan rekan se-timnya.


Melewati jalanan perbukitan, sampai pukul 01:23 dini hari. Terlihat ada beberapa villa di pinggiran jalan perbukitan.


“Dimana lokasi villanya?!” tanya Budiono kepada Alvin.


Kali ini, Alvin tidak bisa lagi mengelak, karena ia merasa nyawanya semakin terancam, dengan pria berkepala pelontos yang duduk disebelahnya selalu menekan jakunnya, “E--enam deretan dari vi--villa pertama Om,” jawabnya gagap.


“Matikan mesin mobilnya Fi!!” titah Bokir.


Lutfi pun mematikan mesin mobil dari jarak tiga villa ke villa yang di sebutkan Alvin. Bokir dan Lutfi keluar dari dalam mobil, sedangkan Budiono dan Agus menjaga Alvin dan Nanang agar tidak melarikan diri meskipun kedua pria yang mengetahui rencana Opik ini sudah terikat.


Bokir dan Lutfi pun bergabung dengan rekan se-timnya. Yaitu, Wulan, Jojon dan keempat rekan yang bersama satu mobil dengan Wulan. Ditengah minim penerangan jalan, Bokir membagi tugas.


“Kita harus berpencar,” kata Bokir dengan suara kecil.


Semua tim pun mengangguk, termasuk Wulan. Penggerebekkan kali ini menguntungkan kedua belah pihak, pihak Wulan dan pihak kepolisian yang ikut andil dalam penanganan kasus pengedaran narkotika.


Wulan sudah siap dengan pistolnya mengendap di samping kanan, dan satu orang lainnnya mengendap dari arah samping kiri villa mewah. Sedangkan Bokir dan temannya berjalan dari arah depan, dan yang lainnya mengendap dari belakang. Terdengar alunan musik keras dari dalam villa yang di katakan Alvin adalah milik Opik.


Brak... Bokir menggebrak pintu villa mewah, menodongkan pistol kearah pemuda-pemuda yang sedang berpesta pora, “Jangan bergerak! Kalian sudah di kepung!”


•••


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2