Presdir Cilok

Presdir Cilok
75 Kebakaran jenggot


__ADS_3

Berita yang sedang hangat dan beredar luas di kalangan masyarakat. Terkhusus penggunaan internet, yang segalanya sesuatu dapat di akses melalui semua jaringan.


Terkhusus berita seorang Pengusaha sukses dari PT Jaya Gemilang, telah melakukan tindak penganiyaan terhadap seorang pemuda di salah satu ruangan restoran mewah telah beredar luas.


Rahangnya mengeras, urat syaraf di lehernya membentang luas.


“Sialan!” teriak Kusumo di ruangan kantornya, ia menyobek lembaran koran berita dan membuangnya ke sembarang arah dengan emosi meradang, nyalang.


Lalu menatap tajam kepada kedua orang staf yang berdiri di depan meja kerjanya yang sedang menatapnya pula dengan rasa takut, “Sampai mana berita ini menyebar?”


Dengan perasaan takut dengan kening berkerut, salah seorang staf pun menjawab, “Semua kalangan Pak Kusumo, bahkan di bawah banyak wartawan yang meliput, untuk memintai keterangan langsung dari Anda.”


“Biarkan saja mereka, toh pada akhirnya mereka pergi dengan sendirinya.” tukas Kusumo berang,


Tiba-tiba pintu ruangan Kusumo pun terketuk, dan bersamaan dengan sekretaris Susi yang masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa.


Kusumo menatap sekretarisnya dengan membulatkan matanya, “Apa yang ingin kamu sampaikan Susi, apakah investor asing dari Brunei Darussalam akan berkunjung?”


“Tidak Presdir, justru Tuan Datuk Kahfi, membatalkan rencananya untuk bekerjasama dengan Anda, dengan alasan tidak ingin berurusan dengan Presdir yang suka bertindak anarkis.” ungkap Susi, dengan wajah menunduk.


Kusumo tidak bisa menahan lagi kemarahannya yang sudah di batas ubun-ubun, ia membanting semua apa pun benda yang ada di atas meja. Termasuk komputernya, “Arhh... sial! Dasar bedebah!”


Kusumo lantas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang untuk menyusun strategi pembalasan terhadap Damar. “Kali ini, buat dia kapok!” seru Kusumo di sambungan telepon.


Saat ini perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian PT Jaya Gemilang milik Kusumo sedang merasakan kebakaran jenggot, setelah membaca berita yang tersebar luas di kalangan masyarakat. Bahwa, namanya kini tengah menjadi pusat berita kriminal.


...•...


...♠...


...•...


Lain halnya di PT Amanah food, khususnya di ruangan Damar. Pak Bambang, Bokir, Wulan dan Damar sedang membicarakan tentang berita yang sedang beredar luas, tentang penganiyaan yang di lakukan Presdir PT Jaya Gemilang.


“Bagus! Ini seperti yang ku minta!” seru Damar, setelah melihat hasil editan video yang di lakukan si biang hackers, tentu saja tak lain adalah Bokir.


Bokir manggut-manggut dan tersenyum senang, “Tentu, itu kan yang kamu mau, wajahmu jangan terlalu di ekspos,”


Pak Bambang yang berada di ruangan Damar pun ikut bersuara, “Apakah Mas Damar, akan melaporkannya ke pihak berwajib?”


Damar bersitatap dengan Pak Bambang, “Biarkan saja dulu, ini hanya permulaan. Setelah itu, ada bencana besar yang akan menimpanya.” Damar mengedarkan pandangannya menatap keluar jendela kaca lebar, “Lebih baik, kita fokuskan untuk memberikan kualitas dan kuantitas terbaik kepada para konsumen agar mereka semakin percaya kepada Amanah food, dan siapkan acara syukuran perusahaan, untuk mencapai keberhasilan,” lanjut Damar,


Pak Bambang manggut-manggut tipis, beliau memahami betul. Akan kebencian dan rasa ambisius nya seorang Damar Mangkulangit demi bisa membalaskan kelicikan Kusumo.


“Saya sangat setuju dengan pendapat Tuan Damar, bukan berarti saya tidak setuju dengan pendapat Pak Bambang. Tapi, kita tentu tahu seperti apa liciknya Kusumo, dia itu ibarat ikan patin, licin dan bisa melukai,” pungkas Wulan, dengan analisanya sebagai Intel, ia berpendapat Kusumo akan dengan mudah keluar dari ranah hukum jika langsung dilaporkan ke pihak berwajib.

__ADS_1


“Lagi pula, alamat IP yang saya gunakan adalah jalur teraman,” sela Bokir.


“Memangnya alamat IP siapa yang Mas Bokir gunakan?” tanya Pak Bambang.


“Alamat IP milik teman saya yang bekerja di pusat berita terkenal di seluruh Indonesia. Pasti tidak ada orang yang menganggap bahwa berita ini hanya sekedar hoax, alias berita kebohongan!” jelas Bokir, ia teringat akan salah satu temannya yang menjabat sebagi Jurnalis berita bisnis. “Dan memang benar kan, ini nyata?”


“Wah.. wah... Mas Bokir ini memang selalu bisa memanfaatkan teknologi,” balas Pak Bambang, memuji kemampuan yang Bokir miliki.


Pak Bambang beralih menatap Damar, “Oh ya Mas Damar, saya pun membawa berita baik untuk Anda. Amanah food sudah menunjukkan kemajuannya, bahkan saya dan team marketing ingin memberitahu Anda tentang produk baru.”


Dengan wajah sumringah, Damar menjawab, “Alhamdulillah, benarkah? Sungguh ini berkah, tiada usaha yang mengkhianati hasil.”


“Tapi, saran saya Mas Damar harus mempromosikan produk ini, dan produk cilok Mas Damar sendiri, agar lebih di kenal oleh masyarakat luas, yang belum tahu kalau cilok buatan Mas Damar sudah di jual dalam bentuk kemasan.” jelas Pak Bambang, dengan segala pengetahuan mengenai ilmu perdagangan.


“Baik Pak Bambang, kapan waktunya untuk saya bisa mempromosikan produknya?” tanya Damar antusiasme.


“Segera, setelah kita mengadakan kembali rapat koordinasi untuk mengembangkan produk.” jawab Pak Bambang. Lantas Pak Bambang pun berdiri, “Kalau begitu saya permisi Mas Damar, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan.”


Damar mengangguk, “Terimakasih Pak Bambang.”


Pak Bambang pun tersenyum dan mengangguk, “Sama-sama.” lantas berjalan keluar dari ruangan Damar.


“Kang Bokir, tolong siapkan beberapa produk yang kita punya lalu kemas dalam bentuk parsel sebanyak 200 biji,” permintaan Damar membuat Wulan serta Bokir saling tatap, bingung.


Damar berdiri dan beralih duduk di sebelah Wulan, “Untuk amal,” jawabnya lantas mencolek dagu Wulan.


Wulan menatap tajam seraya mencubit punggung tangan Damar. “Ish, apaan sih colek-colek! Emang aku sabun colek!”


“Kamu itu magnet?!” celetuk Damar.


Bokir menatap Damar dan beralih menatap Wulan, “Halah-halah... kalian ini kenapa? Selalu membuat saya merasa jadi penonton?!”


“Dianya aja yang suka usil!” kilah Wulan, tanpa menoleh kearah Damar.


“Jadi nggak, buat bungkusin parsel 200 biji, emang kamu nggak sayang Mar, kan perusahaan ini juga belum terlalu banyak menutup penghasilan?” tanya Bokir.


“Jadi,” Damar melebarkan senyumnya, mendengar pertanyaan Bokir, “Kita tidak pernah jatuh miskin karena memberi. Anggap kita sedang menabung amal ibadah kita di surga.” pungkas Damar.


“Dan aku yakin kedepannya, setelah mereka mengetahui semua produk kita. Kan, bisa lebih mudah mengajak kerjasama kepada pemilik usaha mikro menengah, atau usaha mikro kecil, Kang.” sambung Damar, Damar berpikir, dengan beramal ia bisa mengenalkan produk dari Amanah food, karena pun memang ia sudah memikirkan sesuatu tentang masa depan. Bukan hanya masa yang sekarang. “Juga untuk mengurangi pengangguran, Kang,”


Bokir menjentikkan jarinya, menyetujui pendapat Damar, “Wah, bijak kamu Mar, beramal, sekaligus memperkenalkan produk Amanah food. Baiklah, akan saya minta team saya buat bungkusin parsel seperti biskuit, minuman dan makanan lainnya, juga tidak ketinggalan produk cilokmu,”


Saat perbincangan seputar kemajuan tentang bagaimana cara mempromosikan produk Amanah food sedang di susun oleh Damar dan semua team di perusahaannya. Seseorang mengetuk pintu.


“Masuk!” seru Damar.

__ADS_1


Seorang staf pun membuka pintu, dan masuk kedalam ruangan.


“Oh kamu Di, silahkan duduk,” kata Damar, setelah Didi mendekatinya.


Staf bernama Didi menggeleng, “Nggak usah Mas Damar, saya cuma mau menginformasikan,” ucapan Didi mengambang, melihat Bokir, Wulan dan Damar secara bergantian, “Investor asal Brunei Darussalam membatalkan kerjasama dengan perusahaan PT Jaya Gemilang, dan juga beberapa perusahaan lain.”


“Wah, ini berita bagus! Kamu akan mendapatkan bonus gaji tambahan khusus dari saya, dan bawa lagi berita mengenai perusahaan itu!” seru Damar.


Didi tersenyum sumringah, hatinya dipenuhi ribuan kupu-kupu terbang, “Terimakasih Mas Damar, terimakasih.”


“Sama-sama.” balas Damar.


Didi sang mata-mata itupun keluar dari ruangan Damar.


“Langsung kena mental si Kusumo, Mar!” seru Bokir, seraya bertepuk tangan.


“Tapi aku merasa akan ada pembalasan dari dia,” kata Wulan, menerka-nerka.


Damar paham betul dengan prasangka sekretarisnya, ia pun tidak menyangsikan peringatan Wulan. “Satu jam yang kita gunakan untuk merasa khawatir lebih melelahkan dari pada satu jam bekerja keras. Jadi, ayok kita melanjutkan kembali pekerjaan kita masing-masing, Nona.”


Bokir pun beranjak, “Baiklah, Presdir cilok, saya pun pamit undur diri, masih banyak pekerjaan yang harus saya periksa.”


Wulan pun ikut berdiri, “Saya pun, semoga hari-hari Presdir menyenangkan.” seperti inilah Wulan, saat di kantor, maka ia akan formal jika berbicara dengan atasannya.


“Kalian juga, team elang! Semangat! Jangan lupa sore ini aku akan mentraktir kalian.” seru Damar dan kembali ke meja kerjanya. “Wedang jahe, hehe...” sambung Damar.


“Dasar Presdir pelit, masa wedang jahe doang?!” cibir Bokir.


“Kalau omsetku sudah mencapai milyaran, baru aku traktir kalian semur jengkol!” balas Damar.


“Dih, apaan si jengki!” sinis Wulan ikut menimpali.


Bokir pun berjalan keluar ruangan Damar lebih dulu,“Hahaha... raut wajah kalian lucu!”


Di susul oleh Wulan, namun sebelum Wulan mencapai batas pintu, Damar memanggil, “Wulan!” seru Damar


Wulan berbalik tanpa menatap Damar


Damar sejak pagi tadi sudah terpesona melihat kalung liontin putih yang di pakai dileher Wulan. “Liontin yang kamu pakai, cantik.”


Wulan refleks memegang kalung liontin putih yang di pakainya, lantas keluar dari ruangan Damar.


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2