
Wulan menatap Damar, tangan kanannya masih menutup mulutnya, dan menunjuk kardus yang terbuka dengan tangan kirinya. “I--itu!” ucap Wulan mendengung di balik tangannya yang menutupi bibirnya.
•••
Tatapan Damar mengikuti arah kemana jari telunjuk Wulan, lantas mendekati kardus yang sudah terbuka atasnya dan melihat isinya. Berbeda ekspresi dengan Wulan, Damar diam sejenak, ia menghela nafasnya, lantas menoleh kearah Wulan.
“Ini hanya kepala ayam, Nawulku!” kata Damar, setelah melihat potongan leher sampai kepala ayam di plastik bening yang tidak diikat dengan tali. Lalu mengambil kardus dan mendekatkannya kepada Wulan.
Sontak membuat Wulan beranjak dan jingkrak-jingkrak.... “Hiii... geli ah, geli! Jauh-jauh dah tuh pala ayam!” teriak Wulan, seraya mengibas-ngibaskan tangannya, agar Damar menjauhkan kardus berisi kepala ayam mentah sebanyak setengah kardus.
“Ini hanya kepala ayam, Wulan,” kata Damar lagi, ia heran dengan sikap Wulan, yang takut hanya karena kepala ayam.
“Astaghfirullah!! Astaghfirullah!! Jauh-jauh dah tuh kepala! Hiiii... Geli banget gue! Geli...” teriak Wulan histeris seraya menutup matanya, seolah melihat penampakan hantu yang menyeramkan. Namun menurutnya, kepala ayam mentah lebih menyeramkan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, kearah Damar. “Hus.. hus...”
Damar terkekeh geli, melihat tingkah laku Wulan yang lompat-lompat sambil teriak-teriak, bilamana menurutnya lucu... “Hahaha...” ia pun dengan jaimnya mendekatkan kembali kardus yang berisikan kepala-kepala ayam mentah kepada Wulan. “Masa kamu takut sama yang beginian, kepala ayam ini kan putih, bersih kaya paha orang-orang bule! Apalagi kalau di masak, pasti wenak!”
Akibat teriakan Wulan, orang-orang yang sedang melintasi jalanan depan rumahnya pun spontan menatap ke arah rumah yang ditinggali Wulan... Ada yang heran dengan sikap Wulan yang sedang lompat-lompat bak seorang penari balerina. Ada juga yang tertawa kecil.
Wulan semakin dongkol dengan sikap Damar yang senang sekali menggodanya. Masih dengan mengibaskan-ngibaskan tangannya, “Ayah!! Mamah, Mamah!! Tolongin Wulan, Damar! Damar! Aaaaaaa....” teriak Wulan tergagap. Ia fobia dengan yang namanya kepala unggas yang satu ini. Isi di perutnya semakin bergejolak ingin segera keluar, “Oeeekk!!!” menyemburlah seperti lahar dari kawah gunung yang meletup ke pakaian Damar.
Mendapat semburan dari dalam goa yang berbau sangat aneh pun membuat Damar seketika terkesiap, dan menjatuhkan kardus yang berisikan setengah kepala ayam mentah, “Waduhh!!! Basah kuyup dah--- iek!”
Sementara Wulan mengusap bibirnya, yang basah. Ia merasa sedikit lega, dan melirik tajam kearah Damar. Badannya lemas, ia pun beringsut duduk di lantai teras dan bersandar di dinding samping jendela. Tak menghiraukan orang-orang yang menatapnya. Juga tak ada rasa penyelesan sudah memuntahkan isi perutnya ke pakaian Damar.
“Mangkanya jangan jaim! Itu namanya kualat!” omel Wulan dengan suara lemas.
Damar menghela nafas, ia menyadari kesalahannya yang sudah keterlaluan dalam menggoda Wulan. Ia pun menatap Wulan, memelas dan iba melihat raut wajah Wulan yang pucat, “Maaf, lagian kalau kamu takut, kenapa pesan kepala ayam sebanyak itu?”
Wulan limbung, seperti orang mabuk... dan menjawab Damar lemah tak berdaya, seraya bergidik geli, “Mana ada yah aku pesan begituan!”
Tiba-tiba dari dari arah jalanan, seorang pria muda memakai topi dengan cara miring dan seorang wanita setengah baya dengan memakai abaya corak bunga serta hijab instan yang tidak beraturan mendatangi rumah Wulan..
“Walah biyung!! Ternyata kepala ayamku nyasar di rumahmu, Lan?” seru Ibu-ibu melihat kardus pesanannya, yang ternyata salah pengiriman. Lalu beralih menatap pemuda yang datang bersamanya. “Piye (gimana) kamu Jang nganterinnya!” hardik si Ibu yang memakai abaya corak bunga, menunjuk pria bertopi miring yang datang bersamanya.
__ADS_1
“Lah, bukan saya yang nganter Mbok Sum, itu si Mul!” kilah pemuda yang bernama Ujang.
“Kenapa bisa kamu suruh orang lain buat nganterin pesanan saya Jang, biasanya juga kamu? Pantesan saya tungguin dari subuh nggak sampai-sampai juga pesenan saya!” cerocos si Ibu, yang di panggil Mbok Sum. “Kamu tahu, karena ulah teman kamu itu, saya kalangkabut, tahu nggak!”
Ujang pun mengibaskan tangannya, “Waduh, bukan salah saya atuh Mbok, salahkan saja teman saya si Mulyanto! Tadi banyak pemotongan ayam di pasar, jadi saya nggak sempat ngantar. Lagian udah saya jelaskan ancer-ancer rumahnya. Ya saya nggak tahu, kalau si Mul salah kirim,”
Mbok Sum pun menampol lengan Ujang, “Jangan banyak alasan kamu, Jang. Lain kali jangan suruh orang baru buat ngantar pesanan,”
Ujang pun mengangguk, “Iya, iya Mbok Sum.”
Damar dan Wulan pun menatap kearah Ibu-ibu dan seorang pemuda bertopi miring dengan gaya yang tengil, tengah berdebat dengan persoalan salah pengiriman yang saliwang.
Wulan beranjak dari duduknya, dan menghampiri Ibu-ibu itu yang ternyata adalah tetangganya yang berjarak lima rumah dari rumah yang ia tinggali.
“Jangan berdebat di rumah saya Mbok Suminah, lebih baik Mbok Suminah bawa tuh kardus. Cepat bawa pergi dari rumah saya! Geli saya, ih!” seru Wulan, kepada tetangganya yang bernama Suminah.
Mbok Suminah pun bersitatap dengan Wulan, “Iya Wulan, maaf, ini gara-gara Ujang sama Mul, mereka yang salah kirim alamat!”
Wulan mengangkat alisnya, heran. “Lagian buat apa sih Mbok Suminah, kepala ayam sebanyak itu? Udah gitu di tulis dengan ‘paket untukmu! Kan geli saya bacanya, Mbok!” gerutu Wulan, kesal. “Bikin orang penasaran!” sambung Wulan, berdecak heran.
“Itu tulisan mah, temen saya yang suka usil Neng.” kata Ujang dengan logat sundanya.
Wulan pun menatap pemuda yang bernama Ujang, lantas kembali menatap Mbok Suminah. Ia bergidik geli, mendengar jawaban Mbok Suminah, “Ih, masa buat toping mie ayam pakai pala ayam? Kan biasanya pakai cincangan daging ayam Mbok?”
“Buat campuran daging ayamnya, Lan. Kan kalau daging ayam semua, mahal. Tau sendiri ya kan, daging ayam lagi mahal. Lagian kata pelanggan juga gurih, kan saya masaknya pakai panci presto biar empuk,” pungkas Mbok Suminah, pemilik warung mie ayam yang biasa jadi langganan Wulan.
“Mangkanya Mbok Sum, lain kali, tulis di depan rumah Mbok Sum, penjual mie ayam. Kan tahu sendiri, Mbok Suminah jualannya di lapak samping simpang pertigaan jalan depan komplek.” tutur Wulan. “Biar nggak nyasar lagi, saya fobia pala ayam Mbok!” lanjutnya, berkata jujur.
Damar saat ini terdiam, ia seolah sedang menonton Opera, menatap Wulan, lalu beralih menatap Ibu-ibu yang seumuran dengan Ibunya. Lalu beralih menatap pemuda yang seumuran dengannya. Sedangkan, pakaiannya yang terkena muntahan Wulan, tak ia hiraukan.
“Ya sudah ya Lan, saya permisi dulu. Jangan lupa nanti beli mie ayam saya. Di jamin nikmat!” celetuk Mbok Suminah, menawarkan dagangan mie ayamnya. Sekaligus pamit, dari teras rumah Wulan.
Wulan menggeleng, “Nggak Mbok Sum, saya nggak doyan kepala ayam, geli ih!”
__ADS_1
“Sih?!” seru Mbok Suminah, seraya berjalan menjauhi teras rumah Wulan bersamaan dengan Ujang.
“Saya doyannya cilok!” teriak Wulan, menatap kepergian Mbok Suminah, si pemilik warung mie ayam simpang pertigaan.
Damar pun menghampiri Wulan, ia berdiri di belakang Wulan, menatap kearah yang sama, kepada Ibu-ibu si penjual mie ayam, “Ternyata kamu akrab juga sama Ibu tadi?”
Wulan menoleh kearah Damar, ia memicingkan matanya menatap Damar dengan sorot mata tajam. Masih dengan perasaan kesal, akibat ulah usilnya Damar. Ia lantas berbalik badan dan sengaja menyenggol keras lengan Damar, seraya mengomel dan masuk kedalam rumah, “Terus kamu pikir, aku dingin, kaya es kutub! Nggak kenal sama tetangga gitu?!”
Damar mengekor di belakang Wulan yang masuk kedalam rumah. Ia berkilah, “Bukan gitu, kan kupikir, kamu cuma kenalnya sama aku dan Kang Bokir, di Jogja?!”
Wulan terus saja berjalan, sampai ke kamarnya dan membuka pintu lemari pakaiannya, “Nggak usah pandai bermain lidah, aku pernah dengar kamu bergosip tentangku dengan si Bokir, kalau kamu bilang aku dingin kaya es kutub?!” omelnya, kesal. Sambil menarik salah satu baju atasan berlengan panjang dari tumpukan pakaian.
Damar sedang mengedarkan pandangannya, melihat keseluruhan kamar Wulan, inilah kali pertama ia masuk kedalam kamar wanita yang menjadi sekretaris sekaligus tambatan hatinya. Hingga membuatnya menuli dengan semua celotehan Wulan.
Merasa tidak adanya jawaban, membuat Wulan mengalihkan tatapannya dari lemari. Lantas menoleh kearah Damar, yang sedang mengamati keadaan kamarnya. Namun, sesaat kemudian ia melihat Damar sedang melihat sebuah objek berwarna merah di atas tempat tidur. Mirip-mirip seperti kacamata kuda. ‘Alamak!!’ selorohnya dalam hati, lalu menggeplak jidatnya sendiri.
Wulan segera mendekati Damar yang berdiri dengan jarak dua meter darinya, dan refleks menutup mata Damar dengan telapak tangannya. “Dasar mata genit!” berangnya, geram..
Sedangkan Damar hanya tersenyum geli, pasrah menerima matanya yang di tutup oleh tangan Wulan. “Buat apa kamu menutup mataku, toh aku udah lihat tadi, bentuknya mirip seperti kaca mata kuda, tapi ini warna merah. Gimana pas kamu makainya? Hahaha...” kekehnya tertawa renyah, naluri seorang pria normalnya meronta-ronta. Melihat barang wanita yang di gunakan untuk penyangga (sensor).
Wulan membulatkan matanya mendengar segala ocehan tidak penting dari pria yang ia tutup matanya, “Dasar mesum! Cepat keluar dari kamarku!” berang Wulan, menahan malu.
Wulan pun menuntun Damar sampai keluar dari kamarnya dengan tangannya yang masih menutup mata Damar. Lalu menutup pintu kamarnya, lantas memberikan baju yang ia ambil dari lemari kepada Damar. “Pakai ini!”
Damar tersenyum simpul, lalu menerima baju yang diberikan Wulan. ‘Galak-galak gini, tapi perhatian.’
Sedangkan Wulan, lebih memilih berjalan ke dapur, untuk menyembunyikan rasa malunya, dan meminum segelas air mineral.
•••
Bersambung...
Please, like, vote, komen dan bintang 5..
__ADS_1
Terimakasih 🙏🏼