
“Itu betul sekali Pak Setiono!” seruan seseorang di ambang pintu gerbang masuk kedalam area pabrik. “Bahkan Tuan Kusumo sudah membuat perusahaan saya mengalami kerugian besar, akibat Tuan Kusumo sudah memanipulasi truk kontainer yang seharusnya berisikan bahan mentah yang saya pesan dari PT Mekar Sari milik Bapak Hendroyono.” sambungnya lagi.
•••
Semua orang yang berada didalam pabrik pun kembali melihat pintu gerbang, dan melihat seorang pemuda dengan wajah yang di perban sedang berdiri di ambang pintu gerbang masuk pabrik dengan seorang pria setengah baya berpakaian sangat sederhana.
“Bedebah!” kata Kusumo berang, mengepalkan tangannya menahan emosi yang seperti nyala api yang menyala-nyala.
“Silahkan masuk Pak Rudi, dia adalah Tuan Kusumo yang sedang Bapak Rudi cari-cari,” ucapnya, mempersilahkan seorang pria setengah baya yang ia temui di warung kopi.
“Terimakasih Mas Damar!” balas Pak Rudi, lalu menghampiri seseorang yang sudah menipunya, kemarahan yang tergambar jelas dari ketegangan rahang dan sorot mata tajam menatap Kusumo.
Tak perlu menunggu waktu lama bagi Damar untuk pulih dari rasa sakitnya, akibat perkelahian semalam yang membuatnya tidak tidur. Dalam pikirannya, ingin segera menuntaskan kasus ini secara cepat dan akurat.
“Heh Kusumo! Siluman rubah, kembalikan uang yang sudah saya setorkan sebanyak 50 juta, saya membeli tanah itu dari usaha dan jerih payah saya! Tapi sudah dengan kejamnya kamu membohongi saya dan memalsukan surat jual beli ini,” kata Pak Rudi dengan nada suara meninggi seraya menunjuk-nunjuk di hadapan Kusumo.
“Siapa Bapak ini, datang-datang kemari tapi meminta uang kepada saya! Dan menuduh saya?!” balas Kusumo, tidak mengenali seorang Bapak-bapak setengah baya yang ada di hadapannya.
Pak Rudi terkejut Kusumo tidak mengenali dirinya, “Saya Rudi orang yang sudah membeli tanah yang kamu tawarkan di desa Babakan! Dan ini adalah surat-surat tanah palsu yang sudah kamu berikan kepada saya!”
Kusumo membelalakkan matanya dan mengambil map berisikan berkas-berkas penjualan tanah lalu merobek map yang diberikan oleh Pak Rudi, dan membuangnya ke sembarang arah, “Bohong! Jangan coba-coba menuduh saya, saya bisa melaporkan Bapak, ke polisi karena sudah mencemarkan nama baik saya!”
Pabrik yang seharusnya memproduksi dan mengemasi berbagai macam bahan mentah kini seketika berhenti beroperasi dan para karyawan sedang melihat seorang Presdir mereka yang sedang berdebat dengan seorang Bapak setengah baya, pasal tanah dan dokumen palu. Dan berubah menjadi penggrebekan yang dilakukan oleh kelima petugas dari BPOM dan di tambah lagi perdebatan soal jual beli tanah palsu.
“Maling teriak maling, raimu raih teki! (Wajahmu wajah penipu!)” kata Pak Rudi sudah tidak bisa lagi menahan emosional nya.
Kusumo beralih menatap manajernya, “Baswedan! Cepat panggil security dan seret pria tua ini pergi dari sini!”
Namun, sang manajer enggan bergeming, ia merasa situasinya saat ini sangat genting. “Maaf Pak Kusumo, lebih baik kita mengurusi masalah pabrik ini terlebih dahulu,”
Kusumo kembali menatap Pak Setiono yang masih saja melakukan penggeledahan secara menyeluruh terhadap bahan-bahan mentah dalam negeri maupun import yang ada di dalam pabrik Jaya Gemilang. “Pak Setiono, berikan saya kompensasi waktu Pak Setiono!”
Kepala divisi BPOM tidak bergeming, beliau terus saja melakukan penggeledahan secara menyeluruh.
“Heh! Kusumo jangan mengelak! Cepat kembalikan uang yang sudah saya setorkan dan akui semua kesalahan mu!” lagi Pak Rudi meminta bertanggungjawaban dari Kusumo.
__ADS_1
Kusumo sangat marah sampai di batas ubun-ubun, lalu menatap Pak Rudi dari ujung kaki hingga ujung kaki, “Dengarkan baik-baik ya Pak! Saya tidak pernah menjual tanah-tanah milik saya kepada orang miskin seperti Bapak Rudi ini, dan lagi pula mana mungkin Bapak mempunyai uang sebanyak itu!” lagi Kusumo terus mengelak.
Damar yang masih berdiri di ambang pintu gerbang pabrik hanya tersenyum tipis melihat raut wajah Kusumo yang terpampang jelas ketegangan di sana. Lalu menghampiri Kusumo, “Benarkah Anda tidak ingat dengan Bapak Rudi!”
Kusumo menatap Damar dengan penuh kebencian yang tersirat, “Jangan coba-coba memperkeruh suasana di sini, dasar bedebah! Lagi pula apa buktinya jika saya sudah menipu Bapak ini, bisa saja dialah yang telah mencoba memanipulasi berkas-berkas ini!” kata Kusumo seraya menginjak berkas yang berserakan di lantai pabrik.
“Baiklah, jika Anda menginginkan bukti, mungkin satu orang tidak akan cukup membuat Anda mengingat semua kejahatan Anda Tuan!” tegas Damar, lalu menoleh ke belakang tepatnya di pintu gerbang masuk pabrik.
Orang-orang yang menjadi korban jual beli tanah palsu yang Kusumo tawarkan kini berdatangan ke pabrik, tentu saja Bokir yang berdiri di belakang mereka. Meskipun dalam keadaan pundaknya yang diperban akibat terkena peluru, ia masih beruntung. Amunisi peluru yang sempat bersarang di pundaknya hanyalah jenis Peluru Karet.
Beberapa orang yang sudah merasa kesal, mereka melempar berkas-berkas hingga melayang-layang di udara dan jatuh berserakan dimana-mana.
“Kembalikan uang kami!”
“Dasar penipu!”
“Nih makan berkas-berkas palsu ini!”
“Mati saja kau Kusumo!”
Seru orang-orang yang sudah sangat kecewa dan benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan emosional nya.
Di belakang orang-orang yang sedang menuntut keadilan atas hak-haknya yang sudah tertipu jual beli tanah palsu.
Wulan yang berdiri dengan tegap di samping polisi yang sudah berhasil membekuk kedua orang notaris gadungan yang sudah membantu Kusumo dalam memalsukan dokumen tanah dan tanda tangan. Kini, kedua tangan notaris gadungan sudah terborgol, dan beberapa polisi berdiri di belakang notaris gadungan. Juga salah satunya seorang polisi berpangkat Jenderal. Yaitu, Purnawan Syailendra yang memberikan hak sepenuhnya atas penangkapan terhadap komplotan mafia tanah.
Kusumo mundur melihat begitu banyaknya orang-orang yang sudah menjadi korbannya juga ketakutan melihat keberadaan polisi, raut wajah yang semula berwajah garang kini berubah panik mencari sandaran. Sekali dalam satu waktu semua kejahatannya terbongkar.
“Brigadir! Tangkap Kusumo!” seru Jenderal Purnawan kepada anak buahnya.
Kedua orang polisi pun menghampiri Kusumo
Dengan ketakutan dan badan yang gemetar hebat, Kusumo mencoba menghentikan kedua orang polisi yang sudah siap dengan borgolnya. “Tu--tunggu Pak Polisi! Se--semua ini hanya salah paham! Sa--saya bisa jelaskan!”
“Silahkan Anda jelaskan kepada kami di kantor polisi! Bahkan Anda pun bebas menyewa jasa pengacara untuk membela diri Anda Tuan Kusumo!” kata Jenderal Purnawan kepada Kusumo.
__ADS_1
Kusumo menatap Damar tajam, “Awas kamu! Saya akan membalasnya!”
Damar tersenyum menyeringai, “Semoga Anda selalu baik-baik saja, setelah ini Tuan Kusumo!”
Kedua Brigadir polisi yang sudah memborgol kedua tangan Kusumo pun membawa Kusumo untuk menjalankan pemeriksaan selanjutnya di kantor kepolisian.
Kini, orang-orang yang sebelumnya menuntut keadilan atas hak-haknya pun ikut ke kantor kepolisian untuk memberikan pernyataan.
“Terimakasih Pak Purnawan,” ucap Damar kepada Jenderal Purnawan.
Jenderal Purnawan pun mengangguk, tangan kanannya terangkat dan memegang pundak Damar, “Keberanian separuh dari kemenangan! Dan Anda sudah menang Mas Damar! Teruslah berani berpihak kepada kebaikan!”
Damar tersenyum simpul lalu sedikit membungkuk memberi hormat kepada Jenderal Purnawan. “Semoga hari-hari Anda menyenangkan Jenderal Purnawan Syailendra.”
Jenderal Purnawan mengangguk, beliau pun meninggalkan pabrik, dan melambai tangan kepada Pak Setiono yang sedang melakukan tugasnya.
Pak Setiono pun mengangguki lambaian tangan Jenderal Purnawan.
“Terimakasih dengan laporan Anda Mas Damar,” ucap Pak Setiono.
“Sama-sama Pak Setiono, meskipun saya harus menunggu lama untuk Anda melakukan pemeriksaan,” balas Damar, bersitatap dengan pria setengah baya yang berpakaian dinas lalu mengalihkan pandangannya menatap petugas yang sedang melakukan penggeledahan secara menyeluruh terhadap bahan-bahan mentah yang ada di dalam produksi pabrik PT Jaya Gemilang.
“Ada prosedur yang harus kami selesaikan terlebih dahulu Mas Damar,” kata Pak Setiono.
Damar manggut-manggut, “Tidak pa-pa Pak Setiono, maafkan atas ucapan saya, yang terpenting sekarang sudah ada tindakan tegas dari Bapak untuk menghentikan pelanggaran yang di lakukan oleh Presdir PT Jaya Gemilang.”
••
Di pelataran PT Jaya Gemilang, Damar menengadahkan wajahnya menatap langit biru terlukis indah dengan awan-awan putih dan burung terbang bebas, seperti dirinya kali ini. Akhirnya dapat meluluhlantakkan perusahaan si biang bandit tanah.
“Hari ini aku mau langsung pulang Mar, mau tidur sepuasnya!” kata Bokir, seraya menahan bahunya yang terasa berat.
•••
Bersambung...
__ADS_1