Presdir Cilok

Presdir Cilok
87 Mati satu tumbuh seribu


__ADS_3

Keesokan harinya..


Promosi gencar-gencaran sedang di lakukan oleh tim marketing pemasaran untuk memonopoli pasar perdagangan. Di setiap pusat perbelanjaan, pasar dan berbagai swalayan, dan langsung di pimpin oleh Presdir Amanah food.


“Bagaimana bisa saya akan bekerjasama dan memasok kebutuhan masyarakat dari produk King food yang jelas sudah bangkrut dan penuh dengan pemberitaan buruk?!” kata seorang pria berpakaian formal.


“Jadi Pak Bahar belum mengetahui jikalau perusahaan kami sudah berganti nama dagang?” tanya sekretaris dari Amanah food.


“Jelas saja, saya tahu. Tapi saya masih ragu, jika swalayan supermarket terbesar di Indonesia saya terancam karena menggunakan produk dari Anda,” kata Pak Bahar, selaku pemilik distributor untuk menjual produk kemasan di pasaran. Pria berkepala botak ini pun berdiri, “Maaf, Mas Damar, saya tidak bisa melakukan kerjasama ini.”


Damar ikut berdiri, “Baiklah, saya pun tidak akan memaksa Anda untuk menerima produk dari kami. Karena, meskipun Anda tidak menerimanya, produk yang Anda terima dari perusahaan lain pun sama, mereka mengolah dari bahan mentah yang sebenarnya tidak layak konsumsi.”


Pak Bahar membulatkan matanya menatap Damar, “Jangan hanya karena saya menolak menerima produk Anda, lalu Anda seenaknya saja memfitnah kalau perusahaan makanan yang bekerjasama dengan saya adalah ilegal!”


Pak Bahar pun menunjuk pintu ruangannya, “Silahkan Anda pergi dari perusahaan saya, sampai kapan pun saya tidak sudi menerima tawaran Anda!”


Damar mengangguk tipis membuang tatapan dan kembali menatap Pak Bahar dengan tersenyum simpul, “Bukan, bukan fitnah tentunya Pak Bahar,” Damar menatap Bokir, seseorang yang ia percaya untuk mengumpulkan bukti-bukti penyelewengan beberapa perusahaan makanan dan minuman olahan.


“Sebelum saya pergi dari perusahaan Anda, ada yang saya ingin tunjukkan kepada Anda, Pak Bahar,” lanjutnya lagi.


Dengan sigap Bokir menaruh map berwarna cokelat di atas meja.


Damar menatap Pak Bahar yang sedang menatap map cokelat, di atas meja, pria setengah baya ini bertanya dengan ketidaksukaan, “Apa ini maksudnya?!”


“Itu adalah daftar merek dagang yang mengandung bahan merkuri dan bahan kimia lainnya, termasuk narkoba yang ada di supermarket Anda, Pak Bahar,” pungkas Damar, setelah menerima informasi penting dari beberapa narasumber terkait perusahaan makanan dan minuman yang mengandung bahan kimia dan merkuri.


Pak Bahar masih menatap Damar dengan tatapan curiga, “Sekarang juga pergi dari ruangan saya!”


Damar, Wulan dan Bokir pun berjalan menuju pintu ruangan kantor Pak Bahar.


Namun, Damar menghentikan langkahnya saat melewati Pak Bahar, ia berdiri saling memunggungi dan berkata tanpa menoleh, “Orang-orang yang sulit membuat seseorang untuk damai adalah orang-orang yang masih memiliki sifat sombong, pencemooh, dan munafik. Jadi, tenang saja Pak Bahar, jika Anda tidak bisa berdamai dengan perusahaan saya. Saya akan pastikan bahwa supermaket Anda akan mengalami jumlah penurunan yang signifikan!”


Pak Bahar berbalik badan dan melihat Damar berjalan menuju pintu ruangannya dan keluar dari sana. “Apa sebenarnya maksud dari bocah tengik itu?!”



Di lobby perusahaan, Damar menghentikan langkahnya, “Apa setelah ini, kita bertemu dengan Pak Wisnu?”


“Benar,” jawab Wulan, Wulan melihat raut wajah Damar yang menunjukkan sisi kemarahan, atas penghinaan Pak Bahar, “Percayalah, setiap penolakan pasti akan ada penerimaan.”


Damar manggut-manggut, diselingi senyuman menatap sekretarisnya, “Terima kasih, sudah selalu memberiku semangat.”


Wulan mengangguk


“Mati satu tumbuh seribu,” seru Bokir, lalu menepuk pundak Damar. “Dan biarkan si Bahar yang menyesal dengan sendirinya.”


Damar, Wulan dan Bokir pun kembali melanjutkan langkahnya.


••


Di perjalanan, setelah dari perusahaan Pak Bahar yang berdomisili di daerah Bekasi-Jakarta.


Kini, Damar pun harus beralih menuju Cikarang Utara, untuk Kembali melanjutkan perjalanannya mengenalkan produk dari Amanah food. Kepada perusahaan-perusahaan raksasa yang bergerak di bidang distributor untuk mensuplai kebutuhan masyarakat di semua supermarket terbesar se Asian.


“Baiklah, saya rasa dengan memberikan Anda kesempatan kerjasama. Kedepannya perusahaan Amanah food akan lebih baik.” kata seorang wakil dari Direktur pasar se Asian.


“Terima masih Tuan Hasan, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik.” jawab Damar.

__ADS_1


“Maaf, karena Pak Wisnu tidak dapat bertemu dengan Anda,” kata Tuan Hasan.


Damar tersenyum, “Tidak apa-apa Tuan Hasan, saya sangat mengerti jika beliau sangat sibuk,”


Pak Hasan pun mengangguk, “Selebihnya akan di urus oleh staf saya, karena saya harus meeting dengan para kolega bisnis lainnya,”


Damar pun beranjak, “Baik, Tuan Hasan. Terima kasih.”


Tuan Hasan pun pergi dari hadapan Damar, ia berjalan keluar dari restoran dan diikuti beberapa stafnya yang lain.


Dan kini seorang staf, mengambil alih tugas yang diberikan atasannya untuk mengurusi prosedur kerjasama dengan perusahaan Amanah food.


Setelah mendapatkan tanda tangan kontrak, Damar, Wulan dan Bokir. Kembali melanjutkan perjalanan, dengan mobil yang di kemudikan oleh seorang supir kantor.


Wulan memandangi wajah Damar yang terlihat pucat dari samping, “Sepertinya Anda tidak sehat? Apa perlu saya memesan hotel untuk Anda beristirahat,”


Damar memejamkan matanya lantas menggeleng, “Tidak perlu, aku baik-baik saja, langsung pulang ke Jogja,” ia menyadarkan kepalanya di sandaran kursi mobil,


Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, namun sudah beberapa kali menghubungi Didi si staf yang menjadi mata-mata tidak juga tersambung.


“Gimana Mar?” tanya Bokir, menoleh ke arah Damar.


Damar menggeleng lesuh, sebelum Damar menaruh ponselnya. Dering ponsel pun terdengar, ia menjawabnya tanpa menatap layar ponselnya, “Halo..”


“Damar, kamu lagi dimana? Aku lagi ada di ruangan kantor mu?” jawab seseorang diseberang sambungan telepon.


Damar seketika membuka netranya dan menjauhkan ponsel dari telinga, dan membaca nama yang tertera di layar monitor ponselnya, ‘Direktur Angelina’. Lantas mendekatkan ponsel kembali ke telinga. “Sedang apa Anda di ruangan kantor saya, Nona.”


“Kamu lupa, kalau kamu punya janji sama aku?” jawab Angelina yang saat ini sedang berada di ruangan kantor Damar.


Damar terperanjat, sampai menyundul antap mobil, “Aduh...” erangnya, seraya mengusap kepalanya.


Wulan yang duduk disebelahnya pun membelalakkan matanya, melihat tingkah Damar yang aneh.


“Nggak, nggak pa-pa! S--sejak kapan? Kenapa kamu bisa berada di dalam ruangan kantorku?” tanya Damar.


Kening Wulan mengerut, ‘Siapa yang menghubunginya? Apa Direktur cantik itu?'


“Sejak pagi tadi, aku kangen sama kamu,” jawab Angelina, seraya mengedarakan pandangannya, menatap seluruh isi di dalam ruangan kantor Damar.


“Apa?” seru Damar, lagi-lagi membuat Wulan, Bokir dan seorang supir terkejut. ‘Wah, nih cewek terang-terangan.'


“Lewat pintu mana?” tanya Damar limbung.


Angelina terkejut dengan pertanyaan Damar, ia pun menatap pintu ruangan Damar yang terbuka oleh seseorang. “Ya lewat pintu ruangan kamu, sudah yah, ada Paman Bambang. Aku tunggu kamu pulang,”


“Apa! Paman?” seru Damar, dengan mendengar Angelina menyebut manajernya dengan panggilan ‘Paman.


Sambungan telepon pun terputus.



“Paman kan sudah bilang, kalau Damar nggak ada di kantor,” kata Pak Bambang, kepada keponakannya.


“Kenapa Paman nggak bilang, kalau Paman bekerja dengan Damar?” tanya Angelina, “Kalau aku tahu Paman bekerja dengan Damar, aku kan nggak perlu capek cari-cari dia!” sambungnya lagi, dan berjalan lalu duduk di sofa hitam.


“Memang apa hubungan mu dengan Damar?” tanya Pak Bambang menyelidik.

__ADS_1


Angelina tidak menjawab pertanyaan Pamannya, ia malah bertanya ke hal lain, “Paman, apa Mas Damar sudah punya pacar, pasangan, atau istri?” tanya Angelina lalu mendekati Pamannya yang masih berdiri di dekat pintu.


Pak Bambang mengangkat bahunya, “Mana Paman tahu, Paman di sini kan buat bekerja Angel, bukan mengurusi asmaranya.” Pak Bambang memegang handle pintu, “Tapi, dia pemuda yang baik, kalau kamu menyukainya, Paman setuju.” pungkas Pak Bambang lalu keluar dari ruangan Presdir.


Angelina pun tersenyum sumringah, dan mengikuti langkah Pamannya, “Ah.. sepertinya aku benar-benar menemukan jodohku.” gumamnya.


“Paman, aku pulang dulu,” ucapnya pada Pak Bambang.


“Hati-hati..” jawab Pak Bambang.


Meskipun kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Damar, namun Angel merasa masih punya waktu besok dan seterusnya untuk menyambangi kantor Damar.


••


Damar kembali meletakkan ponselnya di samping ia duduk.


Wulan memejamkan matanya, menahan gejolak rasa. Ingin bertanya, tapi bukan urusannya.


Akhirnya pertanyaannya, dapat terwakili oleh Bokir yang bertanya, “Siapa, Mar”


Tanpa adanya perasaan peka terhadap Wanita yang sedang menatapnya, Damar menjawab. “Angelina.”


Bokir mengangkat alisnya, “Sepertinya, dia tertarik denganmu, jika di luar bisnis dia menghubungimu,”


Damar mengangkat bahunya.


Sedangkan Wulan lebih memilih mendiamkan diri, memejamkan matanya dan berpura-pura menuli.


••


Delapan jam sudah Damar, Bokir dan juga Wulan sampai di perusahaan pukul 00:45 waktu setempat. Setelah melewati perjalanan jauh dengan melewati jalanan tol bebas hambatan.


“Mas Damar, saya pamit pulang.” kata supir kantor. Lalu memberikan kunci mobil perusahaan kepada Bokir.


“Terima kasih Panji,” ucap Damar, kepada supir kantor yang biasa membawa truk kontainer perusahaan antar Provinsi.


Panji pun mengangguk dan berjalan kearah motornya yang terparkir.


“Aku juga pulang Mar, capek juga walaupun gantian nyetir.” kata Bokir, lesuh. Lalu berjalan menuju motornya yang terparkir.


Namun, seorang satpam penjaga lari tergopoh-gopoh menghampiri Damar, “Mas, Mas Damar..” suaranya terbata-bata, gugup yang ia rasakan.


Bokir yang semula sedang berjalan menuju motornya pun berbalik


“Kenapa Pak Eko?!” tanya Damar ikut gusar.


“Ada seseorang terluka parah di depan pintu gerbang utama!!” sengal Satpam..


Damar, Wulan dan Bokir pun membelalakkan matanya.. “Apa?!”


Damar segera berlari menuju pintu gerbang utama masuk area perusahaan..


•••


Bersambung...


Jika berkenan silahkan mampir di karya terbaru saya.. Ini adalah adaptasi komik menjadi novel.

__ADS_1



__ADS_2