
“Ehemm... baik, aku mau ngucapin makasih buat teman-teman semua, terutama teman band Musik Jalanan. Zidan, Juna, Siska dan yang lainnya.. Yang sudah memberi ku izin untuk memegang mic ini..” sapa Damar, kepada para teman-temannya yang menghibur para audiens Tugu Pal Putih.
Semua teman Damar yang beranggotakan lima orang dari band Musik Jalanan pun mengangguk tipis, sebagai tanda membalas sapaan Damar, mantan dari vokalis Musik Jalanan yang sekarang sudah di gantikan Zidan.
Terlebih Siska, wanita cantik mirip seperti Ariel Tatum ini sangat senang, senyumnya melebar, matanya berbinar-binar sudah lama juga Siska tidak bertemu dengan Damar, sang pujaan hati.
“Spesial, aku mau membawakan lagu untuk seseorang yang sangat penting di hidupku,” tukas Damar, menatap kepada para penonton yang memadati lokasi yang di jadikan sebagai pertunjukan musik live. Sekilas melirik kearah Siska, teman duetnya dahulu.
Hemm... kata ‘penting' membuat Siska yang berdiri di dekat Damar nampak salah paham. Ia merasa ucapan Damar di tujukan untuk dirinya. Wajahnya bersemu merah, netranya semakin berseri-seri, laksana seorang Dewi khayangan.
“Kenapa nggak istimewa aja?!” salah seorang pengunjung, yang duduk lesehan paling depan pun bertanya kepada Damar.
Damar mengangkat alisnya, ia berpikir sejenak seraya menggaruk pelipisnya. “Iyah, karena dia memang lebih dari sekedar istimewa,” cetus Damar. Ia menatap lurus ke arah Wulan yang duduk lesehan di antara orang-orang. “Karena, dia sangat penting. Tanpa dia, hidupku seperti halnya siang tanpa matahari, dan malam tanpa bintang. Peteng ndedet (Gelap gulita)” sambungnya, bersyair tanpa sadar, mengucapkan kata-kata puitis sudah seperti seorang musafir cinta.
“Aih.. meleleh, lumer hatiku Damar,” cetus Siska, berdiri mendekati Damar.
Damar mengerjap heran menatap Siska, ia kembali menatap para audiens, khususnya wanita yang telah menjadi tambatan hatinya.
“Ini spesial, untuk istriku Nawang Wulan.” ucap Damar menunjuk Wulan dengan tangannya yang terbuka, sontak semua orang pun menatap kearah Wulan.
Wulan menoleh ke kanan dan kiri, kini ia menyadari sedang mendapatkan banyak perhatian dari kebanyakan orang yang menatapnya. “Dasar Kang Cimar, sinting! Kan aku jadi malu.”
Siska, wanita cantik ini tercengang bagaimana dan mengapa Damar menyebut seorang istri? Apakah pria ini sedang bercanda? Bahkan pernikahan Damar pun tak pernah terdengar di telinganya. “I--istri?!” gumamnya, menatap Wulan. Seorang wanita yang menurut Siska tidak asing. Yah, dalam gemerlapnya lampu-lampu sorot, ia dapat mengingat bahwa wanita yang di sebut Damar sebagai seorang istri, adalah wanita yang datang di pernikahan Ratna.
Alunan gitar yang dipetik dari tangan Juna pun mulai menggema, serta alat musik lainnya mulai menyelaraskan alunan melodi lagu yang di pinta oleh Damar, lagu yang di populerkan oleh Seventeen berjudul Menemukanmu.
Separuh langkahku saat ini
Berjalan tanpa terhenti
Hidupku bagaikan keringnya dunia
Tandus tak ada cinta
Hatiku mencari cinta ini
Sampai kutemukan yang sejati
Walau sampai letih 'ku 'kan mencarinya
Seorang yang kucinta.....
Dalam hatinya Siska gremat-gremet, ingin mempertanyakan perihal tentang sebutan istri yang di sematkan Damar pada wanita yang bernama Nawang Wulan.
Damar pun bernyanyi memasuki reff...
O-o-oh
Kini 'ku menemukanmu
__ADS_1
Di ujung waktu 'ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku
Di antara orang-orang yang melihat Damar bernyanyi, Wulan tersenyum tipis, dengan memiringkan sedikit kepalanya, memandangi sang suami yang juga sedang menatapnya. Namun, konsentrasinya mendengar lagu yang dinyanyikan Damar harus ambyar, kala ponsel yang sejak tadi mendiami tasnya bergetar. Wulan merogoh tasnya, ia melihat nama yang tertera di layar monitor ponselnya, tiga panggilan tak terjawab dari Bokir. “Hah, udah tiga panggilan!” gumamnya terkejut, karena situasi sangat ramai dan riuh, Wulan sampai tidak menyadari ponselnya berdering.
Suara Damar, menggema di sound sistem yang terdapat di depan panggung.
Kini 'ku t'lah bersamamu
Berjanji 'tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama 'tuk selamanya...
Fokusnya bernyanyi pun pecah, saat melihat istrinya menjauhi kerumunan. Damar masih memantau Wulan dari kejauhan sedang menerima telepon. Sekian menit kemudian, ia melihat Wulan berjalan dengan langkah jenjang menuju kearah panggung, dimana ia sedang berdiri.
Bersamaan dengan Siska yang sudah berdiri di hadapan Damar, ia memandangi Damar. Seorang pria yang sudah membuatnya memendam rasa, Siska butuh kejelasan, butuh waktu untuk mengerti dan memahami apa yang dikatakan Damar adalah benar.
Sementara Damar masih fokus menatap Wulan, yang berjalan terus menghampirinya. Damar pun berjalan menuju tepian panggung hendak menyambut sang istri, namun langkahnya harus terhenti tatkala Siska sudah menghadang langkahnya.
Siska tersenyum merekah dengan sangat manis memandangi Damar, seolah di area tempat diselenggarakannya musik live ini, hanya ada dia dan Damar seorang.
Wulan menaiki panggung yang hanya setinggi lutut orang dewasa, sekali tarikan tangan. Ia menyingkirkan wanita yang berdiri berhadapan dengan Damar.
Wulan menoleh kearah Siska. “Maaf, aku nggak ada urusannya sama kamu.”
Damar terkejut dengan sikap Wulan. “Nawulku ada apa?”
“Kita harus pergi sekarang!” kata Wulan, menyambar tangan Damar.
Damar terkejut dengan ajakan istrinya yang terlihat panik.
Siska tidak terima atas tindakan kasar Wulan yang menyingkirkannya, Siska gantian menarik lengan Wulan. “Eh.. kamu kok nggak ada sopan santunnya yah?!”
Wulan menghela nafas, dalam keadaan genting ia tidak ingin meladeni wanita yang ia ingat, bernama Siska. “Mbak Siska kan aku udah bilang maaf, Mbak Siska nggak punya telinga?!”
“Eh, kamu kok nyolot banget sih? Emang sebenarnya kamu itu siapa? Dateng-dateng langsung nyambar tangan Damar?” sergah Siska bertanya.
Wulan memutar bola matanya jengah, saat Wulan akan menjawab Siska. Damar sudah lebih dulu menengahi kedua wanita yang terlihat sedang bersitegang.
“Sudah-sudah.. Sis, dia istriku,” pungkas Damar menjelaskan lagi kepada Siska.
Tubuh Siska menegang, seolah gendang telinganya terpalu. “I--istri, jadi dia beneran istri kamu, Mar?”
Seketika ketegangan Wulan dan Siska menarik perhatian orang-orang yang berada di atas panggung juga menarik perhatian para audiens penikmat musik live Tugu.
__ADS_1
Kini Wulan menyadari satu hal, bahwa Siska memang tidak tahu jikalau ia sudah menikah dengan Damar. Oh bodohnya, melupakan Siska dari daftar tamu yang di undang dalam acara resepsi sederhana yang di gelar.
Juna, sebagai seorang teman dekat Damar yang sudah mengetahui perihal pernikahan Damar pun beranjak, sontak membuat lagu yang sedang dimainkan oleh kawan-kawannya pun berhenti. “Udah Sis, Damar emang udah nikah, dia nggak nyebar banyak undangan pernikahan.”
Siska mendengus kesal, dan mendekapkan tangannya di dada.
“Kita harus pergi sekarang!!” ajak Wulan masih memegang tangan Damar dengan suara panik.
Damar mengerjap heran. “Memangnya ada apa?”
“Ayok cepetan, nanti aku jelasin.” sergah Wulan, lalu menarik Damar untuk turun dari atas panggung.
Sebelum meninggalkan panggung, Damar memberikan mic kepada Juna. “Maaf Jun,”
Juna mengangguk tipis.
Damar pun melambaikan tangan kepada kawannya yang lain, dan kembali hanya mendapatkan anggukan kecil dari kawan band lokal Musik Jalanan.
Juna tersenyum menatap kepergian Damar, ia sudah diberitahu kalau Damar sudah menikah dengan Wulan, wanita yang di cium oleh Damar secara paksa; Sungguh jodoh itu misteri.’ benaknya bermonolog. Juna pun mengalihkan atensinya kepada Siska yang terlihat kecewa memandangi Damar. Ia tersenyum simpul, ‘Sudah saatnya kamu buka hatimu, Sis.’
Damar manut saja di tarik tangannya oleh Wulan, ia tersenyum sumringah menatap istrinya dari belakang. Entah, ada perasaan istimewa melihat Wulan seperti ini, ia beranggapan bahwa Wulan sedang cemburu terhadap Sisak. Damar pun menghentikan langkahnya membuat Wulan ikut berhenti.
“Memangnya ada hal penting apa? Sampai kamu menyeretku dari atas panggung?” ujar Damar, bersitatap dengan Wulan.
“Kita harus cepet ke Amanah food!” tukas Wulan.
Damar terkejut. “Memang, memangnya ada apa sama Amanah food?”
“Tadi Bokir ngabarin ada hal yang nggak beres di sana!” jawab Wulan, panik.
Kali ini Damar membulatkan matanya. “Apa?! Ya udah ayok cepet kita ke sana sekarang!”
Damar dan Wulan pun berjalan menyebrangi jalan menuju motor Vespanya yang terparkir di seberang jalan, persisnya di tempat jasa penyedia jasa parkir. Saat sampai di tengah jalan, Damar menyadari ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menerobos rambu lalu lintas yang masih menyala warna merah.
“Wulan!!” sekali hentakan Damar mendorong Wulan, hingga istrinya itu terhempas dan jatuh tersungkur di bahu jalan.
”Aaaaa....” kejut Wulan berteriak dan terjatuh di jalanan beraspal sampai keningnya membentur pembatas jalan, Wulan meringis sakit, ia pun menoleh kearah Damar, menyadari ada mobil brutal melaju dengan kecepatan tinggi seketika.... “Damar!!!” teriak Wulan, membelalakkan matanya membulat sempurna melihat suaminya tertabrak mobil yang melaju kencang, Damar terhempas keras tubuhnya menghantam aspal.
Seperti kilat petir menyambar, dengan setengah kesadarannya Damar menatap Wulan yang tengah berteriak memanggil namanya. Matanya memerah, darah keluar dari mulutnya, sampai pada akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Semua orang yang sedang lewat maupun pengendara bermotor yang berhenti di jalan zebra pun turut serta menyaksikan kejadian tabrak lari yang di lakukan oleh pengendara mobil yang melaju kencang, sekencang angin tornado. Ada beberapa dari pengendara motor yang melakukan pengejaran terhadap pengendara mobil yang ugal-ugalan.
“Damar!!” Wulan berteriak histeris memanggil suaminya yang terkapar bersimbah darah di tengah-tengah jalanan. Ia mencoba berdiri, namun naas kakinya terkilir dengan dahi yang memar.
Orang-orang yang lewat segera membantu Damar, dan sebagian membantu Wulan.
•••
Bersambung...
__ADS_1
♠
Maaf karena beberapa hari libur...