Presdir Cilok

Presdir Cilok
37 Beliau menangis


__ADS_3

Jadikanlah diri anda seperti bunga teratai yang indah, meskipun air dibawahnya kotor dan keruh.



Pak Bambang, Bokir dan juga Wulan dapat melihat dengan jelas kegelisahan yang tergambar dari postur tubuh dan raut wajah Damar saat ini.


•••


Damar memejamkan matanya dalam-dalam dan mengambil nafas serta menghembuskannya agak kasar. Sesabar mungkin Damar menyampaikan sesuatu yang bergelayut dalam pikirannya,


"Begini Pak Bambang, saya hanya ingin kepada intinya langsung. Apa maksud Pak Bambang mengundang saya kesini? Dan apa hubungannya dengan kedua orang ini yang sudah ketahuan memata-matai saya? Apa sebenarnya hubungan mereka dengan Anda?”


Rentetan pertanyaan Damar, ia utarakan sudah seperti raper, dan menanyakan perihal Bokir dan juga Wulan. Namun, belum usai ia mengatakan sebagian dari uneg-unegnya. Pak Bambang lebih dulu menyela ucapannya.


"Mas Damar, sebelumnya saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud membodohi Anda," ujar Pak Bambang.


Damar menggeleng, "Kenapa Bapak harus minta maaf kepada saya? Pak Bambang tidak melakukan suatu kesalahan apa pun sama saya! Justru Pak Bambang sudah membantu saya dengan memborong semua cilok saya kemarin,”


Damar menjeda ucapannya, ia mengatur nafasnya.


Pak Bambang, Bokir dan juga Wulan mendengar penuturan Damar dengan seksama. Tiada yang menyela


“Dan apa maksud Pak Bambang menyebut saya dengan sebutan Anda? Apa pula maksudnya dengan membodohi? Saya rasa, saya sudah membuang waktu saya disini, maaf Pak Bambang.” lanjutnya, hendak melangkahkan kaki.


Pak Bambang membulatkan matanya, melihat Damar hendak pergi lantas menghentikan langkah Damar, "Sebentar, Mas Damar!”


Damar berhenti melangkah bersamaan dengan pintu berwarna hitam terbuka, dan menampakkan seseorang yang membuka pintu.


Pak Bambang, Bokir, Wulan dan Damar pun melihat pintu yang terbuka.


Seorang pemuda berpakaian formal layaknya seperti pakaian kantor. Keluar dari dalam ruangan dan berjalan lalu berdiri di samping pintu.


Memberi jalan kepada seorang lelaki yang sudah terlihat sepuh berjalan dengan tongkatnya yang sama-sama menghentak di lantai berwarna cokelat kayu. Baru beberapa langkah keluar dari ruangan, beliau pun berhenti dan melihat seorang pemuda yang memakai baju kemeja navy dan celana panjang hitam. Mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Damar memutar badannya yang semula menyamping dan fokus kepada Lelaki sepuh yang dilihatnya. Dengan sedikit memiringkan kepala dan menggigit bibir bawahnya,

__ADS_1


‘Siapa dia, kenapa wajahnya tidak asing?'


Damar kembali tegak dengan mimik wajah bingung.


Lelaki sepuh berpakaian batik dipadupadankan celana panjang warna cokelat muda dan kaca mata minusnya kembali berjalan mendekati Damar. Dan kembali menghentikan langkahnya, berdiri dengan jarak satu setengah meter di hadapan Damar.


"Damar.” ucapnya.


Damar hanya diam dan mengangguk melihat lelaki sepuh di hadapannya menyebut namanya.


Lelaki sepuh dengan tongkatnya kembali berjalan dan mendekati Damar. Tanpa aba-aba beliau menjatuhkan tongkatnya terhempas ke lantai dan merentangkan kedua tangannya lalu merangkul Damar.


Damar memutar kepalanya, menatap Pak Bambang, beralih menatap Bokir dan juga Wulan dan kedua orang yang berada lantai empat yang sama. Tak luput seorang pemuda yang masih berdiri di depan ruangan berpintu hitam.


Lelaki sepuh itupun mengurai pelukannya, dan menatap Damar dengan mata yang basah. Damar mengerutkan keningnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


‘Beliau menangis?'


"Sudah lama, Kakek menunggu mu Nak,” kata lelaki sepuh kepada Damar.


"Sebentar! Pak Bambang ini sebenarnya ada apa? Tolong jangan membuat permainan teka-teki ini?” tanya Damar, kebingungan sekaligus keheranan tidak dapat terelakkan lagi. Ia butuh penjelasan untuk menelaah lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi.


Sesampainya di ruangan dengan nuansa warna biru dan putih yang mendominasi. Serta satu set sofa hitam dengan sekat kaca untuk menghubungkan antara ruangan lain dalam satu ruangan. Dan juga beberapa rak almari yang tersusun rapih buku-buku dan map berwarna warni serta berkas yang memenuhi almari.


Kini Damar, Pak Bambang, dan lelaki sepuh serta Bokir juga Wulan duduk di sofa hitam yang berada di tengah-tengah ruangan berluaskan lapangan futsal.


"Kamu masih ingat nama Kakek? Damar, orang yang pernah kamu tolong?” tanya Lelaki sepuh kepada Damar yang duduk berjarak satu meter dari Beliau.


Damar sedikit memiringkan kepalanya ia sedang menyusun rangkaian puzzle memori dalam ingatannya. Merasa tidak menemukan jawabannya Damar menggeleng.


Lelaki sepuh ini pun menggelengkan kepalanya, heran, "Ibumu tidak pernah menceritakan tentang keluarga dari Ayahmu?”


Damar menggeleng


Lagi-lagi lelaki sepuh ini memejamkan matanya, netranya menatap Damar dengan sorot mata yang berkaca-kaca. Lalu beralih menatap lukisan ikan koi yang terdapat di dinding ruangan.

__ADS_1


"Lalu apa kamu pernah mendengar nama Bagaskara Wijaya?”


Damar diam dan merasa pernah mendengar nama itu?


Melihat Damar hanya diam saja membuat lelaki sepuh berkaca mata minus semakin geram.


"Gusli terjerat cinta buta wanita tidak tahu diri itu. Kenapa bisa anak durhaka itu rela meninggalkan keluarganya hanya untuk menikahi wanita penghibur malam dan yatim piatu, macam Suciati!”


Mendengar makian dari Lelaki sepuh menyebut nama Almarhum Bapaknya dan juga Ibunya membuat Damar seketika mengingat nama yang pernah disebutkan Ibunya.


"Bagaskara Wijaya.” ucap Damar.


"Iyah. Saya mengingat nama itu sekarang, jadi Anda yang bernama Bagaskara Wijaya yang tidak memberikan restu kepada Bapak dan Ibu untuk bersama.” lanjut Damar dengan sangkaannya.


Lelaki sepuh yang bernama Bagaskara Wijaya inipun melepas kaca matanya lalu menaruh di meja kaca memanjang di depannya. Kembali menatap Damar menarik garis keriput di pipinya tersenyum kepada Damar.


"Hanya itukah? Yang di katakan wanita tidak tahu diri tentang keluarga Wijaya?” lagi lelaki sepuh ini bersuara dengan suara tegas.


Pak Bambang, Bokir dan Wulan yang berada di ruangan yang sama pun hanya diam, melihat ketegangan yang terjadi. Ruangan bernuansa putih Cristal bercampur biru laut seakan memanas. Duduk tidak jauh dari Damar dan juga lelaki sepuh yang terlihat sedang menahan amarahnya.


"Cukup!” kata Damar seraya beranjak dari duduknya di sofa hitam. Dan bersitatap dengan lelaki sepuh.


"Saya disini bukan untuk mendengarkan makian Anda terhadap Ibu saya!” jeda beberapa detik Damar beralih menatap Pak Bambang yang nampak terkejut dengan ketegangan ini.


"Pak Bambang, tolong jelaskan kepada saya? Apa maksud dari semua ini?” tanya Damar.


"Maafkan saya Mas Damar, Tuan Bagaskara Wijaya lah yang telah meminta saya, agar Anda bersedia datang kesini, dan beliau juga yang mengajukan kerjasama dengan Anda.” jelas Pak Bambang mengungkapkan apa maksud dan tujuannya.


Damar manggut-manggut tipis, "Maafkan saya Pak Bambang, saya tidak bersedia melakukan kerjasama ini.” kata Damar ia pun berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Kakek belum selesai bicara Damar!” hardik lelaki sepuh dan menyebut dirinya Kakek kepada cucunya yang baru dua kali ini ia temui.


Damar menghentikan langkahnya, dan berbalik. Ia menatap lurus kepada Kakeknya. Dan berujar dengan ketegasan,


"Kakek! Hhh... Sejak kapan saya mempunyai Kakek yang telah tega memaki dengan perkataan hina terhadap Ibu yang telah melahirkan cucunya. Apa Anda tidak merasa malu telah mengakui Anda adalah Kakek saya? Sedangkan dalam diri saya mengalir darah dari wanita yang Anda hina?”

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2