
Di rumah sakit..
Kini Damar tengah mendapatkan perawatan intensif. Biar bagaimanapun sakitnya, ia harus bisa menahannya. Menahan dari segala penjuru derita yang kadang tak terkira. Menelisik silsilah hati yang tertusuk duri kehidupan. Damar menyadari kehidupan yang ia jalani sekarang berbeda dari kehidupan sebelum ia mengenal Ratna.
Mengetahui kecurangan Kusumo pada sang Ayah, menyadari sakit hatinya berbuntut panjang. Bukan memperkarakan status dirinya yang dikhianati oleh teman dan mantan kekasihnya, bukan pula menyerah, pasrah, dalam ketidak keberdayaan.
Kini ia lebih memilih pasrah, dan melaksanakan sholat isya dengan cara wudhu tayamum, yang pernah ia pelajari semasa kecil dahulu. Setiap untaian doa, ia panjatkan. Agar senantiasa diberi kesempatan untuk kembali menjalani hidup, penuh dengan semangat dan mawas diri.
Tidak ingin rengekan keluar, menguar dari hati dan pikirannya. Damar ingin Rasulullah menjadi suri tauladan dalam hidupnya. Ia juga ingin menjadi orang yang berani berpihak kepada kebaikan, menjadi pribadi yang ikhlas, pribadi yang menarik, pribadi yang mandiri, dan pribadi yang pantas untuk mendapatkan apa yang ia ingin dapatkan.
Kakek Bagaskara, yang sudah di beritahu Bokir atas penyerangan menantu dari keluarga Kusumo. Kini, beliau sedang duduk di sofa dalam ruangan cucu pertamanya di rawat. Beliau takjub, meskipun sedang dalam kondisi sakit. Namun, Damar tidak kehilangan konsentrasi dalam melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, meskipun di lakukan dengan gerakan terbatas dan di atas brankar.
Tatapan Kakek Bagaskara beralih menatap pintu yang terbuka dengan sangat perlahan, beliau melihat seorang remaja yang membuka pintu. Beliau berdiri, dan menghampiri remaja yang juga mendapat lebam di wajahnya.
“Danum!” seru Kakek Bagaskara lirih, beliau mulai memegang tangan remaja yang lebih tinggi darinya.
Danum yang belum sepenuhnya masuk kedalam ruangan tempat Kakaknya di rawat, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Menatap wajah seorang pria sepuh berkaca mata, guratan keriput terlihat jelas di wajah pria sepuh dihadapannya. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir lebamnya.
Kakek Bagaskara melepas genggaman tangan dari tangan Danum, beliau melingkarkan kedua tangannya merangkul cucu keduanya.
Bokir yang masih duduk di sofa, kemudian beranjak dan menjelaskan kepada Danum. Tentang siapa pria sepuh yang merangkulnya. “Beliau adalah, Tuan Bagaskara, beliau Kakek kamu Danum,”
Danum tertegun, ia bersitatap dengan Kakeknya yang telah mengurai pelukannya. Lalu beralih menatap Bokir dan mengedarkan pandangannya melihat Damar yang telah usai melaksanakan sholat. “Kakek?” Danum mengulangi kata ‘Kakek, meskipun sudah mengetahui sebelumnya. Namun, ia masih saja asing dengan sebutan itu.
Kali ini tidak ada sudut kesombongan yang Kakek Bagaskara angkuhkan, seolah ingin merangkul semua cucunya yang sudah lama terpisah, “Maafkan, Kakek. Karena Kakek terlambat menyadari bahwa kesalahan Kakek begitu besar,”
Kini, Danum, Kakek Bagaskara dan Bokir telah duduk kembali di sofa dan melanjutkan obrolan mereka. Tidak seperti Damar yang lebih dingin terhadap Kakeknya, Danum lebih ramah. Karena memang ia tidak tahu pokok permasalahan yang menyangkut Ibu dan keluarga Wijaya.
“Tidak ada yang namanya terlambat, Kakek. Selama itu masih bisa di perbaiki,” kata Danum.
Kakek Bagaskara mengulas senyuman di pipi keriputnya, ia tidak menyangkal. Bahwa wanita yang tidak beliau anggap sebagai menantu telah mendidik cucu-cucunya menjadi kedua pria yang bijak dan bertanggung jawab.
“Dengan belajar Kakek akan mengajar, dan dengan mengajar Kakek akan belajar. Bahwa selama ini pikiran Kakek memang tidak bijak mengenai pilihan Gusli. Karena kalian Kakek akan mencoba menerima Suciati sebagai menantu Kakek,” ucap Kakek Bagaskara.
Bokir, Danum dan Damar merekahkan senyuman mendengar perkataan yang Kakek Bagaskara lontarkan.
“Betapa pun kelamnya masa lalu, masa depan masih suci. Karena hati yang penyayang itulah kebijakan yang sesungguhnya.” kata Damar, bersitatap dengan Kakeknya dan beralih menatap adiknya. Damar merasa, inilah saatnya ia mempererat hubungan silahturahmi antara keluarga Wijaya dan Ibunya. Dan siap bertemu kembali dengan Nenek Ayudia bersama dengan Danum. Menyembuhkan penyakit psikisnya.
“Damar memang bijak! Belajar dari mana Mar?” tanya Bokir.
Damar geleng-geleng kepala, “Belajar dari kehidupan Kang, setiap kehidupan dan masalah yang kita lalui. Meninggalkan begitu banyak jejak pembelajaran agar kita senantiasa selalu bersyukur dan bersikap dewasa. Karena tingkat kedewasaan seseorang bukan terletak dari sudut pandang umur, tapi dari pola pikirnya,”
Bokir mengangkat kedua tangannya, tanpa risih ada Kakek Bagaskara. Mengacungkan kedua jempol untuk Damar dan bersorak gembira, “Wah-- wah--- cakep banget yang beginian nih. Saya suka, saya suka!!!”
__ADS_1
Kakek Bagaskara geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Bokir, yang menjadi orang kepercayaannya. Sedangkan Danum dan Damar mesam-mesem tidak jelas.
Bokir menyadari tatapan Kakek Bagaskara yang seolah mengintimidasinya, lantas menarik kembali kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.
Damar beralih menatap Danum,
“Jangan beritahu Ibu, kalau aku sedang dirawat, Num.” pinta Damar pada sang adik.
Danum hanya bisa mengangguk, ia berjalan mendekati brankar dan duduk di tepian ranjang brankar, pemandangan yang sangat miris. Danum memandangi wajah Kakaknya yang penuh dengan lebam, dan perban. “Apa semua masalah harus di selesaikan dengan cara seperti ini Mas?”
Damar menghela nafas panjang, “Tidak semua, hanya pada suatu titik tertentu, agar orang-orang yang merendahkan kita tahu, kita juga bisa marah!”
“Tidak baik Mas, saling menyimpan dendam dan amarah. Karena rasa benci akan terus ada jika Mas Damar terus menyimpannya, ikhlaskan dan biarkan berlalu, itu melegakan hati dan pikiran,” kata Danum bijak, sangat mengharap Kakaknya bisa hidup damai seperti sebelumnya, sebelum mengenal Ratna dan keluarga Kusumo si sumber masalah.
Damar memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas berbau obat rumah sakit lalu menghembuskannya perlahan, “Jangan khawatir Num. Hidup adalah petualangan Magnum, mumpung masih muda saat menghadapi problem, kita tidak akan menjadi pribadi yang kuat jika kita mudah mengeluh, merengek apalagi putus asa!”
Kakek Bagaskara beranjak, beliau lantas mendekati kedua cucunya berdiri di tengah-tengah pemuda yang sangat berbeda sudut pandang, Danum lebih bersikap lembut sedangkan Damar lebih bersifat pantang menyerah. “Benar apa kata Kakak mu Danum, musuh kita akan semena-mena jika kita hanya diam,”
Tangan kanan Kakek Bagaskara bertumpu pada pundak Damar dan tangan kiri bertumpu di pundak Danum, “Kalian tidak bisa membangun jiwa yang kuat dan baik, di atas jiwa yang lemah. Hati itu wajahnya jiwa, membangun jiwa yang kuat adalah membangun jiwa yang sadar. Jiwa perlu bertanya pentingkah apa yang kalian lakukan untuk masa depan?!”
Damar dan Danum manggut-manggut tipis, Bokir yang melihat pemandangan mengharukan ini tak kuasa menahan rasa haru air matanya, namun ia segera menghapus jejak air mata yang tanpa permisi membasahi pipinya.
Pintu pun terketuk, bersamaan dengan seorang wanita yang memakai pakaian piyama berwarna navy polos, dan membawa parsel buah di tangannya. “Assalamualaikum...” salamnya di ambang pintu, dengan rikma separuh yang di jepit ke atas.
Terutama Bokir, ia sampai terkejut mendapati keramahan dari seorang wanita yang setiap hari berperilaku super dingin dan jutek. “Tumben, kamu pakai acara salam, Lan?!” nyinyir Bokir, tidak biasanya Wulan akan mengucap salam sebelum masuk pintu. “Hemm.. curiga saya?”
“Oh, salah kalau seorang Nawang Wulan ngucapin salam, ya udah aku balik lagi.” kesal Wulan kepada Bokir, hendak membuka pintu kembali.
Bokir beranjak dari duduknya, “Nggak--nggak usah semarah itu kali Lan, kan saya cuma bercanda! hehehe...”
Wulan melirik tajam kearah Bokir yang crengengesan, dan mendekati brankar, “Kakek!” sapa Wulan kepada Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara mengangguk tipis, “Kebetulan Wulan sudah datang, Kakek ada meeting malam ini jam sembilan, tolong temani Damar,” kata Kakek Bagaskara, beliau lantas beralih menatap Bokir. “Bokir, ada sesuatu yang perlu kamu urus, mari ikut saya!”
Bokir mengangguk, “Baik, Tuan.”
Kakek Bagaskara beralih menatap Damar, “Cepat sembuh, dan sesegera mungkin selesaikan rencana baru,”
Damar mengangguk
Kakek Bagaskara kemudian keluar dari kamar rawat Damar, diikuti oleh Bokir.
Danum pun beranjak dan berujar, “Mas, Aku jagain Ibu. Lagipula sudah ada Mbak Wulan yang menemani Mas Damar,”
__ADS_1
Wulan membulatkan matanya, “Lah--lah... kok aku di tinggal sendirian?!”
Damar menelaah ucapan Wulan, “Siapa yang ninggalin kamu sendirian, kamu nggak lihat aku?”
Wulan beralih menatap Damar, dan kembali menatap Danum. “Sudah yah, Mbak, Mas.. kasihan Ibu kalau nggak ada yang nemenin.” Danum melenggang pergi meninggalkan ruang rawat Kakaknya.
Kini hanya tinggal Wulan dan Damar yang ada di ruangan kamar inap, bukan kamar VIP. Namun, kamar rawat inap yang di tempati Damar memang hanya diperuntukkan untuk satu pasien saja.
Wulan terlihat sangat canggung, dengan situasi saat ini. ‘Hadeuh.. gue paling kagak suka situasi yang beginian, lebih seru lagi kalau gue lagi di gedung angker!’ gerutunya dalam hati. Namun, saat Wulan hendak berjalan menjauhi brankar.
Tangannya sudah di raih oleh Damar, membuat kegelisahan Wulan menjadi menjadi-jadi.
“Mau kemana?” tanya Damar.
Wulan gugup, ia menatap tangan yang di pegang oleh Damar. “Ma--mau duduk di sofa,”
‘Lah kenapa gue jadi gugup begini!’ selorohnya dalam hati.
Damar melihat buah di parsel yang masih di tenteng Wulan, “Itu buah buatku kan?”
Wulan mengikuti arah pandang Damar, dan melihat tangan kirinya yang masih menenteng parsel buah. Ia hanya mengangguk.
“Kupasin?” titah Damar.
“Lah, kupas aja sendiri?” enggan Wulan lantas menaruh parsel buah di atas meja samping brankar.
“Kamu nggak lihat, kondisi tanganku?” kata Damar, sembari melirik kedua tangannya yang di pasangi perban.
Wulan menghela nafasnya, akhirnya ia pun mengambil parsel buah kembali, dan mengupas jeruk. Wulan menyodorkan buah jeruk yang sudah di kupas ke hadapan Damar, “Nih...”
Damar melihat jeruk yang disodorkan Wulan, dan beralih menatap Wulan, “Suapin,”
Wulan membulatkan matanya, “Wah, ngelunjak nih orang!”
“Kan menolong orang sakit, dapat pahala,” tukas Damar.
Wulan mengerucutkan bibirnya, lantas menurutinya, tanpa berkata-kata lagi.
•••
Bersambung
Please Like, Vote, Komen dan Gift, biar saya semangat lagi untuk up 🙏🏼
__ADS_1