
Hakikat malam hanya sekadar pergantian waktu saat tenggelamnya matahari. Namun, bilamana terpesona lebih dalam lagi, Malam memiliki arti tersendiri dimana Tuhan ingin setiap insan menikmati dengan cinta-Nya melalui pemandangan keindahan bintang dan rembulan ketika saling bersanding berpasangan memantulkan cahaya pada langit malam yang cerah.
“Kenapa kamu lebih memilih tempat ini, dibandingkan tempat lain yang ada di Jogja?” tanya Wulan, tengah mengamati Tugu Golong Gilig. Atau yang sekarang lebih di kenal Tugu Pal Putih, nama lain dari bahasa Belanda De With Paal. Yang merupakan penanda batas utara kota tua Jogja.
Tugu Jogja atau sering disebut juga Tugu Pal Putih oleh masyarakat sekitar adalah monumen yang dipakai sebagai lambang dari Kota Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan jalan Jenderal Sudirman dan jalan Margo Utomo ini, memiliki nilai simbolis karena berada dalam satu garis lurus yang terhubung dengan Laut Selatan, Kraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.
“Seneng aja,” jawab Damar, ia berdiri di belakang istrinya yang duduk di atas tempat duduk dengan bentuk bulat yang sudah tersedia di sekitar Tugu Pal Putih. “Bukan hanya seneng deng, tapi lebih kepada.. mmmm...” Damar kemudian duduk di sebelah Wulan, dengan memandangi istrinya yang tengah menunggu jawaban.
“Mikirnya lama bener, bikin aku tambah penasaran?!” cetus Wulan, bersitatap dengan Damar, lalu mengalihkan pandangannya menatap Tugu.
Damar terkekeh kecil, melihat ketidaksabaran istrinya. “Iya, iya... aku bakal jawab,” ucapnya, seraya mencolek dagu Wulan. “Aku mengagumi nilai simbolis dari Tugu ini, begitu banyak jejak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilalui oleh masyarakat Jogja terdahulu untuk mempertahankan Tugu ini dari perubahan yang dilakukan Belanda. Sebenarnya tempat ini salah satu tempat bersejarah yang ada di Jogja,”
Wulan manggut-manggut tipis. “Begitu yah, aku merasa bisa ada di sini sekarang ini, membuatku menjadi orang yang paling beruntung.”
“Begitukah?” antusiasme Damar, menjawab. Ia tersenyum sumringah saat istrinya mengangguk singkat. “Aku kira, kamu lebih suka Jakarta, kan secara simbolis Jakarta lebih menjadi primadona?”
Wulan melirik sekilas kearah Damar, dengan tangannya menoel pipi suaminya ini. “Jakarta kan memang Ibukota Indonesia, ya tentu aja jadi primadona, bahkan tempat imigrasi dari berbagai masyarakat di Nusantara,”
Damar mengangkat alisnya, ia berpikir apa yang dikatakan istrinya memang benar. “Bukankah, memang Jakarta menjadi ikon pusat yang memperkerjakan di segala bidang?”
Wulan mengangguk. “Yap, dan salah satunya tempat singgah para artis-artis terkenal,”
“Kamu betah tinggal di Jakarta?”
Wulan tersenyum mendengar pertanyaan Damar. “Betah nggak betah, aku selalu belajar jadi orang yang selalu bisa menyesuaikan diri kaya bunglon,”
Damar terkekeh kecil. “Ahaha... bunglon? Bisa aja kamu...”
“Iya, karena aku memang selalu bisa, bahkan sekarang bisa banget bikin hatimu cenat-cenut, deg-deg seeerr begitu..” tukas Wulan, dengan gaya bicaranya yang sok jaim.
“Hahay... sekarang udah pandai bersyair nih, hebat kamu... iya memang aku akui, dua bulan menikah denganmu, sudah membuat hariku seakan penuh dengan warna,” oceh Damar, dengan gerakan bibir yang naik turun.
Pernikahan yang sudah melewati waktu dua bulan, Damar dan Wulan sepakat untuk tidak merayakan histeria resepsi pernikahan. Keduanya lebih memilih merelokasikan dana resepsi untuk menyantuni orang-orang yang lebih membutuhkan, seperti halnya kaum duafa dan anak yatim.
Mereka berpikir, bahwasannya kehidupan tidak hanya mementingkan ego sendiri. Akan tetapi, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar hura-hura di dunia fana.
“Kamu, tau..” ujar Wulan, duduk dengan sedikit menggeser ke samping, berhadapan dengan suaminya yang sedang menatapnya juga.
“Tau apa?” Damar seolah terpancing penasaran.
__ADS_1
Untuk sejenak Wulan terdiam, ia masih belum yakin tentang hal yang akan ia utarakan.
Melihat Wulan hanya diam saja, membuat Damar semakin tambah penasaran. “Bilang aja nggak pa-pa..” desak Damar.
Wulan mengedarkan pandangannya menatap rambu lalu lintas yang berwarna hijau, suara-suara dari knalpot kendaraan bermotor berseliweran. Seperdertik kemudian, ia menatap kilaunya netra Damar yang tersorot dari lampu-lampu yang menghiasi Tugu. “Ehmm... aku udah terlambat datang bulan.”
Damar heran, apa hubungannya dengan terlambat datang bulan. “Terus, kenapa?”
Wulan memanyunkan bibirnya, ia tidak menyangka bahwa suaminya ini tidak pekaan. “Kalau, sampai bulan depan aku nggak menstruasi, aku akan melakukan tes kehamilan.”
“Terus?” cetus Damar, mencari jawaban yang valid dari istrinya.
Wulan menghela nafas panjang, melihat Damar yang tidak kunjung paham. “Kalau aku melakukan tes kehamilan, lalu hasilnya menunjukkan garis dua, berarti aku positif hamil, Kang Cimar!”
Damar mengerjap-ngerjapkan matanya, dan sepertdetik kemudian ia tersadar, seolah tersengat lebah. “Be--berarti aku mau jadi Bapak?!” tanyanya tergagap.
Wulan menggeleng tipis, ia sendiri masih ragu. “Aku belum mastiin sendiri, jadi aku juga belum tau, positif apa enggak.” jawabnya polos, Wulan merasa kehidupan yang dilaluinya sekarang ini, seakan inilah ia benar-benar merasakan seutuhnya menjadi seorang wanita sejati.
Meskipun begitu, Damar tetap tersenyum sumringah laksana sayap burung merak lebar sampai terlihat deretan giginya. “Nggak pa-pa, semoga aja beneran kita bakal jadi orang tua... Kan, kasihan Nenek selalu nanyain kapan ada cicit, kapan ada cicit...”
“Ahaha...” Wulan terkekeh kecil, ia teringat tatkala Nenek Ayudia selalu mempertanyakan mengenai cicit, ia masih beruntung Kakek Bagaskara selalu bisa membujuk Nenek Ayudia agar lebih bersabar. Wulan melihat antusiasme Damar, membuatnya ikut semangat. “Amin, semoga saja.” ia meraup wajahnya dengan telapak tangannya.
Damar dan Wulan pun kembali memandangi bentuk Tugu yang sempat berubah setelah pada tahun 1867 terjadi gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta. Hal tersebut ikut serta membuat bangunan tugu runtuh. Di tahun 1889, akhirnya pemerintah Belanda memperbaiki bangunan tugu. Saat itu perbaikan tugu berada di bawah pengawasan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V.
“Tugu Pal Putih ini sudah menjadi saksi bisu berkembang pesatnya Kota Jogja sejak tiga abad lalu. Tugu bersejarah ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I pada 1755, setelah pembangunan Keraton Yogyakarta selesai.” jelas Damar, menerangkan siapa yang telah membangun monumen simbolis dari masyarakat Jogja.
Wulan kembali memandangi Damar, yang duduk dengan posisi menghadap dirinya. “Sama halnya setiap sejarah yang ada di Nusantara, juga meninggalkan begitu banyak jejak pembelajaran bagi masyarakat Indonesia, dan menjadi daya tarik dari mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.”
“Betul, betul, betul...” balas Damar.
“Apanya yang betul?” tanya Wulan.
“Ya tentu ucapan kamu, Nawulku.” sahut Damar, lalu beranjak dari duduknya lantas menggandeng tangan Wulan. “Sekarang, kita nikmati wedang ronde.”
“Ayok, aku juga pengen menikmati semua jajanan khas Jogja, selain gudeg,” kata Wulan antusias.
“Memang, gudeg jajan?” tanya Damar, bersiap-siap menunggu lampu hijau menggantikan lampu merah.
__ADS_1
“Kan manis, gudeg, bacem tempe, semua kan manis kaya jajan, hehehe..” sahut Wulan, seraya menyeberang jalan dengan menggandeng tangan Damar menuju ke area pedagang yang berjejer di sepanjang jalanan Tugu Pal Putih.
“Haha... ada-ada aja kamu.” celetuk Damar. Ia menggandeng dengan sangat erat, dan berjalan menyusuri pinggir jalanan melewati beberapa stam pedagang. “Kamu juga manis, apalagi kalau nanti kamu beneran hamil, terus badan kamu melar.. uhuuyyy jadi lebar, behh empuknya... nanti aku tidur nggak usah pakai bantal.” celotehnya, membayangkan jikalau beneran istrinya hamil dan berubah menjadi bolo-bolo.
Wulan terkejut dengan celotehan Damar. Ia bergidik ngeri jika benar, tubuhnya akan berubah menjadi melar... “Terus kalau nggak pakai bantal, pakai apaan?”
“Pakai paha kamu... ahaha...” kekeh Damar tertawa renyah.
“Ck, wkwkwk.... lucu yah?! ” Wulan mencebikkan bibirnya. “Kalau aku jadi melar dan nggak cantik lagi, kamu pasti bakal cari yang lebih bohai lagi kan-kan?!”
“Iya lah, cintaku bakal terbagi-bagi menjadi dua bagian...” sahut Damar sekenanya.
Wulan terperanjat mendengar jawaban Damar, ia mencubit lengan suaminya ini. “Tuh--tuhkan, bener... laki-laki tuh mahkluk hidup yang nggak bisa di percaya! Belum apa-apa udah mikir cari lagi!!” omelnya.
“Aaa...” Damar mengusap lengannya yang mendapat cubitan. “Jangan souzdon dulu, maksud aku tuh, ya di bagi ke anak-anak, begitu.” bujuk Damar, agaknya ucapannya sudah membuat sang istri salah paham.
“Awas nanti kalau macem-macem, pas aku beneran jadi melar bin lebar.. bakal aku gantung di pohon singkong..” kata Wulan penuh peringatan.
“Waduh.. nggak salah tuh pohon si'engkong, apa nggak kegedean, sekalian aja di pohon tomat.” jawab Damar, lalu duduk di bangku yang sudah disediakan, dan memesan dua porsi wedang ronde.
Seperti biasanya, Wulan mengacuhkan celotehan Damar.
“Pak, wedang rondenya dua..” ucap Damar kepada pedagang wedang ronde.
“Iya, Mas..” jawab pedagang wedang ronde.
“Pak, (seng setunggal jahene mboten katah-katah) yang satunya, jahenya jangan banyak-banyak..” ujar Damar.
Pedagang setengah baya inipun mengangguk. “Nggih (Iya) Mas..”
Tak lama wedang ronde pun siap, Damar memberikan wedang ronde yang sedikit kandungan jahenya kepada Wulan. Hangatnya wedang jahe, semakin menambah kesan romantis, seraya menikmati keindahan malam Tugu Pal Putih.
Setelah menghabiskan wedang ronde, kini Damar mengajak Wulan untuk menikmati musik live yang berada tidak jauh dari Tugu Pal Putih. Menjadi salah satu di antara banyaknya orang-orang yang ikut menyaksikan penampilan band lokal yang menembangkan lagu-lagu...
“Tunggu sebentar.” Damar beranjak yang semula duduk lesehan.. lalu berjalan menuju band lokal yang sedang manggung.
Wulan heran dengan apa yang dilakukan suaminya itu.. ia melihat Damar berbicara dengan pemuda yang mengiringi permainan lagu, sesaat kemudian Damar sudah memegang mic.
•••
__ADS_1
Bersambung....