Presdir Cilok

Presdir Cilok
55 Kebaikan tidak pernah bohong


__ADS_3

“Terus kenapa kalian mengerang dan mendesah? Perasaan Wulan nggak gampang takluk sama lelaki?” tuduh Bokir, semakin membuat Damar heran.


•••


“Ih.. Apaan mendesah dan mengerang?” sanggahnya lagi, tidak mengerti apa yang di maksudkan Bokir padanya. “Terus kenapa bisa tuh si Tuan Cristian menyangka kalau aku sudah menikah? Hasil dari perbuatan siapa itu? Gimana bisa menikah? Pacar aja aku nggak punya?” sergah Damar mengingat ia harus berbohong di hadapan investor nya, akibat isyarat mata dari Bokir.


“Ya itukan karena kamu sendiri sama Wulan, yang sudah melakukan sesuatu di ruangan ini!” tukas Bokir, masih mengira bahwa Damar sudah melakukan yang tidak-tidak dengan Wulan.


Damar mengangkat bahunya, “Sesuatu apaan?!”


Tepat saat itu pintu pun terketuk dari luar, “Masuk!” seru Damar.


Wulan membuka pintu dan membawa dokumen untuk Damar tandatangani.


Bokir mengikuti arah pandang Damar, ia lantas menyipitkan matanya menatap Wulan dari ujung kepala sampai ujung kaki yang hanya memakai sandal jepit.


Wulan merasa heran dengan cara Bokir menatapnya, “Heran, kenapa karyawan dan karyawati natap gue yah? Apa mereka nggak pernah lihat orang cantik pakai sandal jepit?” ucapnya.


Lantas meletakkan map di atas meja. “Ini, dokumen yang harus Anda tandatangani Tuan,” lanjutnya menyerahkan dokumen kepada Damar.


Damar mengangguki dan mengambil map yang di letakkan Wulan di atas meja. “Terimakasih.”


Bokir masih menatap Wulan dan Damar secara bergantian. Menimbulkan tanda tanya yang begitu besar.


Damar dapat melihat Bokir dari ekor matanya sedang menatapnya dengan keanehan, merasa terintimidasi oleh tatapan curiga Bokir, Damar mengalihkan tatapannya yang semula menatap dokumen beralih menatap Bokir, “Sumpah Kang Bokir, nggak terjadi apa-apa padaku dan juga Wulan.”


Wulan mengangkat alisnya, “Memang ada apa?”


Bokir merasa Damar jujur, namun berita panas ini dengan cepat menyebar bagaikan bola liar. “Saya percaya, tapi rumor kalian berbuat intim sudah merebak di area perusahaan. Dan menyangka kalau kalian pasangan suami istri yang belum lama kawin!” pungkas Bokir, menguarkan apa yang ada di pikirannya.


“Hahhh!” Wulan dan Damar terperanjat mendengar perkataan Bokir.


“Opo iki? Berita seko ngendi iku Kang?! (Apa ini? Berita dari mana itu Kang?)” sergah Damar, limbung.


“Ondemande! Macam mana pula berita itu datangnya dari mano?” kata Wulan berbahasa logat Medan.


Damar mengangguk, ia mengingat saat dirinya membantu Wulan memijit kakinya yang terkilir. “Hoh... Aku tahu! Rumor itu berasal darimana? Jangan-jangan pas aku bantu memijat kaki kamu sekretaris Wu!” seru Damar menunjuk Wulan yang masih berdiri tak jauh darinya duduk dengan Bokir.


“Wah.. wah ini nggak bisa dibiarin!” sergah Wulan, ia lantas hendak berjalan keluar ruangan Damar. Namun, segera dihentikan oleh Bokir.


Bokir berdiri dan menghadang Wulan untuk tidak keluar dan menjelaskan kesalahpahaman yang sedang terjadi. “Jangan Lan, jangan!”


Damar ikut beranjak dan menghampiri Wulan dan Bokir. “Kenapa jangan Kang, kan kesalahpahaman ini harus di jelasin?”

__ADS_1


“Tau nih!” ketus Wulan.


“Begini! kan tadi ada investor asing yang sudah menyetujui kerjasama dengan perusahaan ini. Terus kalau kalian kasih tahu sekarang, kamu mau Mar kehilangan kesempatan emas untuk bekerjasama dengan investor itu?” pungkasnya, menjelaskan pokok permasalahan.


“Terus siapa yang sudah bilang kalau gue sama Presdir kawin? Biar gue jitak tuh pala!” berang Wulan, dengan emosi yang seperti amukan sang raksasa.


Bokir membulatkan matanya, lantas menunjuk dirinya sendiri. “Saya... hehe...”


Wulan dan Damar heran akan kebohongan yang diciptakan oleh Bokir. Keduanya tidak habis pikir dengan cara Bokir menutupi kesalahpahaman yang terjadi.


Wulan mengayunkan tangannya siap menjitak kepala Bokir, namun segera di tahan oleh tangan Damar, “Sabar Wu! Sabar! Apa-pun permasalahannya harus kita selesaikan dengan kepala dingin.” sergah Damar.


Pria berkepala pelontos ini-pun menutup kepalanya yang pelontos laksana kepala Deddy Corbuzier dengan kedua lengannya, “Ampun, saya nggak ada pilihan Damar, Wulan. Selain mengatakan kalau kalian sudah menikah!” seru Bokir menjelaskan alasan ia berbohong kepada investor. Ia lantas membuka lengannya dari kepala, dan menatap Wulan serta Damar bergantian. “Habis kalian terdengar mendesah, gini suara kalian dari luar! Arhhhh... Damar pelan pelan! Gitu! Arhhhh.... wikwik!” jelasnya mencontohkan suara Wulan dan Damar. Dan menambahkan suara ‘wikwik.


Damar dan Wulan tercengang mendengarkan penjelasan Bokir. Keduanya saling tatap satu sama lain dan kembali menatap pria berkepala pelontos di hadapannya. “Mana mungkin suara kita begitu! Ngaco nih orang! Bikin kesel!” umpat Wulan berang.


“Bener! Suwer ter kewer-kewer!” sergah Bokir mengacungkan kedua jarinya melambai ke atas.


“Terus kenapa nggak ketuk pintu aja Bokir! Orang gue sama si nih Tuan cilok kagak ada apa-apa di dalam!” berang Wulan, sangat-sangat kesal akan otak pas-pasan Bokir.


Bokir tak menjawab, ia memang menyadari bahwa otaknya pas-pasan, “Sumpah, Lan, Mar. Aku cuma kepikiran hal itu doang, sumpah!”


••


Damar, Wulan dan Bokir Kembali duduk di sofa hitam. Mereka memandang kearah pandang yang berbeda.


Bokir menggeleng ia sudah menganalisis pengaruh buruk dari kejujuran yang akan Damar kemukakan, “Kamu bukan hanya kehilangan satu investor Damar, tapi semua perusahaan dan konsumen pun akan menganggap mu seorang Presdir pembohong! Dan nama dari perusahaan yang belum sempat stabil ini akan berujung bagaikan di ujung neraka!” jelasnya.


“Terus Kang Bokir mau mengawali karir dan kesuksesan dengan cara berbohong, apalagi berbohong kepada publik!” sergah Damar, tidak sependapat dengan Bokir.


Bokir menggeleng, “Bukan begitu maksud saya, Damar. Tapi nggak ada salahnya berbohong demi kebaikan.”


Damar lagi-lagi berbeda argumentasi, “Nggak Kang! Lebih baik aku damai dan ceria dalam kesehajaan dari pada gelisah dalam kelimpahan harta yang tidak jujur.” pungkasnya tegas, setegas Bung Karno saat berpidato. “Dan nggak ada dalam kamus kebijaksanaan yang membenarkan kebohongan adalah suatu kebaikan, Kang Bokir!” sambungnya lagi sedikit meninggikan suaranya.


Bokir membisu bagaikan kerupuk yang tertiup angin, melempem!


Damar menyadari suaranya sendiri yang sudah melambung tinggi, dan berbicara layaknya seorang majelis hakim kepada seseorang yang jauh lebih tua darinya. “Maaf Kang Bokir, aku tidak bermaksud berkata lantang.” lusuhnya bersuara lirih, lantas menundukkan kepala.


Wulan menatap Damar yang menunduk lesuh, membuat hati nuraninya tersentuh. Hatinya mulai melunak, “Orang pandai adalah orang yang menjadikan sesuatu yang rumit menjadi mudah.” ucapnya lalu mengedarkan pandangan menatap lukisan ikan koi, yang menjadi lambang keberuntungan.


Ikan koi dipercaya bisa membawa warga Tionghoa dalam ruang kehidupan yang sukses karena ikan koi disebut juga ikan dewa. Ikan berwarna cerah ini diharapkan juga membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Selain itu, ikan juga menjadi simbol umur panjang.


Damar dan Bokir menatap Wulan, “Lalu apa kamu menemukan solusinya Lan?” tanya Bokir.

__ADS_1


Wulan beralih menatap Damar dan kemudian menatap Bokir. “Biarkan untuk sementara waktu kesalahpahaman ini bergulir bagaikan bola panas yang menggelinding dengan sendirinya akan dingin dan menjadi abu, lalu menghilang bagaikan debu!”


Damar menatap Wulan, “Tapi ini akan menjadi sangat tidak menguntungkan bagimu, sebagai seorang wanita!” pungkasnya.


Wulan bersitatap dengan Damar, “Memang benar tidak ada yang namanya berbohong untuk kebaikan, yang benar adalah kebaikan tidak pernah bohong. Tapi kali ini saya akan melakukan kebohongan ini, anggap saja. Ini adalah balas Budi saya karena Anda sudah menolong saya semalam, dari preman hidung belang!”


Pungkasnya, Wulan tidak ingin ia merasa punya hutang budi kepada siapapun, yang nantinya hanya akan mengurangi kualitas hidupnya.


Bokir dan Damar menatap wanita yang ada di hadapannya. Geleng-geleng kepala atas keputusan Wulan mau ikut melakukan kebohongan yang diciptakan atas ketidaksengajaan.


••


Senja bergulir menyingsing di ufuk barat...


Semua karyawan pun kembali kerumahnya masing-masing, ada beberapa yang masih berdiri di depan area pabrik, sebagian ada yang menghibah atas rumor yang sedang terjadi.


Dan sebagian lagi tidak perduli.


Damar dan Wulan serta Bokir sedang bersiap-siap untuk pulang di ruangan mereka masing-masing.


Saat Wulan hendak melangkahkan kakinya untuk keluar ruangannya, tiba-tiba telepon di ruangannya berdering. Wulan kembali berbalik badan dan dengan sigap mengangkat gagang telepon. “Iya, dengan saya sekretaris Wulan.”


Wulan terdiam ia mendengar suara dari seberang telepon, seketika ia membelalakkan matanya. “Apa?” ucapnya terkejut, lalu mengedarkan pandangannya menatap keluar ruangan yang bersekat kaca lebar tembus pandang dan melihat Damar keluar dari ruangannya.


Wulan pun mengangguki suara yang masih ia dengar di sambungan telepon, “Baiklah, akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan beliau, atas kesediaannya bertemu dengan Presdir Anda, Nona.” ucapnya. Tak lama ia menutup telepon dan menaruh gagang telepon di tempatnya.


Lantas Wulan bergegas keluar ruangan memegang handle pintu stainless dan menarik pintu kaca, “Tuan Damar!” serunya memanggil Damar yang sudah berdiri di depan pintu lift.


Bersamaan dengan Bokir yang membuka pintu ruangannya sendiri.


Wulan menghampiri Damar dengan langkah jenjang, “Sekretaris Kusumo menghubungi saya, Dia ingin bertemu dengan Presdir dari perusahaan ini, Tuan.” ungkapnya.


Damar membulatkan matanya, degup jantungnya seperti habis lari maraton.


Bokir mendekati Damar dan juga Wulan, ia menepuk pundak Damar. “Ini kesempatan bagus, Damar! Kita bisa menyerang perusahaannya. Karena Bandit itu terlibat dalam kebangkrutan perusahaan ini.”


“Singa masuk perangkap!” seru Wulan.


Damar menatap Wulan dan Bokir secara bergantian, dan memantapkan hati serta posisinya kini. Reflek mengepalkan tangannya pertanda ia sudah siap untuk melancarkan aksinya.


Bokir menatap Damar dan beralih menatap Wulan, lantas tanpa sengaja ia mengedarkan pandangannya menuju kaki Wulan yang masih memakai sandal jepit. “Kamu masih betah Lan, memakai sandal jepit buluk itu?” seru Bokir.


Wulan refleks menatap sandal yang ia pakai, dan merasa canggung. “Ekhemm... Ini nyaman, iya sangat nyaman.” ucapnya mengalihkan kegugupan di pandang oleh Damar. Lalu melenggang masuk kedalam lift.

__ADS_1


•••


Bersambung..


__ADS_2