
Duduk di dalam warung milik Ibunya Juna yang biasa di panggil Emak. Kedua orang yang sudah ketahuan memata-matai Damar kini tidak bisa lagi berkutik. Dengan waspada Damar meminta agar Juna berdiri di dekat pintu warung.
Damar dapat mengingat kembali, ia merasa pernah melihat pria berkepala pelontos ini, "O--ho.. aku ingat. Aku pernah bertemu denganmu!” seru Damar, menunjuk pria berkepala pelontos.
Wulan membulatkan matanya, menatap Bokir. Bokir dapat membaca bahwa Wulan sedang memakinya dengan membaca isyarat mata Wulan.
"Siapa nama kalian?” tanya Damar, kepada kedua orang asing di hadapannya.
"Kalau gue nggak mau jawab, Lo mau apa?" jawab Wulan menatap Damar dengan sorot tajam, ia sangat membenci pemuda di hadapannya yang sudah berani menciumnya.
Damar mencondongkan tubuhnya dengan sedikit membungkuk mendekati wajah wanita yang sudah membuatnya penasaran. Saat ia mendengar wanita yang tidak dikenalnya mengaminkan doa ketika berdoa di depan kotak amal mushola.
Damar tidak mempercayai dirinya, bahwa kini ia lebih berani sudah mencium bibir wanita, apalagi wanita yang tidak ia kenal. Tercubit hatinya melihat raut wajah wanita yang sedang menatapnya seperti raksasa yang ingin menelannya hidup-hidup.
"Aih ... Wani nemen iki bocah! (Berani sekali nih anak!) Nggak tau apa kalau si Wulan macannya Intel!” gumam laki-laki berkepala pelontos yang duduk berjarak satu meter dari rekan mata-matanya, dengan tangan terikat ke belakang.
Netranya kini sama-sama bersitatap, tidak ada yang mau mengalah. Hingga Damar memutuskan kontak mata secara sepihak lantas mendekati telinga wanita di depannya yang belum ia ketahui namanya dan berbisik lirih,
"Kalau tidak mau menjawab, gampang! Maka aku akan mencium mu lagi, lalu aku akan mengunyah habis bibir seksi mu ini,”
Juna melihat Damar yang sekarang ini lancang, pasca putus dari Ratna. Juna hanya bisa geleng-geleng kepala dan bergumam,
"Gila bener si Damar. Habis putus dari Ratna kok jadi beringas begini. Tapi ada baiknya juga sih, kalau Damar jadi playboy!"
Wulan merasa sensasi geli di telinganya menerima bisikan dari pemuda yang sedang di awasinya. Wulan sendiri tidak menyangka lelaki yang terlihat kalem ternyata bisa searogan ini. Meskipun setiap harinya ia bergaul dengan laki-laki di tempat kerjanya sebagai Intel, sang pemburu informasi.
Dengan tangan yang diikat kebelakang, Wulan hanya bisa melakukan jurus tendangan, dan tersenyum menyeringai kearah Damar..
BUGH
"Aduh .... Gila bener nih cewek. Nggak bisa apa memperlakukan laki-laki dengan sedikit belaian?!” erangan Damar lagi-lagi mendapat tendangan dari kaki Wulan tepat di tulang kering kakinya.
"Hahaha sukurin loh....” seru Bokir, tertawa terpingkal-pingkal.
Juna yang sejak tadi serius melihat Damar dan wanita asing yang lagi-lagi menendang temannya, beralih menatap Bokir yang sedang tertawa.
"Woy ... Ketawanya begitu bener tuh. Untung rumah lagi sepi.” seru Juna, masih berdiri di dekat pintu.
Damar mengusap kakinya yang mendapat tendangan. Ia berdiri lagi meskipun masih menahan sakit.
"Eh tuyul, siapa namamu?” tanya Damar, kali ini bertanya kepada laki-laki yang memakai jaket hitam.
"Sembarangan ae kamu bilang aku tuyul. Aku punya nama, keles!” jawabnya.
"Ya udah, makanya kasih tau! Siapa namamu dan si cewek suka main tendang ini?” tanya Damar lagi, dengan suara tegas
"Bokir, aku Bokir asli Jogja sini,” ungkapnya mengatakan nama dan asli Jogja, yang Damar tidak bertanya asalnya dari mana.
__ADS_1
"Terus yang cewek ini,” ucapnya seraya menunjuk rekannya dengan dagu.
"Ini Nawang Wulan, asal Jakarta.” lanjutnya lagi mengungkapkan nama rekannya.
Wulan menatapnya jengah, "Kenapa lengkap bener sih, Bokir!”
Damar mengalihkan tatapannya yang semula menatap Bokir, kini menatap wanita yang ada di hadapannya,
"Oh Wulan... Pas banget, DamarWulan..” ucap Damar.
"Ck. Aneh!” celetuk Wulan.
"Terus siapa kalian? Kenapa mengikuti ku? Apa aku punya salah? Atau aku seorang mafia? Apakah aku seorang bandit narkoba? Cepat jawab!” rentetan pertanyaan Damar.
Wulan dan Bokir melek merem mendengar rentetan pertanyaan Damar, saling melempar tatapan bingung.
"Siapa juga yang memata-matai elu!” sanggah Wulan.
"Eh... kalian berdua! Jelas-jelas kalian memata-matai temen ku, siapa yang udah nyuruh kalian? Ayok cepet jawab?” seru Juna, masih setia berdiri didekat pintu untuk berjaga-jaga.
Damar kembali mendekati wajah Wulan yang berparas ayu seperti Selena Gomez. Dalam pikirannya yang mulai berpikiran ngeres, ia memandangi wajah wanita yang tidak dikenalnya seolah seperti magnet yang menariknya kuat-kuat agar selalu mendekat.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak ingin berlaku kasar terhadap wanita. Jadi mari permudah saja, siapa yang menyuruh kalian memata-matai ku?”
Kening Wulan mengerut, rasanya sulit untuk menelan ludahnya. Ciuman yang beberapa menit lalu menghujam bibirnya. Membuat detak jantungnya terasa gonjang-ganjing seolah badai petir sedang terjadi di dalam dirinya. "Menjauhlah dariku!”
Damar kini sadar posisi dirinya yang terlalu dekat dengan Wulan. Damar menarik diri dan berdiri tegak, "Maaf.”
"Kita di suruh ....” ucapan Bokir mengambang saat Wulan dengan cepatnya menghardiknya untuk tidak mengungkapkan apa motifnya memata-matai Damar.
"BOKIR!” sentak Wulan.
Seketika Bokir mengantupkan mulutnya, membuat Damar dan juga Juna heran, dan semakin curiga kepada dua orang yang baru diketahui namanya.
Pintu warung pun terketuk dari luar..
Tok Tok Tok
Damar dan Juna saling menatap, "Siapa Jun?”
"Emak, sama Bapak, kayanya mereka pulang dari kondangan.” Juna menjawab. Damar mengalihkan tatapannya, menatap Bokir dan Wulan bergantian.
"Lepas!” hardik Wulan.
"Tau nih, ayok lepasin kita.” kata Bokir ikut menimpali.
"Udah Mar, lepas aja mereka.” seru Juna, sebelum membuka pintu.
__ADS_1
Apalah daya Damar dengan sangat terpaksa, akhirnya mengalah membuka tali yang mengikat tangan Bokir dan juga Wulan. Meskipun ia belum tahu apa motif kedua orang ini membuntutinya.
Juna lantas memegang handle pintu dan membukanya cepat. Atau kalau tidak Emak akan mengeluarkan petir halilintar dari goa tenggorokannya, terlihat kedua orang paruh baya berbeda genre masuk kedalam rumah.
"Lama bener kamu Jun!” kata Emak. Tatapan Emak dan Bapak Juna pun beralih menatap Wulan, Bokir dan juga Damar.
"Oh, ada temenmu toh le,” kata Bapak.
"Ya sudah, silahkan di lanjut,”
Damar membalasnya dengan tersenyum ditambah sedikit basa-basi, untuk mengusir curiga dari tatapan Emak Teni.
"Mak Teni, Pak Bagong. Baru pulang?”
"Iya Mar, tadi kondangan di rumah Pak lurah.” jawab Emak Teni.
Wulan dan juga Bokir lantas berpikir untuk segera pergi dari rumah yang juga dijadikan tempat usaha warteg milik orang tua Juna.
"Kir, ayok dah kita pergi, sebelum Damar kembali menanyakan perihal siapa yang sudah menyuruh kita untuk memata-matai Damar.” bisik Wulan pada Bokir.
Bokir mengangguk, dan menunjukkan jarinya membentuk huruf O.
"Pak Le, Bu Le, kita pamit dulu yah.” ujar Bokir, kepada orang tua Juna.
"Oh.. sudah mau pulang, nggak ngobrol-ngobrol dulu sama saya gitu?” kata Pak Bagong.
Bokir tersenyum masam, "Hehe.. lain kali aja Pak Le,”
"Mmmm... Masih ada urusan lain Pak Le,” kali ini Wulan ikut menimpali.
"Baiklah, hati-hati yak di jalan.” kata Emak Teni, beliau memang terlihat sangat ramah, makanya tidak heran kalau warung nasi miliknya menjadi langganan banyak orang dikarenakan masakannya juga enak. Tapi ketika marah, suaranya menyamai kilatan petir.
Wulan dan Bokir pun keluar dari dalam warung sekaligus rumah orang tua Juna. Damar membuntuti keduanya keluar rumah dan menatap Bokir dan Wulan pasrah.
"Awas kalian, kalau ketahuan memata-matai ku lagi!” gerutu Damar, dengan suara di tekankan pada Bokir dan Wulan.
Bokir hanya mengangkat bahunya acuh, sedang Wulan hanya menatapnya dingin serta mengangkat satu alisnya.
Damar pun kembali masuk dan berpamitan kepada orang tua Juna,
"Damar juga pulang Emak Teni, Pak Bagong,” pamit Damar.
"Loh, kamu nggak makan dulu Mar?” tanya Emak Teni, yang sudah menganggap Damar sama seperti anaknya, Juna.
"Maturnuwun Emak,” jawab Damar.
Damar pun kembali mendorong gerobak ciloknya, menyusuri jalanan menuju pulang. Kali ini ia pulang agak kemalaman, sampai terlewatkan waktu isya. Damar masih berpikir, "Siapa kedua orang tadi, dan mau apa mereka?” gumamnya.
__ADS_1
•••
Bersambung