
Melihat wajah sang putri yang pucat dengan mata yang melotot, memaksa Kaisar Wei Huang beserta ketiga orang selir dan juga Qing Yuan bangkit dari kursi yang didudukinya, mereka berjalan ke arah gadis kecil itu, untuk melihat isi dari gulungan surat yang diberikan oleh permaisuri Ye Hua.
Kini mereka telah berdiri di belakang tubuh mungil Xuan Jian, sambil ikut membaca isi dari gulungan yang dijadikan hadiah oleh permaisuri Ye Hua, nampak mata mereka ikut melotot sebagaimana gadis kecil itu tadi. Bagaimana bisa seorang permaisuri Ye Hua memberikan hadiah berupa sebuah wilayah yang sangat besar, yang terletak di bagian utara kekaisaran bailu kepada Xuan Jian.
Uhuk...
Uhuk...
Kaisar Wei Huang beserta ketiga orang selirnya tiba-tiba saja terbatuk, sepertinya saat ini mereka harus menjaga jantung yang dimilikinya, agar tidak terjatuh dari tempat yang semestinya.
Apalagi setelah mendapatkan kejutan besar yang diberikan oleh permaisuri Ye Hua untuk Xuan Jian, membuat mereka bertanya-tanya. Apa maksud dari sang permaisuri sebenarnya? Dan apakah dia memiliki tujuan lain, setelah memberikan hadiah yang sebegitu besar?
"Yang mulia permaisuri, Apakah hadiah yang diberikan untuk putri kecil zhen tidak terlalu berlebihan? Mengingat wilayah bagian utara merupakan tempat yang sangat subur dan juga begitu kaya, tapi kau malah memberikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Putri Xuan Jian." tanya Kaisar Wei Huang, setelah dia berhasil menstabilkan kembali detak jantungnya yang tiba-tiba saja berpacu dengan sangat cepat.
Permaisuri Ye Hua langsung menyunggingkan senyuman manisnya, dia memang memiliki maksud tersembunyi dari sekedar memberikan hadiah kepada Xuan Jian. Matanya yang awas telah berhasil melihat setitik harapan dan juga ketertarikan dari putra kesayangannya terhadap gadis kecil itu, setelah selama 15 tahun terakhir putranya selalu menutup diri dan tidak pernah mau berdekatan ataupun berkenalan dengan gadis manapun.
"Permaisuri ini memang memiliki maksud yang lain, tidak hanya semata-mata memberikan wilayah bagian utara kepada putri Xuan Jian." jawab permaisuri Ye Hua tanpa merahasiakan maksud dan tujuannya.
Kaisar Wei Huang sejenak mengerutkan dahinya, sepertinya pria nomor satu di kekaisaran jiahu itu masih belum menyadari maksud dari permaisuri Ye Hua, meskipun sejak tadi sang permaisuri terus saja melirik ke arah belakang, tepat di mana suami dan juga putranya saat ini tengah duduk dengan sangat santai.
Tidak ada raut kecemasan di wajah kedua orang pria berlainan usia itu, selain karena sang kaisar yang memang memiliki sikap yang sangat dingin, pangeran mereka juga terkenal acuh dan tidak tersentuh.
"Katakan!" ucap Kaisar Wei Huang dengan sangat singkat.
__ADS_1
"Permaisuri ini menginginkan Putri Xuan Jian untuk menjadi calon permaisuri kekaisaran bailu di masa depan, mendampingi putra mahkota kami Zhang Liang yang akan segera naik tahta dalam 5 tahun ke depan. Bagaimana menurut anda, yang mulia Kaisar Wei Huang?" tanya permaisuri Ye Hua.
Mendengar hal itu sontak semua orang yang berada di aula langsung memelototkan matanya, mereka tak menyangka Jika ternyata permaisuri Ye Hua memberikan wilayah bagian utara kepada putri Xuan Jian, karena ingin melamar gadis itu untuk dijadikan calon permaisuri masa depan kekaisaran bailu.
Terlebih untuk pangeran Tian Li Wei yang saat ini langsung bangkit dari kursi yang didudukinya, dia benar-benar merasa sangat tersinggung karena permaisuri Ye Hua berani melamar gadis kecilnya, di hadapan keluarga besar istana kekaisaran longzhu saat ini.
Sebuah pertanyaan kecil terucap dari mulut Xuan Jian, sambil sesekali sudut matanya melirik ke arah pangeran Tian Li Wei.
"Apa yang bisa diberikan oleh putramu untuk gadis kecil ini, yang mulia permaisuri?"
Seorang pemuda tampan yang menggunakan topeng perak separuh wajah bangkit dari kursi yang didudukinya, dia pun berjalan ke arah permaisuri Ye Hua sambil menggendong tangannya di belakang punggung, tak lama dia pun berhenti dan langsung menjura di hadapan Kaisar Wei Huang beserta seluruh keluarganya.
"Zhang Liang memberikan hormat kepada yang mulia Kaisar Wei Huang beserta seluruh keluarga." ucapnya sambil membungkuk dengan posisi kaki kanan di depan dan tangan terkepal di depan dada.
"Pangeran ini tidak memiliki apapun untuk saat ini, selain pedang yang merupakan benda paling berharga untukku." ucap pangeran Zhang Liang seraya mengambil pedang yang tersemat di pinggangnya kemudian menyerahkan kepada Xuan Jian.
Putri kecil itu langsung menyunggingkan senyuman manisnya, kemudian menatap tajam ke arah Pangeran Zhang Liang seraya mengulurkan tangan untuk mengambil pedang yang disodorkan oleh sang pangeran.
"Bagaimana jika dengan nyawamu?"tanya Xuan Jian.
Pangeran Zhang Liang menarik nafas dingin, tak lama pemuda itu pun langsung memberikan jawaban dengan sangat tegas.
"Jika dengan cara seperti itu, bisa membuatmu menerima pangeran ini, maka lakukan saja." ucapnya seraya merentangkan tangan dan membiarkan Xuan Jian memilih bagian mana yang akan dia tusuk dengan pedang yang telah berada di tangan gadis kecil itu.
__ADS_1
Semua orang yang hadir di dalam aula langsung terpaku. Mereka terlihat menahan nafas, saking kagetnya dengan permintaan dari putri Xuan Jian.
Apalagi setelah mendengar jawaban yang sangat tegas dari mulut pangeran Zhang Liang, membuat semua orang langsung menatap sepasang muda-mudi itu dengan penuh takjub dan juga kepercayaan yang sangat tinggi.
"Apakah tuan putri benar-benar akan mengambil nyawa pangeran Zhang Liang?"
"Astaga... Ini benar-benar sangat indah."
"Wow.. Ternyata Pangeran Zhang Liang benar-benar seorang pria sejati, dia bersedia memberikan nyawanya sebagai pembuktian cinta terhadap sang putri."
"Oh.. Semoga aku bisa mendapatkan pemuda yang tampan dan juga memiliki cinta yang begitu besar, seperti pangeran Zhang Liang."
"Kuharap tuan putri Xuan Jian bersedia menerima Pangeran Zhang Liang."
Aula langsung ricuh begitu permintaan dari putri Xuan Jian diterima dengan senang hati oleh pangeran Zhang Liang, bahkan saat ini pangeran kedua dari kekaisaran Longzhu atau Pangeran Tian Li Wei terlihat memelototkan matanya, setelah mendengar tindakan bodoh yang dilakukan oleh pangeran Zhang Liang yang bersedia mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk sebuah pembuktian rasa cinta terhadap Xuan Jian.
Jleb...
Tiba-tiba saja terdengar suara tikaman, sehingga semua orang langsung melirik ke arah tempat kejadian, mata mereka langsung membulat dengan sempurna, setelah menyaksikan sendiri, bagaimana Xuan Jian menikamkan pedang yang berada di tangannya, tepat di jantung pangeran Zhang Liang, hingga sang pangeran langsung memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Permaisuri Ye Hua beserta sang suami langsung bergerak ke arah putra mereka dan berusaha untuk menyelamatkan sang pangeran, sedangkan Xuan Jian dengan santainya kembali menarik pedang yang berada di jantung milik pangeran Zhang Liang seraya mengibaskan lengan hanfunya untuk memanggil beberapa orang tabib agar segera melakukan perawatan terhadap pangeran Zhang Liang.
Wajah pemuda itu terlihat pucat pasi, namun senyuman manis mengambang dari bibirnya. Dengan susah payah, dia pun segera mengatakan dua kalimat yang membuat semua orang langsung tertohok di tempatnya.
__ADS_1
"Jangan keras kepala, jadilah Permaisuriku!" ucapnya.