
Xuan Jian berdiri dari kursi yang didudukinya, kemudian berjalan dengan sangat santainya ke arah Nona muda Chao, yang saat ini tengah terduduk di lantai, karena merasa sangat terkejut dengan kebenaran, jika yang telah dia singgung saat ini adalah seorang putri dari Kaisar Wei Huang yang terkenal sangatlah kejam.
Entah bagaimana tanggapan dari keluarganya saat mengetahui jika dia telah membuat keributan di sebuah kedai makan, dengan anak dari seorang penguasa kekaisaran.
Wajah Nona muda Chao terlihat sangat pucat, bahkan saat ini tubuhnya bergetar. Dia benar-benar telah kehilangan nyali, setelah mengetahui identitas dari orang yang saat ini berdiri di hadapannya sambil melengkungkan senyuman tipis, bahkan hanya untuk mengangkat wajahnya saja dia sudah tak memiliki keberanian, apalagi untuk bertindak sombong seperti yang telah dilakukan oleh para prajuritnya tadi.
Tentu saja hal itu membuat semua orang yang saat itu tengah makan di dalam kedai pun, melirik ke arahnya dengan pandangan sinis dan juga meremehkan.
"Ternyata Nona muda Chao hanya besar mulut saja, saat mengetahui jika lawannya merupakan seorang putri dari penguasa kekaisaran, Lihatlah reaksinya! Dia benar-benar seperti seorang pengemis, duduk di lantai dengan kondisi yang sangat menyedihkan." ucap salah seorang pengunjung sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kau benar! Bahkan tadi dia dengan sombongnya menyuruh para prajurit itu untuk mengusir kita semua, tapi begitu dia mengetahui bahwa orang yang hendak diusir ternyata memiliki identitas yang lebih tinggi daripada dia, Lihatlah! benar-benar menjijikan." ucap yang lain ikut menimpali.
Bahkan tak sedikit orang-orang yang mulai berbisik-bisik dan mencibir kelakuan dari Nona muda keluarga Chao itu, sehingga membuat sang Nona muda semakin tertekan, dia merasa sangat takut akan mendapatkan hukuman dari Xuan Jian dan juga keluarganya.
Tak lama beberapa orang prajurit kekaisaran muncul, Xuan Jian segera memanggil mereka dan memberikan sebuah perintah yang tentunya sangat sulit untuk ditolak.
"Prajurit...!" Panggil Xuan Jian.
Para prajurit itu pun segera mendatangi Xuan Jian seraya membungkukkan badan mereka dengan sangat hormat, mereka sudah tahu dengan sangat pasti jika apapun yang diucapkan oleh Putri Xuan Jian merupakan hukum mutlak bagi semua orang.
__ADS_1
Karena setelah kejadian saat di lapangan istana kekaisaran, semua mata dan telinga menyaksikan bahwa kata-kata Xuan Jian merupakan perintah yang tak terbantahkan.
Bahkan Kaisar Wei Huang akan selalu mengabulkan seluruh permintaan dari putrinya. Mengingat hal itu membuat semua orang pun kini tak lagi berani menatap ke arahnya, mereka segera menundukkan wajah dan memberikan hormat kepada Xuan Jian.
"Seret gadis bodoh itu ke kediamannya! setelah itu panggil bangsawan Chao untuk segera menghadap ke istana kekaisaran." ucap Xuan Jian.
Nona muda Chao itu pun tampak semakin ketakutan, dengan badan yang gemetar dia pun mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dan meraih kaki Xuan Jian.
"Ampuni hamba Tuan Putri, hamba benar-benar tak tahu jika orang yang disinggung oleh para prajurit merupakan seorang putri dari Kaisar, Tolong jangan perpanjang masalah ini." ucap Nona muda itu sambil berlutut di hadapan Xuan Jian.
"Apa kau pernah mendengar bahwa aku merupakan seorang yang pemaaf dan juga baik hati?" tanya putri Xuan Jian.
"Semua orang mengetahui jika aku adalah seorang yang sangat kejam, maka dari itu aku tidak akan pernah memaafkanmu bahkan keluargamu akan segera mendapatkan balasan atas seluruh kejahatan mereka terhadap orang-orang. Lihat saja nanti!" ucap Xuan Jian.
Nona muda Chao hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tak tahu bagaimana cara untuk meluluhkan hati Xuan Jian agar tak memberikan hukuman yang keras terhadap keluarganya, walau bagaimanapun ini merupakan kesalahannya, dia tak ingin seluruh keluarganya mengalami musibah hanya karena sebuah kebodohan yang telah diperbuatnya.
"Mohon ampuni keluarga hamba, tuan putri. Hamba bersedia menerima hukuman." ucap Nona muda Chao.
"Sayangnya tidak ada bantahan apapun! Yang aku katakan merupakan kewajiban yang harus kau penuhi, karena tadi kau telah menantangku, maka saat ini aku akan memperlihatkan padamu bagaimana caraku menghancurkan orang-orang yang sombong dan berani menggertak dan juga meremehkan orang lain." ucap Xuan Jian sambil menggerakkan kakinya untuk melepaskan cengkraman tangan dari Nona muda Chao itu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya...
__ADS_1
Dugh...
Bruk...
Tubuh nona muda itu pun tersungkur kembali di atas lantai, namun kali ini dia merasakan sakit di dadanya, karena ujung sepatu yang digunakan oleh Xuan Jian ternyata dengan sengaja menendang bagian vital, sehingga membuat nona muda itu pun meringis sambil memegangi dadanya yang sangat sakit.
Para prajurit yang telah diperintahkan oleh Xuan Jian pun dengan sangat cepat langsung menarik tangan nona muda itu dan menyeretnya dengan tanpa perasaan, bahkan saat ini mereka menggunakan tali untuk menyeret nona muda Chao sehingga tubuh gadis cantik itu akhirnya dipenuhi dengan berbagai macam luka, karena harus digusur dengan menggunakan kuda para prajurit.
Sedangkan Xiu Lan hanya tertawa terbahak-bahak. "Benar-benar pertunjukan yang sangat menakjubkan! ku harap di masa depan akan muncul lagi orang-orang yang sombong, sehingga kita bisa dengan cepat untuk memberikan pelajaran pada mereka." ucap gadis pelayan itu.
Orang-orang yang ada di sana sontak bergidik, mereka tak tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh gadis pelayan itu sehingga menganggap bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh para prajurit, atas perintah dari Xuan Jian adalah sebuah pertunjukan. Mungkinkah gadis pelayan itu telah gila? Hanya itu yang bisa mereka pikirkan saat ini, sedangkan Mei Ling hanya tersenyum tipis.
Diantara kedua orang lainnya Mei Ling adalah yang paling waras dan juga paling santai dalam menghadapi berbagai macam masalah, meskipun saat ini dirinya juga telah memiliki beberapa keahlian berkat didikan dan juga bimbingan yang dilakukan oleh Xuan Jian.
Meskipun kemampuan Mei Ling masih jauh jika dibandingkan dengan Xiu Lan ataupun Xuan Jian, nyatanya gadis pelayan itu juga saat ini telah memiliki keterampilan beladiri yang sangat tinggi, bahkan di bidang senjata Mei Ling sangat pandai dalam memanah ataupun bermain tombak, tak seperti Xiu Lan, yang lebih menyukai pedang. Mei Ling lebih suka menggunakan pertarungan jarak jauh dengan senjata sebagai alatnya.
"Ayo kita ambil pakaian yang tadi dipesan, setelah itu kita harus segera kembali ke istana." ajak Xuan Jian pada rekan-rekannya.
akhirnya kelima orang itu pun segera keluar dari kedai makan dan kembali ke toko baju tempat di mana tadi ujian telah memesan 20 setel pakaian untuk Kedua saudara Xiu Lan.
__ADS_1