
Desas-desus di istana pun ramai dibicarakan saat ini, beberapa orang pelayan dan juga prajurit yang telah mengetahui, jika dua orang menteri telah dicopot jabatannya, karena terbukti telah melakukan kecurangan, akhirnya melebar hingga ke mana-mana, sehingga membuat rakyat mengetahui dan langsung merutuki kedua menteri itu.
Mereka sangat bersyukur karena akhirnya Kaisar Wei Huang bertindak, sehingga mereka tak lagi harus membayar pajak dalam jumlah yang sangat mahal, akibat dari persekongkolan kedua orang menteri tersebut.
Hal itu tentu disambut baik oleh rakyat, bahkan mereka pun tak segan-segan menjadi saksi untuk menguatkan bukti yang dimiliki oleh kaisar Wei Huang, beberapa orang rakyat juga menunjuk para bangsawan yang ikut serta menindas kehidupan mereka, sehingga membuat wajah para bangsawan itu pun akhirnya sangat pucat. Mereka begitu takut dengan hukuman yang akan dijatuhkan oleh kaisar Wei Huang.
Akhirnya rapat pun kembali dilanjutkan, saat ini ada 3 orang bangsawan yang ternyata ikut bersekongkol dengan kedua orang menteri yang telah dicopot jabatannya, Kaisar Wei Huang pun memutuskan jika ketiga orang bangsawan itu, akan dihukum di penjara bawah tanah.
Sedangkan untuk keluarganya, sama seperti keluarga para menteri, mereka akan diusir dari kekaisaran dan seluruh harta kekayaan milik mereka akan disita dan menjadi milik istana. Setelah menghabiskan waktu hampir tiga kali pembakaran hio, akhirnya rapat itu pun segera berakhir, Kaisar Wei Huang mempersilahkan kepada para pejabat dan juga bangsawan yang tidak berhubungan dengan kecurangan itu untuk pulang ke kediaman masing-masing.
Sementara itu saat ini, di atas sebuah dahan pohon yang lumayan besar, terlihat seorang gadis tengah memegang apel di tangan kanannya, meski begitu matanya melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan segala yang terjadi saat ini di istana kekaisaran.
Tiba-tiba saja tanpa suara, seorang pemuda muncul dan duduk di samping gadis itu. "Apa yang kau lakukan, Xiu Lan?" tanya si pemuda sambil menatap wajah Xiu Lan.
Gadis itu terlihat sangat kaget karena ada yang mengetahui keberadaannya, "Kau? Apa yang kau lakukan di sini? tanya Xiu Lan.
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Xiu Lan?" tanya si pemuda yang ternyata adalah Ming Xiu Ya.
"Aku? Tentu saja aku datang ke istana ini untuk memetik apel." ucap Xiu Lan sambil menunjukkan apel yang ada di tangan kanannya, kemudian gadis pelayan itu pun segera menggigit apel itu dan mengunyahnya.
Ming Xiu Ya menatap Gadis itu dengan keheranan, "Apakah semua koin emas yang kuberikan padamu saat itu telah habis, sehingga kau lagi-lagi mencuri atau jangan-jangan apakah kau memiliki sebuah kelainan sehingga sangat menyukai milik orang lain?" tanya Ming Xiu Ya kembali dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
Mendengar hal itu Xiu Lan hampir saja tersedak apel yang dimakannya, Apa yang dipikirkan oleh si pemuda sehingga menganggap dirinya seperti itu?
"Jika memang ada yang gratis, Lalu kenapa aku harus mengeluarkan banyak koin emas hanya untuk sekedar makan? Bukankah pohon apel di istana ini terlalu banyak? sangat sayang rasanya jika tidak dinikmati!" Jawab Xiu Lan dengan asal-asalan.
"Ternyata perkiraanku selama ini tidak salah." ucap Ming Xiu Ya.
"Apa maksudmu?" tanya Xiu Lan sambil memelototkan matanya.
"Sebenarnya kau memiliki koin untuk membeli makanan, hanya saja kau terlalu pelit, sehingga lebih memilih untuk mencuri dibandingkan membeli makanan." ucap Ming Xiu Ya dengan pandangan yang sangat sinis.
Xiu Lan langsung mendengus, mendengar ucapan dari pemuda itu dia pun seketika berdiri di atas dahan pohon sambil bertolak pinggang.
"Hai! Apa maksudmu mengatakan aku pelit? Bukankah saat itu aku pernah memberikanmu dua kantong koin emas?" ucap Ming Xiu Ya membela diri.
"Kau memberikan koin emas itu padaku, karena aku telah memberikan informasi yang sangat penting untukmu. Harusnya kau juga mengirimkan banyak makanan ke rumahku, agar aku tidak perlu repot-repot datang ke istana ini hanya untuk mengambil satu buah apel."ucap Xiu Lan tak kalah sengit.
Dia pun segera melesat dengan cepat meninggalkan Ming Xiu Ya yang hingga saat ini masih terbengong-bengong mendengar jawaban dari Xiu Lan.
Pemuda itu bagaikan seorang yang bodoh saat mendengar ucapan terakhir dari Xiu Lan, Bagaimana mungkin dirinya mengirimkan banyak makanan? sedangkan Ming Xiu Ya tidak mengetahui, dimana Xiu Lan tinggal? Akhirnya pemuda itu pun menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya, nampaknya dirinya memang tak akan pernah menang, jika berdebat dengan seorang Xiu Lan.
Akhirnya dia pun segera meloncat dari dahan pohon dan kembali menapak di atas tanah, dia akan segera menemui keluarganya dipelosok desa, untuk membicarakan tentang perekrutan Xiu Lan.
__ADS_1
Ternyata diam-diam Ming Xiu Ya telah menaruh hati pada gadis itu, meskipun Xiu Lan terlihat seperti seorang gadis yang sangat barbar, namun dia juga mengagumi kemampuan yang dimiliki oleh gadis itu dalam hal bertempur maupun berdebat.
Seakan tidak ada satu orang pria pun yang bisa menang melawan dirinya, Ming Xiu Ya masih belum menyadari jika saat ini dirinya tengah tertarik pada seorang gadis, sehingga dia selalu menampik fikiran, jika dia telah jatuh cinta.
.
.
.
Xiu Lan terus menghentak-hentakkan kakinya di atas tanah, saat ini dia tengah jengkel dengan perilaku pria, yang baru saja dikenalnya beberapa hari yang lalu. Jika saja dia tahu bahwa Ming Xiu Ya adalah seorang yang sangat menyebalkan, dia tidak mungkin akan berkenalan dengan pemuda itu, saat dalam pelarian setelah dia berhasil mencuri roti dari toko milik bangsawan Mu.
Gadis itu pun menggembungkan pipinya, membuat dia terlihat semakin menggemaskan, Xuan Jian yang memperhatikan secara diam-diam dari kejauhan pun mengerutkan dahi, melihat kelakuan gadis itu. Dia benar-benar tak habis fikir dengan tingkah tak masuk akal Xiu Lan.
"Ada apa denganmu, Xiu Lan?" tanya Xuan Jian sambil mendekati gadis pelayan itu.
Xiu Lan segera menekuk wajahnya, saat ini dia telah benar-benar kehilangan mood baiknya, kemudian Xiu Lan pun menceritakan pertemuannya dengan seorang pemuda menyebalkan yang bernama Ming Xiu Ya.
Mendengar hal itu, Xuan Jian pun langsung tertawa terbahak-bahak, dia tak menyangka jika Xiu Lan memiliki berbagai macam akal agar tak nampak seperti seorang mata-mata.
"Cukup! Jangan tertawa lagi! Aku benar-benar sangat kesal saat ini!" ucap Xiu Lan seraya berjalan menjauh dari Xuan Jian yang masih belum berhenti menertawakan dirinya.
__ADS_1