
Para prajurit kekaisaran jiahu akhirnya sampai di tempat para perampok itu, dengan segera mereka pun menghentikan langkah kaki kudanya, kemudian menunggu kedatangan dari orang yang saat ini mereka cari.
Salah seorang anak buah perampok itu akhirnya memunculkan diri, dan menemui para prajurit itu. Awalnya dia berniat untuk memeriksa isi dari salah satu kereta barang yang dibawa oleh para prajurit, namun langkahnya segera dihentikan, sehingga membuat wajah pria itu langsung menghitam.
"Dimana pemimpin kalian?" tanya salah seorang prajurit, pria yang ditanya tentu saja langsung berang.
"Tunjukkan semua barang yang kalian bawa, setelah itu aku akan segera memberitahukan ketua, jika kalian telah berada di tempat ini." ucap pria itu.
Namun para prajurit bukanlah orang yang mudah dibohongi, sambil melengkungkan senyuman tipis, salah seorang prajurit itu pun segera meloncat dari kudanya kemudian berdiri berhadapan dengan pria itu.
"Panggil pemimpinmu segera dan lakukan pertukaran dengan cepat. Kami masih harus mengunjungi tempat para bandit untuk menyelesaikan semua permasalahan dan membawa kembali kedua orang selir yang telah kalian culik." ucap salah seorang prajurit dengan sangat santainya.
Dia bahkan tidak terlihat ketakutan sedikitpun, meski saat ini rombongan para perampok itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka.
"Ciih! Kalian benar-benar sangat memuakan! Tunjukkan semua harta yang kalian bawa, setelah itu baru aku akan mengatakan dimana ketua saat ini." ucap pria itu lagi.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara salah seorang prajurit yang berada di barisan belakang, sepertinya dia mulai merasa jengah dengan kelakuan pria itu, yang sejak tadi seolah terus saja menahan kedatangan para prajurit, agar tidak memasuki tempat para perampok itu.
"Sepertinya selir yang mulia tidak berada di sini, akan lebih baik jika saat ini juga kita segera pergi untuk menemui para bandit itu dan menyelesaikan semua pertukaran dengan cepat. Lagi pula saat ini pesta di istana kekaisaran masih belum selesai." ucapnya.
Rekan-rekan prajurit yang mendengar ucapan dari pemuda itu segera mengangguk, mereka setuju untuk meninggalkan markas para perampok dan langsung menuju markas bandit yang tak jauh dari tempat itu.
Namun tiba-tiba saja sebuah suara yang sangat serak terdengar, menghentikan langkah para prajurit yang baru saja berbalik badan.
"Tunggu!" ucap pria itu sambil berjalan mendekat ke arah para prajurit.
"Siapa kau?" salah seorang prajurit langsung bertanya tanpa berbasa-basi sedikitpun.
"Bukankah kalian datang untuk mencariku?" tanya pria paruh baya itu.
"Oh..! Jadi rupanya kau adalah ketua dari para perampok itu? Sekarang tunjukkan di mana selir yang mulia Kaisar? Setelah itu kita lakukan pertukaran dengan sangat adil." ucap prajurit.
__ADS_1
Awalnya ketua perampok itu seolah tidak setuju dengan tawaran yang diajukan, namun sepertinya saat ini dia tak memiliki pilihan lain, daripada para prajurit itu langsung menuju tempat bandit yang saat ini tengah mengurung selir Xiao Xia, akan lebih baik jika dirinya saja yang mendapatkan harta terlebih dahulu dari Kaisar Wei Huang, lagi pula dia juga saat ini menyekap salah seorang selirnya di salah satu ruangan yang berada di lantai 2.
Ketua perampok itu pun segera memberikan kode kepada salah seorang anak buahnya, untuk segera membawa selir Feng Ling dan menunjukkannya kepada para prajurit kekaisaran Jiahu, tak lama salah seorang pria langsung segera masuk ke dalam sebuah rumah yang terbuat dari bambu untuk menjemput sanderanya.
Selir Feng Ling muncul dengan kondisi tangan terikat, pakaiannya telah terlihat kotor dengan rambut yang acak-acakan, membuat para prajurit yang melihatnya langsung memelototkan mata. Entah apa yang telah dilakukan oleh para perampok itu, terhadap wanita Kaisar, sehingga penampilannya berubah drastis seperti seorang korban pelecehan saja.
Para prajurit pun langsung melayangkan tatapan tajam ke arah ketua perampok itu, yang saat ini hanya tersenyum tipis, sekolah menunjukkan kemenangannya, karena telah berhasil merusak wanita milik Kaisar Wei Huang.
"Bukankah sebelumnya aku telah mengatakan bahwa kalian harus datang secepatnya, jika tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu? Tapi lihatlah, bahkan kalian terus mengulur waktu hingga datang terlambat, jadi jangan salahkan aku jika menyentuh wanita itu." ucap si ketua perampok dengan wajah yang menunjukkan kesombongannya.
Para prajurit yang mendengar ucapan dari pria itu tentu saja tak terima, dengan secepat kilat mereka pun segera melayangkan serangan ke arah ketua perampok, hingga membuat anak buah perampok itu akhirnya berdatangan.
"Dasar sial!" ketua perampok itu pun akhirnya berdecak sebal melihat kelakuan para prajurit, dengan segera dia pun mengambil pedangnya dan bersiap membendung serangan musuh.
Pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi, apalagi saat ini para prajurit kekaisaran jiahu terlihat sangat emosi, mereka tak terima jika selir Feng Ling diperlakukan seperti iti. Bukan hanya karena dia merupakan istri dari Kaisar Wei Huang, namun juga karena alasan kemanusiaan.
Salah seorang prajurit tiba-tiba saja langsung berteriak, memberikan komando kepada rekan-rekannya. "Habisi semua perampok dan ratakan tempat ini dengan tanah!"
Mendengar hal itu, para prajurit yang lain pun langsung bergerak dengan sangat cepat. Mereka mulai mengayunkan pedang yang berada di tangan mereka, dan memberikan serangan yang sangat mengejutkan.
Trang...
Trang...
Trang...
Suara pedang berbenturan terdengar terus bersahutan, antara kelompok perampok hutan dengan para prajurit kekaisaran jiahu. Bahkan saat ini para prajurit merangsek semakin maju untuk memberikan serangan yang lebih besar lagi kepada para perampok, yang sejak tadi terus saja menganggap enteng kemampuan mereka.
Trang...
Trang...
__ADS_1
Trang...
Brugh...
Terlihat beberapa orang anak buah perampok itu mulai berjatuhan, setelah mendapatkan serangan yang sangat membabi buta dari para prajurit. Tubuh mereka seolah remuk, terkena hantaman tinju yang sedemikian kuat. Meskipun lawan yang saat ini dihadapi hanyalah seorang prajurit kekaisaran, nyatanya memiliki nyali dan juga kemampuan yang begitu besar, sehingga tak segan-segan untuk mendatangi markas perampok dan membuat masalah dengan mereka.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Saat ini semakin banyak anak buah perampok yang berjatuhan di atas tanah, dalam keadaan tak bernyawa. Hal itu tentu saja membuat ketua perampok langsung memelototkan matanya, bahkan orang-orang yang selama ini diandalkannya, satu persatu mati di tangan para prajurit.
Baru saja pria paruh baya itu akan bergerak meninggalkan markas perampok, tiba-tiba suara teriakan seorang anak membuatnya berhenti, dia dengan jelas mengetahui suara siapa yang saat ini memanggilnya.
"Ayaaaah..!"
Terdengar suara pekikan tertahan dari seorang anak kecil dalam keadaan terikat, dia di cangking bagaikan sampah oleh salah seorang prajurit. Bahkan di belakangnya banyak sekali yang mereka bawa, ternyata sebelum pasukan itu bergerak menuju markas para perampok, mereka telah terlebih dahulu mendatangi keluarga dari pria-pria itu kemudian menculik istri-istri dan juga anak-anak mereka, untuk dijadikan sandera.
Jika para perampok itu melakukan sebuah kesalahan, maka sudah pasti anak atau istrinya turut serta menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh suami atau ayahnya itu.
"Seret istri perampok itu dan siksa dia di hadapan pria sombong tak berguna, yang menjadi suaminya. Dia tak hanya melukai harga diri seorang Kaisar, tapi juga telah memperlakukan seorang wanita dengan tidak manusiawi." teriak salah seorang prajurit.
Namun tiba-tiba saja ucapannya langsung terhenti, begitu mendengar suara yang sangat dingin dari prajurit yang lain.
"Mereka bukanlah bagian dari rakyat kekaisaran jiahu, jangan pernah berbelas kasihan. Bukankah suami mereka menjadi perampok dan juga telah melecehkan salah seorang selir Kaisar kita? Jadi perlakukan wanita-wanita itu dengan cara yang paling buruk dan jangan lupa habisi anak-anak mereka di depan ayahnya, agar jadi pelajaran bahwa menjadi musuh para prajurit kekaisaran jiahu adalah neraka bagi mereka semua."
Bagaikan tersambar petir, tubuh ketua perampok beserta anak buahnya yang saat ini masih hidup terlihat bergetar ketakutan. Bagaimana mungkin mereka bisa melihat penderitaan yang akan dialami oleh anak-anak dan juga istri mereka, bahkan saat ini ketua perampok itu terlihat menitikkan air matanya, dia menyesali perbuatannya yang telah melakukan pelecehan terhadap selir Feng Ling yang akhirnya menghancurkan kebahagiaan keluarganya sendiri.
Suara seorang wanita tiba-tiba saja berseru dengan sangat keras, penuh kemarahan dan juga kebencian.
__ADS_1
"Jangan bunuh mereka! Aku ingin mereka menjadi budak dan bekerja secara paksa untuk kekaisaran. Ingat untuk tidak memberikan mereka makan, aku ingin kalian memberikan kematian, yang bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan kehidupan sendiri."
Bruk...