
Guru tua segera mendekat ke arah gazebo yang saat ini diduduki oleh Selir Xuan Yang dan juga kedua orang pelayannya, nampak saat ini sang selir beserta pelayannya itu segera berdiri kemudian membungkukkan badan, untuk memberikan penyambutan dengan sangat sopan.
Reaksi yang dilakukan oleh ketiga orang wanita itu sangat berbeda jauh dengan Xuan Jian yang seolah tidak memiliki tata krama sama sekali, namun tentunya hal itu tidak membuat guru tua itu tersinggung, dia malah semakin penasaran dan tertarik dengan Xuan Jian.
Guru tua merasa jika putri dari Kaisar Wei Huang itu lebih dari sekedar tajam lidah, sepertinya dia juga memiliki kemampuan lain yang lebih kuat.
"Salam kepada guru tua." ucap selir Xuan Yang diikuti oleh kedua orang pelayannya, kemudian mempersilahkan guru tua itu untuk duduk.
"Kenapa kau tidak mengajarkan para prajuritmu untuk berpedang?" tanya guru tua.
Xuan Jian hanya mendelikan matanya, kemudian dia pun segera menjawab dengan sangat santai. "Untuk apa mereka memiliki kemampuan berpedang, jika ketahanan fisik dan juga mentalnya lemah! Aku sengaja memberikan pelatihan berat agar mereka memiliki pondasi tubuh yang kuat, sehingga di masa depan bisa menjadi bagian dari pasukan elit paviliun anggrekku."
Xuan Jian menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil sesekali matanya memperhatikan para prajurit yang mulai berdatangan.
Mendengar hal itu, guru tua pun langsung menganggukkan kepalanya, ternyata tebakannya sangatlah tepat. Xuan Jian memang tidak hanya akan melatih para prajurit itu untuk menggunakan jurus-jurus beladiri ataupun berpedang, melainkan dia berencana untuk membuat pasukan bayangan untuk melindungi keberadaan sang ibu. Sehingga dia harus melatih pasukannya dengan sangat keras.
"Aku tak pernah menyangka jika kau memang benar-benar cerdas Putri Xuan Jian! Kau bahkan memiliki kemampuan di atas Kaisar Wei Huang, katakan pada guru tua ini dari mana kau belajar semua itu, putri?" tanya guru tua.
Xuan Jian pun mendudukkan dirinya di atas kursi, kemudian segera mengambil cangkir teh dan menuangkannya untuk guru tua. Sepertinya saat ini Xuan Jian juga merasa sangat tertarik dengan pria tua, yang tiba-tiba saja mendatanginya.
"Apakah Kaisar bodoh itu yang telah menyuruhmu mempertanyakan hal ini padaku?" tanya Xuan Jian.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Xuan Jian, guru tua pun langsung tertawa dengan terpingkal-pingkal, dia tak menyangka jika Kaisar Wei Huang yang terkenal sangatlah kejam, hanya dianggap seorang Kaisar bodoh oleh Putri kandungnya sendiri.
Kedua orang prajurit segera saja undur diri dari tempat itu, mereka akan kembali menjalankan tugas untuk berpatroli. Apalagi saat ini guru tua terlihat sangat senang berada di gazebo dan berbicara dengan Putri Xuan Jian. Meskipun mereka merasa sedikit aneh dengan kelakuan dari kedua orang, yang hingga saat ini terus saling mengajukan pertanyaan dengan nada yang tajam, namun keduanya sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menghentikannya.
.
__ADS_1
.
.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua selir itu pun tiba, Mereka terlihat sudah sangat rapi sejak pagi, bahkan selir Feng Ling berkali-kali bergonta-ganti pakaian, agar terlihat lebih cantik dan memukau dibandingkan selir Xiao Xia.
Dia ingin sekali menjadi seorang permaisuri, menggantikan mendiang permaisuri Xue Yi yang telah wafat, meskipun hingga saat ini selir Feng Ling belum mengetahui kompetisi apa yang akan dilangsungkan, namun dirinya sangat yakin jika dia benar-benar bisa melakukan semua, yang menjadi persyaratan seorang permaisuri kekaisaran.
Akhirnya kedua orang selir itu pun segera berjalan menuju ke lapangan, hari ini tepatnya di hadapan semua orang, keduanya akan berhadapan dan menunjukkan kemampuan mereka masing-masing.
Kaisar Wei Huang bahkan saat ini telah duduk di atas singgasananya didampingi oleh kedua orang kasim dan guru tua, sepertinya dia pun sudah tak sabar untuk melihat pertandingan antara kedua orang selirnya itu, demi memperebutkan posisi permaisuri kekaisaran.
Hal itu sangat jauh berbeda dengan guru tua, semenjak pertemuannya dengan selir Xuan Yang di hari kemarin, membuat pria tua itu memiliki ketertarikan tersendiri kepada Ibu dari putri Xuan Jian. Dia sangat yakin jika selir Xuan Yang merupakan kandidat yang terbaik, untuk menjadi seorang permaisuri kekaisaran, tak hanya sifatnya yang lembut dan juga anggun namun selir Xuan Yang juga seorang yang sangat menyenangkan.
Gooong...
"Kompetisi untuk mencari calon permaisuri baru kekaisaran Jiahu akan segera dimulai." ucap seorang Kasim sambil membuka sebuah gulungan kertas yang berada di tangannya tak lama gong pun kembali dibunyikan.
"Ujian pertama adalah tata krama." ucap sang Kasim memberitahu keduanya. Saat ini kedua selir itu akan beradu tata krama di meja makan.
Kemudian beberapa orang pelayan pun membawa nampan yang berisi beberapa cangkir, mangkuk, piring, teko, sendok, garpu dan sumpit. Mereka segera menyimpannya di atas meja, kali ini kedua orang selir Kaisar diharuskan untuk bisa menata meja makan.
Tak lama kedua selir itu pun bergerak, mereka mulai menyusun satu per satu piring, mangkuk, dan juga cangkir di atas meja, setelahnya kemudian kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
Pelayan pun segera mengambil makanan dan menyimpannya di atas meja, kedua orang selir itu pun diharuskan untuk menuang makanan ke atas piring dan mangkuk yang telah tersedia di atas meja dengan sangat anggun.
Kemudian keduanya beradu cara untuk menuangkan teh, Kaisar Wei Huang bahkan meminta agar kedua selir itu bisa meracik teh yang sangat nikmat untuk bisa dinikmati oleh dirinya dan juga guru tua, hal itu tentu saja membuat selir Feng Ling merasa sangat senang hati, karena dibandingkan dengan selir Xiao Xia, dirinya lebih pandai dalam meracik teh.
__ADS_1
Selir Xiao Xia hanya bisa tersenyum tipis, dalam hati dia merutuk pengetesan kali ini, setelah selesai akhirnya keduanya pun segera kembali duduk di kursinya.
Kasim kembali berteriak, "Ujian kedua adalah seni."
Kedua orang selir itu pun diharuskan untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam bidang seni, selir Feng Ling langsung mengambil sitar dari salah seorang pelayannya, kemudian dia pun memainkannya dengan sangat lembut, hingga membuat semua orang terhanyut, apalagi mendengar suara syahdu yang mendayu-dayu dari mulut selir Feng Ling membuat semua orang semakin terpana, selir Feng Ling memang seorang yang sangat mahir dalam memainkan alat musik dan juga menyanyi.
Tak lama kaisar pun beralih kepada selir Xiao Xia yang saat ini tengah menyunggingkan senyuman manis, kemudian dia pun segera meraih lengan dari salah seorang pelayannya dan meminta pelayan itu untuk memainkan lagu, karena saat ini selir Xiao Xia akan menari.
Tarian yang disuguhkan sungguh menawan hati, bahkan lenggok tubuh selir Xiao Xia membius semua orang, hingga tak bisa mengedipkan mata. Saat ini Kaisar Wei Huang pun bimbang untuk memutuskan, siapa yang akan menjadi pemenang.
Tak lama Kasim pun kembali berteriak "Ujian ketiga adalah kelayakan."
Kedua selir itu pun segera diberikan beberapa pertanyaan oleh guru tua, yang harus mereka jawab dengan sebenar-benarnya. Guru tua bisa melihat dari semua jawaban yang diucapkan oleh kedua selir itu, jika saat ini keduanya memiliki ambisi yang sama untuk posisi permaisuri.
"Ujian selanjutnya adalah bertarung dan memanah!" teriak kasim.
Hal itu tentu saja membuat kedua orang selir itu pun membelalakkan matanya, selama ini mereka hanya digembleng dengan berbagai tata krama istana kekaisaran, sehingga tidak mengerti bagaimana cara untuk bertarung ataupun memanah. Selama mereka memiliki kekuasaan dan juga penjaga bayangan, bukankah kemampuan itu tidak diperlukan?
Baru saja kedua selir itu akan protes dengan ujian ke-4, tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat menuju ke arah kaki Kaisar Wei Huang dan langsung menancap pada kaki singgasananya.
Syuuuut....
Clap...
Kaisar Wei Huang pun segera berdiri dan memerintahkan kepada para prajuritnya, untuk segera menangkap orang yang telah berani, memberikan serangan sembunyi-sembunyi terhadapnya, kemudian dia pun mencabut anak panah yang saat ini menancap pada kaki kursi singgasananya dan menarik sebuah gulungan kertas kemudian membacanya.
"Jika kau masih sangat menyayangi putra mahkotamu, maka serahkan seluruh wilayah kekaisaran jiahu kepada kami."
__ADS_1
Tulisan yang ada di kertas itu tentu saja membuat Kaisar Wei Huang langsung berang, dia pun segera memerintahkan agar seluruh prajurit bersiap, dan mencari penyusup yang telah berani, membuat sebuah ancaman terhadap orang nomor satu di kekaisaran jiahu itu.