
Selir Feng Ling segera melanjutkan percakapannya dengan selir Xiao Xia, sepertinya saat ini kedua orang selir Kaisar itu memiliki rencana bersama, untuk bisa menyingkirkan Qing Yuan dari tahta.
Mereka tentu saja tidak ingin jika keturunan permaisuri Xue Yi yang telah begitu banyak membuat kesialan untuk keduanya, bisa menjadi seorang kaisar, meskipun salah seorang dari mereka akhirnya menjadi ibu suri pada waktunya nanti.
"Katakan apa rencanamu selir Xiao Xia?" tanya selir Feng Ling sambil melirik ke arah selir Xiao Xia. Kedua wanita itu saat ini tengah berjalan-jalan di taman, yang berada di belakang kediaman selir Feng Ling.
"Entahlah! Hingga saat ini aku masih belum memiliki rencana apapun, tapi bagaimanapun juga caranya, aku tidak akan sudi jika sampai anak dari permaisuri Xue Yi itu akhirnya naik tahta, jika bisa kita harus menggagalkan pengangkatan pemuda cacat itu, agar tidak bisa menjadi seorang putra mahkota." ucap selir Xiao Xia.
Selir Feng Ling pun langsung menganggukkan kepalanya, dia merasa setuju dengan ucapan yang dilontarkan oleh rivalnya. Meskipun pemuda itu tidak mengetahui hal apapun tentang ibunya, namun tidak menutup kemungkinan jika di masa depan pemuda itu juga akan menjadi batu sandungan untuk keduanya.
"Haruskah kita berbicara dengan selir Xuan Yang, agar dia ikut membantu untuk melenyapkan pemuda itu?" ucap selir Feng Ling.
Namun selir Xiao Xia langsung menggelengkan kepalanya, dia tak yakin jika selir Xuan Yang mau mengikuti rencana yang telah mereka buat, terlebih selir tertua dari Kaisar Wei Huang itu merupakan seorang yang mudah tersentuh hatinya.
Dia tak ingin mengajak selir Xuan Yang untuk bekerjasama, kecuali jika Xuan Jian mau membantu mereka untuk menyingkirkan pemuda itu dari tahta putra mahkota.
"Akan lebih baik jika putri Xuan Jian yang menjadi putri mahkota." ucap selir Xiao Xia.
Selir Feng Ling pun menganggukan kepalanya, dia tak peduli meskipun Xuan Jian akan dijadikan Putri mahkota, yang jelas baginya putri dari selir Xuan Yang itu pasti akan membantu, apapun yang dia minta.
Terlebih saat ini dia sangat yakin, jika Putri Xuan Jian berada di pihaknya. Beberapa orang pelayan tiba-tiba saja datang menemui selir Feng Ling, mereka pun segera memberitahukan kabar terkini mengenai Qing Yuan.
__ADS_1
"Salam untuk kedua selir." ucap para pelayan itu.
Selir Feng Ling langsung bertanya, "Apa yang kalian dapatkan?"
Para pelayan itu pun segera mendekat dan langsung memberitahukan jika saat ini Qing Yuan telah meminta izin kepada kaisar Wei Huang untuk kembali menuju ke hutan. Pemuda itu ingin sekali menjemput guru dan juga saudara-saudaranya, untuk ikut bersamanya dan tinggal di istana kekaisaran.
Mendengar hal itu tentu saja kedua selir itu pun langsung memelototkan matanya, mereka tak menduga jika putra dari permaisuri Xue Yi itu terlalu tidak tahu diri, hingga meminta sesuatu yang di luar batas.
"Sepertinya kita harus membicarakan masalah ini dengan Putri Xuan Jian, walau bagaimanapun aku tidak akan pernah tenang jika sampai pemuda cacat itu menjadi putra mahkota kekaisaran." ucap selir Feng Ling.
Selir Xiao Xia pun menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya segera bergegas untuk menuju ke paviliun anggrek, agar bisa segera berdiskusi dengan Xuan Jian.
.
.
.
Tak lama kedua orang selir itu pun muncul, keduanya segera membungkukan sedikit badan ke arah Xuan Jian dan juga selir Xuan Yang, kemudian ikut duduk bersama di gazebo sambil menuangkan teh ke dalam cangkir kosong yang telah tersedia.
Sepertinya Xuan Jian telah mengetahui, jika kedua orang selir itu akan segera datang, sehingga dia meminta para pelayannya untuk menyiapkan 4 cangkir di meja yang ada di gazebo itu.
__ADS_1
"Ada apa ibu selir? Kenapa wajah Ibu terlihat sedikit kesal?" tanya Xuan Jian saat memandang wajah dari selir Xiao Xia.
kedua selir itu hanya bisa menarik nafas lelah, sepertinya saat ini ada beban berat yang menghimpit perasaan dan juga pikiran mereka, sehingga membuat keduanya membuang nafas kasar.
"Entah kenapa aku merasa jika kedatangan pemuda itu membuat dadaku begitu sesak, aku teringat dengan seluruh perlakuan dari permaisuri Xue Yi terhadap kami berdua." jawab selir Xiao Xia sambil menundukkan wajahnya.
Selir Xuan Yang langsung melirik ke arah Xuan Jian, saat ini gadis itu ternyata melupakan sesuatu yang sangat penting, sehingga akhirnya dia pun segera tersenyum ke arah ibunya.
"Maafkan Jian'er ibu, sebenarnya saat ini putra dari permaisuri Xue Yi berada di istana kekaisaran dan menempati paviliun bangau putih." ucap Xuan Jian sambil menatap sendu wajah sang ibu.
Mendengar hal itu tentu saja selir Xuan Yang langsung terdiam, dia tak menyangka jika pangeran yang terbuang itu ternyata masih hidup, dan bisa kembali ke istana kekaisaran.
"Apa kau yakin jika dia benar-benar putra dari permaisuri Xue Yi dan juga yang mulia Kaisar Wei Huang?" tanya selir Xuan Yang.
Sepertinya saat ini wanita itu merasa sedikit sangsi dengan berita yang dibawa oleh putrinya, namun dengan cepat Xuan Jian pun segera menganggukkan kepalanya, dia pun memberitahu sang ibu jika wajah dari pemuda itu benar-benar sangat mirip dengan Kaisar Wei Huang, apalagi dengan keadaan kakinya yang cacat.
Mendengar hal itu Selir Xuan Yang pun langsung menganggukkan kepalanya, sepertinya saat ini dia tak ingin mendengar cerita apapun tentang pemuda itu. Meskipun Qing Yuan merupakan putra dari permaisuri Xue Yi, setidaknya pemuda itu tidak memiliki masalah apapun dengannya. Sehingga dia tidak memiliki pikiran untuk menendang pemuda itu dari dalam istana kekaisaran.
Tak lama beberapa orang prajurit pun muncul, mereka segera memberitahukan jika saat ini Kaisar Wei Huang menyuruh semua orang untuk kumpul di aula istana, sepertinya ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan.
Mendengar hal itu tentu saja ketiga orang selir langsung bangkit dari kursi yang didudukinya, mereka pun berjalan beriringan menuju ke aula istana, diikuti oleh Xuan Jian beserta kedua orang pelayan setianya.
__ADS_1
"Kenapa yang mulia tiba-tiba saja menyuruh kita untuk datang?" tanya selir Xiao Xia sambil terus melangkah ke arah aula istana.
Selir Xuan Yang dan selir Feng Ling hanya bisa menggelengkan kepalanya, keduanya juga masih belum mengetahui apa yang saat ini akan dibicarakan oleh orang nomor satu di kekaisaran Jiahu itu.