Putri Kejam Kaisar Tiran

Putri Kejam Kaisar Tiran
Chapter 99


__ADS_3

Hari berlalu dengan begitu cepat, kehidupan Xuan Jian dipenuhi dengan kebahagiaan dan juga ketenangan, meskipun saat ini ada sedikit masalah di dalam istana kekaisaran jiahu yang semakin memanas, antara selir Feng Ling dan juga selir Xiao Xia yang hingga saat ini masih saja terus bersinggungan, keduanya saling menjatuhkan satu sama lain di hadapan Kaisar Wei Huang agar bisa terpilih menjadi seorang permaisuri kekaisaran.


Nyatanya hingga saat ini, bahkan sang Kaisar masih belum menentukan, siapa yang sebenarnya akan segera menjadi pendamping sang Kaisar di atas tahta singgasananya.


Selir Feng Ling yang sejak lama memendam kebencian terhadap Qing Yuan akibat dari kesalahan sang ibu, akhirnya mulai berpikir untuk mencoba mendekati putra mahkota kekaisaran jiahu itu, dia sudah tak memiliki kesempatan lain lagi untuk bisa mengamankan posisinya agar tak terjamah oleh selir Xiao Xia.


Sementara di sisi lain saat ini, selir Xiao Xia terus saja meluangkan banyak sekali waktu, untuk bisa bersama dengan Kaisar Wei Huang.


Dia bahkan sering kali mengantar makanan ke ruang kerja milik sang Kaisar, atau pun menunggu pria nomor satu di kekaisaran jiahu itu selesai dari pekerjaannya. Saat ini dirinya terlihat seperti seorang istri yang terbaik, yang selalu ada dan mendampingi Kaisar Wei Huang di manapun dia berada.


Hal itu tentu saja memercik api kemarahan dari selir Feng Ling yang mulai merasa jika posisinya terancam, sehingga membuat wanita itu akhirnya memutuskan untuk mendekati Qing Yuan, agar mendapatkan dukungan dari putra mahkota kekaisaran.


Jauh berbeda dengan selir Xuan Yang, dia hidup dengan sangat bahagia dan penuh ketenangan, tanpa harus memikirkan intrik yang terjadi di dalam istana kekaisaran. Bahkan dirinya semakin hari terus saja dimanjakan dengan berbagai macam hadiah, yang diberikan oleh Xuan Jian.


Sementara gadis kecil itu terus saja melatih 202 orang prajurit khusus, yang selama ini telah dikumpulkannya.


Dengan sangat sabar, gadis kecil itu terus saja melatih pondasi fisik dari para prajurit terpilih, sepertinya sebentar lagi akan muncul peperangan intern, yang terjadi di dalam istana kekaisaran. Mengingat saat ini selir Feng Ling dan juga selir Xiao Xia semakin menunjukkan taring mereka.


Keduanya beradu kekuasaan, keterampilan dan juga kemampuan dalam berbagai macam bidang, sepertinya mereka tak ingin kalah dari rival yang seharusnya sejak awal mereka singkirkan.


"Apa yang saat ini tengah dilakukan oleh selir Xiao Xia?" tanya selir Feng Ling kepada salah seorang pelayan kepercayaannya, yang memang sebelumnya telah diberikan perintah untuk memata-matai kehidupan dari selir Xiao Xia.


Sang pelayan pun segera mendekat, kemudian membisikkan informasi yang dibawanya kepada selir Feng Ling, hal itu tentu saja membuat wajah sang selir langsung menghitam, dia benar-benar tidak menyangka jika saat ini Kaisar Wei Huang semakin dekat dengan selir Xiao Xia, padahal dirinya merupakan selir kedua yang seharusnya mendapatkan waktu lebih banyak dengan sang Kaisar.


"Sial..! Apa-apaan selir Xiao Xia itu?" ucap selir Feng Ling sambil mengepalkan tangannya, dia pun menonjok ke udara untuk mengeluarkan unek-unek yang hingga saat ini memenuhi ruang hatinya.

__ADS_1


Selir Feng Ling telah melakukan berbagai macam cara, agar bisa tampil menjadi seorang wanita terbaik dan terpilih sebagai calon permaisuri baru, kekaisaran jiahu. Namun sepertinya dia kecolongan satu langkah oleh selir Xiao Xia yang saat ini sudah semakin dekat dengan Kaisar Wei Huang.


Jika dibiarkan begitu saja, bisa jadi dirinya akan segera menuai kekalahan, bahkan sebelum kompetisi kedua dimulai.


Selir Feng Ling segera memerintahkan kepada para pelayannya untuk memasak, saat ini dia ingin sekali menjumpai Qing Yuan, yang tengah berlatih di lapangan bersama para prajurit.


Dia harus meyakinkan pemuda itu, jika dirinya adalah ibu yang terbaik sekaligus istri tauladan untuk semua orang, sehingga membuat Qing Yuan bersimpati terhadapnya.


Akhirnya setelah makanan yang diminta oleh selir Feng Ling selesai dibuat, para pelayan pun segera membawa hidangan itu dengan mangkok ditangannya, sepertinya mereka tengah mempersiapkan makan siang, untuk selir Feng Ling, yang saat ini masih duduk sambil memandang keluar jendela.


Dia tengah memperhatikan Qing Yuan yang terus saja bergerak dengan cepat, memberikan tebasan demi tebasan dengan menggunakan pedang panjang yang berada di tangannya. Bahkan pemuda itu tidak terlihat lelah sedikitpun, dia terus saja mengacungkan senjatanya dan memberikan pukulan-pukulan maut dan juga serangan mematikan ke arah para prajurit yang ini menjadi lawan tandingnya.


Selir Feng Ling baru saja menyadari kemampuan yang dimiliki oleh sang putra mahkota, meskipun pemuda itu terlahir dalam keadaan yang cacat, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk berlatih agar semakin kuat dan juga lincah.


Hingga suatu saat nanti Kaisar Wei Huang sendiri akan merasa bangga terhadapnya.


Mendengar ucapan dari para pelayan, selir Feng Ling pun langsung bangkit dari kursi yang didudukinya dan meminta agar para pelayan segera mengikutinya menuju ke lapangan, tempat para prajurit saat ini tengah berlatih, sambil membawa makanan hangat untuk Qing Yuan.


Kedatangan selir kedua Kaisar Wei Huang, tentu saja disambut dengan wajah heran dan juga tatapan aneh dari para prajurit yang saat ini tengah bertarung.


Ini adalah pertama kalinya selir Feng Ling menemui Qing Yuan, Setelah sekian lama pemuda itu tinggal di dalam istana kekaisaran jiahu, bahkan untuk sekedar menyapa saja selama ini Kak selir Feng Ling merasa enggan.


Sepertinya dendam di dalam hatinya masih belum kunjung mereda, terhadap mendiang permaisuri Que Yi yang telah dengan sengaja menghancurkan kehidupan selir Feng Ling yang bahagia, sehingga membuatnya menjadi seorang wanita yang cacat, karena tak bisa melahirkan seorang putra untuk Kaisar.


Langkah selir Feng Ling beserta para pelayannya akhirnya sampai di ujung lapangan, di mana saat ini salah seorang jenderal kekaisaran tengah memberikan instruksi latihan, kepada para prajurit yang tiba-tiba saja langsung menghentikan pertarungan, mata para prajurit itu pun menatap tajam ke arah selir Feng Ling, sebelum akhirnya mereka mendekat dan memberikan penghormatan.

__ADS_1


"Salam kepada yang mulia selir Feng Ling." ucap para prajurit itu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada, mereka menundukkan kepala, tak berani memandang sedikitpun kepada wanita cantik yang kini menggunakan hanfu berwarna hijau Emerald dengan berbagai macam pernak pernik dan juga perhiasan yang sangat banyak.


Selir Feng Ling tersenyum manis, kemudian berjalan ke arah Qing Yuan untuk menyapa putra tirinya itu.


"Apakah kau tidak ingin memberikan hormat padaku, Pangeran Qing Yuan?" tanya selir Feng Ling.


Namun ternyata putra dari Kaisar Wei Huang itu sama sekali tak bergeming di tempatnya, dia masih tetap berdiri dengan mata melotot tajam ke arah selir Feng Ling.


Bahkan selama ini Qing Yuan telah banyak sekali melihat bagaimana sepak terjang dari kedua orang selir Kaisar itu, bukan hanya dari mulut Xuan Jian, namun dia telah membuktikan sendiri ucapan dari gadis kecil itu, tentang rahasia di balik wajah anggun dan cantik milik kedua orang selir.


"Pangeran ini menyapa Ibu selir Feng Ling." ucap Qing Yuan sambil menganggukan kepalanya, dia memberikan hormat yang sangat mengesankan sehingga membuat sang selir kedua dari Kaisar Wei Huang itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Apakah kau memiliki waktu untuk bisa bercengkrama dengan selir ini, pangeran Qing Yuan?" tanya selir Feng Ling sambil menatap penuh harap kepada putra dari Kaisar Wei Huang itu.


Sebenarnya Qing Yuan ingin sekali menolak permintaan dari wanita itu, mengingat selama ini dia terlalu sering diabaikan, bahkan terkesan jika kedua orang selir Kaisar itu selalu mencurigainya.


"Apakah ada hal penting sehingga membuat Ibu selir menemui pangeran ini?" tanya Qing Yuan sambil menetap tajam ke arah selir Feng Ling.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat selir Feng Ling akhirnya tersenyum kecut, sepertinya dia tak bisa berbasa-basi dengan Qing Yuan yang ternyata memiliki sifat yang terang-terangan.


Bahkan di hadapan para prajurit yang saat ini tengah berlatih, dirinya seolah tidak memiliki harga diri sedikitpun, karena Qing Yuan tiba-tiba saja langsung mempertanyakan maksud kedatangannya yang mendadak.


"Bisakah pangeran menemani Ibu selir ini untuk makan bersama?" tanya selir Feng Ling sambil menunjuk ke arah para pelayannya, yang saat ini membawa nampan berisi makanan yang masih hangat.


Qing Yuan tak kuasa menolak permintaan wanita itu, akhirnya dia pun menganggukan kepala dan mengajak selir Feng Ling beserta para pelayannya untuk berjalan ke arah gazebo, agar mereka bisa menikmati makanan dengan santai.

__ADS_1


"Mari! Kita akan menikmati makanannya di sana." ucap Pangeran Qing Yuan sambil menunjuk sebuah gazebo kecil, yang terletak di tepi danau buatan yang berada di halaman belakang paviliun bangau putih yang ditempatinya selama ini.


__ADS_2