
Teriakan Tian Jin Long terdengar begitu nyata di telinga para prajurit dan juga pembunuh bayaran itu, mereka saat ini saling memandang, tak menyangka, jika ternyata pemuda yang merupakan mantan putra mahkota kekaisaran longzhu itu akan begitu mudah diprovokasi.
Namun mengingat mereka adalah orang-orang bayaran, sehingga mau tak mau akhirnya para prajurit beserta pembunuh bayaran itu pun mulai bergerak dan mengayunkan pedang yang berada di tangan mereka, untuk menyerang ke 200 orang pria berpakaian hitam.
Pria-pria berpakaian hitam itu tentu saja tidak berdiam diri, setelah melihat begitu banyaknya serangan yang dilakukan oleh para prajurit yang baru saja datang, terlebih saat ini kekuatan mereka telah banyak terkuras, akibat digunakan untuk bermain-main dengan para prajurit kediaman bangsawan Chu.
Andai saja tadi mereka langsung menebas para prajurit itu dan memberikan kematian yang mudah, mungkin saat ini mereka tidak akan terdesak, terlebih para prajurit yang baru saja datang, ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi, dibandingkan para prajurit sebelumnya.
Trang...
Trang...
Trang...
Pertarungan kembali terdengar, saat ini terlihat para prajurit yang baru saja datang yang telah bercampur dengan para pembunuh bayaran berada di atas angin, mereka yang hingga saat ini masih memiliki stamina yang bagus, tentu saja akan lebih mudah untuk bisa mengalahkan ke 200 orang pria berpakaian hitam, yang ternyata telah kelelahan.
Namun otak licik tak hanya dimiliki oleh para prajurit dan juga pembunuh bayaran itu, kini ke 200 orang pria berpakaian hitam itu mulai mengambil sebuah benda berwarna hitam, yang berada di dalam lengan hanfu mereka, kemudian melemparkannya dengan sangat kencang ke atas, hingga akhirnya membuat sebuah ledakan yang sangat dahsyat, kembang api tiba-tiba saja muncul dengan sangat indah.
Para prajurit itu tiba-tiba saja terpaku dengan keindahan yang baru saja mereka lihat, hingga melupakan bahwa saat ini mereka tengah berada dalam arena pertempuran. Namun ternyata kedua 200 orang pria berpakaian hitam tak bergerak sama sekali, mereka seolah masih menunggu lawan yang akan memberikan serangan terlebih dahulu.
Hampir 10 menit para prajurit dan pembunuh bayaran itu terpaku di tempat, menikmati keindahan pertama kali dalam hidup mereka. Hingga tak menyadari adanya bahaya lain, yang tiba-tiba saja mendekat ke tempat itu.
Kini di atas dinding yang tinggi, terlihat ratusan pria berpakaian hitam tengah berdiri dengan pedang yang berada di tangan mereka, benda hitam yang dilempar merupakan sebuah senjata untuk memanggil pasukan yang lain, saat ke 200 orang pria berpakaian hitam itu tengah terdesak.
Musuh manapun tidak akan pernah menyadari hal itu, mereka bahkan akan terpaku dengan keindahan yang dihasilkan oleh ledakan yang maha dahsyat itu, namun itulah yang diinginkan oleh pria-pria berpakaian hitam.
__ADS_1
Lawan mereka akan kehilangan kewaspadaan, hingga saat mereka kembali ke alam sadarnya, sebuah kejutan manis tersuguh dengan sangat apik di hadapan mata. Hingga membuat mereka menangis darah.
Para prajurit dan juga pembunuh bayaran itu terlihat memelototkan matanya, kini mereka tak yakin akan bisa mengungguli kemampuan yang dimiliki oleh pria berpakaian hitam itu, mengingat jumlah mereka saat ini sepertinya seimbang, bahkan jauh lebih banyak pria berpakaian hitam itu, jika mereka turun semua dan membantu dalam pertempuran.
"Bagaimana ini?" salah seorang prajurit terlihat melirik ke arah rekan-rekannya, dia sejak tadi terus berusaha untuk memberikan penekanan terhadap salah seorang pria berpakaian hitam, namun nyatanya hingga saat ini, dia bahkan tak mampu menggoreskan pedangnya, pada tubuh pria itu, meskipun dia melakukan hal itu secara berkelompok, 5 lawan 1.
Dan kini di hadapannya begitu banyak pria berpakaian hitam, yang siap untuk mengoyak tubuh mereka dengan pedang tajam yang berada di tangan, lalu apa yang harus mereka lakukan?
Jika lari dari tempat itu, tidak mungkin bisa menyelamatkan diri, sedangkan Pangeran Tian Jin Long tidak mungkin melepaskan mereka begitu saja, jika terus bertahan dan menyerang pria-pria berpakaian hitam itu, mereka juga tak yakin masih bernyawa hingga akhir.
Para pembunuh bayaran saat ini sepertinya semakin tertantang, dengan kemunculan pria-pria berpakaian hitam yang lain, apalagi jumlahnya kini sudah semakin banyak.
Hal itu terlihat dari wajah mereka, yang mulai menyunggingkan seringaian kejam, mereka bahkan kini mulai mengeluarkan provokasi, agar pria-pria berpakaian hitam itu turut serta dalam pertarungan.
Mereka seolah tidak memperdulikan nasib tragis yang mungkin saja akan menimpa rekan-rekan mereka, namun provokasi itu sama sekali tidak mempan terhadap pria berpakaian hitam, mereka selama ini telah terbiasa menerima hal itu sebagai sebuah pujian dan bukan sebagai ocehan semata.
Hahahaha...
Tiba-tiba saja suara tawa yang begitu menggelegar terdengar dari mulut pria-pria berpakaian hitam itu, saat ini sepertinya mereka tengah merayakan sebuah kemenangan, di mana provokasi yang dilakukan oleh pembunuh bayaran itu sama sekali tidak memasuki hatinya.
Bahkan mereka seolah masa bodoh dan tidak perduli, dengan ucapan sarkas yang dilontarkan oleh musuh dari rekan-rekan mereka saat ini.
"Ciih..! Ingin memprovokasi kami? Itu tidak mudah!" ucap salah seorang pria berpakaian hitam, seraya meloncat dari pagar tinggi yang sejak tadi digunakan untuk tempat dia berdiri.
Entah kenapa saat ini bulu kuduk para prajurit berdiri begitu saja, mereka seolah ketakutan hanya karena melihat aura yang dikeluarkan oleh pria itu, bahkan ucapannya membuat para prajurit mulai menciut. Mereka terlihat seperti kerupuk yang tersiram air, layu dan tak memiliki semangat sama sekali.
__ADS_1
Tap...
Tap...
Tap...
Tiba-tiba saja pria-pria yang lain pun ikut meloncat dan mulai bergabung dengan rekan-rekan mereka, hal itu tentu saja membuat wajah dari para prajurit dan pembunuh bayaran seketika langsung tegang.
Awalnya mereka hanya berniat untuk memprovokasi, Namun ternyata pria-pria berpakaian hitam itu benar-benar turun dan turut bersiap untuk melancarkan serangan pada mereka.
"Sial..!" salah seorang pembunuh bayaran langsung meludah sambil melirik ke arah rekannya, yang telah mengeluarkan provokasi terhadap pria-pria itu.
Kini mereka mulai tersudut, tak hanya karena jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan pria-pria berpakaian hitam itu, namun juga kemampuan dalam berperang yang menjadi pokok utama saat ini.
"Harusnya kau jangan gegabah dan memberikan provokasi yang begitu besar, terhadap pria-pria berpakaian hitam itu." umpat salah seorang pria yang merupakan pembunuh bayaran, kepada rekannya.
Hal itu tentu saja membuat rekannya langsung pucat pasi, dia baru saja melakukan kesalahan yang sangat besar, andai saja tadi dia tutup mulut, mungkin saat ini pria-pria berpakaian hitam itu masih tetap berdiri dengan anteng di tempatnya.
Namun nasi telah menjadi bubur, saat ini dia harus bersiap untuk bisa menyelamatkan dirinya dari pertempuran itu, sekaligus melenyapkan lawan sebanyak-banyaknya.
"Bagaimana? Apa kalian akan menyerah?" tanya salah seorang pria berpakaian hitam itu sambil melemparkan beberapa kantung berwarna hitam, ke arah para prajurit dan juga pembunuh bayaran yang saat ini masih terpaku di tempatnya.
"Masukan seluruh harta berharga milik semua anggota keluarga bangsawan Chu ke dalam kantung itu, dan kalian akan kami lepaskan." ucap salah seorang pria berpakaian hitam, kedua tangannya saat ini terlipat di depan dada sambil menunjukkan aura membunuh yang sangat pekat.
Glek...
__ADS_1